
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Di saat Zein memandang Yudha dengan penuh kemarahaan, terlihat Hitto dan anak buah lainya terlihat datang menghampirinya.
Tadi sebelum Zein membuka pintu, dia memang sempat menelpon Hitto terlebih dahulu, karena dia tidak ingin gelap mata di rumah sendiri, apa lagi sekarang ada Dara yang menurutnya tidak boleh melihat aksi kejinya.
"Bawa pria ini ke markas! Ingat kalian hanya boleh melakuakan hal-hal kecil untuk memaksanya mengaku siapa yang sudah menyuruhnya," perintah Zein dengan tegas, yang sepertinya sudah lupa siapa pria dihadapan-nya ini.
Namun Hitto menatap Zein dengan bingung, "siapa yang menyuruhnya?" tanya Hitto pelan.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, rasanya ingin membuat Zein memakan Hitto saat ini juga, "apakah kamu mulai bodohh Hitto? Apakah kamu masih perlu bertanya masalah ini?" tanyanya dengan sinis, bahkan sangat terlihat kilatan amarah di kedua bola matanya.
Hitto menggaruk kepalanya bingung, "Tuan Zein yang terhormat, apakah saat ini fokus Anda sudah pecah?" tanya Hitto lagi.
"Apa maksudmu?" sahut Zein yang sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari Hittto.
"Tidakkah Anda mengenali wajah pria ini Tuan?" tanya Hitto untuk kesekian kalianya, namun kali ini dijawab dengan gedikan bahu singkat dari Zein.
Dengan mengangkat sedikit wajah Yudha, Hitto memperlihatkan wajah itu dengan saksama, "dia adalah Yudha, asisten dari Robert, yang berarti dia adalah suruhan dari Lord Arvan," pungkas Hitto, yang sontak membuat mata Zein membulat sempurna.
Darah Zein langsung mendidih mendengar itu semua, membuat bulu kuduk Hitto kini berdiri sempurna, "ehmm, Tuan, lebih baik Anda menenangkan Nyonya Dara terlebih dahulu di dalam, dan untuk urusan pria ini, serahkan saja pada kami," sambung Hitto, yang kini langsung membawa Yudha tanpa persetujuan dari Zein terlebih dahulu.
Zein yang merasa semua ini harus segera diselesaikan, mendadak langsung tersadar bahwa ini adalah saatnya dirinya memberontak.
Dengan langkah sigap dia langsung masuk ke dalam rumah, dan melihat ke arah Dara, yang terdiam duduk di atas tempat tidur dengan perasaan takut. "Sayang,heyy, Dara," panggil Zein, sontak mengejutkan Dara.
"Zein,hiskk,,hiskk," lirihnya yang diiringi dengan tangis pelan tanpa suara, dan langsung memeluk tubuh Zein dengan erat.
Cuupppp, Zein mendaratkan sebuah kecupan singkat di puncak kepala Dara, dengan ikut menangis di dalam pelukan kekasih yang sudah 10 tahun ini dia rindukan.
Zein menghirup aroma tubuh Dara berulang-ulang, hingga hembusanya terdengar sangat keras. "Siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanya Zein, di sela-sela hembusannya.
"Orang itu, dengan Yudha, aku dibawa dan dikurung di sebuah rumah yang berada di tengah lautan lepas, tidak ada kehidupan, hanya aku dan beberapa pelayan saja di sana, Zein, aku benar-benar takut," jelasnya, menceritakan segala kesulitanya selama 10 tahun ini.
Dara menjelaskan bagaimana dirinya dibawa kabur dari bandara, hingga pernyataan yang menyatakan bahwa Dara akan bebas setelah seseorang menyelesaikan tugasnya.
Dan itu semakin membuat Zein terbakar emosi, namun dia belum bisa meninggalkan Dara di saat seperti ini, hingga dia memilih untuk mendengar semua cerita Dara selama ini. Hingga akhirnya mungkin dia merasa kelelahan, dan lalu dia tertidur di dalam pelukan Zein.
"Arvan brrrengsseekkk, kamu akan membayar semua penderitaanku dan Dara selama 10 tahun ini, aku jamin itu," batinya dengan yakin, akan membalas semua yang sudah dia lakukan selama ini.
Zein membaringkan tubuh Dara dengan dengan perlahan, "sayang aku pergi dulu ya, nanti akan ada beberapa body guard yang menjagamu di sini seperti biasa," ucap Zein, di saat mata Dara sedikit terbuka.
Dan karena tubuhnya sangat lelah saat ini, Dara tidak bertanya apa-apa lagi, dia hanya terlihat menanggukan kepalanya singkat, dan lalu kembali tertidur.
Merasa keadaan Dara sudah aman, Zein langsung mengambil jaket hitamnya, dan segera melangkahkan kakinya untuk pergi ke markas mendatangi Yudha.
Namun di saat dirinya baru membuka pintu, terlihat Stella yang sudah berdiri dihadapannya.
"Mamah," seru Zein, terkejut melihat kedatangan Stella saat ini.
Zein tersenyum sinis mendapatkan pertanyaan itu, apa lagi yang bertanya adalah orang yang pasti akan membela pelaku itu.
"Mamah benar-benar ingin tau siapa orangnya?" tanya Zein balik, merasa bahwa akan sangat percuma jika Stella mengetahuinya.
Stella menganggukan kepalanya pelan, "jelas Mamah mau tau, bahkan mamah akan membantumu memberikan hukuman kepada orang itu," sahut Stella dengan penuh keyakinan.
"Kakak tersayang Mamah yang melakukan," jawab Zein singkat, namun berhasil membuat jantung Stella berdegup kencang.
"Gimana? Maksudnya?" tanya Stella, untuk sedikit memperbaiki pendengaraanya.
"Orang yang sama, yang telah membunuh bayiku," jawab Zein. Dan kali ini Stella tentu tidak bisa bertanya lagi ataupun berpura-pura tidak mengenalnya.
"Apakah Mamah bisa menjawab, kenapa pria tua itu selalu menggangu kehidupan kami? Kenapa dia selalu berusaha untuk memisahkanku dengan Dara? Dia sudah membunuh bayiku dan kali ini dia menyekap Dara lagi selama bertahun-tahun, apa maksud dan niatnya dari semua ini Mah? Apa yang dia dapatkan?" tanya Zein, dengan sedikit berteriak.
Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini, dari dulu dia selalu diam.
Ketika bayinya dibunuh dia diam dan terus patuh dalam melatih Griffin agar bisa menjadi seorang pewaris tahta kerajaan bisnis 4 keluarga besar sekaligus.
Apakah segitu takutnya Arvan jika Zein akan lupa dengan tugasnya.
"Zein, mungkin maksud Uncle adalah-,"
"Maksud apa Mah? Maksud apa yang dia nilai dari semua ini?" tanyanya memotong kalimat Stella.
"Aku tau, bahkan sangat tau jika aku dilahirkan hanya untuk menjadi guru dari Griffin, dan aku tau jika aku dididik hanya untuk menjadi tameng keluarga besar kalian, tapi aku bukan Papah Lucas, aku bukan dia yang siap dengam segala resikonya, aku punya hati dan aku punya cinta, aku ada Dara yang merupakan belahan jiwaku," jelas Zein pada Stella.
Namun sepertinya akan sangat percuma jika Zein berbicara dan menjelaskanya terhadap Stella yang merupakan adik kesayangan pria biadaab itu.
Dan tanpa bicara lagi, Zein langsung melangkahkan kakinya pergi untuk menghukum Yudha terlebih dahulu.
"Zein, jangan lepas kendali! teriak Stella mengingatkan Zein untuk tidak keluar dari batasaanya.
Zein menghentikan langkahnya sejenak, lalu dia tersenyum singkat tanpa dilihat oleh Stella.
"Api tidak akan membesar jika tidak disiram oleh bensin, namun rupayanya orang lain tidak menyukai jika api itu tenang, sehingga mereka menyiramkan bensin serta meniupkan angin kencang sehingga api itu sekarang membesar dan sulit dipadamkan," tandas Zein, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan Stella begitu saja.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻