It’S So Hurts

It’S So Hurts
Sudah Aku Bilang Itu Linziera Maurice!



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"Siapa Linzi sebenarnya?" tanya Freya yang merasa begitu penasaraan dengan siapa Linzi sebenarnya.


Merasa enggan untuk menjawab, Lyla langsung segera memberikan bungkusan berisi Testpack pada Dara yang terlihat sedang memberikan makan kepada Jingga.


"Ehhmm, tante, ayo kita tes dulu yuk," ajaknya pada Dara.


"Test apa?" tanya Dara bingung, sambil terus menyuapi Jingga makan.


Stella yang melihat itu akhirnya paham, apa yang disuruhkan oleh Airein pada Lyla.


"Sudah, kita ingin melihat hasilnya," sahut Stella yang juga tidak sabar untuk memberitahukan kepada semua orang bahwa akan ada anggota baru di keluarga mereka.


Dara melihat bingkisan yang dibawa oleh Lyla, dia jelas sangat tahu, jika bingkisan itu berisi sebuah testpack kehamilan.


"Baiklah aku akan memeriksanya," ucapnya pasrah, dan segera mengambil bingkisan itu dari tangan Lyla.


"Dara sini, biar aku saja yang menyuapi Jingga," sahut Reta, mamah dari Mafa.


Dara menganggukan kepalanya pelan, dan memberikan piring berisikan makanan Jingga pada Reta. "Ini kak," ucapnya sambil memberikan piring itu.


"Sudah cepat tante, aku sudah tidak sabar," seru Lyla, yang terlihat mendorong pelan tubuh Dara agar segera masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan yang lainya, terutama yang bapak-bapak, kini hanya diam dengan perasaan tenang, mereka tidak mau heboh dengan mengikuti istri-istri mereka.


Tapi satu yang juga mereka harapkan, yaitu dengan kedatangnya keluarga baru, bisa menempati dan mengisi kekosongan keluarga yang pergi.


"Aku percaya, ketika Tuhan mengambil seseorang dari hidup kita, pasti pada akhirnya Tuhan akan menggantikannya dengan kehadiran seseorang lainnya yang akan datang," batin Freya, ketika dia menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


Ketika Dara sudah berada di dalam kamar mandi, semua yang menunggu saat ini merasa sangat cemas.


Khususnya Lyla, kalau sampai hasil testnya salah, bisa malu dia, karena sudah memborong satu toko.


Takutnya kalau tidak jadi hamil, semua barang-barang yang dia sudah beli, maksudnya Griffin bayar, mau diberikan pada siapa?


Ckleekkk,,, pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Dara yang terlihat memegang lima alat testpack dengan merek brand berbeda.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Stella begitu penasaraan, begitu juga dengan yang lainnya.


Dara memperlihatkan lima hasil testpack yang hasilnya POSITIF, dengan isakan tangis, yang tidak mengerti harus berbuat apa.


Haruskah dia merasa bahagia karena ada anak hasil buah cintanya bersama Zein? Atau dia malah harus sedih, karena hadirnya janin ini, bersamaan juga dengan perginya cintanya.


"Sudah aku bilang, itu adalah Linzi," seru Griffin, yang sudah mengerti arti dari garis dua yang terlihat di alat itu.


Tadi saat menunggu Lyla, dia begitu penasaraan dan mencoba untuk membaca isi di dalamnya.


"Linzi,,,Linzi,,"


"Sebenarnya siapa Linzi itu Fin?" tanya Stella yang semakin bingung, siapa yang sebenarnya di maksud oleh cucunya ini.


Griffin dengan santainya menunjui perut Dara. "Dia adalah Linziera Maurice," jawabnya tegas.


Membuat semua orang yang ada di sana, merasa ingin tertawa, tapi juga begitu penasaraan dengan pemikiran Griffin.


"Fin, udah aku bilang, kamu gak bisa asal nebak kalau itu perempuan, karena bisa jadi yang lahir laki-laki," tegur Freya dengan lembut.


"Fin, dia itu bukan permainan poker yang kamu bisa tembus bayanganya," sahut Lyla asal, yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Griffin dan lainnya.


"Emhhh, aahh sorry," lirih Lyla pelan, dia takut kalau rahasianya bersama Griffin seketika terbongkar hanya dengan ini semua.


Kali ini semua tatapan mengarah pada Lyla yang terlihat sedang gugup. Dia merutuki kesalahaanya sendiri karena sudah berani berbicara asal.


Saat ini Aiden dengan lekat menatap Griffin dan Lyla, "katakan! Apa yang kalian sudah lakukan?" tanya Aiden dengan penuh penekanan.


Dia hanya bingung, mengapa anak seusia Griffin dan Lyla sudah mengetahui cara bermain poker.


Sebenarnya bukan tidak boleh, tetapi dia sangat takut jika anak-anak ini, memiliki perasaan iseng dan mencoba masuk ke dalam dunia perrjjuddian.


"Aahhh, kita bermain game di ponsel pah, ini gamenya," jawab Lyla, sambil menunjukan permainan yang ada di ponselnya.


Aiden menganggukan kepalanya pelan, "baik, kali ini papah percaya, tetapi sampai papah tau kalian masuk ke dalam cassino, jangan salahkan papah kalau tidak ada lagi yang namanya keluar rumah, papah akan menghukummu," tegas Aiden, mengajarkan anak-anaknya agar tidak sembarangan mengambil langkah.


Lyla menelan salivanya kasar, berbeda dengan Griffin yang saat ini sangat terlihat tenang.


Padahal yang merupakan pemain judi sebenarnya adalah dia, tetapi dia sama sekali tidak merasa takut akibat ancaman yang Aiden berikan.


"Selamat ya sekali lagi Dara, aku gak nyangka bahwa kamu akan mendapatkan berkah kembali secepat ini," ucap Tyas, yang sedari tadi tidak berhenti untuk mengucapkan selamat dan juga memeluk Dara dengan erat.


Dua kali dia menyaksikakan kebahagian Dara ketik mendapatkan kabar ini, walaupun janin yang pertama tidak bisa selamat, tetapi Tuhan sekarang kembali mengirimkan malaikat kecil itu lagi.


"Terima kasih semuanya, karena sudah mendukungku sampai titik bagian terendahku," ungkapan rasa bersyukur Dara ucapkan kepada mereka semua.


Dia mengusap perutnya yang masih sangat rata, karena dia tahu, bahwa usia janinnya pasti baru hitungan minggu.


"Ketika kamu pergi, kamu menitipkan bayi ini, bayi yang memiliki sebuah kehidupan yang kita ciptakan. Aku akan sangat mencintainya, karena dia adalah separuh aku dan separuh kamu yang tumbuh menjadi satu, Linziare Maurice." batinya yang tidak begitu paham, kenapa dia mengkuti Griffin memanggil janinnya Linzi.


Sedangakan yang lainnya kini, masih terlihat mengobrol bersama, menciptakan rasa hangat yang menyelingkup di dalam hati Dara dan Jingga.


****


Sedangkan di sisi lain, Valen dan juga Tasya, yang baru saja sampai di Jogja, tempat di mana Tasya dulu tinggal dan melahirkan.


Mereka ingin mencari bukti-bukti tentang ke enaran Jingga adalah anak Tasya, dan apabila mereka telah mendapatkannya. Sudah pasti bahwa mereka akan menuntut Dara sebagai kasus penculikan, atau pencucian otak.


"Cepat tunjukan di mana kamu melahirkan dan melakukan pemerikasaan selama kamu hamil," perintah Valen, merasa sudah tidak sabaran untuk segera mengambil Jingga dari tangan Dara.


Karena baginya Dara adalah wanita yang tidak benar, dan itu membuat Valen merasa takut jika nanti Dara akan menurunkan sifat murahaanya itu pada Jingga. Atau bahkan lebih parahnya Daea memilih untuk menjual Jingga untuk menjadi sebagai pengemis atau apapun.


Mungkin saja, semua kasih sayang yang Dara berikan selama ini itu hanyalah sebuah sandiwara belaka, untuk mendapatkan semua perhatian orang-orang kepadanya.


Namun Valen tidak bisa dibodohi, dia harus berusaha untuk mengambil Jingga, yang merupakan satu-satunya keturunan Maurice yang harus dia jaga.


Menurutnya, apa yang sedang dia lakukan saat ini bukanlah sebuah kelicikan belaka.


Tetapi hanya sebuah perjuangan keluarga, yang ingin mendapatkan cucunya kembali. Karena jika bukan Valen sebagai neneknya, maka siapa lagi yang akan perduli dengan Jingga, sedangkan saat ini Tasya hanya terlihat diam tanpa mau bersuara sama sekali. Membuat Valen merasa geram sendiri melihatnya.


"Tasyaa, cepat tunjukan di mana tempat kamu melahirkan," bentak Valen, ketika melihat Tasya yang sama sekali tidak bergerak untuk menunjukan di mana letak rumah bidan itu.


"Di sana bunda," tunjukanya ke arah sebuah rumah tingakat di pendesaan dekat rumah yang dulu dia dan Jingga tinggali.


To Be Continue


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*