
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah melewati waktu 20 jam mengudara, saat ini terlihat Dara dan Zein yang menuju ke rumah mereka, dan selama perjalanan Zein hanya terdiam sambil terus memikirkan kata-kata nasihat yang disampaikan oleh Stella tadi, membuat Dara yang berada di sebelahanya kini menjadi bingung, karena tidak biasanya Zein seperti ini.
“Kamu kenapa sih sayang? Dari tadi diam begitu,” tanya Dara, yang akhirnya membuka suara untuk menanyakan tentang perasaan kekasihnya itu.
Namun sekilas Zein terdiam, dia tiba-tiba menghubungi seseorang, “aku ingin ke gereja sekarang, aku ingin menikah denganmu detik ini juga,” tegas Zein, yang semakin membuat Dara menatapnya bingung.
“Kamu kenapa sih Zein, dari tadi di pesawat hingga saat ini hanya diam saja, dan sekarang tiba-tiba kamu bersuara dan mengajak aku nikah,” sahut Dara dengan suara yang terdengar sangat kesal.
“Nikah itu tidak asal sembarang seperti itu Zein, nikah itu ada keikhlasaan di dalamnya, bukan asal nikah,” ketusnya pada Zein, yang ingin mengambil keputusaan dengan tiba-tiba.
“Aku hanya ingin kita menikah, sembarang seperti apa yang kamu maksud Dara? Kita udah tidak bisa begini terus, jalan tanpa ada ikatan janji suci di dalamnya,” ujar Zein, membantah perkataan Dara yang mengatakaan bahwa dirinya sembarangan dalam bertindak.
Dara terdiam mencerna kalimat Zein, memang benar kalau selama ini mereka menjalani hubungan tanpa ikataan yang pasti, tapi Dara juga tidak menduga jika pernikahaan mereka akan dilakukan di saat kondisi tidak kondusif seperti ini.
Apa lagi dia hampir saja membunuh seseorang Lord, yang pasti akan mengantarkan nyawanya juga di ujung tanduk, terlebih mereka berdua juga sama-sama masih membutuhkan perawataan untuk luka operasi mereka, rasanya sangat tidak mungkin jika melakukan pernikahaan secara dadakan.
Dan selama perjalanan pulang, Dara mengingat bahwa ini bukanlah jalan menuju rumah Zein, melainkan mereka berhenti di sebuah Gereja besar, yang sangat sepi.
Dara menghela nafasnya kasar, merasa sangat percuma Zein meminta pendapatnya, jika dia sendiri bisa mengambil keputusaan.
“Lalu kamu mau aku menikah dengan pakaian seperti ini?” tanya Dara, menunjuk ke arah tubuhnya yang mengenakan sweeter dengan celana jeans panjang.
Zein tersenyum, lalu menggandeng tangan Dara untuk segera masuk ke dalam Gereja. “Daaaaraaaa,” teriak seseorang yang terlihat sedang menggendong anak saat ini.
Dara dan Zein menoleh ke arah sumber suara itu, dan melihat Tyas dan Justin yang sangat kerepotan dengan anak mereka, “Tyas, ya ampunn kamu ada di sini juga,” ujarnya lembut, dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat, hingga Dante yang berada digendongan Tyas menangis karena merasa terjepit.
“Weh,,weh, kira-kira kalau peluk, itu anak aku nangis kejepit kalian,” tegur Justin, yang langsunv mengambil alih Dante dari tangan Tyas.
“Iya-iya maaf, namanya juga kesenangan,” jawab Dara dengan wajah cemberutnya.
Lalu Dara kembali tersenyum pada Tyas yang sudah lama dia dia rinnndukan, “kamu kok bisa ada di sini?” tanya Dara bingung.
“Ini keong racun yang tadi telpon Justin, suruh kita kesini dalam waktu 15 menit, ya kali kan, udah minta tolong jadi tamu malah maksa lagi,” ujar Tyas, yang semenjak saat kejadiaan di rumah Zein, sekarang dia tidak ada respect sama sekali dengan Zein.
Dia masih kesal karena tuduhan yang tidak beralasan yang di lontarkan Zein padanya, “keong racun,” gumam Dara bingung dengan bahasa itu.
Dan di saat mereka tengah sibuk bercanda dan mengobrol bareng, tiba-tiba dari arah luar terlihat Aiden, Freya dan seorang anak gadis cantik mengunakan dress putih kini menghampirinya, “Dara ini Dress putih milik ku, kamu gunakan ya untuk mengucapkan janji suci dengan Zein,” ujar Freya yang menyerahkan satu box lengkap pakaian miliknya.
“Terima kasih Kak Freya,” balas Dara, dengan tersenyum lembut menatap Freya dan Aiden yang kini ikut serta dalam pernikahaan dadakan ini.
Tidak ada gaun pengantin impian seperti dulu yang dia gunakan, tidak ada decorasi indah, tidak ada bunga, tidak ada tamu, hanya 4 orang sahabat saja yang menghadiri acara pernikahaan dadakan ini.
Bahkan Dara tidak menggunakan Make up sama sekali, dia hanya menggunakan dress putih panjang, dengan bagian lengan yang panjang, namun belakangnya terbuka, serta hiasan kepala dengan aksen mahkota indah di kepalanya, benar-benar sederhana, sangat-sangat sederhana.
“Waaah walau tanpa make up kamu tetap cantik ya Dara,” imbuh Freya pelan, memuji kecantikan Dara yang hanya menggukan Dress biasa saja.
“Terima kasih kak,” balasnya dengan ramah.
Namun belum sampai di pintu keluar, Aiden sudah lebih dulu berada di depan pintu ruangan ganti Dara, “kak Aiden,” gumam Dara yang terkejut melihat keberadaan Aiden di sini.
Aiden tersenyum menanggapi keterkejutaan Dara, lalu dia mengambil alih tangan Dara untuk di gandeng, “karena aku adalah yang paling tua di sini sekarang, maka biarkan aku yang menjadi walimu,” seru Aiden lembut, membuat Freya dan Dara ikut tersenyum dengan kemurahaan hati Zein.
“Aku akan menunggu kalian di luar,” sahut Freya, yang memberikan ruang bagi Dara dan Aiden mengikuti prosesinya.
“Apa kamu bahagia dengan Zein?” tanya Aiden pada Dara.
“He’em, kenapa harus tidak bahagia?” tanya Dara balik, sambil terus melangkah menuju altar pernikhaan.
“Karena masalah yang ada, kamu masih mau mendampinginya bahkan menikah dengannya, apa kamu benar-benar mencintainya? Atau kamu hanya teriobsesi dengannya,” ujar Zein lagi, namun kali ini Dara membalasnya dengan senyum kegetiran.
“Tingkat level tinggi seseorang mencintai itu adalah memaafkan kesalahaan besar yang sudah diperbuat oleh pasangan, jadi apakah dengan kesalahaan yang Zein sudah lakukan selama ini dengan aku yang memaafkaannya itu masih perlu dipertanyaakan lagi?” tanya Dara pada Aiden, yang diyakini pasti sudah tau jawabannya.
Aiden menganggukan kepalanya pelan, mengerti dengan apanyang disampaikan oleh Dara, karena biar bagaimanapun, dia dan Freya juga pernah ada diposisi itu dulu.
Memaafkan orang yang berbuat salah, dengan alasaan cinta, memang terdengar sangat konyol, tapi itu adalah cinta, yang bisa bodoh dalam berfikir normal.
Mereka berdua terus mengobrol hal-hal yang sangat tidak penting, untuk menghindari kenervousan Dara, hingga akhirnya mereka berdua sampai di altar dan melihat Zein yang hanya menggunakan Jas hitam biasa yang di bawa oleh Aiden tadi.
Zein menampilkan wajah datarnya kali ini, karena dia takut kalau ada orang lain yang melihat senyumnya, malah akan menjadi sebuah malapetaka.
Dara yang mengerti akan hal itu, kini mulai terbiasa dengan wajah datar Zein yang berada di depan umum.
“Apakah kamu senang hari ini?” tanya Zein pada Dara.
“Setengah,” jawab Dara singkat.
Zein terdiam mendengar pernyataan Dara, dia sangat tau jika Dara saat ini pasti sedang memikirkan tentang Jingga, namun pernikahaan ini lebih penting terlebih dahulu, hingga sampai pengucapaan janji suci mereka, Dara dan Zein merasa bahagia namun masih merasa terganjal sesuatu, dan mencoba untuk mengartikannya nanti.
visual Dara Menggunakan Baju Pengantin
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻