It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tugas Zein Hampir selesai



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah perdebatan cukup panjang, Valen akhirnya kembali ke rumahnya untuk menjalankan ibadahnya.


Sedangkan Jesper memilih untuk masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.


Berbeda dengan Zein yang kini sudah mengatur jadwal untuk melatih Griffin. Dan itu akan di mulai hari ini dengan melatih anak itu cara menembak tepat sasaran dan gesit.


Gunanya untuk melatih kecepatannya dalam menghabisi lawan yang mungkin nanti tidak seimbang.


Di pagi harinya, Zein yang tidak bisa tidur kini memilih untuk jogging keliling komplek. Dia paling tidak suka hanya berleha-leha dan mengurus hal-hal yang tidak penting.


Namun di saat Zein berlari, dia melihat ada sosok anak kecil yang tertidur di depan sebuah ruko dengan hanya beralaskan kardus saja.


Zein mencoba untuk mendekatinya, dan melihat apakah anak itu masih hidup atau sudah mati.


Melihat tubuh anak itu yang bergerak, Zein akhirnya memilih untuk membangunkanya. “Hallo,hey,,hey,,hey, bangun,” serunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh anak itu.


Dengan rasa ngantuk yang berlebih, anak itu terbangun karna mendengar suara Zein. “Engghh baik-baik Tuan, saya akan pindah," ucapnya yang mengira Zein adalah pemilik ruko itu.


“Kenapa kamu tidur di sini?” tanya Zein.


Anak itu terbangun dan memperbaiki posisinya dan menatap tajam ke arah Zein, “karna aku tidak mempunyai tempat tidur lain,” jawabnya ketus.


“Di mana rumahmu? Kenapa kamu tidak tidur di rumah, bersama orang tua mu?” tanya Zein lagi yang sudah seperti wartawan.


Anak kecil itu terus memandang ke arah Zein, dengan tatapan menyelidik, dia takut jika Zein adalah seorang penculik yang akan memaksanya untuk bekerja mengemis seperti kemarin.


Zein yang menyadari tatapan itu kini tau jika anak itu sedang menyelidikinya, “tenang saja aku bukanlah orang jahat, aku hanya ingin bertanya kemana orang tua kamu? Dan mengapa kamu tidur di sini?” tanya Zein lagi.


“Orang tua saya sudah tidak ada Paman, mereka sudah mati dibunuh dengan sekelompok orang yang saya tidak tahu siapa,” balasanya dengan sedikit menundukan kepalanya. Dia meningat kembali kejadian di mana orang tuanya di bunuh tepat di depan kedua matanya.


Mendengar jawaban itu, Zein langsung bisa menyimpulkan bahwa anak ini adalah yatim piatu yang tidak memiliki tempat tinggal.


“Hemm, jadi kamu melakukan apa setiap harinya ? Dan makan mu bagaimana ?” tanya Zein lagi.


“Kalau ada yang kasih makan, dan kalau tidak ada ya tidak makan,” jawabnya santai.


Zein memandang anak ini dengan detail agar tidak ada kesalahanya dalam mengambil keputusan, “sepertinya dia bisa menjadi teman bermain untuk Griffin," batinya yang merasa puas melihat anak ini.


“Baiklah, jika begitu kamu ikut sama Paman ya, kamu tinggal sama Paman dan jadi teman bermain untuk keponakan Paman Griffin namanya, dia baik kok, kamu pasti akan suka berteman denganya,” ucap Zein pada anak itu.


Namun bukanya menjawab, anak itu terlihat ragu dengan ajakan Zein yang secara tiba-tiba.


Pasalanya ini adalah hari pertama mereka bertemu, dan juga mereka belum saling mengenal.


“Kenapa?” tanya Zein yang melihat anak itu ragu.


“Kita belum saling kenal Paman, kenapa mau membawaku?” tanyanya pelan.


“Baiklah nama ku adalah Zein Maurice, dan nama kamu siapa?” tanya Zein lagi memperkenalkan dirinya.


“Derry,” jawab anak itu.


“Oke Derry, aku tidak memerlukan alasan apapun untuk menjawab pertanyaanmu itu, hanya saja aku mau kamu menjadi teman main untuk keponakan ku Griffin. Dan aku akan menyekolahkanmu bersama dengan dia, intinya jadilah keponakan yang baik untuk ku,” seru Zein menyampaikan keinginan di hatinya.


“Hanya itu ?” tanya Derry dengan ragu.


“Ya hanya itu,” sahut Zein lagi.


“Sudah ayo, ikut aku pulang. Kita akan bertemu denganya setelah kamu membersihkan tubuhmu terlebih dahulu,” ujarnya lagi. Lalu menarik tangan Derry untuk ikut denganya.


Di rumah Jesper, terihat Griffin yang tengah bermain bersama Kevin dan adiknya Kintan yang merupakan anak dari Vincent.


Usia Griffin dan Kevin hanya terpaut satu tahun saja, namun dengan Kintan dia berjarak dua tahun lebih tua.


“Anak-anak, hari ini apa kegiatan kalian?” tanya Jesper yang sedang menonton TV, namun sekali-kali melirik ke arah anak-anak yang tengah bermain game online.


Griffin melirik sedikit ke arah kakeknya, karna ini hari libur makanya mereka semua berada di rumah, “hari ini aku akan belajar cara menembak dengan paman Zein kek, kalian mau ikut gak?” jawab Griffin sekaligus mengajak dua temanya ini untuk ikut serta.


Mendengar Griffin yang dengan santai mengajak orang lain, membuat Jesper membulatkan matanya besar, “astaga, kenapa dia begitu santainya mengajak anak orang lain,” gumam Jesper dalam hati.


Dan tiba-tiba saja dia mendapatkan sebuah panggilan telpon yang berasal dari Aiden.


Jesper segera mengangkatnya dan mendengar secara saksama apa yang di inginkan oleh Aiden, “oke baiklah aku akan membawanya ke sana,” jawab Jesper yang di dengar oleh Griffin.


Jesper kembali memainkan ponselnya dan segera menghubungi Zein agar ikut pergi ke kediaman Lesham juga atas perintah Aiden.


“Griffin ayo kita bersiap-siap, kita akan pergi ke suatu tempat,” ajak Jesper pada Griffin.


“Kemana kek?” Tanyanya yang merasa aneh melihat wajah Kakeknya.


“Hanya ikut saja, nanti kalian juga akan tau,” balas Jesper dengan mengarah kepada kalian yang berati anak Vincent juga akan ikut bersama dengan mereka.


Dan benar saja, tak lama kemudian datang Vincent dengan menggunakan mobil untuk membawa yang lain untuk pergi ke Mansion Lesham bertemu dengan Aiden dan Stella.


Tanpa banyak bertanya Griffin, Kevin dan Kintan hanya mengikuti langkah dari para tetuah yang menuntun mereka masuk menuju rumah Lesham.


"Kita mau kemana?" tanya Kevin pada Griffin yang merasa jika saat ini semuanya sedang tegang.


"Entalah, kita ikuti saja kemana Papahmu membawa kita," balas Griffin dengan berbisik.


Dan tak lama kemudian, mereka telah sampai di Mansion mewah milik keluarga Lesham, dengan Aiden yang telah menunggu di pintu dan juga terlihat Zein yang sudah berada di san lebih dulu dengan membawa Derry di sisinya.


Griffin menatap ke arah Derry yang baru pertama kali dia lihat, "siapa dia paman?" tanya Griffin pada Zein.


"Dia adalah teman baru kamu yang Paman temukan tadi pagi, dan kalian semua hari ini akan berlatih sama-sama," ucap Zein.


"Sama-sama?" Tanya Griffin lagi.


Namun tak lama datanglah Kevin,Kintan merupakan anak dari Vincent , dan Jevier yang merukapak anak dari James dan juga Erika anak dari Martin. . Mereka juga memiliki usia yang sama dengan Griffin yang hanya terpaut satu tahun darinya kecuali Kintan yang terpaut 2 tahun darinya.


Tak lama mereka menunggu,, keluarlah sosok anak gadis cantik yaitu Kalyla yang merupakan anak dari Aiden.


Griffin sempat memandang ke arah Lyla yang sedang tersenyum ke arah mereka, "apakah kita semua akan berlatih Daddy?" Tanya Lyla pada Aiden.


"Iya sayang, kita semua akan berlatih khususnya Griffin, karna dialah yang akan memimpin kalian semua nanti." Balas Aiden sontak membuat Griffin memandangnya bingung.


Zein yang mengerti araha tatapan Griffin itu akhirnya memperkenalkan Aiden padanya, karna selama ini Griffin tidak pernah melihat sosok Aiden di sekitaranya, "Griffin perkenalakan dia adalah Aiden Giovano Lesham, pemimpin dari alianse gelap, dan termasuk pemimpin kita semua," ucap Zein yang masih belum memperkenalkan Aiden sebagai Paman Griffin.


"Hallo Paman, saya Griffin," jawab Griffin memperkenalkan diri.


Aiden tersenyum menanggapi ucapan Griffin itu, "Hallo Griffin, senang bertemu dengamu," balas Aiden.


"Baiklah, sekarang bawa semua anak-anak untuk berlatih bela diri di taman sebelah, dan untuk kamu Griffin, Lyla dan juga Derry silahkan ikut dengan Paman Zein yang akan melatih kalian menembak dan memainkan pedang hari ini." Perintah Aiden yang langsung di jalankan oleh para orang tuanya.


Griffin mendadak bingung dengan pengaturan ini, "mengapa yang lain berbeda dengan kami Paman?" tanyanya pada Aiden.


Vincent tersenyum pada Griffin, "karna sebelum kamu berlari, kamu pasti harus tau caranya berjalan lebih dulu Nak, jadi biarkan yang lainya berlatih fisik terlebih dahulu dan setelah itu baru mereka akan belajar mental," balas Vincent yang memberikan pengertian pada Griffin.


"Oh begitu ya Paman, baiklah aku mengerti," jawab Griffin lagi yang sudah mengerti pengaturan ini.


Dan setelah itu mereka mengambil langkah masing-masing. Vincent, James, Martin sekaligus Jesper yang memilih melatih anak yang lain. Sedangkan Aiden dan Zein melatih ke tiga anak yang benar-benar harus di persiapkan mentalnya secara keras.


Aiden dan Zein tidak bermain-main dalam melatih mereka. Hingga berani memberikan sennnjata ini.


Ketiganya sudah fokus memegang sennjataanya masing-masing, tanpa dibekali apapun oleh Aiden dan Zein, seperti biasanya yang pasti dibekali kacamata dan lain-lain.


Kali ini Aiden membiarkan ketiga anak ini berlatih tanpa menggunakan apapun, agar melatihnya terbiasa dimedan perang nanti.


"Ready," teriak Zein memberikan kode pada mereka untuk mulai mengeker sennjataanya.


"Bersiap!" Teriak Zein lagi, dan anak-anak itu mulai membidik targetnya.


"Lepaskan!" Teriak Zein lagi.


"Dorr,dorr,dorr," tembakan yang mereka lepaskan dan terlihat hampir sempurna di awal permulaaan.


Aiden dan Zein merasa puas melihat anak-anak yang cepat sekali menangkap apa yang diajarkan kepada mereka.


"Lagi," teriak Aiden memerintah anak-anak itu agar mengulangi tembbaakan mereka sampai benar-benar sempurna.


Hampir 3 jam lamanya mereka berlatih dan kini semua tembakansampai tepat pada sasaranya. Bahkan mereka sudah bisa bergerak lincah dengan menembakan 5 peluru dalam hitungan detik. Dan ini menambahkan nilai plus bagi ketiganya.


Aiden dan Zein kembali tersenyum puas melihat perkembangan dari mereka bertiga. Dan kini saatnya menguji kelincahan mereka.


Aiden dan Zein kini kembali mengambil sennjaata mereka, yang kali ini hanya berisikan peluru palsu.


"Kalian semua akan dilatih dalam tingkap daya kecepatan, tiarap, merangka, dan berlindung lah agar kalian tidak terkena pelurunya. Apa kalian mengerti," seru Aiden memberikan arahan bagi tidak anak-anak nya.


"Siap mengerti," balas mereka.


Aiden dan Zein benar-benar tidak memberikan mereka istirahat. Karna bagi keduanya di medan perang yang sesungguhnya tidak ada kata letih ataupun capek dalam menghabisi musuh. Kalian bisa beristirahat jika memang sudah selesai.


"Bagus, jika begitu ayo kita mulai," teriak Aiden dan mulai menembakan senjatanya ke sembarangan arah. Hingga mereka kini bisa melihat betapa lincahnya anak-anak dalam bergerak menghindari peluru.


Latihan kali ini hanya sebentar saja, hingga akhirnya anak-anak kembali diberikan senjata untuk membalas serangan.


Hingga aksi baku tembak peluru palsupun terjadi, dan ini membuat mereka semakin gencar menggunakan senjata.


Sampai pada akhirnya Zein kembali memerikan senjata asli dan melatih mereka bersama dengan para prajurit TNI dan Polisi yang sudah sangat handal dalam bidang ini.


Pelatihan ketiganya memanglah tidak main-main, hingga Aiden harus mendatangkan TNI dan Polisi untuk melatih mereka.


Seminggu ini waktu mereka hanya habis untuk berlatih-berlatih dan berlatih.


Di usia Griffin dan Derry yang baru menginjak 11 tahun dan juga Lyla yang baru berusia 10 tahun. Hal ini mamanglah sangat luar biasa.


Tapi meningat siapa orang tua mereka, dan niat untuk membalaskan dendam serta memimpin dunia. Hal ini wajiblah mereka lakukan.


Mereka tidak marah dan tidak ingin membuang waktu dengan permainan anak kecil. Bagi mereka permainan menantang maut ini adalah satu poin paling menyenangkan bagi mereka.


"Hufftt, huftt bagaiaman perasaan kalian hari ini?" Tanya Griffin pada teman-temannya.


"Not bad," jawab Lyla.


Sedangkan Derry sebenanrnya masih bingung sampai detik ini, mengapa dia harus berlatih sekeras ini, sedangkan dia tidak merasa mempunyai musuh sama sekali.


"Derry apakah kamu mengenal wajah pembunuh orang tua kamu?" tanya Griffin tiba-tiba menanyakan tentang kehidupan Derry.


"Ya aku mengenalnya, bahkan sangat mengingatnya, dan suatu saat berbekal dari ilmu yang saat ini aku punya, pasti aku akan membalaskan dendam mereka," balas Derry dengan menampilkan kilatan amarah di matanya.


Griffin tersenyum bahagia melihat itu, dia merasa tujuan hidupnya sama dengan Derry, dan itu akan membuat mereka saling mendukung satu sama lain.


"Baiklah, kita akan bersama-sama membalaskan dendam dari orang tua kita masing-masing dengan saling membantu, dan itu akan sangat-sangat menarik bukan," seru Griffin dengan senyum puasnya.


Plaakkkk Lyla memukul lengan Griffin dengan keras. "Aduuhh Lyla kenapa kamu memukul ku," keluh Griffin mengusap lenganya yang di pukul Lyla.


"Karna orang tuaku belum mati, jadi kita tidak sama-sama, tapi aku akan membantu kalian," ucap Lyla yang membuat ketiganya tertawa bersama.


Ke-esokan harinya, saat ini ketiganya telah bersiap untuk menjalankan misi pertama mereka, yaitu melakukan penyelundupan Narrkoba ke salah satu mobil Tank yang akan mereka temui di jalan nanti.


Bisa dibayangkan bukan, bagaimana serunya dan bahayanya Aiden melepaskan anak-anaknya untuk menjalankan Misi berbahaya di usia dini seperti ini.


Namun untuk melatih mereka, hal ini harus di lakukan sampai saatnya nanti mereka bertiga bisa menghadapi dunia yang sebenarnya.


Dengan santainya Zein mengendarai sebuah mobil yang akan mengalihkan beberapa box Narkkoba ke Tank lainya yang akan dibantu oleh Grffin, Lyla dan Derry.


Mereka akan menukar Box yang sedang diincar oleh polisi menjadi box kosong tanpa isi. Agar polisi tidak bisa mendapatkan barang bukti hasil penyelundupan mereka.


“Yeyy, berhasil,” seru mereka di saat berhasil menukarkan box itu dengan rapi dan cepat.


Mereka bertiga melakukan tos ria sebagau celebrete kesuksesan misi pertama mereka.


“Ini sangatlah menyenangkan dan aku suka ini,” seru Lyla yang menyukai misi seperti ini.


Namun berbeda dengan Griffin yang malah hanya menampilkan wajah datarnya.


“Apakah kita seorang penjahat? Ini bukalah niat kita kenapa kita harus menjadi Mafia? Bukankah kita hanya ingin membalaskan dendam saja,” ucapnya pelan, yang tidak mengerti kenapa mereka belajar sampai sejauh ini.


Derry mendekat ke arah Griffin dengan merangkul bahunya.


“Oh ayo lah teman, ini hanyalah sebuah permainan, jangan terlalu serius seperti itu,” ucap Derry.


Griffin hanya mengedikan bahunya singkat sebagai tanda bahwa dia akan cuek, “sebenarnya masih banyak sekali permainan yang lebih seru dari pada ini, cuman ya mau gimana lagi, ini adalah bagian dari latihan kita kan,” balasnya dengan santai.


“Ya seperti itulah,” sahut Lyla yang juga bingung ingin meniawab apa.


Sampai akhirnya Zein memberhentikan Tank yang dia bawa ke sisi jalan, lalu dia turun untuk melihat keadaan anak-anak yang terlihat senyap.


“You all okay?” tanya Zein.


“Ya, We are okay, why not?” sahut Lyla dengan bertanya lagi.


“Paman hanya ingin memastikan keadaan kalian saja,” jawab Zein dengan perasaan canggung di buat oleh anak-anak.


Anak-anak hanya terlihat cuek tak perduli dengan ucapan Zein, membuatnya hanya tersenyum tipis tak percaya jika anak-anak akan lebih dingin dari pada sifatnya.


Merasa semuanya baik-baik saja, Zein kembali mengemudikan Truknya agar bisa cepat ke Markas.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻