
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Di sebuah desa daerah jogja, terlihat seorang anak kecil berusia 9 tahun yang sedang di bully oleh teman-temannya.
"Sana kamu! Kita tidak mau bermain sama kamu," usir temannya satu.
"Iya, kita tidak mau bermain sama anak autise seperti kamu," sahut temannya lagi.
Anak perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya, dengan rasa takut yang berlebihan.
"Jingga," panggil ibunya, mencari anaknya yang sedari tadi tidak di rumah.
Sontak saja dua anak yang membullynya tadi langsung lari karena mendengar ibu dari anak itu datang. "Jingga, sayang kenapa keluar rumah, Nak?" tanya Tasya menghampiri putrinya yang selalu saja menjadi bahan hinaan di desa itu.
"Jing--jingg-jingga, mau ain sama reka bu," sahut anak perempuan itu.
Tasya mencoba tersenyum, menahan keketiran di hatinya, belum cukup rupanya Tuhan memberikan mereka hidup dengan kesakitaan selama ini. Dan sekarang anaknya harus di vonis autise oleh orang-orang. Membuat Tasya sebagai ibu rasanya sakit sekali, mendengar putri cantiknya yang di panggil seperti itu.
Memang di saat usianya baru 5 tahun, Jingga sudah di vonis memiliki penyakit Autisme oleh dokter. Namun Jingga memiliki IQ yang sangat tinggi. Hingga dirinya bisa selalu mendapatkan juara kelas.
Meskipun Jingga memilik sebuah kelaianan, tetapi dia tetap bisa bersekolah di sekolah biasa, tidak perlu masuk ke dalam sekolah luar biasa. Dan itu yang membuat Tasya yakin jika suatu saat anaknya akan menjadi orang besar walaupun Autise.
"Jingga dengarin ibu, Nak," ucap Tasya, menopang kedua pipi putrinya.
"Kita akan kembali ke kota, papah kamu harus tau tentang kondisi kamu ini, dan ibu yakin jika dia akan berusaha untuk menyembuhkan Jingga," ucap Tasya, namun sama sekali tidak ditanggapi oleh Jingga.
Hingga Tasya memilih untuk menggandeng putrinya pulang untuk mengepak pakaian mereka.
Bagi Tasya, sudah cukup mereka hidup dalam hinaan tetangga-tetangga di sini, karena itu benar-benar akan menghambat pertumbuhan Jingga. Tasya tidak ingin karena sebuah bullyan dan ganguan dari mereka semua, kondisi Jingga akan lebih parah nantinya.
Setelah sampai di rumah, Tasya mendudukan Jingga di kursi sementara, "Jingga tunggu di sini ya sayang, ibu akan beberes pakaian dulu, selepas ini kita akan berangkat ke Kota menghampiri Papah Jingga, kamu maukan sayang?" ucap Tasya, semakin sedih melihat anaknya yang hanya menggeleng-gelengka. Kepalanya serta tanganya yang bergerak-gerak tanpa bisa diam.
Jingga sama sekali tidak menjawab pertanyaan Tasya, dia malah sibuk berhitung sambil mengingat pelajaraan di sekolah tadi.
Lagi-lagi Tasya menahan sabar, dan langsung menghembuskan nafasnya kasar, dia ingin marah namun dia paham kondisi putrinya memang seperti itu.
"Jingga ibu ke dalam dulu, beresin pakaian ya, Jingga di sini dulu, dan tidak boleh kemana-mana," ucap Tasya, memberikan peringatan kepada putrinya.
Namun tidak lupa dia mengunci semua pintu dan jendela, agar putrinya ini tidak kabur lagi dengan alasan mencari teman.
Setelah dirasa aman, barulah Tasya masuk ke dalam kamar untuk mengemas pakaian mereka, sudah cukup 10 tahun ini mereka menghindar, dan ini saatnya Zein bertanggung jawab untuk kesembuhan putri mereka.
Kondisi Jingga seperti ini karena kesalahaanya yang pernah menginjak perut Tasya, membuat putrinya lahir dengan ganguan mental.
Mungkin bukan sepenuhnya salah Zein, namun tetap saja Jingga adalah putri dari keturunan Maurice, yang berarti Zein tetap harus bertanggung jawab atas kesembuhan Jingga.
Dengan keyakinan penuh, dan memberanikaan diri, Tasya nekad membawa Jingga untuk bertemu dengan Zein dan mendapatkan pengakuaan dari pria itu.
"Jingga, nanti kalau ketemu sama Papah, Jingga harus jadi anak yang baik ya sayang," lirih Tasya pelan.
"Ayah," sahut Jingga, memperbaiki kata-kata Tasya.
"Papah Nak, Jingga panggil Papah ya," balas Tasya.
"Ayah," sahut Jingga lagi. Membuat Tasya mengalah dan menganggukan kepalanya.
Tasya mengandeng tangan Jingga untuk segera menuju bandara, beruntungnya Jingga sudah terbiasa dengan alam sekitarnya, jadi dia tidak menjerit histeris ketika melihat keramaian.
Hanya masih ada beberapa orang yang menatap aneh ke arah mereka, melihat kondisi Jingga yang tidak biasa, membuat mereka pasti menatap putrinya dengan tatapan menghina.
Setelah mereka mendapatkan tiket, Tasya dan Jingga segera melakukan boording pass. "Hufftt kamu harus berani Tasya, kamu tidak boleh lemah, kamu harus memperjuangkan hak Jingga, dia masih punya Papah, biarkan kamu dan Zein berjuang bersama untuk kesembuhan Jingga," batinya, sambil mengusap lembut tangan Jingga yang berada di gengamaanya.
Setidaknya jika ada Zein, pria itu bisa melindungi putrinya dan menghindari Jingga dari bullyan sekitar.
Tak lama mereka mengudara, Tasya dan Jingga telah sampai di Kota tempat tinggal Zein.
Tasya memejamkan matanya singkat, lalu menatap ke arah Jingga yang kini masih tertunduk sambil terus berhitung. "Jingga, berhitung apa sayang?" tanya Tasya, sambil berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Jingga.
"Aku tidak berhitung, tapi aku belajar bahasa inggris," jawab Jingga singkat, dan itu sudah membuat Tasya tersenyum.
Karena Jingga memang jarang berucap panjang, namun Jingga masih mengerti apa yang orang lain katakan serta tanyakan kepadanya walau terkadang dia tidak menjawab.
"Jingga sudah siap bertemu dengan ayah sayang?" tanya Tasya lagi. Dan kali ini di jawab dengan anggukan kepala oleh Jingga.
"Good girl, sekarang ayo kita langsung ke rumah ayah," ajak Tasya lagi dan langsung menuju rumah Zein.
****
Sedangkan di dalam rumah Zein, terlihat Zein, Tyas dan Justin yang masih berdebat mempermasalahkan tentang hilangnya Dara.
Tyas yang tidak terima jika Zein terus menyalahkan Justin dan dirinya, kini terus menerus bersuara. Hingga Zein dan Justin hanya bisa terdiam menghadapi wanita yang jika bicara selalu panjang lebar.
Bahkan seingat Zein, dia baru bertanya satu kalimat, "mengapa kalian meninggalkan Dara sendiri?" hanya itu saja. Namun sudah 1 jam lebih Tyas masih tidak kunjung berhenti berdebat. Hingga Dante tertidur dipelukaannya. Dia masih terus berdebat.
Hingga terdengar suara bel pintu yang berbunyi, Hitto langsung membukanya.
Dan betapa terkejutnya Zein, Justin dan Tyas melihat sosok Tasya yang menggandengan anak kecil tepat di depan pintu rumah Zein.
"Hoho, lihatlah, dia mengurung kita di sini dan menuduh kita macam-macam, ternyata dia menyembunyikan istri serta anaknya juga di sini," sindir Tyas, yang membuat Zein langsung berdiri menghampiri Tasya.
"Untuk apa kamu ke sini? Bukankah aku sudah suruh kamu menghilang dari hadapanku! Kamu juga sudah mengambil uang bagianmu, lalu kenapa kamu masih ke sini?" tanya Zein langsung to the point.
Tasya menggelengkan kepalanya cepat, dan memperlihatkan Jingga ke arah Zein.
"Dia adalah Naura Jingga Maurice, dia putri kamu Zein," seru Tasya secepat mungkin, sebelum Zein mengusir mereka.
Zein tersenyum tipis tepat dihadapan Tasya, dan menatap ke arah Jingga. "Aku tidak pernah mengakui anak ini, lalu kenapa kamu memberikan namaku kepadanya," bentak Zein dengan penuh emosi.
Bahkan dia memandang jijik terhadap Jingga yang menurutnya sangat aneh, "pergi dan bawa anak ini jauh dari hadapanku! Aku tidak akan menerima anak darimu, apa lagi anak cacat seperti ini," teriak Zein, mendorong tubuh Tasya dan Jingga agar segera keluar dari rumahnya.
"Hitto, tutup dan kunci semua pintu! Usir kedua wanita itu dari sini sekarang!" perintah Zein dengan tegas kepada Hitto.
Membuat Justin dan Tyas memandang lekat ke arah Zein, mereka masih tidak habis pikir bagaimana bisa Zein melakukan itu dengan anak kandungnya sendiri.
Namun mereka tidak ingin ikut campur dalam masalah Zein dan Tasya, karena menurut mereka ini adalah karma untuk Zein dan Tasya atas apa yang sudah mereka buat terhadap Dara.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻