It’S So Hurts

It’S So Hurts
Makan Malam Bersama untuk Pertama Kalinya



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah Zein pulang membawa beberapa bahan makanan, Zein melihat Jingga yang sedang duduk dengan menonton televisi.


“Anak ayah sudah bangun,” ucap Zein, sambil duduk mendekat di sebelah putrinya.


Dara tersenyum, lalu mengambil barang-barang yang dibawa oleh suaminya, “Sayang, aku ada bawa beberapa bahan masakannya.”


“Baiklah,” jawab Dara, lalu beralih ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Jingga tersenyum menatap ke arah Zein, lalu menyenderkan kepalanya di dada ayahnya, “Jingga kangen ayah,” ucap Jingga pada Zein.


“Ayah juga kangen Jingga,” balas Zein, dengan membalas pelukan erat putrinya.


“Ayah, nanti malam katanya ada pasar malam di kampung sebelah, kita ajak Jingga kesana boleh tidak?” tanya Dara dari dalam.


Zein terlihat berpikir sejenak, lalu menatap ke arah putrinya yang menampilkan wajah bahagia ketika mendengar kata pasar malam.


“Jingga sering ke pasar malam dulu sama ibu,” sahutnya pelan.


“Tapi sekarang ibu di mana ayah?” tanya Jingga, mencari sosok ibunya yang sedari tadi tidak dia lihat.


Mendapatkan pertanyaan itu, Zein terdiam sejenak, lalu tersenyum, “besok ibu akan datang ya, sekarang biar Jingga sama ayah dan mama dulu saja ya,” ucap Zein yang dijawab anggukan kepala oleh Jingga.


“Mama itu siapa sebenarnya?” tanya Jingga yang akhirnya bertanya tentang siapa Dara.


Sedari kamarin dia bingung tentang keberadaan Dara, siapa dia? Bagaimana dia bisa bersama dengan kita? Pertanyaan itu selalu berputar di kepala Jingga, hingga kali ini dirinya berani mempertanyaakan hal itu.


“Nanti kalau sudah tepat waktunya, ayah janji akan menceritakaanya pada Jingga ya sayang, tapi untuk sekarang Jingga harus tahu kalau, Mama adalah ibu kamu juga sayang, dia adalah istri ayah, kita semua keluarga oke,” tandas Zein.


“Baik Ayah,” jawab Jingga patuh.


Setelah itu suasana menjadi hening, Zein memilih untuk tidur sejenak mengistirahatkan otaknya, terlalu banyak yang dia pikirkan saat ini. Merasa beban yang ditumpukan padanya sangatlah besar.


Dia tau jika menculik Dara itu salah, namun hanya inilah jalan satu-satunya agar dia bisa merampas Jingga, terlebih Dara sangat menginginkan Jingga berada di tengah-tengah mereka.


Sedangkan di sisi lain, Tasya yang tidak mempunyai pilihan lain, kali ini langsung melapor ke polisi, namun langkahnya ditahan oleh Aiden yang tiba-tiba menculiknya.


“Lepaskan aku!lepaskan,” elaknya meronta dari genggaman tangan Aiden.


Namun Aiden hanya diam saja, dan terus menarik paksa Tasya untuk masuk ke dalam ruangan yang tidak diketahui oleh Tasya.


Dan tak lama kemudian munculah Stella yang memang menyuruh Aiden untuk mengambil Tasya.


“Bagaimana keadaanmu Tasya?” tanya Stella dengan lembut.


Tasya tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Stella itu, “apa ketika anak kamu diculik semua akan baik-baik saja?” tanyanya balik.


“Pria itu dulu ingin membunuh Jingga di saat masih didalam kandungan, dan mengusir kami, bahkan kemarin masih tidak mau mengakuinya, dan sekarang, dia datang seolah-olah kasih sayangnyalah yang paling besar untuk saat ini, dia datang dan menculik anakku, demi wanitanya,” ungkap Tasya.


Stella jelas tahu apa yang dirasakan oleh Tasya, tapi dia juga tidak bisa bertindak apapun, kalau Tasya sampai melaporkan ke polisi, nanti situasinya akan malah sangat berbahaya.


“Mah,” tegur Aiden, yang mengarahkan ponselnya pada Stella.


“Ada apa?” tanya Stella.


Aiden hanya memberikan sebuah kode kepada Stella, lalu mematikan sambungan ponsel itu, “ada apa sih Aiden, kamu jangan buat mama takut,” seru Stella yang melihat ada yang tidak beres dengan wajah putranya.


“Ada apa?” tanya Stella lagi, namun kali ini dengan wajah yang sangat khawatir.


“Valen sudah keluar dari rumah sakit Mah, dan Arvan sudah meminta agar Griffin diserahkan kepadanya, namun Zein harus muncul dan mengembalikan Jingga pada Tasya,” jelas Aiden pada Stella.


Ini semakin membuat keadaan kurang stabil, tidak mungkin Zein mau menurutinya, akan tetapi apa yang harus dilakukan kali ini juga tidak bisa memaksa Zein.


“Mamah tidak tahu Aiden, mamah pusing,” jawab Stella, dan memilih untuk pergi dari ruangan itu.


Aiden menghela nafasnya kasar, dia ingin melindungi Zein, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apapun, jalannya sudah buntu saat ini.


*****


“Makan dulu yuk sayang,” ajaknya pada Jingga.


“Iya ayah,” jawab Jingga.


Lalu Zein dan Jingga terlihat duduk bersama di meja makan, dengan Dara yang masih menyiapkan makan malam mereka.


“Mama masak ayam goreng dan ikan salmon sayang, Jingga suka tidak?” tanya Dara pada Jingga.


Namun anak itu hanya diam saja tanpa menjawab sama sekali. Dara tersenyum kecut menatap ke arah Zein.


“Sudah yuk, kita makan malam dulu, dan setelah itu baru kita ke pasar malam,” ujar Zein.


Dara terlihat menganggukan kepalanya singkat, dan mulai menyendokan nasi dan lauk pauk ke dalam piring Jingga dan Zein.


“Bagaimana enak tidak sayang?” tanya Dara lagi pada Jingga yang terlihat mulai memakan nasi di piringnya.


“Enak,” jawab Jingga dengan senyum manisnya.


Dara kembali tersenyum karena Jingga mulai mau meresponnya, bahkan dia sampai terdiam ketika melihat kedekataan Jingga dan Zein yang tertawa bersama.


Brugghhhhhh,,gledeeekkkk suara guntur dan petir yang terdengar dengan tiba-tiba.


“Huaaaaaw,” teriak Jingga ketakutaan sampai menutup telinganya.


Sontak saja Zein dan Dara langsung panik melihat Putri mereka yang seperti itu, “Jingga ada apa sayang?” tanya Zein merasa khawatir.


“Sepertinya dia takut akan bunyi-bunyi yang keras Zein, lebih baik bawa dia masuk ke kamar deh,” seru Dara, sambil mengusap lembut punggung belakang Jingga.


Zein menganggukan kepalanya pelan, dan segera menggendong tubuh Jingga masuk ke dalam kamar dan memeluknya.


“Sttt, Jingga ayah di sini anak,” lirihnya pelan, sambil menarik tangan Jingga yang sedari tadi menutupi telinganya, “ayah,,hisskk,,hisskk, tangisnya merasa takut.


“Jingga jangan takut sayang, ayah akan terus selalu berada di sisi Jingga, setiap malamnya akan selalu seperti ini, menikamati indahnya sinar senja rembulan malam, ayah akan selalu memeluk Jingga seperti ini, untuk mengurangi segala ketakutaan Jingga, jadilah anak ayah yang berani untuk menghadapi dunia yang kejam ini sayang,”


“Bagaimana caranya ayah?” tanya Jingga dengan polosnya.


Zein terlihat berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaam putrinya itu, “mungkin dengan belajar yang rajin, dan jangan pernah takut pada siapapun selama kamu tidak salah sayang,” jawab Zein.


“Jingga, kamu sudah besar, usia kamu juga sudah 10 tahun, ayah yakin kamu akan mengerti dengan apa yang akan ayah katakan kepadamu,” lirih Zein lagi dengan pelan, menatap lekat ke dalam mata putrinya.


Tokk,.tookk, suara pintu diketuk, dan terlihat Dara yang masuk dengan membawa segelas air dan obat untuk Jingga.


“Sayang Jingga, waktunya minum obat ya sayang,” ucap Dara dengan lembut.


Jingga menganggukan kepalanya pelan, dan mulai mengambil obat yang diberikan oleh Dara.


“Oh iya, ayah punya sesuatu untuk Jingga, dan ayah harap Jingga bisa menjaga pemberian ayah ini, sampai kapanpun, dan kalau rusak, minta mamah untuk membelikannya lagi,” tandasnya dengan tawa ke arah Dara yang memasang wajah jutek.


“Kok aku sih sayang, kan kamu yang tahu di mana tempat belinya, lagian kamukan sampai tua akan sama kita, jadi ya selama ada kamu kenapanaku yang beli,” sahut Dara, merasa tidak suka dengan perkataan suaminya yang seakan-akan mengatakan dirinya akan pergi.


Zein dan Jingga tersenyum melihat wajah Dara yang seperti itu, hingga akhirnya Zein mengeluarkan sebuah kado kecil dari dalam sakunya. “Ini dia hadiah dari ayah.”


“Huwaaa bagus sekali ayah,” seru Jingga sangat antusias.


Dara tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Zein dan Jingga, dia berharap mulai saat ini kebahagaiaan seperti ini akan selalu berada dan menyertai keluarga kecilnya ini. Dan berharap semoga dia bisa menambah momongan untuk suaminya.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻