
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
“Dar, kita pesan itu, yuk,” ajak Tyas pada Dara.
“Apa itu?” tanya Dara bingung, karena baru pertama kali melihat makanan seperti itu.
Tyas tersenyum lalu menarik tangan Dara untuk mendekati gerobak tersebut. “Ini itu namanya cilok, Indonesia identik banget sama makanan ini, kamu lebih baik coba deh,” ujar Tyas memberikan sebungkus cilok untuk Dara.
“Ehmmm, ini enak, ya! Aku baru pertama kali coba ini,” ujarnya sambil memakan cilok itu satu demi satu.
Tyas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Sudah kubilang, kan, kalau makanan Indonesia itu pasti enak,” sahutnya, lalu ikut mengambil cilok itu.
“Berapa, Mas?” tanya Tyas pada sang penjual.
“10.000 mbak,” jawabnya, dan lalu Tyas mengeluarkan uang 100.000 5 lembar.
“Ini buat masnya, yang rajin ya jualannya,” serunya, dengan lembut.
Sontak saja mas penjual itu terkejut melihat Tyas yang memberikan uang banyak kepadanya, “Mbak, ini kebanyakan, Mbak,” ucap penjual itu.
Namun Tyas tidak menjawab, dia malah memilih untuk menarik tangan Dara dan pergi dari tempat itu.
“Tunggu, tunggu, Tyas,” tandas Dara pelan, menghentikan langkah Tyas.
“Ada apa?” tanya Tyas bingung.
Dara terdiam, lalu memperbaiki perasaannya sebentar, dan mencium aroma cilok itu lagi, “huekkk,huekkk,kok aku mual ya, Tyas,” keluh Dara pada sahabatnya.
“Huekkk,,huekk,hueekkk,” Dara segera menyingkir ke tepi, dan mencari tempat untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Tyas kembali tertawa melihat sikap Dara yang seperti ini, “Kamu kenapa sih? Tadi oke-oke aja,” seru Tyas, sambil terus memakan ciloknya, dan tidak ada apa-apa yang terjadi dengan dirinya.
“Daamn! Kamu membelikanku makanan siaallan sepertinya, huekkk,,hueekk,” Dara tidak henti-hentinya merasakan mual yang berlebih. Sampai arah tatapan Tyas jatuh pada apotek di hadapan mereka.
“Kamu tunggu di sini dulu Dar,” pintanya, meninggalkan Dara di luar sementara, lalu dia masuk ke dalam apotek, untuk membeli sesuatu.
Tidak membutuhkan waktu lama, Tyas kembali keluar dengan membawa barang, lalu menarik tangan Dara untuk pulang ke rumah Zein.
“Ayo, Dar, kita pulang, aku ingin melakukan tes uji denganmu,” seru Tyas, kembali menarik tangan Dara untuk segera masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Tyas langsung kembali membawa paksa Dara masuk ke kamar mandi.
“Ayo cepatan,lama banget sih,” kata Tyas pelan.
“Ada apaan? Kenapa kamu tiba-tiba, membawaku ke--,” ucapnya terhenti ketika melihat beberapa alat yang dikeluarkan oleh Tyas.
“Periksa ya, aku penasaran,” ungkapnya pelan.
Lalu Dara menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang diinginkan oleh Tyas. “Baiklah, aku akan mecoba semuanya, biar kamu puas,” sahut Dara, yang membuat Tyas terkekeh di buatnya.
****
Dara tersenyum bahagia melihat 10 tes kehamilan yang dibeli oleh Tyas tadi.
“OMG, aku sangat bahagia melihat semua ini, Dara, kamu mendapatkan cinta lalu kamu hamil, itu sangat-sangat menggembirakan,” seru Tyas sangat antusias melihat sahabatnya yang jauh lebih beruntung dari pada dirinya.
Dara meneteskan air matanya perlahan, tidak percaya dengan apa yang dihadiahkan
Tuhan kepadanya sebelum acara pernikahanya berlangsung.
“Aku juga tidak menyangka, dia hadir untuk menjadi penguat hubunganku dengan Zein,” sahut Dara, langsung memeluk tubuh Tyas dengan erat.
“Terima kasih ya, karena kamu sudah mau menjadi sahabatku,” ucapnya tulus pada Tyas.
“Ihh apaan sih, kita itu adalah sahabat, jadi untuk apa berterima kasih,” balas Tyas dengan tersenyum lembut, dan membalas pelukan erat dari Dara.
Terlihat Dara yang ragu untuk memberitahu kepada Zein, “Aku tidak akan memberitahunya secara detail, tapi aku akan memberikannya sebuah clue,” jawab Dara. Lalu mengambil ponsel Tyas untuk mengirimkan pesan pada Zein.
“Besok aku akan memberikan satu hadiah yang akan membuatmu bahagia. Cepat datang ya besok, aku akan menunggumu. From little Zera,” tulisnya pada pesan itu, dan segera mengirimnya.
“Bagaimana?” tanya Tyas excited.
“Belum dibaca olehnya. Sedari tadi ponselnya tidak aktif, apa yang sebenarnya terjadi?” gumamnya khawatir dengan sikap Zein yang tidak biasa.
*****
Sedangkan di sisi lain, Zein yang sudah kembali ke rumah Valen, saat ini hanya diam mengunci dirinya dalam kamar. Pilihan sulit yang sama sekali tidak tahu mana yang mau dia pilih, membuatnya benar-benar frustrasi saat ini.
Hingga dia berhasil menyalakan ponselnya lagi, dan melihat pesan dari Dara, lewat ponsel Tyas, “Little Zera,” gumamnya pelan, sebelum akhirnya pintu kamarnya dibuka paksa oleh Arvan.
“Uncle,” gumam Zein, melihat kembali sosok yang sedari tadi merusak pikirannya.
“Kamu harus menikah dengan Tasya besok,” ungkap Arvan.
“Tidak, aku tidak mau,” tegas Zein, menolak pernikahan yang tidak dia inginkan.
“Kalaupun aku mau menikah, itu hanya dengan Dara bukan dengan wanita lain,” sambungnya lagi.
Bugghh Arvan memukul perut Zein, hingga tersungkur ke belakang.
“Dua minggu yang lalu kamu memperrkoosaanyaa Zein, dan kamu tidak berpikir apa yang akan terjadi dalam tindakan itu, dan sekarang lihat, dia hamil! Dia hamil anak kamu, Zein, anak kamu,” bentak Arvan penuh emosi.
Sontak membuat Zein terdiam tanpa berani berkata apa pun.
“Tidak mungkin, kalaupun dia hamil, gugurkan saja bayinya, karena aku tidak akan pernah mau menganggap anak itu,” tolaknya mentah-mentah.
Sebelum Arvan mengeluarkan foto Dara yang sedang diamati oleh seluruh anak buah Arvan. “Nikahi Tasya besok, atau Dara akan lenyap saat ini juga,” ancam Arvan lagi. Namun kali ini dia tidak mempunyai pilihan. Dia hanya bisa mengambil satu yaitu menikahi Tasya untuk menyelamatkan Dara.
Tapi besok adalah hari pernikahanya dengan Dara bukan Tasya.
“Kamu tidak ada pilihan, Zein, menikah dengan Tasya, atau melihat kematian kekasihmu sendiri,” tegas Arvan lagi.
Zein terduduk lesu, dia bingung apa yang akan dia lakukan saat ini, karena dua langkah yang diambil saat ini akan sama hasilnya.
Memilih untuk kehilangan tanpa bisa melihatnya lagi, atau kehilangan tapi masih bisa menemukannya.
Intinya tetap saja akan kehilangan, namun dia tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan raga Dara, namun dia juga tidak mungkin kehilangan hati Dara.
Sampai akhirnya Zein, memilih untuk kehilangan hati Dara, dengan menikahi Tasya. Setidaknya dia masih bisa memaksa Dara untuk mencintainya lagi setelah ini.
Mungkin terkesan egois, tapi Zein akan melakukan segala cara untuk Dara tetap bertahan bersamanya.
Walaupun hatinya akan sakit menerima kenyataan Dara akan membencinya seumur hidup, tapi biarlah dia menahan sakitnya dibenci daripada dia harus kehilangaan wanita ini.
Karena cinta akan menghasilkan dua hal yang terikat pada satu hati. Penderitaan yang diakibatkan oleh cinta, pasti akan menghasilkan kebahagiaan di kemudian hari.
“Baiklah, aku akan menikahi Tasya besok,” tegas memilih untuk melakukan hal yang akan dia benci seumur hidup.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻