
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Sesampainya di apartemen Tyas, Dara dan Justin langsung masuk begitu saja, lalu membaringkan tubuh mereka di sofa. Itu membuat Tyas hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing.
“Yang punya apart siapa? Yang seenaknya siapa,” sindir Tyas yang langsung membuat keduanya tersenyum kikuk.
“Aku lapar loh, masa gak ada yang traktir makan,” ucap Dara menatap ke arah Justin yang pura-pura memejamkan mata.
Sedangkan Tyas, hanya mengedikan bahunya singkat dan melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minum.
Plaaakkkk! Dara memukul singkat kaki Justin. "Aw Dara, sakit. Bar-bar banget, sih. Pantas aja sang psychopat itu takut sama kamu,” rintihnya pelan yang membuat Dara langsung memandangnya sinis.
“Siapa yang kamu maksud psychopat, Bea?” tanya Tyas serius, dan langsung duduk di dekat kekasihnya.
Justin terdiam, dan melirik ke arah Dara. "Jangan bilang kalau kekasih Dara Mr. Zein itu adalah psychopat. Benar begitu Dara?” tanya Tyas penasaraan.
Mau tidak mau Dara hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah, “OMG, gila ya, Dara. Baru mendarat di sini saja kamu sudah dapat pacar, psychopat lagi. Bisa-bisa mati dibunuh," seru Tyas yang parno sendiri ketika mengetahui jika sahabatnya ini berhubungan dengan seorang yang seperti itu.
“Memang apa yang salah sih, sama psychopat? Dia kan gak ganggu,” sahut Dara yang tidak terima jika pacarnya menjadi bulan-bulanan.
Tyas menghela napasnya kasar, lalu mendekat ke arah Dara dan memeluknya erat. "Dengan siapa pun kamu berpasangan itu akan sangat menentukan masa depan kamu. Jika kamu merasa dia yang terbaik, maka dia yang terbaik. Tapi, aku sarankan tanya hati kamu seberapa nyamanya kamu menjalin hubungan ini,” ucap Tyas memberikan nasihatnya pada sahabat yang sudah dia anggap seperti adik ini.
Setelah itu Tyas melepaskan pelukannya, dan menatap lekat ke arah wajah Dara. “Perjuangkanllah jika kamu merasa dia yang terbaik. Kami mendukungmu,” ucap Tyas lagi dan langsung membuat Dara tersenyum menatapnya.
“Sudah, ah. Sayang, pesan makanan ya, aku sama Dara lapar ini,” pinta Tyas pada Justin yang sedari tadi hanya diam memejamkan mata.
Tinggg tonnnggg. Suara bel apartemen Tyas berbunyi menandakan datangnya seseorang. "Nah, mungkin itu kurir, karena sebelum ke sini tadi aku sudah memesan makanan duluan,” ujar Justin.
“Baiklah, aku lihat dulu, ya,” sahut Tyas, lalu beranjak dari tempatnya untuk membuka pintu.
Namun, di saat Tyas baru membuka pintu, tiba-tiba saja dari arah luar ada seseorang yang menoodongkan pistol ke arahnya. "Aarrrggghhh,” jerit Tyas seketika dirinya disekap dan dikunci.
Justin dan Dara sontak langsung beranjak dari tempatnya ketika mendengar suara jeritan Tyas. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Tyas yang sudah dibekap dengan pistol yang berada di kepalanya.
“Siapa kalian,” bentak Justin yang berusaha tenang melindungi Dara yang masih berada di belakangnya.
Sosok pria itu tersenyum, dan menoleh ke belakang melihat tuan mereka datang, “Bawa mereka!" perintah pria itu, kepada beberapa anak buahnya yang baru saja datang.
Dara berteriak sekencang-kencangnya, merasa takut ketika melihat para pria ini mulai ingin menangkapnya. Sedangkan Justin, kini mulai melawan dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, dia yang sudah tidak bisa berkutik saat Dara dan Tyas berada di tangan para pria itu.
“Apa mau kalian sebenarnya? Kenapa kalian menangkap kami?" bentak Justin yang mau tidak mau harus menyerahkan dirinya.
“Hahahhahaha. Ssebenarnya masalah saya bukan sama kamu dan kekasihmu, tetapi masalahku ada dengan wanita ini,” tungkas pria itu, sambil mengeluarkan pisau kecilnya dan menggoreskannya di wajah Dara.
“Aaarrrgghh,,hisskk,,hisskk, sakit,” jeritt Dara yang kesakitan.
“Daaraaa!” teriak Justin lagi, yang tidak tega melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.
Sedangkan Tyas, kini hanya mampu menangis karena mulutnya dibekap dengan sangat keras.
Justin terdiam, dan tak berani untuk berbicara lagi. Dia khawatir jika dia membuka suara lagi, Dara akan terluka lagi.
“Hisskk,,hisskk,,hiskk. Lepaskan kami. Apa salah kami?" tangis Dara yang tak kuat menahan sakit ketika tangannya diremas kuat oleh anak buah pria itu.
Namun, pria itu hanya tersenyum, dan memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera membawa Dara, Tyas, dan Justin untuk pergi dari sana.
“Jangggaannn! Lepaskann kami!” teriak Dara sekuat mungkin.
Plaaakkkk, plaaakkk. Pria itu menampar wajah Dara berulang-ulang, hingga Dara tidak berani membuka mulutnya lagi.
“Ahahahha. Wanita ini pikir dia bisa melawan club tiger,” beo salah satu pria yang berada di belakanganya.
Dengan diam, mereka semua melangkah mengikuti arah ke mana sosok itu membawa mereka.
Sesampainya di sebuah tempat terpencil, kotor, dan bau, mereka dimasukkan ke dalam, Tyas dan Justin dimasukkan ke dalam ruangan, sedangkan Dara mereka bawa dan ikat tepat di depan ruangan itu.
Tyas yang sudah terlepas dari gengaman pria yang sedari tadi menyanderanya, kini langsung cepat berlari memeluk tubuh Justin dengan perasaan ketakutan.
Seluruh anak buah pria itu meninggalkan Justin dan Tyas berdua di dalam ruangan itu tanpa diikat sama sekali.
Justin berusaha mencari jalan keluar. Namun, dia sama sekali tidak bisa berpikir karena Tyas yang menangis tak berhenti. “Sayang, kamu tenang dulu, ya,” ucapnya selembut mungkin.
Seketika Justin teringat jika dirinya membawa ponsel di dalam saku jasnya. "Sayang, di sini masih ada sinyal. Kita bisa minta tolong pada—” ucapnya terhenti ketika melihat ponsel Dara yang ada bersamanya.
“Hiskk,hiskk. Bagaimana bisa ponsel Dara bersamamu?” tanya Tyas bingung dengan tangisnya yang masih menggema.
Justin juga terdiam mengingat-ingat apa yang telah terjadi. “Ahh ya, tadi Dara menjatuhkan dirinya dan menabrakku. Kamu ingat bukan, sepertinya di saat itu Dara memasukkan ponselnya di kantungku,” urainya pada Tyas.
Tanpa menunggu lagi, Justin segera mencari nomor Zein yang berada di dalam ponsel Dara.
Sedangkan di sisi lain, Zein yang baru menyadari kesalahannya, kini hanya diam di dalam kantor, tanpa berani menemui Dara terlebih dahulu.
Dddrrrr,,ddrrrtt. Ponselnya berdering dan memunculkan nama kekasihnya. Zein yang melihat itu mencoba untuk mengabaikanya.
Drrrttt,,ddrrrttt. Pada bunyi kedua kalinya, barulah Zein segera mengangkatnya.
"Huaaawwaaa. Hallo, Sayang," sahut Zein yang berpura-pura habis bangun dari tidur.
“Tolong kami,” papar Justin dari seberang.
Zein yang mendengar suara laki-laki di ponsel kekasihnya, kini melihat kembali panggilanya.
"Kamu siapa?” tanya Zein yang masih belum mengenali suara Justin.
“Tolong kami. Aku, Dara, dan kekasihku sedang diculik oleh segerombolan orang berbaju hitam dengan logo tiger di baju mereka,” lapor Justin dengan suara yang pelan dan tenang.
“Arrrggghhh,,hissskk,,hisskk." Terdengar suara jeritan Dara dari luar, dan itu sontak membuat darah Zein mendidih.
“Damn it! Kalian di mana?” pekik Zein dengan penuh emosi.
“Kami tidak tahu. Yang jelas, aku mendengar mereka menyebutkan nama tiger untuk club mereka,” ucap Justin lagi, lalu panggilan tertutup karena sinyal yang tiba-tiba hilang.
Justin tertunduk lemah saat ini, dia merasa jika dirinya tidak berguna untuk bisa menyelamatkan kekasih serta sahabatnya, terlebih Dara yang mungkin saat ini sedang disiksa oleh mereka.
“Hisskk,,hissk. Dara, hissk,” tangis Tyas dan kembali memeluk tubuh Justin, untuk mencairkan rasa takutnya.
“Sabar, Sayang. Dara pasti akan baik-baik saja,” lirihnya pelan, agar Tyas tidak terus-terusan ketakutan seperti ini, walaupun sesungguhnya dirinya juga takut jika sampai ada apa-apa dengan Dara.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻