
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Saat ini, Dara kembali terlihat menundukan kepalanya, dia menatap ke arah Jingga yang tengah duduk dihadapannya.
Dia tidak tahu ingin mengatakan apa pada saat ini, dia kalah, dia benar-benar kalah dalam persidangan yang terjadi.
Seberusaha kuat dia dan pengacara yang Aiden keluarkan, tetapi tidak bisa membantu Dara sama sekali, beruntung Aiden masih mau membantunya untuk membayar denda yang hampir 3M itu.
Tinggg,,tongg suara bel rumahnya berbunyi. Dara semakin bingung saat ini, dia yakin bahwa itu adalah Valen dan Tasya yang ingin mengambil Jingga saat ini juga.
Tingg,,tongg, suara bel kembali berbunyi, namun Dara sama sekali tidak menggubrisnya.
"Jingga sayang, sini peluk mamah, Nak," pinta Dara pada Jingga yang menuruti permintaan mamahnya untuk memeluknya.
"Jinggaa, mamah mencintamu Nak, mamah mencintaimu, kamu harus tau, jika mamah akan mencintaimu sampai kapanpun," lirih Dara pelan, sambil terus mendaratkan kecupan-kecupan singkat di kening dan di seluruh wajah putrinya.
Dara menangis dengan kencang dia dalam pelukan Jingga, dia ingin sekali membawa Jingga lari dari sini, namun apalah daya, jika dirinya bukanlah siapa-siapa yang bisa berkuasa seperti Zein dulu.
Ting tong,,,ting tongg,,tingg tongg,,tingg tongg, suara bel yang ditekan dengan banyak kali, menandakan bahwa orang yang berada di luar sana tengah merasakan kesal yang sangat luar biasa.
Jingga sedari tadi hanya mencoba diam, dan terus memikirkan ada apa dengan mamahnya yang tiba-tiba menangis seperti itu, dan siapa tamu yang sedari tadi berada di luar? Kenapa tamu itu sangat tidak sopan hingga memencet bel seperti itu.
Ketika Jingga ingin melepaskan pelukan Dara dari tubuhnya, terlihat mamahnya yang tidak mengizinkannya, dan berfikir untuk melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kabur.
Namun sepertinya Valen yang sudah sangat muak, kini mencoba untuk menggunakan tanggal lahir Zein sebagai pasword pembuka pintu itu. Ketika muncul tulisan salah, Valen kembali mencoba untuk menggunakan tanggal lahir Dara yang dia lihat dari surat-surat tadi, namun masih tetap salah.
"Coba pakai tanggal pernikahaan mereka bund," lirih Tasya dengan pelan.
Valen menganggukan kepalanya, dan mencoba mengingat tanggal berapa Zein membawa Jingga kabur, karena itu bertepatan dengan hari pernikahaan Zein dan Dara.
"Masih salah Tasya, aahhh wanita sialaan ini, berani-beraninya dia berkuasa di harta keponakaanku," keluhnya semakin memperlihatkan kebenciaanya pada Dara.
"Tanggal kematian Zein," balas Tasya lagi, entah kenapa dia yakin dengan pemikiraan itu.
Valen sempat terkejut dengan ucapan Tasya, tetapi jika memang benar, kenapa wanita ini harus menggunakan tanggal kematian sebagai pasword rumah mereka.
Tetapi karena tidak ingin banyak berfikir lagi, akhirnya Valen mencoba lagi dengan tanggal kematian Zein.
Ckleeekkk,, terdengar suara pintu yang terbuka, lalu memperlihatkan Dara dan Jingga yang sedang berpelukan di dalamnya.
"Wah,,wahhh, lihat! Wanita yang tidak tahu diri ini!" Valen lagi-lagi menghujat Dara, seakan-akan tidak pernah ada kebaikan Dara di dunia ini.
Namun belum saja Dara menjawab, dari luar terlihat Freya,Aiden dan Lyla yang masuk ke dalam rumah Dara. Tak ketinggalan sahabatnya Tyas dan Justin juga ikut masuk, karena mau memberikan sebuah kekuatan kepada ibu hamil tersebut.
"Woyy, masuk rumah tanpa permisi dari orangnya itu namanya maling," Tyas yang sudah tidak tahan dengan prilaku serta kata-kata dari Valen sedari tadi, kini langsung berusaha untuk menyela.
"Eh kamu gak ada urusan apa-apa ya! Jangan ikut campur kamu! Keluarga bukan, kerabat juga bukan," balas Valen tak kalah emosi.
"Hahahahahh, heh nyonya, luu pikir saya gak tau, yang bukan keluarga itu siapa." Benar-benar gila, karena Tyas berani memancing kemarahaan orang lain.
"Aku dari dulu, walaupun gak kaya tapi okelah, lah kamu sudah pengemis, dan kamu diangkat derajat oleh keluarga mereka karena kakak kamu, setelah itu kamu menikah dan dibuang oleh suamimu, ehh salah bukan dibuang tapi diselingkuhin, karena apa? Karena kamu itu mandul, mandul tau gak? Hahah rahim luckud, lihat deh anak aja gak ada yang mau singgah di rahimmu karena apa? Karena kamu adalah iblis jahanam," cerca Tyas tanpa memfilter sama sekali kata-katanya.
Valen menatap Dara dan Tyas dengan tajam, lalu melihat ke arah Aiden yang diam saja ketika mendengarnya dihina seperti itu.
"Saya di sini, sama sekali tidak mempunyai urusan dengan kamu, saya hanya ingin mengambil cucu saya, dan itu adalah kewajiban kalian untuk memberikaanya, gak lupakan sama keputusan sidang tadi," seru Valen dengan pelan, seakan-akan memberikan sebuah peringatan kepada Dara untuk tidak bermain-main dengan hasil keputusaan.
Dara menggelengkan kepalanya pelan, dan semakin mempererat pelukannya di tubuh Jingga.
"Jangan ambil anak saya, please" pinta Dara dengan sangat memohon.
Jingga yang mendengar kalimat Dara serta kehadiran ibu dan wanita yang dia kenal sebagai nenek, akhirnya membuat dirinya mengerti apa yang akan terjadi saat ini.
"Mah, Jingga mau sama mamah, Jingga gak mau sama mereka mah," lirihnya pelan.
Dara menganggukan kepalanya pelan, dan melihat wajah Jingga dengan lekat, "Jingga akan sama mamah, Jingga anak mamah sayang," balasnya, dengan memperlihatkan perasaan yang tulus.
Karena tidak ingin membuang waktu lagi, beberapa pengawal Valen ,kini langsung berusaha menarik Jingga dari Dara.
"Gak mau, mamah,,mamah tolong Jingga mah," teriaknya ketika tubuhnya digendong paksa oleh om-om yang tidak dia kenal.
Sedangkan tubuh Dara sendiri kini tengah ditahan oleh anak buah lainnya sehingga tidak bisa mengejar Jingga sama sekali.
"Jangan, tolong jangan, berikan kami waktu, saya pasti akan mengembalikaannya tapi tidak sekarang, saya butuh bicara baik-baik terhapad dia," pinta Dara dengan sangat.
Namun sama sekali tidak digubiris oleh Valen, sedangkan Aiden dan yang lainnya kini sama sekali tidak bisa berbuat apapun yang dapat membantu Dara.
Tetapi Aiden hanya membutuhkan sedikit waktu untuk ikut menyusun rencana dan mengambil Jingga dari tangan Valen tanpa sedikitpun ada perlawaan.
Untuk saat ini, mereka masih dalam pengawasan polisi, sehingga membuat Aiden tidak bisa mengambil keputusaan apapun, kecuali Griffin berhasil membujuk Arvan dan mengendalikan hukum yang ada.
Setelah Dara tidak lagi ditahan oleh anak buah Valen, kini dia ingin berlari keluar dan mengejar Jingga, namun dengan cepat Justin menahannya, "cukup Dara, kita akan berjuang bersama untuk mendapatkan Jingga kembali, tolong jangan seperti ini," ucap Justin dengan pelan.
"Anggap kita semua di sini adalah keluarga Dara, kita akan berusaha untuk mendapatkan Jingga kembali tapi tidak sekarang," sambungnya lagi.
Lalu diikuti oleh Tyas yang juga langsung memeluk tubuh Dara, "hisskkk,,hisskk, Jingga,Jingga," tangisnya di dalam pelukaan Tyas.
"Yang sabar Dara, ingat di dalam tubuh kamu juga sedang ada anak yang harus dijaga, jangan terlalu larut dengan semua kesedihan ini," ucap Freya, yang sedari tadi hanya diam, karena tidak mampu mengeluarkan suaranya ketika dirinya juga tahu bagaimana perasaan Dara saat ini.
Sakit dan kehilangaan, lagi-lagi dua kata itu yang selalu menghantui kehidupan Dara yang sempurna menjadi hancur berantakan.
Hanya karena sebuah perasaan cinta, dia harus merasakan kehilangaan semua orang yang sangat dia sayangi.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*