
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Pada malam harinya, Dara dan Jingga sudah nampak begitu cantik dengan gaun-gaun indah mereka.
Meskipun gaun yang mereka kenakan tidak semewah dan sebagus para tamu yang lainnya, tetapi mereka berdua tetap terlihat sangat cantik dengan gaun sederhana itu.
"Daraaaaa," sapa Stella, dengan menempelkan pipi kanan dan kirinya pada Dara.
"Tante," balas Dara dengan selembut mungkin.
"Are you okay?" tanya Stella, sedikit merasa khawatir dengan keadaan Dara dan putrinya.
Dara tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya pelan.
"Dara dulu tante pernah tahu, jika kamu penyanyi ya?" tanya Stella dengan antusias.
Kembali Dara menganggukan kepalanya pelan, meskipun seketika bayangan masa lalu di saat dirinya bertemu dengan Zein kini terulang kembali.
"Kenapa selalu mengingatkan kejadian-kejadian itu? Tidak bisakah kalian pura-pura melupakannya saja?" batin Dara, merasa muak dengan keluarga besar ini.
Bukannya mau bersikap tidak tahu diri, tetapi siapapun bisa melihat sendiri, di saat dirinya masih berduka karena kehilangan suaminya.
Keluarga ini malah mengadakan sebuah pesta ulang tahun pernikhaan dengan bahagia, dan bahkan meminta secara khusus untuk Dara bisa hadir.
Apakah mereka tidak memiliki rata simpati terhadap Dara maupun Jingga, yang mungkin bisa saja merasakan sakit hati ketika melihat keharmonisaan keluarga ini.
Dan sekarang apa? Malah dia bertanya apakah Dara pernah menjadi penyanyi atau tidak?
Bukankah maksud mereka adalah membuka lembaran lama dalam sebuah kenangan yang sangat ingin dia lupakan.
"Dara," tegur Stella lagi, dengan mengejutkan Dara yang terlihat sedang melamun.
"Heeeyyy iya tante," sahutnya, dengan tersenyum kikuk, ketika Stella mendapatakanya sedang melamun.
"Tante bertanya, apakah kamu bisa menyanyikan satu lagi di acara ini?" tanya Stella yang terdengar seperti kalimat memohon.
Terlihat Dara menghela nafasnya kasar, dan lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tante, untuk hadir ke acara ini saja, saya dan Jingga harus berusaha menguatkan hati terlebih dahalu, lalu mengapa sekarang tante memintaku untuk bernyanyi, seakan-akan bahwa saya sedang baik-baik saja, padahal tante tau jelas, jika saya sedang tidak baik-baik saja," tungkasnya, dan berlalu pergi begitu saja.
Sedari tadi dirinya sudah berusaha menahan gejolak di hatinya, apa lagi ketika dia melihat Arvan berada di pesta ini dengan tawa dan senyum bahagia di wajahnya.
"Sepertinya hanya aku yang terlihat sangat menyedihkan di pesta ini," gumam Dara, lalu melihat pesta yang sudah di mulai.
Dara melihat kemesraan antara Freya dan Aiden dari kejauhan, sedangkan Jingga sedari tadi hanya diam ketika melihat betapa beruntungnya Lyla yang bisa memiliki ayah dan ibu yang lengkap.
Jingga meneteskan air matanya pelan, merasakan kesedihan yang mendalam ketika Aiden memeluk dan mengecup pipi putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Menyadari itu, Dara kini langsung memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat, "tidak apa sayang, tidak apa Jingga tidak memiliki ayah, karena Jingga masih mempunyai mamah sayang," ucapnya menguatkan perasaan putrinya agar tidak lemah.
Jingga menggagukan kepalanya lemah, dan kembali menikmati es krim yang berada di tanganya.
"Hei Jingga," sapa Griffin yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Kakak," lirih Jingga pelan, menanggapi sapaan itu.
Griffin tersenyum memandang Jingga dan Dara, "tante, pesta dansa sudah mau dimulai, bolehkah saya membawa Jingga sebagai pasangan saya?" Izinnya pada Dara yang kini hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala pelan.
Sebenarnya dia ingin sekali untuk cepat pergi meninggalkan pesta ini, namun apalah daya jika dirinya di sini adalah seorang tamu yang harus mengikuti jalannya pesta ini hingga selesai.
Membuatnya mau tidak mau harus tinggal dan berpura-pura menikmati pesta ini.
Meninggalkan Jingga yang tengah asik berdansa dengan Griffin dan Lyla.
Anak itu terlihat sangat bahagia, ketika Kedua kakaknya itu bisa membawanya keluar dari sebuah kesedihan yang terlalu mendalam.
Dan kini tinggalah Dara yang harus berusaha keluar dari jurang kepedihaan itu.
"Hey nona, ingin berdansa," sapa seseorang yang tengah berdiri di belakang Dara.
"Tentu, untuk salam perpisahaan kita," balas Dara, dan langsung menggengam tanga sosok itu.
"Kau terlihat cantik sekali malam ini," puji Zein pada Dara.
"Bukankah aku memang selalu terlihat cantik di matamu?" tanya Dara sinis, membuat Zein menganggukan kepalanya pelan.
"Tidak bisakah untuk malam terakhir kita ini, kamu memeberikan senyum indahmu kepadaku," pinta Zein dengan penuh harapan.
Dia ingin sebelum dia benar-benar pergi, Dara memberikannya senyum paling terindah yang dia miliki. Zein ingin senyum itu terukir indah di wajah cantik istrinya, dan dia bisa melihat itu semua untuk terakhir kalinya.
"Apakah kamu pikir aku betah seperti ini? Jika kamu ingin melihatnya, maka kembalikan lagi senyumanku seperti pertama kali aku mendapatkanmu, kembalikan lagi kebahagiaan yang telah kamu renggut dariku," pinta Dara, sontak membuat Zein terdiam.
"Sayang setelah ini, teruslah tersenyum, meskipun aku sudah tidak ada di sisimu, ketika nanti aku sudah pergi, kamu bisa memejamkan matamu ketika kamu merindukanku, rasakan jika aku ada di dalam hatimu, aku akan terus mencintamu hingga tangan tuhan mempersatukan kita kembali di sana, terima kasih karena sudah memberikanku sebuah kebahagiaan selama aku hidup bersamamu, terima kasih karena sudah mencintaiku dengan tulus, semua kehidupan bahagia, janji yang pernah terucap kini perlahan mulai hilang terbang bersamaku, perpisahaan yang terjadi saat ini, adalah bukti sebuah kekuatan cinta yang aku miliki, dan cinta yang kamu miliki akan terus berada di dalam gengaman tanganku hingga suatu saat nanti, ketika kita bertemu di sana, aku akan kembali meningatkanmu bahwa kita adalah sepasang hati yang sulit dihancurkan."
Tangisan Dara kini perlahan mulai mengiringi langkah Zein yang mulai hilang dari pandangan.
Dia ingin berteriak dan menahan kepergiaan Zein, tetapi dia hanyalah manusia biasa, dia bukan malaikat yang mampu terbang ke sana dan menemui Zein di kala rindu menghampiri.
Zein memandangi Dara dengan senyum bahagia di wajahnya. Namun tidak dengan Dara yang kini memilih untuk menutup matanya perlahan, karena tidak sanggup untuk melihat kepergiaan Zein yang begitu nyata dihadapannya.
"Selamat jalan Suamiku, setelah ini aku tidak akan pernah mengecewakan cintamu, kamu telah mematahkan sayap-sayapku, dan membuatku tidak bisa terbang tinggi dan mencari cinta yang lainnya, maka aku akan terus mencintaimu sampai kita bertemu lagi nanti," lirih Dara pelan, dan perlahan mulai menghapus air matanya serta merapikan dirinya.
Namun seberapan kuatpun air mata itu ditahan, dia tetap saja mengalir deras membasahi pipinya.
Bahkan ketika dirinya hendak berdiri, kakinya sama sekali tidak mampu menopangnya, dan membuatnya terjatuh karena tidak mampu menahan sakit di dadanya.
"Hiskkk,,hisskkk,,hiskkk," tangisnya kembali pecah, sambil terus memukuli dadanya yang terasa sesak dan sulit untuk bernafas.
Hingga Aiden yang menyadari jika Dara tidak ada di dalam pesta, kini berjalan keluar mencari sosok adik iparnya, dan melihat Dara yang terduduk sendiri dan menangis histeris.
"Daraaaa," tegur Aiden, merasa panik melihat kondisi Dara.
Sontak saja Dara segera menghapus air matanya, ketika menyadari keberadaan orang lain di tempat itu, "kak Aiden," sahutnya pelan, lalu mencoba untuk tersenyum.
Namun Aiden tidak bisa dibohongi, dia melihat mata sembam di wajah Dara, dan melihat kilatan rasa sakit dari kedua mata itu.
"Dara," lirihnya pelan, dan langsung memeluk tubuh Dara dengan sangat erat.
Mendapatkan perlakuaan seperti itu, lagi-lagi tangis Dara pecah, bahkan semakin terdengar sangat menyedihkan.
Dia menempuhkan segala kesedihaanya di dalam pelukan Aiden, sakit, sakit, dia ingin mengatakan kepada semua orang jika saat ini dia sedang merasakan sakit yang sangat hebat, yang tidak akan pernah ada seseorangpun yang paham tentang apa yang sedang dia rasakan saat ini.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*