
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
IQ yang di miliki oleh Grifiin itu sangatlah tinggi, bahkan awalnya pihak sekolah tidak menyangka jika anak seusia Griffin sudah mampu menunjukan hasil IQ yang sangat tinggi. Bahkan hanya guru dan kepala yayasan yang tau. Jika nama Griffin masuk ke dalam 10 Jejeran IQ manusia tertinggi di Dunia.
“Tidak ada yang menarik seperti apa maksudnya nak?” Tanya Valen dengan lembut.
“Ya hanya belajar, belajar dan belajar Nek,” jawabnya asal.
Lalu dia beralih keluar, karna Griffin paling malas jika mendapatkan pertanyaan seputar sekolah.
Valen paham ketika melihat wajah cucunya yang murung ketika di tanyain seperti itu, dia hanya mampu menggelengkan kepalanya dan melanjutkan masakanya.
Cukup lama Griffin dan Zein duduk di meja makan tanpa suara, hingga akhirnya Valen datang dengan membawa beberapa mangkok dan piring berisikan makanan.
“The food is here,” seru Valen, yang sontak membuat Zein dan Grifiin mentapnya.
Griffin langsung berantusias ketika melihat Soup ayam kesukaanya, Valen nenyendokan untuknya yang sudah terlihat tidak sabaran itu. “Nih,nih, makanan kesukaan cucu nenek di sini,” ucap Valen lagi memberikan mangkok berisikan soup itu pada Griffin.
“Terima kasih nek,” sahutanya dengan bahagia menerina soup itu.
Griffin memakanya dengan sangat lahap, dia bahkan seperti lupa kejadian tadi di lapangan di saat orang-orang membullynya. “Uhhsshh,,aahh Nek ini enak banget, memang deh masakan Nenek selalu yang terbaik, juara deh.” Ucapnya di sela-sela kunyahaanya, dengan memeperlihatkan dua jempolnya pada Valen.
“Oh ya, jika begitu maka Griffin harus makan dengan banyak, biar Griffin cepat besar dan kuat oke,”balas Valen dengan penuh kasih sayang.
“Oke Nek,” jawab Griffi, dan kembali melanjutkan makanya.
Valen menatap Griffin dengan lekat, dia tersenyum melihat Griffin yang masih mampu tersenyum di tengah luka di hatinya. “Bagaimana bisa anak seusianya sudah harus menerima beban begitu berat di pundaknya, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya di Bully dan di perlakukan tidak adil oleh masyarakat. Tapi dia mampu, ya Allah, apakah masih lama penderitaan ini harus berakhir.” Gumamnya dalam hati yang tak habis pikir melihat Griffin yang masih terlihat begitu santai setelah pembullyan tadi.
Iya Zein menjelaskan dan melaporkan semuanya itu pada Bundanya, karna Valen sempat melihat luka memar di kaki Griffin yang tak mungkin karna jatuh.
Dan setelah dia mengetahuinya, rasanya Valen ingin sekali murka dan melabrak ke rumah mereka satu persatu untuk mengajarkan anak mereka sopan santun cara bermasyarakat. Namun Zein mengatakan jika Aiden telah turun tangan mengatasinya.
Karna ini adalah tindakan kriminal yang menganggu pewaris Dunia, maka Aiden juga tidak segan-segan untuk memeberikan hukuman pada warga-warga itu.
Setelah makan bersama, akhirnya Griffin pamit pulang dengan di antar oleh Zein. “Nenek Griffin pamit pulang dulu ya, nanti Griffin main lagi di sini,” pamitnya pada Valen.
“Iya Cu, hati-hati ya di rumah, jangan keluyuran lagi, di tungguin aja Kakakenya pulang, dan ini,” ucapnya memberikan sebuah rantang makanan.
“Ini berikan pada kakek ya, bilang saja tadi nenek memasak lebih, oke,” ucapnya dengan mengacak lembut puncak kepala Griffin.
“Bailklah Nek, terima kasih ya Nek, Griffin pamit bye,” Gfirrn tersenyum melangkahkan kakinya pergi, dengan di temani oleh Zein.
Dia bahagia karna mulai besok Paman Zein nya itu berjanji akan mulai melatihnya untuk kekuatan bela diri dan juga bersenjata yang membuatnya akan menjadi orang kuat.
Sesampainya di rumah, Zein langsung kembali pamit, meninggalkan Grffin sendiri, karna mungkin sebentar lagi Jesper akan datang dari bekerja.
“Lebih baik aku menonton tv saja,” gumam Griffin yang merasa bingung ingin berbuat apa.
Dia langsung menyalakan tv dan menyetel Film Anime Naruto, di situ dia mengambil pelajaran penting, karna melihat kehidupan Naruto yang nyaris sama dengan kehidupanya. Di bully dan di jauhi hanya karna memiliki kekurangan.
“Untuk memiliki banyak teman, kamu harus menjadi orang yang kuat agar bisa melindungi mereka”
Kalimat itu selalu berulang-ulang di ingatnya, membuatnya ingin hidup seperti Naruto yang nakal dan bersikap acuh pada masyarakat.
“Apa aku bisa hidup sepertinya? Kitakan sama, tidak memiliki orang tua.” Lirihnya pelan.
Dan di saat dirinya tengah asik menonton Tv, terlihat Jesper yang baru saja datang dengan eajah yang sangat bahagia.
“Griffin sayang, mau gak hari ini kita jalan-jalan ke taman desa di ujung sana, Kakek hari ini sudah gajian,” sorakya gembira. Setiap bulanya ketika Jesper menerima gaji. Dia pasti akan mengajak Griffin jalan-jalan untuk menikmati dunia luar.
Meskipun hanya sekedar ke taman, ke pasar malam dan ke Mall kecil lainya, namun Griffin sudah sangat menyukainya.
“Mau kek, Griffin siap-siap dulu ya, tapi-,” balasnya terputus mengingat bahwa kakeknya mempunyai makanan yang di bungkuskan oleh Nenek Valen tadi.
“Tapi kenapa Cu?” tanya Jesper bingung.
“Kakek Griffin ingin memakan bakso yang ada di ujung jalan sana, tapi kita mempunyai makanan yang tadi di berikan oleh Nenek Valen, jadi pasti Kakek tidak mau kan beli bakso, karna tidak boleh membuang makanan di rumah.” Serunya yang mengingat kakeknya paling jarang mau membeli makanan di luar rumah.
Jesper tersenyum melihat Cucunya yang selalu saja bertanya sebelum bertindak ataupun menginginkan sesuatu. “Kamu boleh membelinya Cu, nanti kita ke sana setelah kita arah pulang ya, agar perut Kakek kembali kosong lagi dan muat menerima makan baru.” Jawab Jesper dengan lembut.
Sontak saja Griffin merasa sangat bahagia mendengar kakeknya yang mau menuruti permintaanya. “Yeyyy, makasih ya kek, cupp, aku mencintaimu Kek,” soraknya gembira dan langsung melangkah mengganti pakaianya dengan yang layak pakai pergi keluar.
Setelah bersiap-siap, Jesper dan Griffin kini tengah menaiki motor untuk sampai ke taman desa di dekat rumah mereka.
Di taman itu ada banyak permainan yang memang di sediakan untuk Tiga Generasi, yaitu Generasi Tua,Muda, Dan anak-anak. Sehingga di taman itu Griffin bisa mengekspresikan kebahagaiaanya dengan bermain sendiri.
Dia tidak lagi mengajak siapapun untuk mau bermain denganya. Karna dia tau itu semua akan percuma jika akhirnya dia hanya akan mendapatkan sebuah hinaan bahkan kekerasan.
“Hufft,,huftt,,huft,” nafas Griffin yang terlihat sangat ngos-ngosan karna habis belari ke sana sini untuk mencoba seluruh permainan di Taman ini.
“Nih kamu minum dulu ya,” ucap Jesper yang bahagia melihat cucunya bisa tersenyum seperti ini.
Griffin mengambil minum itu dari tangan kakeknya dan segera meneguknya, “ahasshh akhirnya bisa minum juga,” gumamnya lega karna bisa menghilangkan dahaganya.
“Kakek di sini seru banget ya, Griffin suka bermain di sini, nanti kita sering-sering ke sini ya Kek,” pintanya pada Jesper, agar mau untuk sering membawanya bermain di taman ini.
Jesper menganggukan kepalanya cepat menyetujui itu. “Baiklah,baiklah, sesuai keinginan cucu kakek ini,” jawab Jesper dengan patuh.
“Haaa terima kasih Kakek. Kamu memang yang terbaik kek,” soraknya lagi gembira, dan langsung memeluk tubuh Jesper sebagai ungkapan rasa kebahagiaanya.
“Sama-sama, jadi cucu yang baik ya,” balas Jesper dengan mengusap lembut kepala Cucunya.
“Pasti kek,” jawab Griffin.
*** Berjuanglah Griffin***
Namun di saat dirinya memeluk tubuh Jesper, dia melihat ke arah sebuah keluarga utuh yang terlihat sangat bahagia.
Ada Ayah, ada Ibu, ada anak. Yang terlihat saling menyayangi satu sama lainya. “Apakah jika Papah dan Mamah masih hidup aku juga bisa merasakan kebahagiaan seperti itu,” batinya yang melihat senyum serta tawa bahagia dari wajah anak itu.
Griffin melepaskan pelukanya dari tubuh Jesper dan terus memandang ke arah keluarga itu.
“Kakek, mengapa aku tidak boleh mengenal orang tuaku?” tanyanya setiap kali merasakan sesak ketika melihat seorang anak yang bahagia bersama orang tuanya.
Jesper mengikuti arah pandangan dari cucunya, dan melihat keluarga itu. “Suatu hari nanti kamu pasti akan mengetahuinya Griffin, berjuanglah,” balasnya dengan tersenyum lebar.
Di usia Griffin yang masih terlalu kecil saat ini, masih belum tepat mengatakan hal yang sebenernarnya pada Griffin.
Dia masih perlu banyak belajar untuk mengerti arti kehidupan yanv sebenanrnya terlebih dahulu agar dia bisa menghadapi dunia yang sebenarnya.
Mendengar jawaban dari Kakeknya itu, Griffin hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara kasar.
“Mengapa sulit bagiku untuk mengenal ataupun mengetahui wajah Papah dan Mamah, apa aku benar-benar anak yang di buang? Atau kah aku benar-benar anak yang tidak di harapkan?” tanyanya lagi dengan suara yang sendu.
Sunggu ada sedikit rasa sakit di hati Jesper mendengar cucunya yang berpikir bahwa dia adalah anak yang tidak di harapkan.
“Griffin, di Dunia ini ada hal yang tidak boleh kamu ketahui itu berarti adalah hal jelek, kadang kala, hal yang kamu anggap seperti itu bisa jadi sebaliknya.” Sahut Jesper berusaha memberikan pengertianya pada Griffin.
“Kamu adalah cucu pertama dari sebuah keluarga besar, mereka hanya ingin melindungi mu dari serangan musuh, dan perlu kamu ketahui, jika orang tua kamu mati karna melindungi kamu ketika bayi, mereka Gugur di dalam peperangan. Bukan karna membuang kamu.” Jawab Jesper tegas.
“Kamu adalah kesayangan dari orang tuamu, Namun Tuhan tidak mengizinkan kalian untuk hidup bersama, sehingga Tuhan mengambil mereka agar kamu bisa mengantikan posisi mereka untuk bisa menghadapi dunia yang kejam ini.” Sambungnya lagi.
“Dunia kejam seperti apa kek? Griffin akan berusaha untuk menghadapinya.” Balas Griffin dengan penuh keyakinan.
Jesper menggelengkan kepalanya pelan menanggapi ucapan cucunya itu, “tidak Griffin, usiamu sekarang belum cukup. Teruslah berlatih dengan giat hingga saatnya nanti kita akan kembali ke Dunia dan kedudukan semesetinya.” Ucap Jesper lagi. Yang kali ini membuat Griffin hanya diam saja mendengarnya.
“Aku akan menjadi yang terkuat, lihat saja. Aku akan membalaskan dendam kedua orang tuaku. Papah, Mamah, Griffin berjanji akan tumbuh dewasa menjadi anak Yang membanggakan, Griffin akan berjuang sebagaimana mestinya untuk mendapatkan kedudukan itu kembali, dan itu pasti," gumamnya dalam hati dengan penuh keyakinan.
Tidak ada lagi Griffin yang cengeng dan menyedihkan. Kali ini dia berjanji akan berjuang dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar bisa membalaskan dendam kedua orang tuanya.
Ini bukanlah saat yang tepat untuk bermain, baginya belajar dari sekarang adalah hal yang tepat sebagai bekal di kemudian hari nanti.
“Kakek, lebih baik kita pulang sekarang, aku sudah tidak ingin berada di sini.” Seru Griffin dengan suara tegasnya.
Jesper menyeritkan keningnya bingung dengan perubahan sikap cucunya ini. Griffin yang mempunyai sifat sangat ramah dan juga ceria. Kini seketika berubah menjadi dingin dan tak ada senyum sama sekali.
“Kenapa kita harus pulang?” Tanya Jesper bingung.
Namun tanpa menjawab Griffin sudah melangkahkan kakinya lebih dulu tanpa mengatakan satu katapun pada Jesper.
“Apakah cucuku mulai berubah?” tanya Jesper dalam hati. Sungguh bukan ini maksud darinya tadi.
Dia hanya ingin Griffin tau jika dirinya itu bukanlah anak yang di buang. Tapi mengapa perkataanya tadi seakan-akan merubah keperibadian cucunya itu.
Dengan rasa khawatir Jesper langsung mengejar Griffin yang sudah lebih dulu duduk di atas motor menunggu Kakeknya mengemudikan motornya itu pulang.
Lagi-lagi Jesper menatap wajah Griffin yang sudah berubah dingin bagaikan es batu. “Sepertinya aku sudah harus melaporkan hal ini kepada Arvan,” batin Jesper yang begitu yakin jika pembentukan diri dan kekuatan Griffin sudah harus di mulai saat ini.
Dengan tenang Jesper dan Griffin kembali ke rumah, namun di saat sampai di rumah Griffin langsung masuk begitu saja tanpa mengatakan apapun seperti biasa.
Sudah tidak ada lagi senyum, tidak ada lagi tawa dan suara keributan yang di keluarkanya seperti hari-hari biasa.
Melihat Griffin yang sudah masuk ke dalam kamar, membuat Jesper mendapatkan kesempatan untuk melakukan rapat bersama dengan yang lainya.
Jesper mengetikan pesan kepada Valen, Aiden dan yang lainya untuk segera berkumpul mendiskusikan hal ini.
Setelah mengirimkan pesan itu, Jesper langsung pergi menuju rumah Valen agar tidak ada yang mencurigai pergerakanya.
Dan tak lama kemudian setelah di sampai di rumah Valen, dia langsung mengetuk pintu itu agar segera di buka.
Tokk,,tokkk,,tok, Jesper mengetuk pintu itu berkali-kali.
“Ya sebentar,” sahut Valen dari dalam. Dan langsung membukakan pintu untuk Jesper.
Ckklleekkk, pintu itu terbuka dan memperlihatkan Valen dan Zein yang berdiri di belakang pintu, “Jesper,” sapa Valen dengan suara yang begitu khawatir setelah mendapatkan pesan dari Jesper tadi.
“Ya, ini aku.” Balas Jesper langsung masuk ke dalam rumah Valen.
Dan tak lama kemudian munculah tiga sekawan James,Vincent, dan juga Martin, “hallo,semua maaf kami telat,” seru mereka dan langsung mengambil posisi tepat di sebelah Jesper.
Mereka semua saling menatap dengan wajah yang menegang memikirkan keadaan ini, “tidak-tidak, latihan fisik ini tidak bisa di lakukan sekarang, Griffin masih kecil,” seru Valen yang tidak terima dengan keputusan para pria.
Jesper menoleh pada Valen yang terlihat sangat frustasi saat ini, “Valen ini harus terjadi, jika tidak dia akan nekad untuk berlatih sendiri dan itu sangatlah berbahaya,” balas Jesper berusaha memberikan pengertian pada Valen.
“Dengar Nyonya Valen, ini bukan masalah usia dia masih kecil atau tidak, tapi di lihat dari keadaan sekarang Griffin memang harus belajar mulai saat ini. Apa lagi jika kita sangat tau jelas jika di usianya sekarang dia sudah di bebani dengan banyaknya tugas yang harus dia kerjakan di kemudian hari. Ini bukanlah sebuah diskusi Nyonya Valen tapi ini adalah sebuah keharusan.” Seru Vincent yang tidak ingin situasinya jadi terbalik hanya karna sebuah penolakan dari Valen.
Zein memilih untuk tidak mengikuti diskusi ini karna dia rasa ini sangatlah tidak penting. Dia melangkahkan kakinya meninggalkan orang-orang yang masih berdebat saat ini.
Dia melangkahkan kakinya menemui Griffin yang sedang mengunci dirinya sendiri di dalam kamarnya seorang diri.
Tokk,,tokk, “Griffin buka pintunya, ini Uncle,” seru Zein yang ingin mengajak keponakanya itu untuk berbicara.
Mendengar Pamanya mengetuk pintu, dengan cepat Griffin langsung membuka pintu kamarnya itu, ckleeekkk, pintu itu terbuka dengan perlahan. Dan terlihat Griffin yang tengah duduk di atas tempat tidurnya.
“Are you okay Griffin?” tanya Zein pelan.
Griffin menatap kea rah Zein yang berada di hadapanya saat ini, “Paman, aku pernah melihatmu beberapa kali membunuh lawanmu, apakah itu sangat mengerikan jika di lakukan?” tanyanya dengan suara yang sangat pelan, karna dia sangat tidak yakin dengan pertanyaanya itu.
Zein menyeritkan keningnya bingung. “What do you talking about?” Elaknya pura-pura tidak mengerti dengan apa yang sedang di tanyakan oleh Griffin.
“Paman, aku sering mengikutimu diam-diam. Ketika kamu tengah bermain bersamaku dan tiba-tiba kamu mendapatkan telpon dari seseorang lalu pergi meninggalkan ku. Semua itu aku mengetahuinya karna aku mengikuti paman.” Jawabnya sontak membuat Zein terdiam tak mampu berkata apapun.
“Aku melihat cara paman membunuh mereka, aku melihat cara paman memotong tubuh mereka dan lain hal sabagianya, dan sepertinya itu sangatlah menyenangkan, apakah aku bisa ikut dengan mu paman?” Serunya lagi mengatakan jika dia ingin
Melihat secara langsung adegan pembunuhan yang selama ini hanya bisa dia lihat dari jauh.
Zein terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya senyum iblis terpancar dari wajahnya. "Apa kamu yakin ingin mencobanya?" Tanya Zein dengan serius.
"Ya Paman, aku sangat yakin," balas Griffin dengan antusias. Membuat Zein semakin yakin jika memang inilah saatnya mengajarkan kepada Griffin dunia yang sebenarnya.
"Baiklah, ayo kita pergi," ajaknya dengan penuh semangat.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻