It’S So Hurts

It’S So Hurts
Kepercayaan yang Telah Hancur



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"Sayang, kamu makan dulu ya,” pinta Dara sambil mengambilkan nasi untuk Zein.


“Baiklah,” jawab Zein, dengan diam duduk menikmati makanannya. Zein terus memandang ke arah wajah Dara.


“Ada apa, sih, kamu memandangku seperti itu?" tanya Dara bingung.


“Sayang, bisakah kamu memberitahuku di mana Ayah kamu tinggal?" tanya Zein dengan hati-hati, takut kekasihnya ini akan mencurigainya.


Dara menatap Zein dengan lekat. "Ada apa tiba-tiba kamu menanyakan tentang ayahku?" tanya Dara balik.


“Apakah kamu tidak ingin mengujunginya? Atau mengunjungi kakak kamu mungkin?" tanyanya lagi.


Dara menggelengkan kepalanya singkat, "Maaf, Sayang, tapi Ayah sudah bilang dan memperingatkan kita untuk tidak memberitahu di mana dia tinggal saat ini, karena katanya itu sangat berbahaya," jawab Dara, dengan menampilkan wajah sedihnya.


Zein terdiam sesaat, dia juga tidak ingin


memaksa untuk Dara mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan.


“Ya sudah, yuk kita berangkat saja, nanti terlambat," ajak Zein, yang terlihat sudah menyelesaikan makanannya.


Dara menganggukkan kepalanya pelan, sambil membereskan piring-piring kotor itu.


Sedangkan Zein, terlihat sedang mengetikkan pesan singkat di ponsel pribadinya, "Cepat cari kakaknya dan lenyapkan malam ini juga!" perintahnya yang tertulis dalam ponsel.


Tanpa dia sadari jika pesan itu dibaca oleh Dara yang sedari dari tadi berdiri di belakangnya, "Kakak siapa? Apa yang ingin Zein lakukan kali ini?" batinnya bertanya-tanya.


“Sayang," tegur Dara, sontak membuat Zein terkejut dan segera memasukkan ponselnya dalam saku.


“Eh, Sayang, sudah siap?" tanya Zein dengan gugup.


“Iya," jawab Dara singkat, lalu menggandeng tangan Zein untuk segera melangkahkan kakinya pergi.


*****


Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di lokasi syuting Dara, karena memang tempatnya tidak jauh dari kediaman Zein tadi.


“Halo, Dara, selamat pagi," sapa Pandu, ketika melihat Dara yang baru saja datang.


Namun fokusnya terhenti, ketika melihat seorang pria yang dengan berani datang dan menciium pipi Dara.


“Halo, Pandu, kenalin ini adalah kekasihku," sahut Dara, memperkenalkan Zein dengan Pandu, agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman.


Pandu tersenyum tipis menanggapi ucapan Dara, hingga dia memilih untuk pamit mengundurkan dirinya dari hadapan Dara dan Zein.


“Sepertinya dia menyukaimu," sindir Zein pada Dara.


“Biarkan saja sih, karena aku nggak peduli," sahut Dara santai.


Setelah itu, keduanya melangkahkan kaki untuk duduk di kursi yang sudah lebih dulu diduduki oleh Justin dan juga Tyas.


“Halo, Justin, halo, Tyas," sapa Dara ramah.


”Halo, Dara, halo, Mr. Zein," sahut Justin.


“Halo, Mr. Zein," sahut Tyas.


Namun ketika mereka baru saja ingin duduk, tiba-tiba saja ponsel Zein terdengar berdering, dan membuatnya semakin gugup di hadapan Dara.


“Sayang, aku angkat telpon sebentar ya," izinnya pada Dara.


“Ya," sahut Dara singkat, sambil menatap Zein yang melangkah jauh darinya.


“Kalian sudah baikan?" sindir Justin, yang membuat Tyas menatap Dara dengan teliti.


“Kalian berantem?" tanya Tyas dengan tersenyum lebar.


Dara hanya diam dan mengedikkan bahunya singkat, merasa enggan untuk menjawab pertanyaan dari kedua temannya ini, kerena fokusnya saat ini ada pada pesan text yang tadi ditulis oleh Zein.


Sampai sosok wanita tiba-tiba datang menyamparin mereka. "Halo Justin," sapanya dengan lembut.


“Di sini bukan Justin aja kali, ada aku dan juga Dara," sindir Tyas yang kesal ketika wanita yang diketahui adalah mantan dari kekasihnya ini masih sering saja mengganggu.


Wanita itu tertawa dengan sangat menjijikkan. "Lihatlah, Justin, wanitamu ini sangat bar-bar sekali ? Kamu pasti tertekan, kan? Beda sama saat dulu kamu bersamaku," sahutnya lagi pelan, benar-benar memancing emosi Tyas.


“Kamu--," ucap Tyas berhenti, ketika Justin menggenggam tangannya.


“Sela cukup ya, kamu tau tidak jika aku lebih bahagia bersama dengan Tyas, dibandingkan sama kamu dulu," tegas Justin, membuat Sela kehabisaan kata untuk melawan.


Sampai akhirnya tatapanya jatuh pada Zein yang baru saja kembali entah dari mana.


“Wahhh ada cowok ganteng nih, boleh dong aku kenalan," seru Sela, dengan tersenyum alay pada Zein yang hanya diam tanpa ekspresi.


“Tidak boleh, karena dia adalah kekasih Dara!" bentak Tyas tepat di hadapan wajah Sela.


“Kamu kenapa, sih, Tyas? Kan terserah dong kalau dia mau berpaling kan tidak apa. Sebelum pernikahan itu, siapapun masih bebas memilikinya. Yang sudah menikah aja masih bisa menjadi milik orang lain kok, apalagi yang masih pacaraan," sahut Sela, dengan santai, dan tanpa mereka sadari, jika Dara sangat-sangat emosi mendengar semua itu.


“Kalau kamu mau rebut kekasihku, silahkan rebut aja. Coba tanya sama dia mau tidak dia tergoda sama kamu. Kalau dia mau silakan ambil aja, aku tidak akan pernah takut kehilangan dia, apalagi mempertahankan laki-laki yang tidak setia sama saya, silahkan nih ambil," seru Dara penuh emosi, membuat Zein hanya bisa menelan salivanya kasar.


“Aku seperti tidak ada harganya lagi di hatinya sekarang," batin Zein, yang merasa jika Dara sudah tidak mencintainya lagi, sehingga mampu mengeluarkan kata-kata seperti itu.


Zein langsung menarik Dara dari tempat itu, dan mambawanya masuk ke dalam mobil.


"Aapaan sih," ketus Dara menepis tangan Zein dari genggamannya.


“Kamu kenapa bicara seperti itu?" bentak Zein pada Dara, dengan suara tinggi.


“Lah kenapa marah? Kan memang benar, kalau kamu sampai tergoda dengan wanita lain untuk apa aku pertahankan? Itu sama aja dong aku merendahkan harga diri hanya karena laki-laki yang nggak setia, buat apa?" sahut Dara, tak kalah emosi.


Zein memilih diam dan enggan menjawab kalimat Dara, karena dia khawatir jika Dara akan melebar lagi dan mengungkit lagi kejadian kemarin.


“Dara begini ya, aku sudah berjanji jika akan setia, maka aku akan setia."


“Sudah tidak percaya dengan kamu," sahutnya tegas.


“Kamu tau kan kertas yang udah kamu remas, kamu robek itu udah nggak akan bisa kembali utuh, sama dengan sebuah kepercayaan yang sudah kamu hancurkan, dia tidak akan bisa kembali utuh, Zein, hanya dengan sikap dan perbuatan kamu saja yang bisa membuktikan apa kamu akan setia atau malah mendua," ungkapnya lagi, membuat Zein lagi-lagi terdiam dengan seluruh kalimat yang dilontarkan oleh kekasihnya ini.


“Sayang, please jangan dibahas lagi, bisa tidak sih? Aku tahu aku salah, tapi cukup, tidak usah dibahas terus," lirih Zein pelan, merasa frustasi menghadapi Dara yang terus mengungkit permasalahan ini.


Dara menganggukkan kepalanya singkat dan mencoba untuk bicara jujur dari hati ke hati.


“Kamu sayang, tidak, sama aku ?" tanya Dara to the point.


“Apa sih, Sayang? Apa pertanyaan ini masih perlu kamu tanyakan? Sepertinya tanpa aku menjawab pun, kamu sudah tau jawabannya," tungkasnya pelan.


“Hanya menjawab saja, Zein Alucas, tidak perlu meleber," tegur Dara kesal.


“Ya, sayang," sahut Zein.


“Cinta?" tanya Dara lagi.


“Jelaslah aku sangat mencintaimu," sahut Zein serius.


“Kalau begitu jujur sama aku, tentang apa yang kamu sembunyikan saat ini dari aku!" tegasnya, yang sontak membuat Zein terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dara.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻