It’S So Hurts

It’S So Hurts
Suamiku Hantu Tajir



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"Apanya apa?" tanya Zein yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.


Plaakkk "kenapa sih munculnya tiba-tiba terus, kaya hantu aja," bentak Dara, merasa kesal ketika jantungnya ingin copot karena Zein yang selalu muncul tiba-tiba.


Zein tertawa dengan keras, merasa ingin sekali menggigit pipi Dara yang gembul itu. "Memang hantukan sekarang aku," sahut Zein dengan santainya.


"Oh iya, kan sekarang hantu ya," seru Dara yang lupa jika Zein sekarang sudah menjadi hantu dalam imajinasinya.


"Kamu lagi liat apa sayang?" tanya Zein sedikit melirik ke arah laptop Dara.


Dara menggeser sedikit layar dari laptopnya untuk memperlihatkan Zein dengan jelas.


"Zein Alucas Maurice inikan kamu sayang, tetapi kenapa ada dideretan nama keluarga terkaya?" tanya Dara bingung.


"Ehhhmmm mungkin mirip saja sayang, lagian semua kekayaan yang aku punya adalah bagian dari keluarga Manopo, jadi sekarang aku sudah tidak memiliki apa-apa," sahut Zein dengan mengusap lembut pipi istrinya.


"Tapi tetap saja, suamiku ini ternyata hantu Tajir banyak uangnya," timpal Dara dengan menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Kenapa kamu tidak menemui Jingga?" tanya Dara pada Zein.


"Karena aku tidak bisa muncul untuk banyak orang sayang, aku hanya diberi kesempatan untuk muncul di depan kamu saja, karena mereka tahu kamu belum ikhlas melepaskaanku."


"Tetapi nanti, ketika kamu sudah ikhlas, aku benar-benar harus pergi," ujar Zein, menatap sendu kosong ke depan.


Dara mengangkat kepalanya, menatap lekat ke arah wajah Zein, dia memperhatikan setiap lekukaanya, dan kembali meneteskan air matanya lagi. "Apakah jika selamanya aku tidak ikhlas, itu tandanya kamu akan selalu berada di sini bersamaku?"


Zein menggelengkan kepalanya pelan, "tidak sayang, aku tidak akan lama gentayangan seperti ini, ketika nanti semuanya sudah ikhlas melepaskanku, maka dengan itu aku harus pergi, dan tugasku sekarang adalah ingin memberikan hari-hari indah untukmu menjadi kenangan untuk selamannya sebelum aku benar-benar pergi dari hidupmu," ucap Zein, berusaha menghapus air mata yang terjatuh di pipi Dara.


Karena sudah tau jawabannya, Dara segera memeluk tubuh Zein dengan sangat erat.


"Hissskkkk,,hisskkk jangan pergi, jangan pergi aku mohon," tangisnya dengan keras, tanpa sadar membangunkan Jingga yang sedang tertidur.


"Mamah kenapa nangis lagi? Mamah rindu ayah ya?" tanya Jingga dengan segera memeluk tubuh Dara dan menghapuskan air mata mamahnya.


Dara tersadar dengan kehadiran Jingga, dan langsung membuka matanya, mencari sosok Zein yang hilang. "Hiskkk,,hisskkk,,mamah ingin ayah kamu kembali sayang, mamah rasanya tidak kuat jika harua kehilangan dia," ungkapnya pada Jingga.


Dia benar-benar tidak sadar, jika harusnya dialah yang menjadi kuat untuk Jingga, tetapi lihatlah saat ini, semuanya malah terbalik, dan Jinggalah yang menjadi kuat untuk Dara.


"Mamah, dulu Jingga pernah dengar orang bicara jika kita rindu sama seseorang, maka berdoalah agar dia bisa bahagia di sana," ucap Jingga dengan polos.


Dan ini semakin membuat Dara terluka, dan merindukan masa di mana Jingga dan Zein tertawa bersama tepat di depan matanya.


Dara menatap wajah Jingga yang terlihat sangat menyimpan semua luka di dalamnya.


Karena merasa tidak sanggup lagi, Dara berlari masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Jingga begitu saja.


"Mamah, Jingga juga merindukan ayah mah, hiskk,,hiskk," tangis Jingga begitu pelan, dan juga berlalu masuk ke dalam kamar, dan menulis buku dairynya seperti biasa.


Dear Ayah Zein


Jingga mau meminta maaf, dengan ayah, karena Jingga masih cengeng dan selalu menangis seperti anak kecil. Tetapi Jingga rindu dan ingin bertemu Ayah. Dulu Jingga terkadang merasa merasa iri kepada mereka yang terlihat bahagia bersama ayahnya, dan seketika Jingga ingin memiliki ayah, dan Jingga selalu berharap ingin bertemu Ayah, namun ketika kita sudah bertemu, Tuhan mengambil ayah kembali dari Jingga.


Dear Ayah Zein


Aku minta maaf ayah, putrmu hanya bisa memberikan doa yang terbaik untukmu dan berharap untuk bisa bertemu dengan ayah lagi.


Jingga Maurice


Sedari tadi Jingga tahu jika hidungnya kembali mengeluarkan darah, sehinga tetes demi tetes darahnya membasahi setiap tinta yang tertuli dalam buku itu.


Jingga melipat kakinya dan menyembunyikan kepalanya dengan tangan yang memeluk kakinya.


"Hiskk,,hiskk, ayah, kenapa ayah selalu ninggalin Jingga ayah? Apa salah Jingga? Sedari kecil ayah selalu meninggalkan Jingga sendiri menghadapi dunia yang kejam ini ayah, Jingga takut," batinya, merasa sakit dengan rindu yang tidak bisa berakhir.


Jingga dan Dara menangis dalam kesedihan mereka masing-masing.


Zein bisa melihat kedua wanita kesayangaanya yang menangis dan mengucapkan rindu kepadanya.


Awalnya dia berharap dengan kehadiran dirinya beberapa saat, bisa sedikit mengobati rasa rindu di hati Dara.


Tapi ternyata tidak bisa, Dara dan Jingga sama-sama merasakan sakit atas semua ini.


Zein hanya bisa terduduk di sofa ruang tamu dan mendengar semua jeritan rindu dari kedua wanitanya.


"Maafkan aku Dara, maakan ayah Jingga, aku belum bisa menjadi seorang pria dan ayah yang sempurna untuk kalian. Aku lelah, aku capek dengan semua ini, jika aku tidak meninggalkan dunia ini, apa bisa keluarga besar itu berhenti menggangu kita? Aku memilih untuk pergi tetapi membuat hidup kalian tenang, dari pada harus hidup tetapi membuat kalian menderita," batin Zein yang merasa bahwa ini memang adalah pilihan terbaik untuk mereka saat ini.


Zein melangkahkan kakinya ke dalam kamar Jingga, dia terduduk di tepi ranjang melihat putrinya yang menangis dalam menahan sakit di kepalanya.


Darah terus mengalir dari hidung Jingga, tetapi untuk saat ini Zein ingin membiarkannya, "menangislah sayang, tumpahkan semua rasa sakit yang kamu rasakan saat ini, dengan harapan besok akan hari indah tanpa harus ada ayah yang menemanimu," lirih Zein dengan pelan, ingin mengusap kepala Jingga, tetapi tidak bisa.


Beberbeda dengan Dara yang menatap kosong ke arah tempat tidurnya. Dia mengingat semua kenangan bahagia bersama dengan Zein dulu.


"Di tempat tidur itulah, kita bersama memadu kasih dan mencurahkan seluruh cinta yang ada, kamu memelukku, kamu mencciiumku, kamu memberikan cintamu, tetapi sekarang semua sudah hilang, semua telah direnggut dariku dengan begitu saja."


"Di meja rias itu, terkadang kamu sering marah ketika aku menggunakan make up yang tebal, sehingga kamu akan selalu memperhatikan setiap aku merias diri, kamu selalu berkomentar setiap aku menggunakan pakaian terbuka, kamu selalu marah ketika aku lebih mememtingkan syuting dari pada kamu, dan aku yang selalu marah ketika kamu bertindak sesukamu,hiskk,,hiskkk."


"Kamu ingat tidak? Di saat kamu memeluk tubuhku, dan aku merasakan sakit, aku sangat meriiddukan pelukan itu, aku memilih untuk merasakan pelukan itu dibanding aku merasakan pelukan yang tidak nyata seperti ini."


"Hisskkk,,hisskkk, bisakah aku menyusulmu saja? Di dunia ini aku hanya punya kamu, dan sekarang kamu juga sudah pergi dari sini," tangis Dara semakin pecah, ketika mengingat semua yang terjadi saat ini.


"Aku lelah Zein, aku sangat lelah dengan semua ini, bisakah aku kembali dengan kehidupanku dulu? yang mencari uang hanya dengan bernyanyi saja? Tanpa perlu berpikir tentang seseorang yang dicintai? Bisakah kamu memberitahuku bagaimana mengahapus rasa sakit karena sebuah rasa riiindu yang tidak akan pernah bisa diobati," tanyanya pada angin malam yang berhembus dengan kencang.


Ada begitu banyak pertanyaan ingin sekali dia tanyakan pada Tuhan yang dia anggap sangat tidak adil dalam kehidupaannya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*