
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
“Tentang masa depanmu dengan Zein,” tegas Arvan, dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa izin terlebih dahulu. Dara menghela napasnya berat, merasa beban hidupnya akan bertambah lagi saat ini.
Arvan duduk dengan berwibawanya di sofa, menunggu Dara untuk duduk di hadapannya. “Duduklah! Kamu berdiri buat apa?” bentak Arvan, melihat Dara yang seperti tidak mempunyai sopan santun.
Padahal Dara hanya merasakan takut melihat wajah Arvan yang galak bagaikan singa lapar.
“Iya, Tuan, saya duduk,” jawab Dara, dengan perlahan duduk di hadapan Arvan.
Namun baru saja Dara duduk, Arvan langsung melempar sebuah kertas cek berisikan angka fantastis. “Maaf, Tuan ini maksudnya apa, ya? Saya tidak mengerti,” tanya Dara semakin gugup melihat Arvan yang menatapnya tajam.
Arvan tersenyum dan memberikan sebuah surat di depan Dara, “Ambil uang itu dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Zein!” perintahnya tegas, meminta Dara untuk pergi dari kehidupan Zein.
“Maksudnya apa Tuan, kenapa saya harus menjauh dari kekasih saya sendiri? Masalahnya apa?” tanya Dara, dengan suara yang bergetar.
“Kamu dan Zein itu berbeda diibaratkan langit dan bumi, hidup Zein jauh berbeda dibandingkan hidup kamu yang kelam, jadi lebih baik kamu pergi dari kehidupan keponakaan saya, karena dia akan saya nikahkan dengan wanita pilihan saya,” tegasnya dengan penuh penekanan.
Dara menatap wajah Arvan dengan rasa tidak percaya. “Saya tidak tahu siapa Anda sebenarnya, tapi ini adalah kehidupanku dengan Zein, dan Anda tidak bisa ikut campur, untuk masalah ini, Anda lebih baik minta Zein untuk meninggalkan saya, karena saya tidak akan meninggalkan Zein jika bukan dia yang meninggalkan saya. Dan ini, ambil saja uang Anda, Tuan, saya tidak membutuhkannya, silakan pergi!” bentak Dara penuh emosi.
Bahkan dia sama sekali tidak memandang siapa Arvan dan bagaimana kedudukannya, baginya hubungannya dengan Zein adalah jauh yang lebih utama.
“Kamu rupanya tidak tau siapa saya?” balas Arvan tak kalah emosi, mendapatkan bentakan seperti itu dari Dara.
“Saya tidak peduli, Tuan,” jawabnya dan segera melangkahkan kakinya mencari telepon rumah untuk menelpon Zein.
Namun pergerakannya lebih dulu dihalangi oleh Arvan. “Berani kamu melaporkan hal ini pada Zein, maka seluruh keluargamu akan musnah di tanganku. Pikirkan baik-baik dengan tawaraanku. Pergi menjauh atau keluargamu yang akan menanggung semuanya,” ancam Arvan, sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya pergi keluar, meninggalkan Dara yang terduduk lemah di lantai.
“Hiskk,,hiskk,” tangis Dara benar-benar, merasa sesak akan semua derita yang ada.
Dan di saat Dara tengah duduk menangis histeris, dari arah luar terlihat Tyas yang masuk ke dalam rumah Zein, setelah mendapatkan izin dari sang pemilik rumah.
“Astaga, Dara, kamu kenapa?” seru Tyas yang merasa khawatir melihat keadaan Dara yang seperti ini.
“Hiskk,,hiskkk, aku tidak bisa, Tyas, aku tidak bisa meninggalkan dan melepaskan Zein begitu saja, aku mencintainya, Yas, aku mencintainya,” tungkasnya, menceritakan semuanya pada Tyas.
“Sudah, sudah, jangan diingat lagi ya, sekarang persiapkan saja diri kita untuk acara besok, ya,” ucap Tyas memberikan pengertian pada Dara.
Mendengar ucapan itu, seketika Dara langsung mengingat untuk melaporkan semua hal ini pada Zein.
“Tyas, bisakah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Zein,” pintanya pada Tyas, yang langsung menganggukkan kepalanya, dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
********
Sedangkan di sisi lain, Zein yang baru saja tiba di rumah, kini mencari sosok Valen? Ke mana Bunda?” gumamnya merasa muak jika dia tidak bisa masuk dalam rumah, karena Valen menguncinya.
“Aarraghhh siall, bateraiku habis lagi,” umpatnya, bertambah kesal melihat ponselnya yang sudah tidak ada baterainya.
Dengan menahan seluruh rasa emosinya, akhirnya Zein memilih untuk pergi ke rumah sakit, karena dia sangat yakin jika Bundanya ada di sana merawat Tasya.
****
“Bagaimana, Dar?” tanya Tyas ketika melihat Dara yang tak kunjung bicara.
Dengan wajah kecewa dia menyerahkan kembali ponsel milik Tyas. “Dia tidak mengangkatnya, mungkin saja dia sedang sibuk, atau dia sedang bersama wanita itu,” jawab Dara asal.
Dara menganggukkan kepalanya singkat, dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, untuk memebersihkan tubuh sejenak, dan juga berganti pakaian.
“Dara, jangan lama-lama! Aku menunggumu,” teriak Tyas, di saat Dara baru saja akan masuk ke dalam kamar.
“Iya, iya, bawel banget sih,” sahutnya, membuat Tyas tertawa mendengarnya.
*****
Sesaat Zein baru sampai di rumah sakit, dia langsung mencari ruangan Tasya yang berada di lantai paling atas.
Bahkan dia tersenyum sinis ketika melihat Arvan yang juga berada di sana. “Wah...wah, ini siapa sebenarnya yang sedang sakit? Kenapa kalian berkumpul di sini layaknya keluarga besar,” sindir Zein, membuat Valen dan Arvan yang tengah berdiskusi, kini menoleh ke arahnya.
“Zein,” lirih Valen pelan.
Berbeda dengan Arvan yang sepertinya sudah mengetahui pergerakan dari Zein.
“Aku datang ke sini bukan ingin menyesali, ataupun menjenguk wanita murahan itu, aku ke sini hanya ingin bicara sama Bunda, dan minta beberapa berkasku yang sedang Bunda simpan,” ucapnya langsung to the point.
Valen yang mendengar itu langsung menyerngitkan keningnya bingung, “Untuk apa kamu meminta semua surat-suratmu?” tanyanya sinis.
“Untuk mendaftarkan pernikahaanku dengan Dara besok,” jawabnya singkat, jelas dan padat.
Namun berbeda dengan ekspresi Valen, yang nyaris pingsan karena mendengar keputusan Zein yang membuatnya hampir gila.
“Enggak, Bunda tidak akan pernah memberikan berkas apa pun kepadamu, dan ingat! Sampai mati pun, Bunda tidak akan pernah mengizinkan kamu menikahi Dara,” tegas Valen, dengan menampakkan wajah amarahnya.
“Zein akan tetap menikah besok, tetapi pasangannya bukan Dara, melainkan Tasya,” sahut Arvan, dengan santainya, mengatakan hal yang paling pantang terucap saat ini.
Zein tersenyum mendengar hal itu, namun dia menggelengkan kepalanya malas, “Anda tahu Tuan Arvan, mungkin kamulah raja di dunia ini, tapi hidupku itu jauh dari jangkauanmu, dengan siapa pun aku menikah, itu sama sekali bukan urusan Anda, karena Anda itu adalah orang asing,” jawab Zein tegas, menolak keputusan Arvan yang ada di dalam hidupnya.
Arvan sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat yang terlontar dari mulut Zein, dia malah tertawa dan bahkan memakluminya. “Kamu boleh saja menolak, Zein, tapi aku juga ingin memberikanmu sebuah penawaraan, pilih Dara atau Bundamu,” seru Arvan tidak main-main dengan ucapannya.
“Maksud Uncle apa ?” tanyanya dengan berteriak penuh emosi.
“Kamu tinggal pilih, Zein. Aku tidak pernah bermain-main dengan kalimatku,” ucapnya sambil mengeluarkan pisau kecil di tangannya.
Sreeeekkkkkk “Aaaargh,” jerit Valen, ketika, Arvan merobek sedikit lengan Valen, hingga menimbulkan luka robek yang cukup dalam.
“Uncleee,” teriak Zein, tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Unclenya ini.
“Pilihan ada di tanganmu, Zein. Kamu pilih aku membunuh Bundamu detik ini juga atau, kamu mau aku membunuh Dara. Aku akan memberikanmu waktu sampai besok pagi, dan kamu hanya bisa memilih 1 di antara keduanya, ingat itu!” ancam Arvan, lalu beralih pergi meninggalkan Zein yang sedang mengepalkan tangannya kuat.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻