
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Arvan terus mengingat tragedi kematian Lucas itu, dia sangat marah ketika Lucas mati hanya kerena demi cinta.
Menurutnya jika Lucas tidak mati meninggalkan keluarganya, anak dan menantunya tidak akan pernah mati karena musuh yang mengincar mereka, cucunya Griffin tidak akan pernah merasakan sakitnya hidup dipengasingan.
Semua kehancuran keluarganya saat ini adalah karena sebab Lucas yang mati, dan sekarang terulang lagi pada Zein.
"Mati karena Cinta, dan keluargaku hancur karena perasaan cinta yang ditumbuh di hati mereka," pungkasnya pelan, membuat Jenni semakin paham jika Arvan tidak akan pernah berubah, sedari dulu memang tetaplah seperti itu.
EGOIS itulah satu sifat Arvan yang tidak akan pernah hilang dari dalam dirinya.
"Kamu menyalahkan perasaan cinta yang tumbuh di hati mereka, tetapi apa kamu lupa? Jika kamu juga pernah menyia-nyiakan aku dengan kedua bayi kembarku, hanya karena sebuah cinta pada seorang wanita yang telah meninggal," sindir Jenni, kembali mengingatkan Arvan tentang semua kesalahaan yang pernah dia lakukaan.
"Tidak ada orang yang salah dan berdosa karena Cinta, karena rasa yang tumbuh akan ada di setiap hati manusia, termasuk kamu."
"Dulu pada saat kamu masih mempertahankan cinta di dalam hati kamu untuk Mira, kekasihmu yang sudah meninggal itu, lalu menjadikanku sebagai istri pajangan dan bahkan membuangku begitu saja, padahal kamu jelas tahu kalau aku sedang hamil bayimu, apakah itu adalah sebuah dosa? Apakah semua kejahataan yang kamu lakukan pada aku dan kedua putraku itu bukanlah sebuah kesalahaan karena Cinta? Jika kamu merasa bukan, maka kamu bukanlah manusia Arvan, tetapi kamu adalah seorang iblis," cerca Jenni dengan menghakimi semua kesalahan Arvan.
"Manusia tidak akan pernah luput dari sebuah perasaan cinta, termasuk aku yang bisa-bisanya jatuh cinta pada pria yang rasa empatinya sudah hilang, sehingga tidak bisa merasakaan kesulitaan dan perasaan sakit dari orang lain, kamu-,"
"Cukup Jenni!" tegas Arvan, merasa cukup ketika dirinya terus menerus dihina seperti itu oleh istrinya.
Sontak saja Jenni terdiam, tanpa mau memandang wajah suami yang sudah menemaninya selama puluhan tahun itu.
"Aku tau salah Jenni, apa kamu saat ini berpikir jika aku sedang bahagia? Hahahahahahah, tertawa seperti itu? Iya?" tanyanya dengan membentak pada istrinya.
"Jujur aku saat ini juga sedang berpikir Jen, aku tidak pernah menduga jika Tasya akan membunuh Zein seperti itu, dan aku juga tidak pernah tau apa yang dipikirkan oleh Zein saat kemarin, aku memang seorang Lord Jenni tapi aku bukan Tuhan yang mampu mengendalikan segalanya," ungkap Arvan pada Jenni, dengan harapan Jenni adalah satu-satunya yang akan bisa mengerti posisinya saat ini.
"No, you are," balas Jenni.
"Kamu merasa dirimu bukan Tuhan, tetapi kamu bertindak layaknya seorang Tuhan Arvan, kamu mengatur semua kehidupan kita, bagimu keputusan yang kamu buat adalah takdir untuk mereka, tanpa pernah kamu tahu apa yang mereka rasakan akibat keputusan kamu itu. Sadarlah Arvan, tidak semua yang kamu inginkan dan pikirkan itu sama dengan mereka, bisa saja dulu jika dengan adanya Dara di hidupnya, itu malah membuat dia semakin semangat untuk melindungi cucu kita," jelas Jenni, dengan segala kekuataanya agar tidak menangis di depan suaminya.
Namun kesedihan atas semua kejadian ini benar-benar tidak bisa dia tutupi, segalanya terasa sangat menyakitkan, sehingga mau sekuat apapun dia menahan agar air matanya itu tidak tumpah, tetapi tetap saja, buliran kristal itu tetap saja lolos tanpa seizinnya.
"Maafkan aku Jenni aku," ucapnya terputus ketika Jenni membuang pandanganya ke arah lain.
"Kamu bukan harus meminta maaf kepadaku, tetapi pada Tasya dan Dara, yang kehidupannya sudah hancur karenamu," balas Jenni.
"Coba saja, kamu merasakan jika menjadi orang tua dari mereka, atau paling tidak jadilah Bryan, yang masih mempunyai hati, ketika menyelamatkan Nayra dari rumah penjualan Lucas, bahkan masih mau menikahinya."
"Lalu apa salahnya mereka, jika ingin mendapatkan sebuah keadilan? Nayra sama sekali tidak bersalah, tapi kenapa Lucas harus menjuaalnya? Jawabannya hanya satu, karena Lucas ingin melihat kamu bahagia ketika keluarga Tenry hancur tidak tersisa, bukankah begitu suamiku?" pungkas Jenni lagi.
Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap se-enaknya Arvan saat ini.
Dulu selama Albert dan Briell masih hidup, Arvan sedikit berubah, dia lebih sering berbuat baik dan mengerti akan hati serta perasaan dari semua orang karena ketakutaanya pada Albert.
Dia selalu memikirkan seandainya Lucas tidak mati, seandainya Lucas masih hidup dan seandainya tentang Lucas, tetapi pada kenyataannya Lucas memang sudah takdirnya untuk mati, tidak mungkin Lucas bisa bangkit dari kematian dan keluar dari neraka hanya untuk membunuh semua musuhnya.
Arvan dan seluruh keluarga besarnya, terlalu bergantung hidup pada sosok Lucas, sehingga ketika Zein mencintai seseorang seperti apa yang papahnya yaitu Lucas lakukan sebuah pengorbanan karena cinta, maka dia hanya bisa terdiam kali ini.
Namun di saat mereka tengah mengobrol berdua, Griffin terlihat langsung masuk ke kamar mereka.
"Di luar tante Dara dan yang lainnya sudah mau pulang, lebih baik kamu melihat mereka dan mewakilkan suamimu itu untuk meminta maaf padanya," seru Griffin dengan kalimatnya yang terdengar sangat kasar.
Arvan hanya bisa memejamkan matanya dan menahan gejolak sakit hati setiap mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut cucu tersayangnya.
Jenni menatap ke arah Arvan yang terlihat diam tanpa ada rasa sama sekali ingin bergerak dari tempatnya.
"Percuma kamu pandangin dia, tidak akan pernah ada hati iblis seperti dia, jadi jika kamu sebagai wanita bisa memahami apa yang dirasakan oleh tante Dara, maka keluar dari ruangan ini dan datangi dia," titah Griffin yang terlihat seperti bos utama.
Jenni tidak menyangka, 16 tahun dia begitu menunggu sebuah momen di mana Griffin cucu yang paling dia sayang, datang dan memeluk tubuhnya.
Akan tetapi lihatlah sekarang, jangankan untuk memeluknya, sekedar memanggil dirinya nenek saja Griffin sudah sama sekali tidak mau.
Apalagi karena kematian Zein ini, dia semakin membenci keluarga besarnya.
"Apakah di dunia ini ada istilah bangkit dari kubur? Zein bisakah aku memintamu untuk hidup kembali? Begitu banyak urusan yang kamu belum selesaikan di dunia ini, tugasmu belum selesai Zein, apa kamu bisa melihat banyaknya dampak buruk akibat kematianmu ini?" tanya Jenni yang bersuara dalam hati.
Dia masih sangat yakin jika Zein masih mendengarkannya, dia yakin jika Zein masih melihat semua perdebataan keluarga ini karena kepergiaanya.
Sekarang tinggal harapan Jenni pada Dara untuk bisa mengurus Jingga dengan benar, karena Jingga adalah satu-satunya keturunan Maurice yang tertinggal.
"Aku akan keluar untuk meminta maaf atas kelakuaanmu pada Dara," ucap Jenni dengan penuh penekanan.
"Jenni," panggil Arvan, ketika melihat istrinya itu mulai beranjak dari tempatnya.
"Jangan pergi Jen, temani aku sebentar saja di sini," pinta Arvan, yang lagi-lagi bersifat egois.
Jenni tersenyum egois dan menepiskan tangan Arvan dari jemarinya. "Rasa empatiku masih ada Van, aku merasa bersalah terhadap Dara, dan dengan itu aku akan meminta maaf, kalau kamu tidak mau, silahkan! Tapi jangan paksa aku untuk bersikap tidak manusiawi karena dirimu ini," tegas Jenni, dengan segera melangkahkan kakinya keluar kamar, meninggalkan Arvan seorang diri meratapi penyesalaanya yang sia-sia.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*