It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tugas Zein Sudah Selesai



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Griffin melepaskan genggaman tangan Lyla dan berjalan mendekat ke arah Arvan, dengan menatap mata pria paruh baya itu dengan tajam.


"Bubarkan semua pengawalmu! Atau aku akan bertindak!" Ancamnya namun sama sekali tidak membuat Arvan takut kepadanya.


Namun dia melihat Arvan sedang memberikan kode pada beberapa anak buahnya untuk segera mengunci gerakan Griffin dan membuatnya berlutut dengan kedua tangan yang direntangkan serta kepala yang ditekan ke bawah.


"Apa-apaan kalian bajingan lepas! Brengsek," teriaknya terus meronta dari kuncian mereka.


"Grifffin," teriak Lyla ingin menyelamatkanya, namun anak buah Arvan dengan sigap juga menahanya, dan membuatnya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Lepaskan Lyla! Apa mau mu sebenarnya Pak Tua, jika kamu mau membunuhku maka silahkan saja, namun tidak dengan Lyla, brengseekk," teriaknya terus meronta.


Jenni yang melihat cucunya diperlakukan seperti itu kini hanya bisa menangis histeris, "apa yang akan kamu lakukan Pah, dia cucu kita, dan baru kembali setelah pengasinganya." Tangis Jenni dan terlihat sedang berlutut di kaki suaminya agar melepaskan cucunya yang sedang terlihat kesakitan.


Namun bukanya melepaskan, Arvan malah merobek paksa baju Griffin dan membiarkannya bertelanjjjang dada saat ini.


"Arvan apa yang mau kamu lakukan, dia cucuku!" Bentak Mario menghalangi langkah Arvan yang terlihat ingin melakukan sesuatu pada cucunya.


Dan tak lama kemudian, munculah Robert dan juga beberapa alat dan sebuah api membara yang di letakan di sebuah tempat yang sudah di khususkan.


Jenni dan Eden semakin lemah dan tak mampu berkata-kata apa lagi melihat Arvan yang entah ingin melakukan apa.


Begitu juga dengan Lyla yang saat ini mulutnya tengah di bekap agar tidak berteriak-teriak lagi.


Sedangkan Griffin yang melihat alat itu seperti ditujukan kepadanya, kini hanya memejamkan matanya pasrah dan semakin memperdalam rasa bencinya pada keluarga besar ini.


"Griffin sayang, Kekek tidak masalah jika kamu masih butuh waktu untuk menerima semua ini, tapi kamu harus ingat dari mana kamu berasal, mau kamu menerima atau tidak itu tetap akan terjadi, dan kamu harus tau, sebelum kamu mau menerima kakek, Oppa dan keluarga ini kamu tidak akan pernah bisa melangkahkan kakimu keluar dari Mansion ini meskipun kamu hanya ingin bersekolah," tegasnya tanpa penuh bantahan, sambil memanaskan sebuah besei dengan sebuah ukiran di ujungnya.


"Kamu pikir siapa dirimu," balas Griffin sinis.


Dan tiba-tiba saja dia menjerit menahan rasa sakit serta pedih di tubuhnya, ketika Arvan menancapkan dan mencetakan besi itu tepat di punggungnya.


"Aaaaaaarrrrrrrgggghhhhhhh," teriak Griffin dengan sangat nyaring hingga terdengar oleh Jesper dan Valen yang baru saja datang.


"Pah, Griffin," lirih Valen khawatir mendengar teriakan cucu kesayanganya.


Dengan cepat mereka berdua berlari menghampir sumber suara itu, dan melihat Arvan yang menancapkan besi ukiran panas di tubuh cucunya.


Griffin yang baru pertama kali merasakan sakit yang sangat luar biasa seperti itu, kini melemah dan nyaris terjatuh pingsan.


Sedangkan Arvan yang melihat ukiran itu sudah terbentuk sempurna di tubuh cucu kesayangannya kini langsung tersenyum puas.


"Ini adalah sebuah lambang besar keluarga Manopo, dan lambang ukiran ini hanya akan ada di tubuh para pemimpin," serunya lalu membuka bajunya dan memperlihatkan ukiran lambang yang sama ada di punggung badanya.


Dan kini Jenni yang selalu ingin bertanya masalah tato lambang itu namun takut Arvan akan tersinggung, dan kini baru Ia menadapatkan jawabanya ketika Arvan juga melakukan hal yang sama pada Griffin yang merupakan penguasa selanjutnya dan juga cucu kesyanganya.


Di saat yang lainya masih terdiam melihat kejadian ini, berbeda dengan Arvan yang langsung menatap Robert untuk segera memberikan pengobatan pada cucunya itu.


Namun sebelum itu dia meminta Robert untuk memanggil Alson, dan keluarga lainya untuk masuk dan melihat apa yang sedang terjadi.


Alson, Vika dan lainya sontak saja terkejut melihat Griffin yang lemah dan tidak berdaya seperti itu, serta api yang masih menyala di sebelahnya.


"Kalian semua duduklah!" Perintah Arvan yang langsung di patuhi oleh semuanya.


Tidak terkecuali Valen yang ingin sekali memeluk tubuh cucunya itu.


Arvan beralih menggendong cucunya dengan ala bridel stayle, dan dengan kekuatanya dia mengangkat sedikit tubuh Griffin dan menujukan pada seluruh keluarga.


"Perkenalkan dia adalah Griffin Jonathan Manopo, dia adalah Lord selanjutnya yang akan menggantikan posisiku sebagai penguasa dunia, dia adalah cucu pertamaku dan juga yang terbaik dari yang terbaik, dan mulai hari ini keputusan adalah sebuah perintah bagi siapapun, apa kalian mengerti." Tegas Arvan yang langsung membuat yang lainya tunduk menghormati keputusan Arvan sekaligus menyambut Raja baru mereka yaitu Griffin.


Setelah mengucapkan hal itu, Arvan langsung menggendong cucunya masuk ke dalam sebuah kamar mewah yang sudah di desainya sedari dulu khusus untuk cucu kesayanganya ini.


Dengan perlahan Arvan merebahkan tubuh cucunya dengan posisi telungkup, agar tak membuat lukanya tertindis, lalu dia mulai mengelus lembut rambut cucunya dan mencium pipi Griffin berulang-ulang, hingga tanpa sadar air matanya itu jatuh menahan rasa haru akibat pertemuan ini.


"Oppa benar-benar merindukanmu dan juga Papahmu Fin, maafkan Oppa yang sudah bertindak tidak adil dengamu," batinya menatap sendu wajah yang sangat dia impikan saat ini.


Wajah yang selalu mengisi hari-harinya dalam kegelapan, walaupun dia hanya bisa melihat dari sebuah foto saja, namun tidak bisa dingkari bahwa Griffin sudah mengambil seluruh hidupnya.


Tapi bukan berarti dia tidak menyayangi cucu-cucunya yang lain, namun hanya saja rasa sangat serta cintanya pada Griffin jauh lebih besar dari apapun.


Di saat dia tengah memandang wajah yang begitu dia rindukan, tiba-tiba saja terdengat suara ketukan pintu dari luar.


Tokk,,tookk,


"Masuk." Sahut Arvan dari dalam.


Terlihat Robert dan beberap staf dokter yang datang untuk mengobati Lord Griffin.


"Permisi Lord, meraka adalah dokter yang akan mengobati Lord Griffin," ucap Robert menunjuk ke 4 dokter yang di bawa khusus dari Cyberaya.


Arvan menganggukan kepalanya mempersilahkan para dokter untuk mengobati cucunya, tanpa ada keinganan ingin berpindah dari sisi Griffin.


Hingga tak beberapa lama kemudian para dokter yang telah selesai mengobati cucunya itu pamit mengundurkan diri dari pandangan Arvan yang masih setia menatap dan mengelus pipi cucunya yang masih terkendalikan obat bius.


Namun dari luar dia seperti mendengar suara Valen berteriak tidak terima dengan perlakuan Arvan kepada Griffin yang merupakan cucunya juga. Membuat Arvan memilih untuk meninggalkan Griffin sejenak untuk melihat keadaan di luar.


“Apa-apaan kamu teriak seperti itu Valen!” Bentak Arvan yang melihat Valen sedang di tenangi oleh suaminya Jesper.


Valen yang melihat keberadaan Arvan kini mulai mendekat dan langsung berlutut di kaki sang penguasa itu.


Jesper yang melihat istrinya seperti itu, dengan sigap memeluk tubuh Valen dan membuatnya untuk bangun.


“Valen sayang, ayo bangun, kamu tidak seharusnya seperti ini,” lirih Jesper pelan agar istrnya bangun dari lantai.


Arvan menoleh sekilas menatap Valen dan Jesper yang sedang menahan sakit melihat perlakuanya tadi, namun Arvan harus bertindak tegas untuk keduanya agar tidak lagi muncul di sekitaran cucunya.


“Jesper, Valen, aku sangat berterima kasih dengan semua jasa-jasa kalian merawat dan membesarkan cucu ku hingga saat ini, namun saat ini sudah waktunya posisi kalian terganti olehku yang merupakan Kakek kandungnya,” seru Arvan yang membuat keduanya bingung dengan kalimat yang di ungkapkan oleh Tuanya ini.


“Jesper, Valen, aku harap hari ini adalah terkahir kalian memperlihatkan wajah dihadapan cucuku! Aku tidak mau jika keberadaan kalian nanti akan membuatnya semakin sulit untuk menerimaku,” tegasnya yang menyatakan bahwa Jesper dan Valen harus pergi dari sisi Griffin.


“Apa maksud kamu Van ?” tanya Jesper dengan sedikit membentak.


Tidak ada lagi rasa hormat atau apapun pada Arvan dengan semua kalimatnya yang seperti itu. "Maksud aku tugas kalian semua sudah selesai saat ini, dan saat ini aku berharap kalian jangan pernah kembali lagi untuk Griffin,” tegasnya lalu pergi meninggalkan pasangan yang masih terdiam mendengar kalimat dari Arvan tadi.


Mereka masih tidak menyangka bagaimana bisa seorang Arvan yang dulu meminta mereka untuk merawat Griffin sekarang dia juga yang meminta mereka untuk menjauhinya.


“Valen yang tersadar dengan perintah Arvan itu merasa tidak terima, dan mulai melangkah menuju pintu kamar Griffin. Namun langkahnya lebih dulu di tahan oleh para pengawal termasuk Robert yang memberikan sebuah surat yang menyatakan jika nama Jesper telah naik menjadi penguasa urutan ke 5 yang berarti dia telah naik 2 tingkat dari angka 7 yang selama ini dia pegang.


Valen membuang surat itu tepat di hadapan Robert, “Kami tidak membutuhkan ini! Kami hanya ingin Lord Arvan mengizinkan kami untuk tetap bertemu dengan Griffin cucu kami, itu saja saya mohon,” pintanya dengan menangis.


Namun Robert hanya terdiam karna mereka sudah tahu jelas jika sekali Arvan mengatakan satu hal, maka itu akan mutlak untuk selamanya.


Jesper yang tak sanggup melihat istrinya memohon seperti itu, dia langsung segera menghampiri Valen dan mendekapnya dengan sangat erat.


“Kebersamaan kita denganya hanya sampai di sini sayang, berikanlah waktu kepada Arvan dan juga Griffin untuk saling mendekatkan diri sebagaimana harusnya, mereka adalah keluarga kandung, sedangkan kita adalah suruhanya saja,” ucap Jesper lembut agar istrinya itu bisa mengerti dengan keadaan saat ini.


“Tapi-,” jawab Valen gugup.


Jesper menangkup kedua pipi Valen dan menatap mata indah itu dengan dalam, “yakinlah jika suatu saat nanti kita akan bertemu denganya cepat atau lambat.” Ucap Jesepr dengan yakin, dan Membuat Valen sedikit bersemangat, dan Jesper yang mendapatkan semangat istrinya perlahan mulai kembali kini langsung memeluknya erat. “Ayo kita pulang ke Mansion Emilio, sebelum Griffin bangun dan melihat kita di sini,” ajak Jesper pada istrinya.


Valen seperti teringat akan sesuatu dan mencoba untuk mencari sosok putranya, “dimana Zein Pah?” tanyanya pada suaminya.


“Mungkin dia ada di halaman belakang seperti biasa, ayo kita ajak dia pulang dan sekalian aku ingin memintanya untuk menggantikan posisiku memimpin perusahaan,” balas Jesper yang sontak mendapatkan tatapan sulit terartikan dari Valen.


“Kenapa kamu memberikanya pada Zein?” tanya Valen dengan pelan.


Jesper tersenyum manis dan kembali memeluk tubuh istrinya, “kamu dan Zein adalah kehidupaku sekarang, jika dia adalah putramu maka dia juga adalau putraku, dan bukankah sudah seharusnya seorang anak melanjutkan warisan Papahnya,” jawabnya dengan sedikit tersenyum.


Dan setelah mereka kembali sedikit hangat, kini dengan segera mereka melangkahkan kakinya untuk pergi dari Mansion Manopo sebelum Griffin melihatnya.


Sedangkan di dalam kamar Griffin, terlihat Arvan yang begitu telaten mengurusi cucunya yang masih belum sadarkan diri.


“Wajah kamu begitu mirip dengan Papah kamu sayang, tapi masih ada sedikit dari mata Mamah kamu yang tertinggal,” lirihnya pelan tak henti-henti menyentuh setiap sudut wajah cucunya itu.


Sudah bertahun lamanya dia menunggu moment ini, di mana cucu kesayanganya ini berada di dalam dekapanya seperti saat ini.


Namun di saat Arvan tengah asyik dengan kegiatanya menyentuh wajah cucunya, sang pemilik terlihat bergerak menunjukkan jika dirinya telah sadar.


“Jauhkan tanganmu dari wajahku pak tua,” serunya pelan tanpa membuka matanya. Akan tetapi dia begitu tahu jika dia saat ini tengah di kurung di sebuah sangkar emas milik kakeknya.


Dan seketika dia mengingat sosok yang sejak tadi bersamanya namun kini tidak mendengar lagi suara itu.


“Dimana Lyla?” Tanyanya ketus dan mulai membuka matanya mencari sosok yang dia cintai selama ini.


Arvan terlihat bangkit dari tidurnya dan kembali menatap wajah Griffin lebih dalam, “apakah kamu menyukainya Cu?” tanya Arvan yang kini mulai menggoda cucunya yang masih dingin terhadapnya.


“Bukan urusanmu!” balas Griffin dengan ketus, rasanya dia malas sekali dengan kakeknya yang selalu menguntitnya saat ini.


“Oppa bisa melakukan apapun untuk mu sayang, semua keinginanmu akan Oppa ikutin, kamu tinggal bilang saja ya,” ucap Arvan lagi tak berhenti berusaha medapatkan perhatian cucunya.


Griffin kembali membuka matanya dan menatap Arvan dengan tajam, namun bukanya takut atau tersinggung Arvan malah menampilkan senyum bahagianya.


“Kalau begitu aku menginginkan kamu pergi dari kamarku!” perintahnya dengan tegas pada kakeknya.


“Kenapa harus ?” tanya Arvan mulai menggoda lagi.


“Keluar!” bentak Griffin tanpa ingin menjawab pertanyaan Oppanya.


Arvan menghela nafasanya kasar dan berharap suatu saat nanti cucunya ini mau mendengar penjelasanya.


Dengan langkah pelan, Arvan memilih untuk keluar dari kamar cucunya dengan tatapan lesuh dan rasa sakit bagaikan di tembak ribuan peluru.


Dia jelas tahu jika Griffin bukanlah sosok yang jahat, hanya saja mungkin dia masih menyimpan sebuah rasa sakit hati dari semua kenyataan yang dia terima saat ini.


Arvan memahami itu dan bahkan dia tidak sungkan memberikan waktu pada cucunya untuk mau menerima keluarga besarnya serta nama belakangnya yaitu Griffin Jonathan Manopo.


*To Be Continue. **


Note: teman - teman, Mohon Maaf ya, Mimin mau ngabarin, kalau Give Awaynya Mimin Pindah untuk Karya It’s So Hurts. Karena Mimin tidak bisa melihat hasil kalian jika tertumpuk dengan poin - poin yang lama.


Jadi Mimin pindah ya, Dukungan Give Away karyanya untuk Karya It’s So Hurts 🙏🏻🙏🏻


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*