
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
"Menangislah Dara, menangislah dengan puas malam ini, karena aku tidak ingin lagi melihatmu mengeluarkan air mata ini di hari esok," ucap Aiden berusaha menenangkan perasaan Dara.
Namun siapa sangka, Aiden yang terkenal dengan pria dingin dan kejam, kini bisa ikut merasakan apa yang sedang Dara rasakan saat ini.
Dia merasa sangat tidak berguna sebagai kakak, dia tidak bisa menolong adiknya sebelum kejadiaan itu terjadi.
Aiden ikut meneteskan air matanya pelan, bahkan semakin memeluk erat tubuh Dara agar bisa sama-sama meluapkan rasa sakit itu.
Dara terus menangis, hingga dia merasa lemah dan terjatuh pingsan di dalam pelukan Aiden.
"Daraaaa," panggil Aiden dengan lembut.
"Daraaa," panggilnya lagi, sambil menepuk-nepuk pipi wanita itu agar terbangun.
Akan tetapi Dara sama sekali tidak menanggapinya, membuat Aiden langsung menggendong tubuh Dara masuk dan membawanya ke dalam salah satu kamar di hotel itu.
"Hittooo panggilkan dokter sekarang!" perintah Aiden dengan tegas, membuat beberapa orang melihatnya, karena dia harus melewati pesta itu baru bisa masuk ke dalam lift.
"Astagaaa Aiden," tegur Stella yang melihat putranya menggendong Dara.
Tanpa berpamitan pada tamu yang lain, Stella dan Freya langsung menyusul Aiden, untuk melihat keadaan Dara yang terlihat sangat memperihatinkan.
"Biar mamah yang memeriksanya," ucap Stella, ketika baru saja sampai di kamar hotel Dara.
Aiden menganggukan kepalanya pelan, dan membiarkan mamahnya memeriksa keadaan Dara untuk sejenak.
Tidak lama kemudian, Stella menghela nafasnya dalam, dan terduduk di sisi ranjang Dara dengan menatap wajah lembut yang dimiliki wanita ini.
"Bagaimana keadaanya mah?" tanya Aiden, karena masih merasa khawatir.
"Dia hanya depresi, mungkin ini adalah salah kita juga, karena mengadakan pesta bahagia di tengah perasaan dukannya," lirih Stella pelan, merasa menyesal dengan semua ini.
"Jadi bagaimana selanjutnya mah?" tanya Freya bingung.
"Tidak apa, kalian lanjutkan saja pestanya, biar mamah akan menjaga Dara di sini, karena pesta utama penobataan Griffin sebagai Lord selanjutnya baru akan dimulai," seru Stella, yang memberikan jalan keluar untuk semuanya.
Aiden dan Freya kini saling menganggukan kepalanya lemah, merasa tidak tega meninggalkan Dara di tengah kondisi seperti ini, tetapi pesta penobataan juga tidak bisa ditinggalkan atau dibatalakan begitu saja.
Karena nanti pasti Arvan akan marah lagi dan bahkan menyalahkan Dara karena semua ini.
Setelah sepakat, Aiden dan Freya kini mulai melangkahkan kakinya pergi, sedangkan Stella kini terpaku memandang wajah Dara yang begitu sembam.
"Malang sekali nasibmu Dara, seandainya saja aku datang lebih cepat pada hari itu, mungkin Zein akan tetap bersama kita semua pada malam hari ini," gumam Stella, merasakan penyesalaan yang mendalam akibat semua ini.
Sebagai orang tua angkat, dia sama sekali tidak bisa melindung Zein dari semua masalah yang sedang dihadapinya.
****
Berbeda dengan keadaan di luar sana, terlihat semua tamu dari kalangan pejabat,pengusaha tinggi di Asia kini telah berkumpul untuk menyaksikan penobataan Lord selanjutnya yang akan menggantikan posisi Arvan selama berpuluh-puluh tahun ini.
Harusnya Albertlah yang menjadi Lord selanjutnya, namun lagi-lagi karena sebuah masalah dari musuh, membuatnya harus pergi ke dunia lain bersama dengan Briell.
Mario dan Eden yang sedari tadi mencari keberadaan Griffin kini melihat cucunya tengah bermain bersama dengan Jingga dan Lyla.
"Griffin," tegur Eden, mendekat ke arah cucunya itu.
Namun baru saja Eden ingin memeluk tubuh Griffin, tiba-tiba saja anak laki-laki itu memilih untuk menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" tegas Griffin menatap nyalang ke arah Eden dan Mario.
Arvan yang melihat kejadian itu, kini langsung mendekat ke arah Griffin dan lainnya.
"Ada apa ini?" tanya Arvan yang baru saja datang menghampiri mereka.
Merasa malas dengan perkumpulan orang-orang tua ini, Griffin memilih untuk membawa Lyla dan Jingga pergi dari tempat itu, meninggalkan seluruh tetuah begitu saja.
"Griffin, jaga sopan santunmu!" bentak Arvan dengan suara sedikit ditekan, agar tidak terlalu didengar oleh yang lainnya.
Lagi-lagi Griffin menepiskan tangan seseorang yang berusaha menggengamnya, "sopan santun?" tanyanya sinis.
"Kamu mau berbicara sopan santun denganku?" tanyanya lagi, membuat semua orang mendengar apa yang dikatakaan oleh Griffin pada Arvan.
Merasa malu karena menjadi pusat perhatian, Arvan menatap Griffin dengan tajam, dan berusaha untuk membuat pengertian kepada cucunya.
"Griffin, jaga bicaramu! Kita saat ini ada di tengah orang banyak Fin," tegur Lyla, yang merasa bahwa tingkah Griffin sudah sangat berlebihan.
"Kenapa harus aku yang menjaga? Seharusnya pria ini yang menjaga sikap, agar tidak sembarangan membunuh orang hingga membuat seorang anak kecil dan wanita lain menderita," seru Griffin tanpa ada rasa takut sama sekali.
Lalu dia mendekat ke arah Arvan, dan berbisik di telinga kakenya itu, "suatu saat nanti, aku berjanji akan membunuhmu dan mengantarkan nyawamu pada pamanku, kamu harus bertanggung jawab dengan semua kejahataan yang sudah kamu perbuat! Mengerti!" ancam Griffin, tidak bermain-main dalam kalimatnya.
Sikap tegas yang dimiliki oleh papah dan mamahnya kini benar-benar menurun drastis pada Griffin, hingga membuatnya menjadi dipenuhi rasa dendam walaupun hanya dengan kakeknya sendiri.
Setelah mengucapkan hal itu, Griffin langsung naik ke atas panggung, dan mulai mengambil mic yang dipegang oleh Mc acara.
Arvan menoleh pada Mario, Eden dan Jenni, yang dibalas anggukan kepala oleh mereka semua.
Dengan menarik nafasnya dalam, Arvan mencoba untuk menetralkan rasa amarahnya, dan mengikuti langkah Griffin yang sudah terlebih dulu memperlihatkan diri di depan semua orang.
"Siapa dia?"
"Iya siapa anak itu? Berani sekali dia sedari tadi berhadapan dengan Lord Arvan,"
"Iya siapa dia?"
Ricuh seluruh tamu yang hadir, ingin mengetahui siapa sebenarnya anak yang sedari tadi datang dan melawan printah Arvan dengan begitu beraninya.
"Mohon perhatiaan semuanya," suara Robert yang terdengar begitu nyaring, meminta semua orang untuk memperhatikan mereka.
Semua tamu seketika langsung diam, melihat tangan kanan seorang Lord kini mulai berbicara dengan tegasnya di atas panggung.
"Seperti yang kita semua ketahui, bahwa Lord Arvan telah menjadi pengusaha dan juga penguasa dunia selama 5 dekade ini, dan sudah sewajarnya posisi yang dia miliki saat ini teralihkan kepada penerus kerajaan bisnis dunia Manopo," seru Robert lagi, membuat seluruh tamu kini semakin tegang me dengarkan kicauan Robert di atas panggung.
Mereka begitu penasaraan, kenapa baru kali ini kerajaan bisnis Manopo memperkenalkan penerus barunya? Kenapa tidak sedari dulu? Dan siapa yang akan menjadi Lord baru untuk mereka semua? Setiap pertanyaan ini muncul dan mungkin sudah saatnya ini mereka mendapatkan sebuah jawaban dari semua rasa penasaraan mereka.
Robert mengalihkan tatapanya pada Arvan yang sedari tadi berdiri di sebelahnya, "mohon izin Lord, saya akan mengumukan keputusaanya sekarang juga," izin Robert dengan sopan, kepada Arvan yang notabennya adalah Lord sebelumnya.
"Lanjutkan Robert," perintah Arvan dengan tegas.
Robert menganggukan kepalanya pelan, dan menoleh lagi pada Griffin yang sedari tadi berdiri dengan acuh di belakang mereka.
Arvan mulai terlihat melepaskan jas dan kemejanya di depan para tamu khusus. Tubuhnya kini terlihat polos tanpa menggunakan sehelai benangpun menutupinya.
Tamu yang sudah berusia paruh baya, pasti mengerti alasan apa yang membuat Arvan membuka bajunya itu, dan berani memperlihatkan otot-otot sispacknya.
Yang pastinya, malam ini penobataan Lord selanjutnya harus tetap dijalankan, sebagaimana mestinya.
Dan mungkin besok adalah pengumuman resmi Lord baru untuk diketahui oleh seluruh dunia.
Griffin tersenyum bahagia melihat ini semua, dia bukan bahagia karena gelar baru yang dia terima, tetapi dia bahagia dengan apa yang akan dia kerjakan setelah gelar baru itu.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*