
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Freya yang tidak tahan dengan segala umpataan yang keluar dari mulut Tasya, kini tanpa sadar mulai meneteskan air matanya, dan segera berlalu kembali ke kamarnya.
“Sayang,” panggil Aiden dengan keras.
Dan tak lama kemudian, terlihat Lyla yang keluar dengan memakai pakaian tidurnya dengan membawa botol minumnya.
“Mama kenapa sih pah? Lari-lari begitu?” tanya Lyla penasaraan, apa
Lagi ketika dirinya melihat wajah papahnya yang begitu kesal.
Namun tidak lama kemudian dia kembali mendengar suara teriakan dari luar, “itu siapa lagi yang teriak-teriak di luar?” tanyanya entah pada siapa.
Lalu dengan santainya dia ingin berjalan keluar, untuk melihat siapa yang sedang membuat kributan, “Lyla,” panggil Aiden, sebelum putrinya itu berhasil melangkah keluar, dan mendengar kalimat-kalimat yang masih belum pantas untuk didengarnya.
“Masuk kamar!” perintah Aiden dengan tegas.
Sontak saja Lyla menggaruk kepalanya bingung, “tadi mama nangis sambil lari masuk ke kamar, terus ada orang teriak-teriak di luar, sekarang papa bentak-bentak dan malah suruh aku masuk ke kamar, wahhhh jangan-jangan,” ejeknya, dengan mengambil kesimpulaanya sendiri.
“Jangan-jangan apa? Kamu jangan aneh-aneh Lyla,” tegas Aiden, yang selalu pusing dengan tingkah pemikiran putrinya yang sudah dewasa sebelum waktunya.
Lyla mengedikan bahunya singkat, sambil menampilkan wajah acuhnya, “intinya Lyla tidak mau punya adik, titik,” pungkasnya, lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tv.
Aiden terdiam berpikir sejenak, mengartikan kalimat putrinya, “Lyla tidak mau punya adik?” gumamnya.
“Ohh dammmn, jangan bilamg anak ini berpikir kalau aku mempunyai selingkuhan,” lirih Aiden pelan.
Tapi sepertinya anaknya itu memang sedang berpikir seperti itu, “ah aku akan mengurusnya putriku itu nanti, sekarang aku mau urus si Tasya dulu,” ucapnya lagi pelan.
Setelah itu, tanpa banyak berpikir lagi, Aiden langsung melangkahkan kakinya keluar untuk menemui Mamahnya dan juga Tasya.
“Ada apa kamu ke sini lagi?” tanya Aiden tiba-tiba.
Tasya dan Stella terdiam melihat Aiden dengan wajah dinginnya, “kamu mau membahas soal apa? Kamu mau bilang kamu dan kakak kamu sudah menyelamatkan kami, begitu?” hardiknya tidak tanggung-tangung.
“Dengarin ya baik-baik, kamu dan kakak kamu menolong kami itu wajar dan memang sudah tugas kalian sebagai seorang dokter, tetapi apa yang dilakukan oleh kakak kamu itu tidak wajar, dia menculik istriku dan membunuh bayiku, dan membuat istriku gila, apa ini yang dinamakan balas budi?” tanya Aiden dengan mencerca.
Tasya yang sedari tadi bersuara, kini seketika diam dengan apa yang telah disampaikan oleh Aiden. Dia tidak pernah mengetahui itu semua, yang dia tahu Aiden dan Teddy adalah musuh.
Sehingga ketika pembunuhaan kakaknya itu terjadi, Tasya mengira jika masalahnya hanyalah dendam, demi Tuhan dia sama sekali tidak mengetahuinya.
“Kenapa kamu diam? Apakah kamu baru mengetahui bahwa kakak kamu itu adalah seorang yang tidak waras hingga berani menculik istri orang, dan berharap untuk menikahinya?” tanya Aiden dengan suara yang terdengar menyindir.
“Akuu—aku,” jawab Tasya mulai gugup.
Tidak ada lagi keberanian seperti tadi yang membuatnya berteriak, dia sangat malu dengan semua ini, sehingga dia langsung ingin melangkah pergi begitu saja, namun Aiden lebih dulu menahan tangan Tasya.
“Sudah cukup Tasya, jangan menyiksa diri kamu sendiri, dulu kamu ingin kebebasaankan makanya kamu sampai mendatangi Zein hingga semua ini terjadi. Sekarang pergilah yang jauh dan buat kehidupan kamu sendiri, cari kebahagiaan kamu sendiri Tasya, apa kamu tidak capek berada di dalam situasi seperti ini?”
“Kamu wanita Tasya, dan aku menghargai itu, aku tau yang Zein lakukan itu salah, tapi apakah tidak kamu bisa memberikan kesempatan untuk Zein dan juga Dara merawat Jingga, sebenarnya apa yang kamu sedang khawatirkan jika putrimu dirawat oleh mereka?” ucapnya pelan, menanyakan bagaimana perasaan Tasya yang sebenarnya.
Tasya tersenyum tipis mendengar penuturan Aiden, “kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya ketika anak yang kamu lahirkan sendiri, kamu merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang, anak bekebutuhan khusus yang selalu menjadi tontonan masyarakat, yang selalu menjadi hinaan masyarakat, tapi aku menerimanya, karena aku mencintainya, lalu tiba-tiba saja ada seseorang dari masa lalu, yang dulu ingin membunuh bayi kamu, tidak ingin anak itu terlahir, dan bahkan sakitpun karena dia, dan sekarang dengan tidak tau malunya dia mengatakan bahwa anakku adalah anaknya juga, bahkan sampai menculik seorang anak dari ibu yang mencintainya, apa kamu bisa terima? Apa kamu tidak kangen? Apa kamu tidak merasakan sesak ketika seseorang yang setiap harinya bersamamu terus tiba-tiba hilang, tanpa tau keberadaanya,” tuturnya pelan.
Dia sangat ingin untuk Aiden dan Stella mengerti tentang perasaannya sebagai seorang ibu, hingga dia menatap ke arah Stella, dengan tangisan yang sudah tidak bisa lagi dia tahan.
"Huaaaa,,hisskk,.hisskkk," tangis Tasya pecah, dan terduduk begitu saja di teras Mansion Lesham sambil memukul-mukul dadanya yang sesak.
Ini sungguh menyakitkan, ketika orang yang kamu sayang tiba-tiba hilang, Melihat betapa rapuhnya hati Tasya, Stella langsung memeluk tubuh lemah itu, menyalurkan semua kekuataanya, menyalurkan kasih sayangnya sebagai ibu.
Dia bisa melihat sendiri bagaimana hancurnya Tasya, memiliki anak yang diculik tanpa tau harus berbuat apa.
"Sabar Tasya, semua pasti akan kembali, suatu saat nanti Jingga pasti akan kembali ke kamu," lirih Stella pelan.
Tasya yang terlalu banyak menangis, kini terjatuh pingsan di dalam pelukan Stella.
"Tasyaa,,Tasyaa,,Tasyaa," panggil Stella dengan khawatir sambil menepuk-nepuk wajah Tasya.
"Mah," lirih Aiden, dan langsung mengambil alih tubuh Tasya, "biar Aiden gendong Mah," ucap Aiden pelan, sambil mengangkat tubuh mungil Tasya masuk ke dalam Mansion.
Namun Aiden sama sekali tidak menyadari bahwa putrinya Lyla saat ini sedang menatapnya sinis ketika ada Tasya di dalam gendongannya.
Lyla langsung pergi begitu saja dengan memencak-mencakkan kakinya.
"Lyla kenapa sih Aiden?" tanya Stella bingung melihat tingkah cucunya.
Aiden hanya bisa mengedikan bahunya singkat, karena dia memang tidak tahu apa yang sedang berada dipikiran putrinya saat ini.
"Ya sudah, kamu bawa saja Tasya ke kamar tamu," titah Stella, dan ingin melangkahkan kakinya pergi untuk memanggil bi Salmah.
Akan tetapi, belum saja dirinya melangkah, seketika matanya membulat ketika melihat Lyla yang membawa sebuah pissstol dan menodongkannya ke arah Aiden.
"Lyla apa-apaan kamu," bentak Stella yang terkejut ketika melihat cucunya melakukan hal di luar batas.
Namun bukannya gentar, Lyla malah menekan pelatukkk dari pisstol itu, "turunnkan senjjjatamu Lyla," pekik Aiden tak kalah emosi pada putrinya.
"Sudah Lyla bilang bukan, Lyla tidak ingin memiliki adik, apa lagi adik dari istri papah yang lain," sahut Lyla dengan api yang sudah membara.
Sontak saja Stella dan Aiden saling menatap kebingungan, "siapa yang punya istri lain Lyla?" tanya Stella, namun kali ini dengan nada yang sangat lembut.
"Ini anak nenek," tunjuknya pada papahnya.
Stella menelan salivanya dalam-dalam, terlebih -lebih Aiden yang hanya bisa membulatkan matanya besar ketika mendengar putrinya bisa bicara dan berpikir seperti itu terhadapnya.
"Siapa yang bilang kalau papah kamu punya istri lain sayang?" tanya Stella lagi.
Lyla langsung menunjuk ke arah Tasya dengan menggunakan pistol yang berada di tanganya.
"Ehhh, tunggu dulu, ini itu bukan selingkuhan papah sayang, ini tuh selingkuhanya uncle Zein," elaknya dari tuduhan yang dilontarkan putrinya.
Terlihat Lyla yang memundurkan pelatuknnya, dan tersenyum sinis ke arah Aiden, "kalau ini bukan selingkuhan papah? Lalu kenapa mamah tadi menangis? Lalu kenapa wanita ini tadi teriak, Aiden tanggung jawab, Aiden tanggung jawab gitu," hardiknya langsung tepat sasaran. Membuat Stella dan Aiden terdiam, karena merasa bingung untuk menjelaskannya.
"Ada masalah yang belum waktunya Lyla untuk mengetahui sayang, tapi yang jelas istri papah hanya 1 yaitu mamah Freya dan anak papah juga cuman satu yaitu Kalyla, tidak ada yang lain sudah titik," tegas Aiden pada putrinya.
"Dan untuk Mamah," seru Aiden lagi pada Stella.
"What?" tanya Stella dengan santai.
"Besok-besok kalau nonton sinetron indosiar, jangan bawa-bawa anak Aiden mah, dia belum waktunya tau tentang perselingkuhan dan KDRTan," tegas Aiden pada mamahnya.
Dia merasa Lyla harus dijauhkan dari mamahnya jika sedang menonton, karena mamahnya ini akan selalu menjelaskan apa yang terjadi di TV, dan selalu memutarkan film-film yang berbau rumah tangga dan itu sangat-sangat membuat Aiden menjadi kesal seperti saat ini.
*To Be Continue. **
Note: teman - teman, Mohon Maaf ya, Mimin mau ngabarin, kalau Give Awaynya Mimin Pindah untuk Karya It’s So Hurts. Karena Mimin tidak bisa melihat hasil kalian jika tertumpuk dengan poin - poin yang lama.
Jadi Mimin pindah ya, Dukungan Give Away karyanya untuk Karya It’s So Hurts 🙏🏻🙏🏻
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*