It’S So Hurts

It’S So Hurts
Hubungan Darah Tidak Akan Pernah Bersatu



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Valen yang panik saat ini, langsung membawa Tasya ke rumah sakit dengan bantuan Jesper dan warga sekitar.


Dengan penuh amarah Valen langsung berusaha menghubungi Zein. “Anak ini ke mana lagi?” kesal Valen, sambil terus merasa khawatir menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Sedangkan Zein yang masih terlelap tidur, merasa pusing ketika ponselnya terus saja berdering. “Halo,” sahutnya dengan suara yang serak-serak basah.


“Halo, Zein, cepat kamu datang ke rumah sakit sekarang! Nggak ada penolakan sekarang!” perintah Valen dengan tegas, dan langsung menutup panggilannya.


Mendengar perintah itu Zein langsung menghela napasnya kasar, dan segera bangkit dari tempat tidur untuk mandi sebentar.


Setelah selesai mandi Zein segera memakai pakaian asal, karena dia merasa ini bukan mau ke pesta, dan dengan langkah malas dia keluar untuk menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Zein langsung melihat Bundanya di depan pintu rumah sakit.


Plaaaaaakkkkk satu tamparan berhasil mendarat sempurna di wajah keponakannya. “Laki-laki tidak tahu adab kamu ya, punya otak tidak? Ha!” bentak Valen benar-benar sudah hilang kesabaran.


“Leng sabar leng, malu ini rumah sakit leng,” tegur Jesper yang sedari tadi masih menemaninya.


Valen menepiskan tangan Jesper dan terus menatap tajam ke arah Zein.


“Kamu itu aku besarkan dan didik untuk menjadi manusia, bukan binatang tahu tidak, aku selama ini tidak masalah jika kamu mengikuti sikap dan sifat Papah kamu yang di luar nalar, aku dari kecil mendidik kamu Zein, agar bisa menghargai arti seorang wanita,” teriak Valen sekencang mungkin. Hingga mau tidak mau Jesper memberikan perintah pada security untuk mengsongkan sekitaran mereka.


Zein masih diam menunggu semua yang mau dilontrakan oleh Bundanya. “Masih ada lagi, Bun?” tanya Zein dengan santai.


Valen terdiam menatap mata Zein yang seperti memancarkan kebenciaan, "Bunda mau aku melakukan apa ? Mengkhianati Dara seperti itu, iya ?” tanyanya lagi dengan sinis.


“Sadar kamu, Zein, Dara itu adalah anak dari pembunuh,”


“Lalu apa bedanya dengan aku, Bunda? Ha,” sahut Zein dengan berteriak frustrasi, dan sontak membuat Valen terdiam gemetaran.


“Aku bahkan memiliki dua orang tua yang sama-sama seorang pembunuh bahkan menjual wanita demi kepentingan pribadi,” teriak Zein menjelaskan tentang keluarganya, agar Valen bisa mengingatnya lagi.


“Lalu apa bedanya aku dengan Dara? Bahkan aku juga adalah seorang pembunuh dan dia bisa menerima, lalu sekarang apa masalahnya?” bentaknya lagi, hingga terlihat semua urat-urat di wajahnya.


“Kamu masih tanya apa masalah Zein Alucas, ha? Kamu masih tanya? Yang pertama dia adalah anak dari pembunuh kakak kandung saya, dan yang kedua, yang paling fatal adalah kamu dan dia masih sedarah tapi sudah berani melakukan hal di luar batas,” bentak Valen tak kalah emosi.


Zein tersenyum manis tepat di hadapan Valen, membuat Jesper langsung menarik Valen dari hadapan Zein.


“Lepasin, Jesper, aku tidak takut sama anak ini, dipikir hanya dia yang bisa ditakuti oleh dunia ini ,” teriak Valen meronta dari genggaman Jesper.


“Valen, sudah, ayo, ini bahaya, kamu gak bisa bicara dengan Zein kalau seperti ini,” paksanya terus menarik tangan Valen.


“Ingat baik-baik, Zein Alucas Maurice, sampai mati pun, hubungan darah tidak akan pernah bisa bersatu,” seru Valen memberikan peringatan kepada keponakannya yang menjalin cinta terlarang oleh sepupu sedarahnya sendiri.


Zein kembali tersenyum tipis, mengingat ucapan yang dilontarkan Bundanya. “Persetan dengan hubungan darah. Jika aku ingin, maka Tuhan pun tidak bisa melarangnya,” gumam Zein, dan memilih untuk melangkahkan kakinya menemui Tasya yang katanya bunuh diri.


Tadi saat di jalan Valen sempat mengirimkan pesan tentang keadaan Tasya.


Ckleeeekkkk Zein membuka pintu itu dengan pelan, dan melihat Tasya yang sudah sadar dari pengaruh bius.


“Jadi, kamu mau mengakhiri hidup kamu?” tanya Zein pelan, namun membuat Tasya merinding.


Zein melangkahkan kakinya masuk, dan perlahan mendekati Tasya. “Kamu tau, aku bahkan rela membunuh ratusan wanita sepertimu, demi kebahagiaan cintaku, dan kamu tau, kekasihku merasakaan sakit yang luar biasa karena keberadaanmu,”


“Argghhhh hiskkk,” rintih Tasya ketika Zein menggengam kuat pergelangan Tasya yang baru saja dijahit. Hingga darah yang tadi sudah berhenti kini terpompa untuk keluar lagi.


Sreeeeekkkkkk “Aaarrrrgggghhh,ampunnn,” tangis kesakitaan Tasya ketika Zein merobek dan nyaris memotong nadi di tangan sebelah Tasya.


“Rasa sakit ini tidak ada artinya apa-apa, dibandingkan rasa sakit batin kekasihku di saat kamu menggodaku tadi,” ucapnya penuh dendam.


Seperti tidak bisa bercermin jika dirinyalah yang menghancurkan dan memaksa Tasya untuk melayaninya.


Tasya hanya bisa menggigit bibirnya kuat di saat rasa sakit itu benar-benar menyiksanya. “Hiskkk,,hiskk ampunnn,” tangisnya lagi, ketika Zein terus menarikan pisau kecil itu di kulit-kulitnya.


Braaaakkkk suara pintu di banting dan memperlihatkan sosok Arvan di hadapannya.


“Hentikan perbuatan kamu, Zein Alucas!” bentak Arvan dengan penuh emosi.


Namun Zein seperti gelap mata dan malah menikaaam Tasya dengan beberapa kali tusukan.


Jleeebbbb,,jleeebbb,,jleeenb , “Kamu harus mati, kamu harus mati, aku tidak mau Dara menangis lagi karenamu,” histerisnya membuat Tasya tidak mampu menahan sakit dan akhirnya tidak sadarkan diri.


“Cukup Zein, cukup, hentikan!” teriak Arvan, mengunci pergerakan Zein, dan merampas pisau itu dari tangan Zein.


Sedang para medis yang mengikuti Arvan sedari tadi langsung memindahkan Tasya ke ruangan lain, untuk cepat diselamatkan.


“Zein,,Zein, hey, Uncle di sini oke, oke cukup ya, cukup,” lirih Arvan menenangkan Zein yang mulai menggila.


“Dara,,Dara menangis,,Dara,” jerittt Zein, mengingat tangisan Dara yang terluka karenanya.


Arvan langsung memeluk Zein yang masih berlumuran darah, baginya belum saatnya untuk bicara dengan Zein tentang permasalahan ini.


“Tenanglah, Zein, tenang,” pinta Arvan menangkup wajah Zein, untuk menatap matanya.


Zein terdiam, lalu mulai mengatur napasnya, “Aku jahat, Uncle, Dara menangis karenaku,” tangisnya pelan, membuat Arvan yang selama ini menjadi sosok ayah pengganti untuk Zein, merasakan sakit ketika melihat Zein yang selama ini kuat namun kali ini lemah.


Namun dia juga tidak bisa membiarkan jika Zein terus bersama dengan Dara, bukan karena masalah dendam, melainkan hubungan darah keduanya yang benar-benar dekat, sehingga sulit bagi Arvan dan Valen untuk menerima Dara.


Namun sepertinya semua membutuhkan waktu dan tingkat kesabaraan yang besar, untuk menyadarkan Zein dari semua ini.


Karena Arvan maupun Valen tidak berani untuk menyenggol Dara, karena jika itu terjadi, maka bisa saja Zein yang masih tergolong cukup standar dalam hal membunuh, bisa berubah menjadi sosok yang lebih mengerikan dibanding mending Lucas si King Of the Neraka.


“Ayo, Uncle antar kamu pulang ya, besok baru kita akan bertemu,” ujar Arvan, dan menggengam tangan yang penuh darah itu pergi dari rumah sakit.


“Oh, kamu tak mau membersihkan darah ini dulu?” tanya Arvan, sambil menghentikan langkahnya dan menunjuk ke arah tangan Zein.


Zein menggelengkan kepalanya menolak. “Aku mau Dara melihat darah Tasya berada di tanganku, dan bisa membuatnya sedikit lega jika wanita itu sudah mati,” jawab Zein, membuat Arvan memutar bola matanya malas, ketika mendengar alasan yang tidak masuk akal itu.


“Terserahmu, lah,” gumam Arvan, lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan Zein yang mengikutinya.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻