
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Sudah satu jam lamanya Lyla berkeliling mencari barang-barang yang dia inginkan, tetapi dia masih saja bingung, entah mana yang mau dia ambil.
Terlebih semua yang berada di sini bagus-bagus, "Fin, aku kepikiran deh nama yang bagus untuk anak tante Dara," lirih Lyla lagi pelan.
Sesungguhnya Griffin sama sekali tidak tertarik dengan pembahasaan ini, namun karena hanya Lyla yang bertanya, mau tidak mau dia harus menanggapinya.
"Nama apa?" tanya Griffin bingung, ketika melihat Lyla yang sangat bersikap berlebihan.
"Menurut kamu, nama apa yang cocok untuk anak tante Dara? Kalau laki - laki apa? Kalau perempuan apa?" tanya Lyla lagi.
Griffin kembali berpikir sejenak, "Linzi," jawab Grifin asal.
"Linzi," gumam Lyla, mengingat-ingat nama itu.
"Kenapa sih dari tadi kamu berpikir kalau baby perempuan?" tanya Lyla kesal.
Sedari tadi, jika ditanya masalah pendapat, Griffin selalu saja membahas tengang bayi dan semua barang-barang milik baby perempuan.
Seperti di saat Lyla memilih stroler, dan memilih yang bercorak polkad agar netral, tetapi Griffin malah memilih yang bercorak unicorn, dan lagi di saat Lyla memilih topi-topi boneka bewarna putih, Griffin malah memaksa untuk mengambil yang warna pink.
"Aku tidak tahu Lyla, hanya saja aku sedari tadi berpikir kalau babynya perempuan," balas Griffin dengan santai.
Tanpa mereka sadari, jika sedari tadi keduanya menjadi pusat perhatian dari pengunjung yang lainya.
"Waaah, kalian ini masih muda tetapi rasa tanggung jawab terhadap janinnya tinggi ya," puji salah satu ibu hamil yang berada dibelakang mereka.
"Ehhh bener loh jeng, saya pikir hanya saya yang sedari tadi memperhatikan mereka, ternyata masih ada yang lainnya juga," seru pengunjung lainnya.
"Iyah, terlihat sekali jika mereka ini masih sekolah, tetapi mungkin karena pergaulan jaman sekarang makanya begitu," ucap ibu yang lainnnya.
Lagi-lagi Griffin dan Lyla kini memilih untuk bersikap acuh dengan semua ocehan ibu-ibu itu. Dan kembali untuk berbelanja dan memilih. Barang yang mereka mau.
Sampai setengah jam waktu berjalan, mereka masih terus saja beradu pendapat tentang bayi laki-laki dan perempuan.
"Sudahlah Fin, aku malas untuk memilih," seru Lyla, yang merasa selalu lelah bedebat dengan Griffin yang tidak henti-hentinya memilih kostum perempuan.
Merasa lelah, kini Lyla memilih untuk segera berjalan ke kasir, "mbak, saya akan membeli semua yang ada di toko ini, mau itu milik perempuan, atau laki-laki, intinya semua," pintanya dengan penuh penekanan.
Namun bukannya ditanggapi oleh pegawai toko, mereka justru malah mentertawakan Lyla yang dianggap sedang tidak waras.
"Dekk, kamu taukan kalau toko kita ini itu Honey bee, dan kamu tau kalau toko ini adalah brand-brand ternama," ucap sang kasir berbicara selembut mungkin, agar Lyla bisa sadar dengan ucapannya.
"Okey tidak masalah, sekarang totalkan saja semua berapa?" balas Lyla tanpa ada merasa beban sedikitpun yang terlihat di wajahnya.
Merasa terdesak, sang kasir pun akhirnya memilih untuk menanggil managernya agar berhadapan langsung dengan anak yang sangat sombong menurutnya.
"Ehhm, dek, ini adalah Manager saya di sini, kamu bisa langsung berkomunikasi dengannya," lirih sang kasir dengan sopan.
Lyla menyeritkan keningnya bingung, "kenapa harus sampai manager yang harus turun? Saya hanya mau membeli semua barang di sini, tinggal totalkan dan saya bayar kenapa repot sekali," bentak Lyla, sangat merasa kesal karena terlalu sibuk mengulur waktu.
"Ahh, begini ya dek, kalau adek mau beli silahkan saja dek, tetapi beli sesuai kemampuan saja ya, kalau beli semua di sini, mungkin totalnya bisa 500 juta dek," sahut Manager toko, yang memberitahukan Lyla berapa harga keseluruhaanya, berharap jika anak remaja ini bisa tahu batasan mereka saat berbelanja.
Lyla kembali memutar bola matanya malas, dan mulai mencari dompetnya yang berada di dalam tas.
"Pakai ini!" seru Griffin mengeluarkan coutts world silk card yang dia miliki.
Jelas saja semua orang pasti terperangah melihat kartu yang Griffin keluarkan, pasalnya itu adalah kartu debit yang hanya dimiliki oleh penguasa-penguasa dunia saja, terkhususnya kerajaan Inggris, Spanyol dan Italia. Karna kartu ini adalah bank khusus anggota Kerajaan Inggris. Kartu debit yang bernama Coutts World Silk Card, mempunyai harga US$1 juta atau Rp14,8 miliar untuk sekali pembuataannya saja.
"Ihh apaan sih Fin, udah pakai ini aja," sahut Lyla yang juga ikut mengeluarkan American Express Centurion Card yang dia miliki.
Jangan menyepelekan milik Lyla, dengan penampilan dan warna kartu debit American Express Centurion yang terlihat seperti kertas biasa, tetapi ketik kamu ingin membuatnya, kamu harus merogoh kocek sebesar US$257.500 atau sekitar Rp3,2 miliar. Biaya sebesar itu baru termasuk dengan langganan kartu satu tahun dan biaya pembuatan kartunya saja ya.
Dan keluarnya dua kartu Black Card Master yang mereka miliki, membuat seluruh pegawai terdiam menahan malu.
"Kenapa kalian diam? Cepat total sekarang!" bentak Griffin, dia paling membenci jika ada seseorang yang begitu cepat meremehkan manusia lainnya.
"Baa--baik Tuan," jawab Manager dengan hormat. Dan segera menyuruh semua pegawainya menghitung total keseluruhaannya.
"Ingat ini baik-baik! Jangan pernah kamu meremehkan siapapun! Sadar diri kalian hanyalah seorang pegawai! Camkan itu!" tegas Griffin, sambil terus menatap ke arah semua pegawai termasuk manager dengan tatapan dingin.
Lyla segera mengambil kartu milik Griffin dan memasukannya ke dalam dompet milik sang empunyanya yang dia ambil dari saku celana Griffin.
"Sudah Fin, jangan emosi! Sekarang kamu tunggu aku di luar, kalau total gak sampai 1M aku akan menggunakan kartumu yang biasa," seru Lyla, sambil mengeluarkan kartu debit Griffin yang lainnya.
"Baiklah, aku akan tunggu di luar," jawab Griffin, yang sedang terlihat mengatur nafasnya.
Sedangkan Lyla, kini kembali fokus untuk menunggu dan membayar total semua belanjaan.
Setelah menunggu lama, kurang lebih satu jam lamanya, Lyla dan Griffin kini bergegas untuk pulang, sudah 50 panggilan tidak terjawab dari mamah dan papahnya, membuat Lyla merasa cemas karena takut dimarahi.
Namun Griffin mengatakan untuk membawa beberap berlanjaan pakaian baby perempuan itu ke rumah, dan mengatakan pada mereka semua, apa yang tadi kita lakukan.
***
Sesampainya di rumah Dara, mereka langsung berhadapan dengan tatapan tajam dari seluruh keluarga.
"Dari mana saja kalian?" bentak Stella, merasa emosi dengan dua cucunya ini.
Padahal baru disuruh pergi ke apotik saja, tetapi pergi sudah hampir tiga jam lamanya. Bahkan seluruh keluarga sudah selesai makan siang saja mereka masih belum datang-datang.
"Iya kalian dari mana sih sayang? Mamah dan papah sudah menelpon di ponsel kalian tetapi tidak ada yang mengangkatnya," sahut Aiden, yang tidak ingin membentak anaknya itu.
"Kami dari belanja, untuk keperluan Linzi," jawab Griffin dengan santainya. Sontak membuat semua orang menoleh, dan memandang Griffin dengan lekat.
"Linzi siapa Fin?" tanya Stella bingung, memwakili pertanyaan semua orang.
Sedangkan Lyla, kini langsung menyenggol tangan sepupunya yang menurutnya tidak tahi aturan.
"Fin, belum tentu babynya perempuan, bisa tidak sih kamu jangan langsung mengambil pendapat sendiri," bisik Lyla, agar tidak ada yang mendengarkan mereka.
"Itu terserah kamu, bagiku dia adalah Linzi, dan meskipun laki-laki, aku tetap akan memanggilnya Linzi," tegas Griffin, dan tidak bisa dibantah lagi.
"Sebenarnya siapa Linzi?"
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*