It’S So Hurts

It’S So Hurts
Pelarian Dara



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Mendapatkan prilaku seperti itu, Tasya langsung sesegera mungkin memeluk tubuh Jingga yang terlihat ketakutaan.


"Sayang Ibu di sini, ibu di sini nak," ucap Tasya, yang berusaha setenang mungkin, agar Jingga juga tidak ikut ketakutaan.


Namun sepertinya itu sama sekali tidak membuat Jingga merasa lega, tubuhnya masih saja terus gemetaran, membuat Tasya menjadi panik, 8 jam perjalanan dia dari Jogja menuju Jakarta, tetapi seperti ini yang dia dapatkan.


Dia beranjak berdiri dan menggedor pintu rumah Zein lagi.


Tokkk,,tokkkkk,toookkkkk "Zein, buka pintunya Zein!! Kamu lihat Jingga, dia gemetaran seperti itu Zein, aku takut dia kenapa-kenapa Zein, please," teriaknya dari luar, namun sama sekali tidak membuahkan hasil.


"Kamu benar-benar seperti patung Zein, kamu sama sekali tidak memiliki hati, kamu seperti orang mati yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Bahkan terhadap anak kamu, darah dagingmu saja, dengan teganya kamu berprilaku seperti ini," lirih Tasya, merasa bahwa tidak akan pernah ada harapan, untuk Zein mau menerima Jingga, apa lagi dirinya.


Tidak ingin berlama-lama membiarkan Jingga seperti itu, Tasya langsung menggendong tubuh putrinya untuk segera ke rumah sakit. Karena tubuh Jingga saat ini mulai memucat, dan sangat dingin.


"Sayang bertahan ya Nak, ibu di sini sayang," lirihnya lagi, terus mendekap tubuh putrinya yang terlihat sangat memprihatinkan.


***


Sementara itu, pesawat yang ditumpangi oleh Dara, kini perlahan mulai mendarat dengan sempurna di sebuah tanah kosong, Dara tidak tau, jika itu adalah kawasan keluarga Lesham.


"Aahhhhh,,banyak sekali orang, bagaimana aku bisa keluar," gumam Dara, ketika melihat banyaknya body guard yang berjaga.


Dara terus berpikir, sampai dia mendapatkan sebuah ide untuk masuk ke dalam kardus. Dan beruntugnya tubuhnya muat untuk masuk, sehingga memudahkannya untuk leluwasa menggeserkan barang-barang di dalamnya.


Di saat kardus itu mulai diangkat, jujur saja, jantung Dara seperti ini lepasa dari tempatnya. Dia takut jika akan diberi hukaman atau kembali lagi ke rumah mewah di sana itu, dia benar -benar tidak mau.


Ketika dirinya merasa jika kardus itu sudah di letakan di sebuah ruangan, serta orang yang di dalamnya juga sudah pergi, barulah Dara berusaha untuk keluar.


Dengan langkah yang sangat pelan, dia berusaha lari. Namun ternyata dia kedapataan dengan Yudha yang melihatnya berhasil kabur.


"Dara," teriak Yudha memanggil Dara.


Karena merasa ketakutaan, Dara berlari dengan sangat kencang.


"Jangan didapat, jangan didapat," seru Dara, sambil terus berlari dengan sangat kencang.


"Daraaaaaa," teriak Yudha lagi.


"Siaalllann, bagaimana bisa wanita ini kabur," umpatnya terus menerus.


Yudha berlari sekuat mungkin, namun sepertinya Dara juga tidak mudah didapatkan, terlebih tubuh Dara yang sangat mungil, membuatnya gesit dalam berlari.


"Daraaaaaa," teriaknya terus menerus.


Namun Dara terus saja berlari, dan terkadang melihat ke belakang sebentar, lalu berlari lagi, hingga di tengah jalan raya.


Tiba-tiba saja kepala Dara mendadak pusing, serta pengheliataan yang mulai buram. Akan tetapi Dara tetap berusaha menahan keseimbangan tubuhnya.


Dia mencoba untuk menyetopkan salah satu mobil di depannya, "stopp,,stoppp," teriaknya, sambil memasang tubuh di depan mobil itu.


Sontak saja, mobil itu mengerem mobilnya secara mendadak. "Heh Nona, kamu gila ya! Kamu mau mati," teriak orang itu.


Dara tidak menjawab sama sekali, dia langsung masuk ke dalam mobil orang itu, tanpa izin sama sekali.


"Tolongg akuu,,tolongg, antar aku ke alamat xxxxx, tolongg, pleasee, ada orang yang ingin membunuh saya, tolong," pintanya dengan sangat memohon pada orang itu. Dia berharap sekali jika alamat itu masih digunakan oleh Zein, harapanya benar - benar sangat besar selama ini dia terus mengingat alamat Zein, karena jika dia bebas, dia pasti akan mendatangi alamat itu.


Merasa tidak tega, akhirnya orang itu mengiyakan permintaan Dara, dan meminta alamat lengkap yang diberikan oleh Dara.


Sedangkan Yudha, yang tidak ingin kehilangan Dara, langsung menumpang motor seseorang untuk mengejar mobil yang mengangkut Dara.


"Cepat kejar mobil itu Pak," seru Yudha, sambil terus menunjuk-nunjuk mobil yang ada dihadapannya.


Dara yang panik langsung terus menoleh ke belakang, dan berharap dia akan segera sampai di rumah Zein.


Tidak lama kemudian, dengan pertolongan orang itu, Dara akhirnya sampai di lobby rumah Zein, dan berusaha lari lagi dari kejaran Yudha.


Yang itu berarti dia mengantar kematiannya sendiri, "Dara," teriaknya lagi memanggil Dara.


Dara berusaha menekan phobianya dengan menaiki lift, dengan tubuh gemetaran dia terus menunggu lift itu, tanpa dia sadari jika Yudha juga berada di lift sebelahnya yang berjalan selisih sedikit denganya.


Tinggg pintu lift terbuka, dan Dara segera berlari menuju rumah Zein.


Tingg tongg,,tingg tonggg


"Buka Zein,,buka," gumamnya pelan.


Namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam, hingga Dara mencoba kembali kode yang dulu pernah diberikan oleh Zein.


"Dara, mau kabur kemana kamu, mati langkahkan kamu," seru Yudha, ketika dirinya sudah mulai mendekat ke arah Dara.


Ckelllkkk pintu rumah Zein terbuka, "selamat tinggal pecundang," lirih Dara, sebelum akhirnya dia berhasil masuk ke dalam rumah Zein. Dan kembali menutup pintunya dengan cepat.


Sedangkan di dalam rumah, Zein yang mendengar ada suara pintu yang tertutup, langsung segera keluar dan melihat, siapa yang berani masuk ke dalam rumahnya tanpa izin.


Dia terkejut melihat tubuh seorang wanita yang mungil dengan rambut pirang tengah menatap ke arah pintu, dan bahkan terlihat langkahnya kini mundur perlahan.


Buggghhhh Dara yang melangkah mundur, tidak sadar jikaa saat ini dirinya tengah menabrak sesuatu.


"Dara," lirih suara berat, yang sangat dia kenal.


Dara langsung menoleh dan mendangakan kepalanya menatap Zein yang sedang menatapnya.


"Zein," ucap Dara, membuat Zein langsung tersenyum bahkan tertawa.


Bugggghhhh,,buggghh "Dara! Buka pintunya atau aku dobrak sekarang juga," ancam Yudha dari luar.


Zein yang mendengar itu, kini mengerti, apa yang membuat Dara ketakutaan seperti ini.


"Siapa dia?" tanya Zein pelan, sambil mengusap lembut air mata yang terjatuh di pipi Dara.


"Dia ingin menculik ku, dan menempatkan ku di sebuah rumah tanpa ada kehidupan," balas Dara, yang kini memancing emosi dari Zein.


"Kamu masuk ke dalam kamar," titah Zein, dengan pelan, dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Dara.


Melihat langkah Dara yang kian menjauh dan juga masuk ke dalam kamar, Zein memasang wajah iblisnya, kemudian membuka pintu dengan keras.


Cklekkkk, Pintu terbuka lebar, membuat Yudha yang sedari tadi mengetuk pintu itu, langsung masuk ke dalam.


Namun belum saja dia berhasil masuk, tiba-tiba saja langkahnya terhalang oleh tubuh Zein yang mengahalaunya di depan pintu.


"Kamu cari siapa?" tanya suara beratnya, membuat Yudha langsung menelan salivanya kasar.


Dia bukan orang bodoh yang tidak mengenali suara dewa kematian ini.


"Tuan Zein," gumam Yudha, langsung menolehkan pandanganya, menatap Zein yang berdiri di belakangnya.


Zein tesenyum tipis, membuat Yudha merasa ketakutaan, namun dia sudah mengerti bahwa ini adalah waktunya untuk pensiun.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻