
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
"Apakah malam ini kamu akan tidur di sini?" tanya Zein.
Dara mengedikan bahunya singkat, karena tidak tahu apa jawabnnya.
"Sayang, aku tidak tahu kenapa? Aku merasa kamu lebih baik tinggal di sini saja," pinta Zein pada Dara yang tengah fokus dengan barang-barang bawaanya.
"Kenapa harus?" tanyanya Dara singkat.
Zein beralih memeluk tubuh Dara dari belakang, dan menuntun Dara untuk duduk dipangkuannya.
"Kamu tahu, aku merasa setelah ini akan ada masalah berat yang akan kembali menimpa, aku khawatir jika kamu tingga di sana, tidak akan ada yang bisa membantu kamu, dan jika di sini akan banyak yang melindungi kamu sayang," jelas Zein pada istrinya.
Dia sangat tahu tentang semua kejadian yang akan kembali datang, tetapi kapan pastinya dia juga belum mengetahuinya.
Dara hanya diam saja, tidak tahu mau menanggapi apa soal itu, karena baginya sangat sulit untuk tinggal di sini.
"Aku tahu sayang, kamu pasti akan terus mengungkit masalah hari itu, tapi itu udah lama sekali, lupakanlah, dan mulai kehidupan baru dengan Jingga, please jangan egois, kita harus memikirkan tentang Jingga, bagaimana nasib kalian jika tinggal jauh dari siapapun, tidak ada yang mengenal kalian, tidak ada yang bisa membantu," pinta Zein lagi dengan sangat memohon pada Istrinya.
Semua yang dikatakaan oleh Zein memang benar, apa lagi di dalam kondisi mereka yang seperti ini, sangat sulit untuk mendapatkan bantuan dari orang-orang sekitar.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Zein pada Dara.
"Entahlah, mungkin akan membuka sebuah toko atau apalah nanti, belum aku pikirkan saat ini," jawab Dara yang terlihat acuh pada Zein.
"Kamu kenapa? Kamu tidak suka aku di sini?" tanya Zein lagi, sambil mengusap lembut wajah istrinya.
Dara menggelengkan kepalanya singkat, menolak apa yang dipikirkan oleh Zein, "aku hanya sedang bingung dengan permintaamu itu, aku tidak tahu aku bisa tinggal di sini atau tidak," jawab Dara singkat.
Zein menghela nafasnya kasar, dia sangat tahu jika Dara memanglah sangat keras kepala dalam mentukan sesuatu yang tidak dia sukai.
"Ingat yang manisnya saja sayang, jangan yang jeleknya, sudah begitu saja," tegas Zein, membuat Dara tidak mempunyai keputusaan lain.
"Lalu bagaimana dengan Tasya?" tanya Dara, yang sedari kemarin memikirkan tentang madunya itu.
"Bagaimana apanya?" tanya Zein bingung.
"Bagaimana jika dia mau merampas Jingga dari tanganku?"
"Kamukan sudah ada akte kelahiran Jingga dengan namaku sebagai ibu kandungnya, lalu apa lagi yang harus dikhawatirkan sekarang?" Sahut Zein lagi, mencoba mengusir segala rasa gelisah di hati istrinya.
Dara beranjak dari pangkuan Zein, dan melangkahkan kakinya ke arah jendela.
Namun berbeda dengan Zein yang menangkap kalung bermatakan cincin pernikahaan mereka di leher istrinya.
"Siapa yang memberikanmu kalung ini?" tanya Zein sambil memegang dua cincin itu.
"Tante Stella," jawabnya singkat.
"Ya sudah, aku keluar dulu untuk bilang sama Lyla kalau aku nginap di sini," ujarnya, dan langsung melangkahkan kakinya untuk pergi menghampiri Lyla yang berada di luar.
Sesampainya di luar, dia melihat Lyla yang sedang menonton tv di rumahnya. "Lyla," panggil Dara.
"Ya tante," sahut Lyla.
"Tante nanti akan nginap di sini, jadi kalau kamu mau pulang tidak apa-apa, dan bilang sama mama dan papah kamu kalau tante akan tinggal di sini," seru Dara memberikan pesan kepada Lyla untuk disampaikan kepada Aiden dan Freya.
"Kenapa?" tanya Lyla bingung.
"Kenapa? Maksudnya?" tanya Dara balik.
"Kenapa tante tiba-tiba mau tinggal di sini, sedangkan sedari tadi aku menyuruh tante bilang gak mau," protesnya yang merasa kesal karena sedari tadi dia sudah berbicara panjang lebar, tetapi Dara tidak menanggapinya.
Tapi sekarang, tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba saja dia mau pindah ke sini.
"Ohhh itu karena tante pikir-pikir lagi, buat apa tante tinggal di sana, tetapi tidak ada yang kenal sama tante, apalagi kondisi Jingga lagi seperti ini, pasti dia harus selalu membutuhkan pertolongan cepatkan," ujarnya menjawab apa yang jadi kegelisahaan Lyla.
"Baiklah tante, nanti aku bilang sama papah, untuk mengirim anak buat ke sana dan mengambil semua barang-barang tante," seru Lyla, yang selalu menggampangkan semua masalah yang ada.
"Baiklah Lyla, terima kasih banyak ya, karena sudah banyak membantu tante," ucap Dara dengan sangat tulus.
Lyla tersenyum dan langsung memeluk tubuh Dara dengan sangar erat. "Sama-sama tante, kalau ada apa-apa langsung hubungin Lyla ya tante, jangan sungkan sama Lyla. Dan tante jangan sedih-sedih lagi, karena Lyla yakin jika setelah ini uncle Zein pasti akan selalu bersama tante walau hanya bayanganya saja," ujar Lyla menatap Dara dengan senyuman jahilnya.
Sontak saja Dara melepaskan pelukan Lyla dari tubuhnya, serta menampilkan wajah bingungnya. "Ada apa tante?" tanya Lyla dengan sok polos.
"Bagaimana kamu tahu tentang bayangan Zein?" tanya Dara bingung.
Namun sepertinya Lyla sudah mengetahui itu semua, "tadi waktu uncle Zein datang aku melihatnya tante," jawab Lyla, kembali membuat Dara membesarkan matanya karena merasa tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Lyla.
"Udahh ih tante, Lyla mau pulang dulu ya, besok pulang sekolah Lyla akan mampir ke sini tante," pamitnya dengan sopan.
"Iyah baiklah, pintu rumah tante terbuka lebar untuk menerima kamu kok," sahut Dara dengan tersenyum manis ke arah Lyla.
"Oh iya tante, nanti akan ada kurir datang ke sini untuk mengantarkan seluruh bahan makanan dan seluruh kebutuhan rumah tante ya," seru Lyla sebelum pergi.
"Loh, siapa yang belanja La?" tanya Dara.
"Supermarketnya punya nenek Stella kok tante, jadi aku tinggal telpon terus datang deh," imbunya pelan, lagi-lagi membuat Dara tercengang dengan semua yang dikatakan oleh Lyla.
"Tadi jalanan punya neneknya, sekarang supermarket punya neneknya, sebenarnya sekaya apa keluarga itu semua?" batin Dara merasa heran dengan setiap jawaban santai yang keluar dari mulut Lyla.
"Oh iya tante, jangan lupa kalau mau pergi cek kesehataan Jingga, ke rumah sakit Medivron aja ya tante, itu juga punya-,"
"Punya nenekmu, iya-iya tante tahu, samua punya nenek kamu kan," timpal Dara merasa jika dirinya sedang dipermainkan oleh Lyla.
"Hufft tante, gini deh, tante ada laptopkan, coba cari di google, 7 Nama Orang Terkaya di dunia," ucap Lyla sebelum melangkahkan kakinya pergi.
"7 terkaya di dunia?" gumam Dara pelan, namun juga begitu penasaraan.
Setelah Lyla benar-benar pergi, dengan segera dia mengambil laptopnya dari kamar dan membuka situs googlenya.
"Beruntung sebelum meninggal Zein masih ingat untuk membayar tagihan wifinya," gumam Dara yang merasa bahwa suaminya ini pintar dalam membayar seluruh tagihan.
"7 keluarga terkaya di dunia," tulisnya dalam kolom pencarian.
Manopo yang dipimpin oleh Arvan Varizal Manopo
Lesham Grup yang dipimpin oleh Aiden Giovano Lesham Manopo
Jonathan yang dipimpin oleh Mario Jonathan
Maurice yang dipimpin langsung oleh Zein Alucas Maurice.
"Cikhh, artikel salah ini, orangnya sudah meninggal masih saja ditulis," omelnya ketika melihat nama suaminya berada di daftar orang-orang terkaya itu.
"Apaa-apaa, Zein?" gumamnya lagi, ketika baru menyadari jika itu adalah nama suaminya.
"Apanya apa?" tanya Zein yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*