It’S So Hurts

It’S So Hurts
Lamaran Zein



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"Zein, apa kamu serius? Kita bahkan baru—” Ucapan Dara terputus ketika Zein menutup mulut Dara dengan jarinya.


Bahkan tanpa jawaban apa pun dari Dara, Zein langsung memasangkan cincin itu di jari manis Dara. "Kamu adalah milikku, dan kamu tidak bisa menolak itu,” tegas Zein pada Dara yang membuat kekasihnya itu tidak mampu berkata apa pun lagi.


“Zein,” lirih Dara pelan dengan air matanya yang terlihat menetes tanpa seizin empunya.


“Aku mencintaimu, Dara. Aku sangat mencintaimu, tidak perduli mau hubungan ini baru atau lama sekalipun. Yang terpenting aku maunya kamu, dan hanya kamu yang bisa mengisi ruang di hatiku ini. Aku tidak akan peduli perasaan kamu bagaimana denganku.


Kamu ragu atau bagaimana, aku akan terus berusaha meyakinkan kamu jika aku benar-benar mencintaimu dengan tulus, Andara Naqquenza,” ungkap Zein sambil menggenggam tangan Dara dengan lembut, serta tatapan yang penuh dengan ketulusan hati.


Dara tersenyum menanggapi ungkapan hati Zein. "Sepertinya kamu harus menggunakan kaca mata hitam jika keluar bersamaku,” serunya pelan.


“Kenapa?” tanya Zein bingung.


Karena nanti semua orang bisa melihat cinta yang begitu besar dari tatapan matamu itu. Aku mau cukup aku saja yang melihatnya,” tandas Dara sedikit posesif, namun berhasil membuat Zein tersenyum.


“Lihatlah. Aku mau kamu tersenyum sampai gigi kamu itu kelihatan. Ayo tersenyum, perlihatkan gigimu,” pinta Dara, dengan mencubit pipi Zein untuk melebarkan senyum kekasihnya.


“Hahahhha. Ayo, lebarkan,” tawa Dara yang terlihat sangat bahagia, membuat hati Zein menjadi hangat.


“Yang lalu biarkan lah berlalu, mungkin hari ini aku hampir melakukan kesalahan terbesar di hidupku. Karena ke-egoisanku, hampir saja aku kehilangan sosok wanita yang sangat aku cintai. Maafkan aku, Dara. Tapi aku janji itu semua tidak akan terjadi lagi,” gumam Zein dalam hati sambil mengusap lembut rambut kuning Dara, hingga kekasihnya itu tertidur di dalam pelukannya.


Ketika Dara sudah tertidur, Zein perlahan membaringkan tubuh Dara di atas tempat tidur, lalu dirinya memilih untuk bangkit dan mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan mencari nama bundanya di sana.


Tut … tut … tut .... Suara nada panggilan yang tersambung,. Cukup lama dia menunggu hingga telepon itu diangkat oleh Valen.


“Hallo." Suara Valen terdengar di ujung sana.


“Hallo, Bunda. Apakah Bunda sedang sibuk?” tanya Zein langsung to the point.


“Tidak. Bunda lagi santai. Ada apa ?” tanya Valen bingung. “Oh ya, Zein jangan lupa nanti jam 5 kita akan ke makam orang tua kamu,” tungkas Valen mengingatkan keponakaanya itu.


“Bunda, ada yang Zein ingin bicarakan. Zein akan segera pulang sekarang,” sahut Zein, dan langsung menutup panggilan ponselnya.


Zein beralih menatap Dara yang masih tertidur pulas, dan mendekati Dara lalu mengecup keningnya singkat. "Aku pergi dulu ya, Sayang. Nanti aku akan kembali membawa Bunda ke sini,” ucap Zein pelan di dekat telinga Dara.


Namun, dapat dipastikan jika Dara tidak mungkin mendengarnya, sehingga dia memilih untuk menitipkan pesan kepada beberapa anak buahnya yang menjaga Dara di depan kamar rawatnya.


“Jaga Nyonya kalian! Jika sampai ada sesuatu hal terjadi lagi padanya, maka ucapkan selamat tinggal pada matahari terbit besok,” ancam Zein tidak main-main, membuat seluruh anak buahnya hanya bisa menelan salivanya kasar dan menganggukan kepla mereka lemah.


“Jawab!” bentak Zein keras.


“Siap! Baik, Tuan. Kami akan menjaga Nyonya dengan nyawa kami sebagai taruhannya,” jawab mereka serentak.


“Bagus,” balas Zein, lalu melangkahkan kaki pergi.


Cukup lama Zein mengendarai mobilnya, dan saat ini dia sudah sampai di sebuah pemukiman sederhana yang cukup asri dengan rumah minimalis. “Zein! Apakah itu kamu?” tanya Valen yang baru saja keluar dari dalam.


“Unclee,” teriakGriffin keponakannya dari dalam.


“Hallo, Bunda. Hai Griffin,” sapa Zein dengan datar.


“Bunda senang kamu pulang,” ucap Valen, sambil memeluk tubuh Zein.


“Bunda, Zein ingin membicarakan satu hal yang penting dengan Bunda,” ungkap Zein langsung to the point. Hal itu membuat Valen langsung tersenyum tipis menanggapinya.


“Bentar ya, Bunda tidurkan Griffin dulu, kasian dia sudah ngantuk,” balas Valen, dengan terus menggendong Griffin, yang nyaris tertidur.


“Uncle,” panggil Zein lembut dengan suara khas babynya. Zein tersenyum memainkan tangan Griffin. “Bunda, Zein tunggu di ruang tamu,” lirihnya pelan, takut mengganggu Griffin yang hampir memejamkan mata.


Valen mengangguk pelan, dan melangkahkan kaki masuk untuk memberikan susu buat Griffin agar tertidur.


Setelah Griffin tertidur, barulah Valen keluar dengan wajah yang bingung menatap ke arah Zein. “Ada apa, Zein? Tidak biasanya kamu mau bicara sepenting ini dengan Bunda?” tanya Valen langsung to the point.


Zein menundukkan kepala di hadapan Valen, dengan perasaan ragu untuk memberi tahunya, “Zein ingin menikah, Bunda,” serunya pelan. Namun tegas, membuat Valen terkejut mendengarnya.


“Bagaimana, Zein? Bunda kurang jelas mendengarnya?” tanya Valen yang sekali lagi ingin mempertegas pendengaranya.


“Zein ingin menikahi seorang wanita bernama Andara Naqquenza, Bunda. Zein sangat mencintainya, Zein harap Bunda merestui kami,” ungkapnya dengan tulus, meminta restu kepada bundanya.


Valen terdiam, entah ini perasaan bahagia atau malah sebaliknya,


“Bunda kenapa diam? Apakah Bunda tidak suka jika Zein ingin menikah?” tanya Zein lembut.


Valen yang tersadar dari lamunannya, kini mulai tersenyum menanggapi permintaan keponakannya itu. “Zein, Bunda tidak akan pernah melarang apa pun yang kamu mau. Akan tetapi, kamu harus lihat siapa kita dan siapa dia, apakah dia bisa menerima siapa kamu sebenarnya dan bagaimana kehidupan kamu sesungguhnya. Kamu tahu kan, jika jiwa psychopat itu tidak semua orang yang bisa menerimanya,” jelas Valen memberikan wejangan untuk Zein.


Sontak saja Zein langsung menggelengkan kepalanya menolak apa yang dikatakan oleh Valen, “Bunda salah, Dara-ku bahkan sudah mengetahui semua tentangku, bagaimana kehidupanku dan sifatku, dan dia mau menerima semuanya. Dia tidak takut denganku, Bunda. Itu yang membuatku jatuh cinta padanya,” pungkasnya memberi tahu semuanya pada Valen.


“Zein terkadang menerima dan sebuah obsesi itu berbeda, kamu—” ucap Valen terhenti ketika Zein mengangkat pandanganannya menatap mata Valen dengan lekat.


“Perasaan aku tidak mungkin salah, Bunda. Aku adalah anak dari Lucas Maurice, yang memiliki jiwa mata elang sepertinya, aaku tidak mungkin keliru dalam menilai hati dan pikiran manusia. Dengan seluruh keyakinan, aku memilih Dara untuk menjadi pendampingku,” tegas Zein yang nyaris membuat Valen tidak bisa bersuara lagi.


Zein beranjak dari duduknya. "Temui Dara dulu, sebelum Bunda menilainya terlalu jauh,” lirihnya pelan sebelum melangkahkan kakinya pergi.


“Aku akan ke makam Papah dan Mamah sendiri, restu mereka yang paling penting saat ini,” sambung Zein lagi sebelum benar-benar pergi dari rumah Valen.


Sedangkan Valen, hanya bisa diam dan menatap kepergian Zein dengan perasaan sedih.


“Siapa wanita ini? Mengapa Zein bisa begitu mencintainya?” tanya Valen dalam hati, mengingat jika keponakannya itu belum pernah menyatakaan perasaan cinta kepada siapa pun. Bahkan yang Valen tahu, Zein belum pernah memiliki bahkan mengetahui tentang arti cinta sebelumnya.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻