
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah mereka sampai di rumah Zein, Dara langsung masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan tubuhnya dan juga berganti pakaian.
Sedangkan Zein, memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya terlebih dahulu. Untuk mengecek beberapa email pekerjaan yang masuk.
“Oh God, Kak Aiden ini benar-benar membuatku sakit kepala,” gumam Zein, ketika melihat banyaknya pekerjaan yang diberikan pria itu kepadanya.
Dan tak lama kemudian, ponselnya berdering singkat, menandakan adanya pesan masuk. “Bunda,” gumamnya pelan, ketika melihat nama Valen yang ada di ponselnya.
“Bunda harap, besok kamu tidak lupa untuk datang ke pemakaman Papah dan Mamah kamu,” isi pesan singkat dari Valen untuknya.
Sontak Zein hanya diam dan memejamkan matanya. “Sudah 25 tahun ternyata aku hidup tanpa orang tua,” gumamnya pelan, sambil mengingat hari lahirnya yang sekaligus hari kematian orang tuanya.
Dan tanpa Zein sadari, suara gumamannya itu terdengar oleh Dara yang baru saja ingin masuk ke dalam ruanganya.
“Ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya,” batin Dara,sambil berpikir untuk memberikan kejutan pada sang kekasih.
Dara segera kembali ke kamarnya dan menelepon Justin untuk meminta bantuan. Setelah mengirimkan pesan untuk Justin dan dijawab oke oleh pria itu, barulah Dara menjalankan rencana B.
Dia mengendap-endap keluar dari rumah, untuk menunggu Justin di post security, karena dia takut jika Justin datang maka security pasti akan langsung menelpon Zein ketika menanyakan alamat kekasihnya.
Setelah melewati tangga yang banyak, karena dia phobia naik lift, akhirnya Dara sampi di lantai bawah di post security. “Ehm lama juga dia, sepertinya rumahnya jauh,” gumam Dara yang masih belum melihat tanda-tanda kedatangan Justin.
Hingga sampai dia memilih untuk numpang duduk di dekat post dengan alasan menunggu paketnya datang.
Sedangkan di dalam rumah, Zein yang tersadar karena dia tidak mendegar suara Dara, kini segera bangkit dan mencari kekasihnya itu di dalam kamar. “Sayang, kamu di mana ?” panggil Zein mencari sosok Dara yang ternyata tidak ada di dalam kamar.
“Ke mana dia?” tanya Zein entah pada siapa.
“Andara, kamu di mana ? Kamu jangan main-main sama aku, Dara!” teriaknya lagi, mencari kekasihnya itu di dalam kamar mandi, namun juga tidak ada.
“Dara!” teriak Zein menggila, ketika tidak mendapatkan sosok kekasihnya di mana pun.
Bugh! Zein memukul kaca lemarinya hingga hancur berantakan meluapkan segala emosinya, “Aku sudah bilang jangan tinggalkan aku, ternyata kamu mencoba untuk bermain denganku, Dara,” gumamnya penuh emosi.
Berbeda dengan Dara yang masih berada di bawah, dia tersenyum lebar ketika melihat sosok Justin yang berjalan kaki dengan membawa kue, balon dan juga bunga.
“Ini,” seru Justin menyerahkan semua itu kepada Dara.
“Terima kasih banyak ya, Justin, nanti aku bakal ganti uangnya,” ucap Dara dengan penuh rasa bahagia.
Justin menganggukkan kepalanya singkat, dan menunjukkan ponselnya yang ternyata sedang video call bersama dengan Tyas.
“Halo, Dara,” teriak Tyas di ujung sana.
Dara langsung tersenyum sambil melambaikan tangannya, “Hei, kamu kapan pulang?” tanya Dara ramah.
Namun tiba-tiba dia merasakan jika ponselnya bergetar sedari tadi. “Oh no, this is Zein. Oh my God, dia pasti marah besar karena aku pergi nggak ngomong,” batinnya merasa horor melihat ada 18 panggilan tidak terjawab dari Zein.
“Halo Tyas, aku harus pergi sekarang, sampai jumpa besok ya,” pamit Dara pada Tyas yang masih belum mematikan panggilan videonya.
“Oh okey Dara, salam ya buat Mr. Zein, bilang happy birthday buat dia,” ucap Tyas sambil melambaikan tangannya.
“Justin, aku pergi dulu ya, takut dia marah, kamu hati-hati ya, dan terima kasih,” seru Dara dan langsung berlari masuk dengan membawa banyak barang bawaannya.
Dara mempercepat langkahnya, walau kadang sesekali dia berhenti untuk menarik nafas. Sesampainya di lantai 22, Dara langsung segera menuju Rumah Zein.
“Waduh,” keluh Dara, ketika melihat Zein yang keluar dari rumah.
Zein yang melihat bayangan Dara, kini mencoba mengejarnya. “Andara!" teriak Zein menarik tangan Dara yang ingin kabur darinya.
Sontak saja Dara terdiam dan hanya bisa pasrah jika sampai Zein memarahinya, mau tidak mau Dara kini membalikkan tubuhnya dan tersenyum kikuk menatap wajah Zein yang menyimpan amarah.
“Heheheh Sayang, kamu mau ke mana ?” tanya Dara canggung.
“Ya Tuhan, wajah tuh seram banget sih kalau marah,” batin Dara yang udah pasrah jika Zein akan marah besar sama dia.
Zein hanya diam dan terus memperhatikan barang-barang yang sedang dibawa oleh Dara, “Ini?” tanyanya bingung.
Dara yang menyadari itu langsung membuka kotak kue itu dan memberikannya pada Zein. “Happy birthday sayang, semoga di usiamu yang makin dewasa ini, kamu makin banyak uang, masa depan yang cerah dan yang terpenting makin sayang sama aku,” seru Dara mengucapkan berbagai doa yang baik untuk kekasihnya.
Zein lagi-lagi terdiam menatap ke arau Dara, seumur hidupnya baru kali ini ada yang mengingat hari kelahirannya, sedangkan sedari kecil Bundanya selalu melupakan tanggal lahirnya karena menggantinya dengan hari kematian orang tuanya. “Terima kasih, Sayang, terima kasih, aku mencintaimu,” ucap Zein langsung memeluk erat tubuh Dara, tanpa peduli jika Dara sedang menahan sakit akibat pelukannya itu.
“Udah yuk, Sayang, kita masuk dulu dan tiup lilinnya,” ajak Dara yang merasa tidak nyaman jika berpelukan di luar rumah seperti ini.
Zein yang tersadar langsung mengambil bunga dan balon yang berada di sebelah tangan Dara. Tanpa dia sadari jika tangannya yang tadi dia gunakan untuk menghantam kaca itu masih berdarah banyak dan dilihat oleh Dara.
“Kamu kenapa?” tanya Dara, yang sudah tahu jika kekasihnya ini tadi melakukan sesuatu yang berbahaya.
“Aku kenapa?” tanya Zein balik. Namun kali ini dia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan meletakkan dekorasi bunga dan balon itu dengan rapi.
Setelah itu, Zein beralih ke dapur dan mengambil korek api untuk membakar lilin.
“Yeay, happy birthday to you, happy Birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday, Sayang.” Dara menyanyikan lagu dengan riangnya sambil menepuk tangannya pelan.
Zein tertawa bahagia untuk pertama kalinya di dalam hidupnya merasakan apa itu bahagia, “sayang foto dulu ya,” ajak Zein meletakan ponsel lumayan jauh, lalu mengatur durasinya dan memotret kemesraan mereka berdua.
“Make a wish, Sayang,” titah Dara meminta kekasihnya itu untuk berdoa.
Zein tersenyum menatap wajah Dara. “Aku berharap, di umurku yang sekarang, kamu akan selalu bersamaku apapun yang terjadi selalu bersamaku, nggak akan ada yang boleh mengambilmu dariku bahkan kematian sekalipun,” ucapnya penuh harapan, lalu meniup lilinnya yang sudah hampir habis.
“Aku mencintaimu, Andara Naqquenza,” bisik Zein dengan penuh ketulusan.
“Aku juga mencintaimu, Zein Alucas Maurice,” balas Dara tak kalah serius, bahkan saking seriusnya dia mengungkapkan perasaannya itu, tanpa di sengaja Air mata itu menetes begitu saja, melambangkan betapa dirinya sangat mencintai sosok Zein.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻