It’S So Hurts

It’S So Hurts
Pemakaman



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah prosesi pemakaman Zein, kini Dara terlihat masih terduduk di sebelah makam suaminya.


"Ayaaaaaahhh," teriak Jingga lagi, dengan di iringi hujan yang turun dengan sangat deras.


Gludddduuukkkk,,Gluuuddduuukkk bunyi guntur dan kilat bersamaan terdengar membuat Jingga semakin takut dan histeris.


"Aaaarrrggghhhh ayaaahhhh Jingga takut ayahhhh,, banguunn dan peluk Jinggga," tangisnya terus memukul-mukul makan ayahnya.


Dara hanya diam saja, karena dia sendiri merasa jika tubuhnya sangat kaku saat ini.


"Mamamaahhh, ayah selalu nurut sama mamah, ayah selalu mendengar dan takut sama mamah, sekarang mamah perintahkan ayah untuk bangun dan jangan seperti ini mah," tangis Jingga, tanpa sedikitpun membuat Dara goyah dari posisinya.


Dia sudah bilang, kalau dia lebih baik tidak melihat kepergiaan suaminya, karena jika dia tidak melihat, maka rasa sakitnya tidak akan separah ini.


Jingga terus menerus berteriak histeris, hingga terlihat darah yang keluar dari hidungnya, serta rasa sakit di kepalanya sama sekali tidak diperdulikan.


Plaaaakkkkk satu tamparan berhasil mendarat di pipi Dara.


Tamparan itu dilayakan oleh Stella yang tidak habis pikir bagaimana bisa Dara mendiamkan Jingga yang sudah nyata-nyatanya merintih kesakitaan dihadapaanya.


Namun bertingkah seperti patung, Dara sama sekali tidak menggubris tamparan itu, bahkan Stella melakukaannya dengan sangat keras akan tetapi sepertinya Dara tidak merasakaan sakit apapun dia tetap diam dan tidak bergerak sama sekali.


Hingga Griffin datang dan menggendong tubuh Jingga untuk dibawa pulang. Begitupula dengan Aiden yang menggendong paksa tubuh Dara.


Sesampainya di Mansion, semua keluarga kembali sama-sama terdiam, tidak ada yang bersuara, karena mereka masih merasa bahwa semua kejadiaan ini seperti sebuah mimpi buruk.


Tetapi, mereka disadarkan oleh kenyataan yang sangat menyakitkan, mereka gagal menjaga amanat dari Lucas untuk merawat putranya.


Padahal sudah banyak yang Lucas dan Zein lakukan untuk keluarga besar itu, namun seperti kacang yang lupa dengan kulitnya, mereka malah menghakimi bahkan menyalahkan Zein dari semua ini.


Tidak terkecuali dengan Arvan, dia sangat merasa terpuruk atas kejadian ini.


Dia sama sekali tidak menyangka jika sebuah ancaman yang diberikan pada Zein kini benar-benar terjadi.


Satu lagi pilar keluarga itu yang hilang meninggalkan rumahnya. Hingga sangat terlihat saat ini jika rumah itu mulai roboh ketika pilar-pilar mereka mulai hilang satu persatu.


Dara yang baru saja sampai di dalam kamar, kini melihat ke arah kaca, dan melemparkan vasu bunga hingga kaca tipis itu pecah tak tersisa.


"Kalau kamu pergi meninggalkan aku sendiri, lalu aku di dunia ini sama siapa? Kenapa kamu tega ninggalin aku," tangisnya lagi-lagi pecah. Dan lalu tatapannya beralih pada sebuah kaca yang terlihat sangat tajam.


Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, dan mulai mengisi air didalamnya.


Perlahan namun pasti, air yang bewarna putih bersih, kini telah berganti menjadi warna merah akibat darah yang begitu banyak Dara keluarkan.


"Dara di mana?" tanya Jenni pada Aiden yang baru saja duduk di ruang keluarga.


"Aku bawa dia ke kamar tamu," jawab Aiden santai.


Sontak saja Vika yang berada di situ langsung berdiri, "tidak seharusnya kita meninggalkan Dara sendiri, dia sedang terpuruk saat ini, kalian semua mendukung Tasya, kita semua memberikan dukungan pada Tasya, tapi kita lupa akan Dara," pungkas Vika, sambil menatap ke arah mereka satu persatu dan menunjuk ke arah Tasya dengan kesal.


Dia kembali mengingatkan bahwa di dalam masalah ini juga ada Dara yang jauh lebih terpuruk dari mereka semua.


Jenni menganggukan kepalanya pelan, berbeda dengan Stella yang mengusap wajahnya kasar, "aku tadi menamparnya dengan tanganku, dan itu sangat keras, tapi dia sama sekali tidak meresponku," sahut Stella dengan lemah.


Sungguh dia juga masih merasa tidak percaya dengan semua ini, anak angkat yang sangat dia sayangi kini telah pergi begitu saja.


Dan rasa bersalahnya terhadap Lucas dan Tenry kini semakin besar.


"Aaarrrrgggghhhh tolongg," teriak salah satu pelayan rumah yang berlari dengan wajah pucat.


"Ada apa kamu teriak?" bentak Mario dengan keras.


"Ittu,,ittttu, nyonya Dara Tuan," lapornya dengan gugup.


"Daraaaaaa," teriak Aiden tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh wanita ini.


Jenni,Vika,Valen, Freya, Vita dan Stella kini hanya bisa semakin menangis saja, sudah tidak tahu berapa banyak air mata yang mereka keluarkan hari ini.


"Kenapa dia bisa melakukan hal sebodoh ini?" tanya Mario pada semua orang. Padahal dia jelas tau jika tidak akan pernah tau jawabaanya.


Dengan perasaan gugup Mario mengangkat tubuh Dara yang tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Dan Stella langsung segera mungkin mengambil selimut untuk menutup tubuh polos Dara.


"Freya, bisakah kamu mengambilkan alat-alat kedokteraan mamah di ruangan sebelah?" pintanya pada menantunya.


"Baik mah," jawab Freya, dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dara.


Tak lama kemudian Griffin datang bersamaan dengan Lyla, "ngapain kamu di sini?" tanyanya pada seseorang yang tidak diketahui siapa.


"Griffin," tegur Lyla dengan berbisik di telinganya.


"Kamu!" tunjuknya pada Vita.


Vita memang sedang berada di Mansion Italia di saat kejadian ini terjadi, Vika mengundang putrinya itu untuk berlibur dan tidak akan pernah tau jika akan ada kejadian seperti ini.


"Maaf kenapa dengan Vita ya Fin?" tanya Aiden dengan lembut.


"Dia adalah orang asing di Mansion ini, dan aku tidak suka jika ada orang asing berada di sini, kamu, dan kamu, semua yang tidak ada hubungan darah di keluarga ini lebih baik pergi," usirnya pada Vika dan Vita.


"Griffin yang sopan kamu, dia adalah istri dan anak dari Alson saudara papah kamu," teriak Jenni yang tidak habis pikir cucunya bersifat minus seperti itu.


Dengan tesenyum sinis, Griffin mendekat ke arah Jenni. "Kamu mau dia yang mereka yang pergi atau aku yang pergi?" ancam Griffin memberikan dua pilihan pada neneknya tanpa sama sekali ada rasa hormat.


Mario dan Stella hanya bisa menghela nafas dengan kasar, bukan salah Griffin jika dia bisa bertindak kasar seperti itu, luka yang Arvan torehkan padanya mesti sangat dalam.


Terlebih saat ini Arvan membawa seorang wanita asing yang dia anggap sebagai cucu, dan lagi membawa Tasya untuk membunuh orang yang paling dia sayangi di dunia ini yaitu Zein.


"Lyla," panggil Freya pada Lyla yang sedang menenangkan Griffin.


Lyla yang merasa dipanggil oleh mamahnya kini langsung menolehkan pandanganya, "iya mah," jawab Lyla lembut.


"Bantu nenek Stella untuk memakaikan tante Dara baju ya sayang, kami semua akan keluar dari sini," pinta Freya pada putrinya.


"Siap mah," sahutnya, dan langsung beralih naik ke atas ranjang, sedangkan yang lainya kini lebih dulu keluar.


"Nenek," ucap Lyla dengan pelan.


"Iyah sayang," balas Stella.


"Apakah ketika kita mencintai seseorang, kita itu harus berkorban dengan apapun yang kita miliki, seperti Uncle Zein yang mengorbankan nyawa dan meninggalkan orang-orang yang dia sayangi?" tanyanya pada Stella.


"Benar sayang, ketika orang jatuh cinta, maka kita merasa tubuh,nyawa,nafas serta jantung kita itu terikat menjadi satu, cinta dan obsesi adalah sebuah perbedaan yang sangat besar, ketika kamu melihat Zein dan Dara itu adalah sebuah cinta, karena mereka saling berkorban untuk satu sama lain. Tetapi jika kamu melihat Tasya itu adalah sebuah obsesi yang menginginkan seseorang yang tidak bisa menjadi miliknya namun seperti memaksa," jelas Stella pada cucunya.


Lyla menganggukan kepalanya paham, sebenarnya dia masih bingung dengan kalimat itu, karena dia sedang berada di tahap mencintai seseorang yang tidak bisa dia gengam.


Sedangkan Stella kini kembali fokus untuk menjahit luka robek di pergelangan tangan Dara.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*