
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah kepergian dokter, Dara kini menatap Zein untuk meminta pertimbangaan.
“Jingga memerlukan itu, karena dengan transplantasi sumsum tulang belakang atau yang biasa aku sebut sel punca, pasien kanker darah seperti Jingga bisa menjalani kemoterapi dosis yang tinggi serta pengobatan lainnya. Jingga bisa saja mendapat transplantasi melalui sel puncanya sendiri (autologous transplant) atau dengan sel punca dari donor yang pas (allogeneic transplant),” jelas Tasya, yang mengungkapkan segala yang dibutuhkan oleh putrinya.
“Solusinya sekarang hanya akan ada 2, dapat pendonor atau kemoterapi, kamu tentu tidak bodoh kan Zein, kamu pasti tau bagaimana efek kemoterapi untuk tubuh,” sambungnya lagi, yang kini membuat Zein berpikir dengan teliti.
Tasya tersenyum kecut melihat Zein dan Dara yang sama sekali tidak menjawab penjelasaanya, ataupun mengeluarkan pendapat, mereka hanya diam tanpa Tasya tau apa yang sedang mereka pikirkan. “Jika ingin menjadi pendonor untuk Jingga yang merupakan pasien kanker darah, Kamu harus mempunyai sel punca yang cocok dengan Jingga terlebih dahulu, dan itu tidak bisa dilakukan sembarangan, karena kamu harus melakukan tes darah terlebih dahulu untuk melihatnya. Para staf laboratorium akan melihat permukaan sel darah yang kamu miliki lalu akan membandingkannya dengan sel darah Jingga yang sedang memerlukan transplantasi, ini tidak bisa sembarangan Zein, meskipun kamu adalah ayah kandungnya, namun transplatasi ini membutuhkan ketelitiaan tinggi,” jelas Tasya lagi.
“Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menjalani pemeriksaan ini?” tanya Dara dengan lembut pada Tasya.
“Pemeriksaan ini sangat diperlukan Dara, karena masing-masing orang memiliki seprotein berbeda-beda pada permukaan sel darahnya. Protein HLA dan antigen histokompatibilitas yang akan diteliti di laboratorium, lalu hasil tes tersebut nantinya akan menunjukkan seberapa besar kecocokan HLA pada pendonor maupun calon penerima donor yaitu Jingga,” jawab Tasya pada Dara.
“Dan kenapa harus saudara kandung?” tanya Dara lagi, karena dia yang minim pengetahuan tentang sebuah penyakit yang mematikan, membut Dara terus bertanyaa mewakilkan pertanyaan yang ada di otak Zein.
“Karena saudara kandung cenderung menjadi donor yang paling cocok. Yang memiliki kemungkinan 1 banding 4 sel-sel saudara kandung sangat cocok. Transplatasi dari donor yang berasal dari saudara kandung ini biasa disebut matched related donor (MRD). Kecil kemungkinan saudara lain dalam keluarga yang memiliki kecocokan sebagai donor, Kalau kamu dan Jingga yang akan menerima donor hanya memiliki 50 persen kecocokan, transplantasi sumsum tulang belakang atau sel punca masih tetap bisa dilakukan. Ini disebut haploidentical transplant, tapi hasilnya akan percuma. Karena Menurut National Marrow Donor Program, hanya 30 persen pasien yang bisa mendapatkan donor dari anggota keluarga yang benar-benar memiliki sel yang cocok. Jadi, transplantasi haploidentikal memang cenderung lebih mudah ditemukan di antara anggota keluarga besar, namun ini langkah. Pasien kanker juga bisa mendapat donor dari anggota keluarga yang bukan saudara kandung. Ini disebut sebagai matched unrelated donor. Biasanya perlu banyak orang untuk dites tipe jaringan selnya untuk mendapatkan donor seperti ini,” jawab Tasya lagi, menjelaskan semua yang ingin diketahui oleh Dara dan Zein.
Mendengar penjelasaan itu, Zein menatap Tasya dengan lekat, lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Jingga yang saat ini sudah tertidur karena pengaruh obat bius yang diberikan oleh dokter tadi. “Aku tahu semua ini pasti akal-akalanmu saja kan,” ucap Zein sinis pada Tasya.
“Maksudnya?” tanya Tasya bingung, karena dia sama sekali tidak mengerti akal-akalan apa yang sedang di maksud oleh Zein ini.
“Penjelasaan tentang pendonor yang hanya bisa dilakukan oleh saudara kandung, itu hanya penjelasaan omong kosongmu kan,” tuduhnya pada Tasya.
“Zein,” tegur Dara, menghentikan suaminya agar tidak bicara sekasar itu pada Tasya.
Dara melangkahkan kakinya mendekat ke arah Jingga, lalu dia mulai membaringkan diri di sebelah Jingga, “kalian kalau masih mau berdebat, silahkan keluar, aku dan Jingga ingin beristirahat,” ucap Dara dengan suara yang sangat tegas.
Zein membiarkan Dara membaringkan tubuhnya sejenak, karena dia tau jika punggung belakang milik Dara masih merasakan nyeri akibat operasi tempo hari.
“Tidak perlu, aku akan akan di sini bersama dengan putriku,” sahut Tasya dengan ketus.
Zein ingin tersenyum melihat Tasya yang begitu takut meninggalkan Jingga bersama dengan Istrinya, seakan-akan Dara adalah pengacau untuk Jingga.
“Aku akan melakukan tes pencocokan donor itu,” ujar Zein tiba-tiba.
“Zein, bukankah kamu sudah mendengar penjelasaanya, kalau selain saudara kandung itu akan sulit dan langkah Zein,” pungkas Tasya yang merasa frustasi menjelaskan pada Zein yang menurutnya tidak memiliki otak untuk mendengarkan penjelasaanya drngan baik.
“Berhenti membicarakaan saudara kandung Tasya!” bentak Zein yang kini sudah cukup menahan emosinya.
“Zein,” tegur Dara ketika suara Zein mulai meninggi.
“Jangan mimpi kamu Tasya, kita sudah tidak ada kita, kita adalah kesalahaan dan dari dulu memang tidak ada kita, jadi jangan berharap penuh atas anak kedua kita Tasya,” teriak Zein, yang kali ini dipenuni dengan emosi atas teringatnya kembali masa lalu yang menghancurkan mereka semua seperti saat ini.
Dara yang mendengar perkataan Zein pada Tasya itu, kini mulai meneteskan air matanya kembali, dan semakin memeluk tubuh Jingga, menyembunyikan tangisannya.
“Zein, bukan aku mengakalinya, tapi memang hanya inilah yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan putri kita Zein, hanya itu jalannnya,” jawab Tasya yang kini mulai berdebat kembali dengan Zein.
“Langkah bukan berarti tidak ada Tasya, dan jikapun ada anak kedua, aku tidak akan membuatnya hanya lantaran menjadi penyelamat hidup anak pertama saja, itu namanya kamu egois Tasya,” seru Zein.
Tasya yang mendengar kalimat Zein itu, kini terduduk di sofa dengan perasaan yang sudah bercampur aduk, dia sama sekali tidak memiliki keluarga ataupun saudara lainnya yang bisa menjadi pendonor untuk Jingga, begitupula dengan Zein, yang bahkan lebih parah.
Pria ini sama sekali tidak memiliki saudara kandung atau yang lainnya, pria ini hanya memiliki Valen sebagai Bundannya, lalu sekarang harus seperti apa.
“Jika sel puncaku tidak cocok dengan Jingga, makan tidak ada jalan lain selain Kemoterapi, dan aku yakin dengan bantuan alat medis dia pasti akan bisa sembuh dan kembali normal,” sambung Zein, yang kini sudah berani mengambil keputusaan untuk hidup Jingga anak yang dia buang kemarin.
Dan benar saja, kali ini Tasya tersenyum tipis mendengar keputusaan Zein yang akan menyakiti putrinya, “dari kemarin kamu kemana saja Zein? Dari kemarin kamu di mana ketika Jingga membutuhkanmu, dan sebelum dirinya di Vonis leukimia kamu kemana aja? Asik berdua dengan kekasihmu ini, atau jangan-jangan wanita ini mandul hingga kalian ingin mengambil Jingga dariku dan sekarang mulai bertingkah seolah-olah kamu adalah ayah yang paling terbaik untuk Jingga begitu, munafik sekali,” sindir Tasya penuh dengan dendam pada Dara.
Plaaaaaakkkkkkkk satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi mulus Tasya.
“Zeiiiin,” tegur Dara lagi, yang terkejut mendengar suara tamparaan itu.
Zein menoleh menatap Dara yang kini sudah beranjak menahan tangan Zein agar tidak memukul Tasya lagi.
“Cukup Dara, sedari awal kita datang ke sini perempuan ini selalu saja menyindir dan menghina kamu, seakan-akan dirinya lah yang paling benar,” ujar Zein pelan.
“Dan untuk kamu Tasya, jika bukan karena Dara, aku tidak akan pernah datang ke sini dan menerima kehadiraan Jingga di dalam kehidupan ini, camkan itu baik-baik! Jadi kamu harusnya berterima kasih pada Dara, bukan menghinannya,” hardiknya pada Tasya, yang kini hanya bisa menundukan kepalanya sambil memegang pipinya yang terasa nyeri akibat tamparan Zein tadi.
“Maaf,” hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Tasya saat ini, sebelum akhirnya dia berlari pergi dari ruangan itu, karena tidak sanggup menahan sakit hati pada Dara dan juga Zein.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻