
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah megantar Jingga untuk makan bakso tadi, kini mereka bertiga terlihat mengarah ke rumah Zein.
"Tante yakin mau ke sana?" tanya Lyla, di saat melihat wajah Dara yang terlihat murung.
Dara menolehkan pandanganya sekilas, lalu kembali lagi menatap ke arah jalanan luar, "iya Lyla, tante ingin mengingat semua kenangan indah tante selama bersama dengan Zein," jawab Dara pelan.
Terdengar tidak yakin, namun Lyla tidak ingin kembali bertanya, sudah cukup baginya hari ini menjadi reporter, karena berita yang dia dapatkan juga tidak akan diberikan pada infotaimen.
Mereka berdua terlihat sama-sama diam, hingga selama perjalanan hanya ada keheningaan yang membuat perjalanan mereka terasa lama.
30 menit mereka berjalan menuju rumah Zein, saat ini ketiganya telah berada di depan pintu rumah Zein.
"Ini gimana cara masuknya tante?" tanya Lyla bingung, karena melihat Dara tidak membawa kunci atau apapun.
Dara menekan tombol untuk memasukan pasword ke pintu itu. "Rumah ini hanya menggunakan pasword, jadi tidak menggunakan kunci," jawab Dara, dan lalu menggandeng tangan Jingga masuk ketika pintu itu sudah terbuka.
"Mamah Jingga lelah, bolehkah Jingga tidur di sini?" tanya Jingga sambil terus menguap karena mengantuk sedari tadi.
"Boleh sayang, Jingga tidur di kamar sebelah itu ya, kamar utama belum dibersihkan soalnya sayang," ucap Dara, dan langsung mengantar dan menidurkan Jingga di dalam kamar sebelah.
Sedangkan Lyla kini terlihat menelusuri setiap foto demi foto yang terpajang sempurna di rumah itu.
"Wiihh gila, ini mesra banget ya, cocok banget mereka," lirih Lyla, ketika takjub melihaf foto kebersamaan Dara dan Zein.
Dan tak lama kemudian dia mengehela nafasanya kasar ketika mengingat bahawa kehidupan cinta mereka begitu rumit.
"Kenapa ada rasa cinta di dunia ini, kalau pada akhirnya hanya membuat sakit hati saja?" tanyanya entah pada siapa.
"Kamu sedang jatuh cinta ya?" tanya suara Dara, yang baru saja keluar dari kamar dan sepertinya mendengar suara Lyla.
Lyla yang ditanya seperti itu memilih untuk diam saja Karna tidak tahu mau jawab apa.
"Ehhh tidak kok tante, Lyla tidak sedang jatuh cinta," elaknya, berbohong pada Dara.
"Oh ya, tetapi kemarin Griffin pernah bilang, jika kamu mencintai pria lain, siapa dia? Bolehkan tante mendengar ceritamu? Apa yang membuat kamu jatuh cinta kepadanya?" tanyan Dara begitu penasaraan dengan cinta remaja.
Lyla melangkahkan kakinya, lalu duduk di sofa dengan manisnya. Sambil menatap ke arah Dara yang juga sedang menatapnya dengan lekat.
"Lyla mencintai Derry tante, dia adalah sahabatku dan Griffin," jawab Lyla menampilkan wajah yang begitu lesuh.
"Lalu?"
"5 tahun yang lalu dia pergi menghilang entah kemana, dia meninggalkanku dan Grffin begitu saja, kami tidak berniat mencarinya, karena uncle Zein pernah bilang, bahwa seseorang yang hilang tidak perlu dicari, karena itu akan menilai seberapa minim rasa saling menghargai dari diri orang itu," ungkap Lyla tulus dari dalam hatinya.
"Kenapa kamu mencintainya?" tanya Dara lagi.
"Tante sendiri kenapa mencintai uncle Zein, padahal tante sudah pernah diselingkuhin?" tanya Lyla balik tanpa memfilter kata-katanya.
Dara menghela nafasnya kasar, lalu beranjak dari duduknya mendekat ke arah salah satu foto kenanganya. "Kita adalah sebuah dua tetes air yang bertemu di tengah lautan, kadang hujan nyaris memisahkan mereka, namun pada cintalah kita berpegang, namun angin yang lembut kini telah membawanya pergi terbang ke awan, Zein mengorbankan kehidupannya agar aku dan Jingga bisa melihat bagaimana cintanya bisa menjagaku, hingga nanti kami akan bertemu menjadi dua bintang yang bersinar di angkasa."
"Zein adalah sosok yang baik, dia dingin dia kejam, tetapi sebenarnya dia adalah sosok yang penuh dengan kehangatan. Aku mencintainnya tanpa syarat, seperti ketika kamu memilih sebuah kehidupan mana yang akan kamu jalani, begitupun dengan aku dan Zein, hati kami terikat dengan benang kusut yang tidak akan pernah bisa diperbaiki," jelas Dara pada Lyla, dengan menahan air matanya agar tidak kembali tumpah.
Namun bukan Dara yang menangis, melainkan Lyla, "ahhhhh aku begitu terharu dengan cinta kalian tante, kenapa kalian harus dipisahkan sih, kesel deh," umpat Lyla yang merasa bisa melihat kesakitaan di mata Dara.
"Rumah ini adalah saksi dari perjalanan cinta kami, mulai dari awal kehidupan pertama kami, serta pengkhiantan Zein, aku tidak ingin mengingat lagi kejadian itu, tetapi bayangan itu selalu menghampiriku," ungkap Dara, dan terlihat mulai menteskan air matanya perlahan.
Dia sangat yakin jika Dara sama sekali tidak berusaha untuk melupakan kejadiaan itu, karena jika dia berusaha pastinya Dara tidak akan selalu membahas soal itu.
"Tante, untuk mengatasi rasa trauma atau apapun itu adalah memerangi rasa itu sendiri," tegas Lyla.
"Maksudnya?" tanya Dara bingung.
"Dengan tante tinggal lagi di rumah ini, itu akan membuat tante lambat laun pasti akan menerima kejadian itu, lagian sekarang uncle Zein sudah tidak ada tante, jadi apakah tidak lebih baik kalau tante menerima semuanya," jelasnya lagi.
Namun kali ini Dara nampak menampilkan senyum indahnya menatap Lyala. "Kamu itu masih 16 tahun tetapi sudah sangat dewasa sekali pikiraanya ya," puji Dara pada Lyla.
Entah itu adalah sebuah pujiaan atau penghianaan, yang jelasnya Lyla tersenyum kikuk mendengar kalimat itu.
"Heheheh tante, Lyla hanya mengatakan apa yang Lyla tahu saja kok tante," balasnya ragu.
Dara mengerti itu dan menanggukan kepalanya singkat, "udah, gak boleh sedih-sedih terus, tante ke dalam dulu ya Lyla, mau lihat barang-barang apa yang bisa dibawa pergi nanti, kalau kamu mau istirahat kamu bisa masuk bersama Jingga di dalam ya," ucap Dara, sambil menunjuk kamar yang ditempatin oleh Jingga.
"Siap tante, nanti aku masuk ke sana, sekarang aku mau main game dulu," sahut Lyla.
Setelah itu, barulah Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Dara melihat ke sekeliling kamarnya, begitu banyak kenangan indah yang dia miliki di sini..
Dia kembali meneteskan air matanya perlahan, mengingat semua kejadian-kejadian momen bersama dengan Zein.
"Aku tidak meyangka bahwa aku akan secepat ini kehilangan kamu, dan segitu mudahnya kamu memilih untuk pergi," ucapnya pada sosok Zein yang saat ini ada dibelakangnya.
Cuuuppp Zein kembali mengecup kening Dara singkat, "aku pergi untuk mengorbankan segalanya," balas Zein.
"Aku ingin mengatasinya,"
"Mengatasi tentang apa? Yang ada sekarang kamu membuat semuanya semakin runyam," sahut Dara dengan kesal.
Zein akui bahwa semuanya memang jadi berantakan, tetapi setidaknya itu bisa membuat Zein menghukum orang-orang yang menyakitnya dulu dengan sebuah rasa kenilangan.
"Jingga begitu kangen sama kamu, tetapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku tersiksa dengan rasa kangen ini Zein, apa kamu bisa mengerti," bentak Dara begitu lelah dengan semua ini.
Zein ingin menggengam tangan Dara, namun Dara segera menepisnya.
"Kamu sudah pergi meninggalkan kami, tetapi sekarang kamu muncul dengan memberikan sebuah harapan bahwa kamu akan kembali hidup bersamaku."
"Aku tersiksa dengan semua ini, bisakah kamu membawaku saja? Aku ingin bersamamu Zein, aku ingin," pintanya agar Zein bisa mengerti keinginannya saat ini.
Zein menggelengkan kepalanya pelan, menolak apa yang tengah diminta oleh Dara.
"Hidup dan bertahanlah di dunia ini, aku akan menemanimu dalam bayanganku, aku akan terus menggengam tanganmu denganku yang akan selalu ada di sisimu, seberat apapun masalah ke depannya nanti, aku akan bersamamu tanpa siappun bisa mengetahui itu," janji Zein yang mengucapkan begitu yakin pada Dara, agar wanitanya itu bisa mengerti kondisi saat ini.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*