It’S So Hurts

It’S So Hurts
Satu Hari Sebelum Perpisahaan



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Saat ini terlihat Dara sedang berada di dalam sebuah taksi, yang akan membawanya pergi ke suatu tempat.


Sepanjang jalan Dara hanya sibuk melamun dan terdiam menatap ke arah jalanan yang dia lewatinya.


Terbayang sekilas kejadian di mana dirinya sedang bersama dengan Zein menikmati dan menghabiskan waktu seharian dengan berjalan-jalan bersama.


Bahkan dia sampai tidak sadar bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuannya.


"Nyonya, kita sudah sampai," tegur sang supir, yang melihat penumpangnya tidak ada pergerakaan.


Sontak saja Dara terkejut dan memperbaiki wajahnya yang terlihat habis menangis lagi. "Ini pak uangnya," ucap Dara dengan lembut, memberikan beberapa lembar uang kepada supir itu.


"Baik, nyonya, terima kasih,"


"Sama-sama pak," balasnya, dan bergegas untuk keluar dari taxi tersebut.


Ketika dirinya baru saja turun dari taxi, Dara melihat sebuah bangunan megah yang berada tepat dihadapannya, seketika dadanya merasa sesak, ingin bernafas namun terasa sulit.


Namun tiba-tiba saja dia merasa sebuah tangan yang sedang menggengam jemarinya. Dara menoleh menatap ke sebelahnya dan melihat Zein yang tersenyum sambil menganggukan kepalanya untuk meyakinkan Dara bahwa semua akan baik-baik saja.


Mencoba untuk menetralkan perasaanya, Dara dan Zein kini mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah Gereja tempat saksi pengucapan janji suci mereka dulu.


Keduanya memandang lurus ke dapan, seakan tak gentar untuk melakukan ini semua.


Namun di tengah langkah mereka, Zein melepaskan kalung salib yang berada di leher istrinya, dan menggenggamnya bersama-sama, hingga mereka berdua sampai di depan altar.


Zein dan Dara terlihat berlutut dengan kedua tangan yang dipersatukan oleh salib dan di angkat ke atas bersama-sama.


"Tuhan telah memanggilmu pulanglah suamiku. Dia begitu mencintaimu, Dia tidak ingin engkau terus menderita dalam perjalan hidup ini. Pulanglah suamiku, Bapa telah menunggumu di surga.


Selamat jalan suamiku, Tuhan begitu mencintaimu. Pulanglah dengan damai. Kelak, kita akan bertemu kembali di surga-Nya yang indah. Meskipun rumahmu telah berbalut tanah, namun kebaikanmu selama hidup akan terus membuatmu bernafas dalam hati, jiwaku dan anakmu. Selamat jalan suamiku, terimakasih telah mewarnai kehidupanku dengan kegembiraan serta kebahagiaan.


Ketika beban dalam jiwa tak bisa teruraikan, maka hanya air mata yang menunjukkan semua. Selamat jalan Zein Alucas, Doaku akan menyertaimu semoga Engkau selalu berada dalam surganya yang indah.


Selamat jalan suamiku, selamat kembali ke surga Bapa yang damai. Segala kebaikan dan kemurahan hatimu akan menjadi pohon yang berbuah lebat. Doaku akan menuntun jalanmu.


Tuhan memberi, Tuhan pula yang mengambil. Selamat jalan ke surga Bapa suamiku Zein, Segala teladan iman Kristiani akan selalu aku wariskan ke anak-anak cucu kita kelak.


Selamat jalan, Tuhan menyayangimu maka ia angkat segala penderitamu. Semoga segala kebaikan dan iman akan menyertai jalanmu menuju surga yang terang.


Karena engkau telah bersama-Nya. Berada dalam lingkungan surga bersama dengan telaga yang menganak sungai. Engkau berenang dengan penuh gembira. Yang airnya mengalir dalam tangis duka kami yang kehilangan. Tinggallah bersama Kristus dalam keabadian.


Engkau telah berpulang sahabatku, tinggallah bersama Kristus dengan damai. Selamat jalan dalam tidur panjang, dalam pelukan Yesus yang hangat.


Selamat jalan sahabatku suamiku tercinta, sudah jalannya engkau mendapat kesempatan tinggal di surga Kristus yang begitu indah. Doakan kami yang masih melalui perziarahan di dunia ini. Kebaikanmu akan kami kenang selalu.


Ameeennnn


Doa yang begitu tulus Dara ucapkan, untuk memberitahu kepada Tuhan bahwa dirinya telah ikhlas melepaskan Zein untuk pergi ke surganya.


Setelah mengucapkan doa tersebut, Dara terlihat menatap ke arah wajah Zein yang kini juga balik menatapnya.


"Dulu aku pernah berjanji, ketika kamu bahagia, aku bahagia, ketika kamu sakit, maka aku juga sakit, tetapi sekarang kamu tidak mengizinkanku untuk ikut bersamamu ke sana, kamu melepaskan cinta kita begitu saja, kamu-," ucap Dara terhenti, ketika Zein mengecup bibir Dara dengan begitu lembut, menyalurkan semua kasih sayangnya untuk yang terakhir kalinya.


Cukup lama Zein memaksa Dara untuk membalas kecupaanya, hingga akhirnya Dara membuka aksesnya dan membiarkan cinta mereka berdua tersalurkan di hadapan Tuhan.


Dara menangis, hingga kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Hingga dia terjatuh duduk di bawah tubuh Zein yang kini mengalihkan pandanganya untuk tidak melihat Dara yang seperti ini.


"Dihadapan Tuhan, aku memohon untuk mengembalikan suamiku kembali ke duniaa- Nya, kepada Tuhan aku memohon agar waktu bisa diputar kembali, bawa aku Zein, bawa aku, kenapa kamu begitu tega denganku Zein kenapa?"


"Dara jangan seperti ini di rumah Tuhan, berdirilah dan ikhlaskan semuanya, kita sudah sama-sama berdoa dan menyerahkan segalanya,"


"Aku sudah berusaha, aku ingin ikhlas, tetapi apakah kamu tahu bahwa semuanya terasa sulit bagiku, bisa kamu bayangkan, di dalam satu bulan semuanya pergi meninggalkan aku sendiri."


"Ayah,kakakku, kakak ipar, nicky dan sekarang kamu,hiskkk,,hiskkk, semuanya pergi tinggalkan aku sendiri."


"Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana sulitnya jadi aku, ketika menghadapi dunia ini seorang diri, tanpa siapapun," tangisnya pecah.


Dia mengira hari ini dia akan kuat, dia kira hari ini dia sudah bisa menerima semuanya dengan baik. Tetapi ternyata semunya begitu berat baginya.


Zein menunduk dan memeluk tubuh Dara dengan erat, "jangan menangis lagi sayang, berbahagialah setelah ini, untuk sekarang kamu bisa memeluk tubuhku sepuasmu, nikmati semua waktu yang terus berjalan setiap menit detiknya, rasakan semuanya, ingatlah aroma tubuh, serta kehangatan yang mungkin aku tidak bisa memberikan lagi untukmu, jangan pernah menangis lagi setelah ini, karena tangan ini, sudah tidak bisa menghapus setiap tetesan yang membasahi pipimu, kuatlah demi kita semua, lawan semua perasaan takut dihatimu, pleaseee, berikan kenangan terindah sebelum aku benar-benar pergi dan tidak akan pernah bisa kembali lagi untuk memelukmu, Dara aku mencintaimu, sampai detik di mana Tuhan memanggilku, sampai di mana kedua mata ini sudah tidak mampu menatap wajah cantikmu, aku akan mencintaimu sampai aku benar-benar tidak bisa merasakan cinta yang lain. Dara setiap hembusan nafas yang pernah aku keluarkan, aku selalu berusaha untuk menyebutkan namamu, aku selalu berusaha untuk bisa membuatmu bahagia, walau pada kenyataanya, aku selalu menyakitimu dengan segala kesalahaan yang pernah aku perbuat."


"Penyesalanku adalah pernah mengkhianti cinta yang telah kamu berikan, dan jika bisa aku ingin terlahir kembali untuk mencintaimu dengan sempurna, tanpa ada pernah orang ketiga di dalam kehidupan cinta kita."


Tangis keduanya pecah bersamaan. Terlihat lemah di hadapan Tuhan yang menciptakan segala perasaan di dalam hati keduanya.


Tuhan yang menyatukan mereka, tetapi Tuhan juga yang memisahkan mereka.


Di sinilah mereka, di sebuah Gereja, tempat di mana janji suci pernikahaan yang sakral terjadi, dan di sini jugalah, pengucapan janji untuk ikhlas melepaskan kepergiannya terucap.


Menangis, hanya itu yang bisa Zein dan Dara lakukaan saat ini, memperlihatkan bahwa mereka benar-benar saling mencintai dan terpisah oleh sebuah takdir yang begitu kejam menyakiti mereka.


Kenapa di dunia ini, terselip satu kata yang bisa menghancurkan kehidupan yang begitu bahagia.


Kenapa di dunia ini selalu ada sebuah pengkhianatan yang tidak bisa diperbaiki, mungkin kesalahaanya terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat begitu besar sehingga, siapapun akan merasakan sakit serta hancurnya kenangan masa indah yang dibangun dengan sebuah cinta.


Dan inilah penyesalan seumur hidup Zein, hingga dalam kematian dirinya tetap terus menyesali perbuataan yang menghancurkan banyak kehidupaan.


To Be Continue


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*