
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Di tengah matahari senja, terlihat seorang wanita yang menatap kearah laut lepas, dia berdiri seorang diri, hanya sendiri.
Sudah 10 tahun dirinya dikurung tanpa adanya kejelasaan sama sekali, perasaan sepi,hening dia benar-benar bosan merasakannya.
"Kapankah tugas orang itu selesai?" tanyanya pada batinya, setiap jam,setiap menit bahkan detikpun, dia selalu menanyakan hal yang sama.
Dia ingin marah, tapi dia tidak tau ingin marah pada siapa? Karena sosok yang menculik dan mengurungnya di sini, sama sekali tidak pernah terlihat, termasuk orang yang mengerjakan tugas, sampai detik ini, dia tidak tau siapa orang itu sebenarnya.
"Sudah 10 tahun berlalu, aku sangat merindukanmu Zein," gumamnya, dengan meneteskan air matanya.
"Aku rindu ayah, aku rindu Zein,hiskk,,hisk," tangisnya pecah, kerap kali di saat dirinya rindu dua sosok itu.
Dan di saat dirinya sedang berada di sebuah halaman, Dara tidak sengaja melihat sebuah Jet yang ingin pergi dari pulau itu.
"Tuan Yuda, ini barang-barangnya," ucap salah satu pelayan itu.
"Barang ini mau dibawa ke Italia, ikutkan Jet yang selanjutnya, karena aku akan ke Indonesia," sahut pria yang berjas itu.
Sontak saja mendengar kata Indonesia, Mata Dara langsung membulat sempurna, hingga terbit senyum yang menggembirakan.
"Aku harus bisa masuk ke dalam pesawat itu," ucapnya, merasa yakin jika dirinya bisa bebas dari tempat ini.
Dengan perlahan-lahan, Dara berjalan masuk ke dalam kabin pesawat, dan bersembunyi di bagian belakang, di mana terdapat banyaknya tumpukan kardus. "Mudah-mudahan mereka tidak melihat aku di sini," gumamnya lagi, dan langsung menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin pesawat yang siap untuk lepas landas, membuat Dara semakin melebarkan senyumnnya dan menaruh banyak harapan setelah ini.
"Tuhan, terima kasih karena engkau telah memberikanku jalan untuk kabur dari rumah besar itu," batinya lagi, dan kini mencoba mengambil posisi senyaman mungkin, agar bisa tenang sampai di Indonesia nanti.
***
Sedangkan di sisi lain, terlihat Zein yang baru saja balik ke rumahnya. Setelah dia lama tidak pernah balik, dan fokusnya pada Griffin. Membuat Zein lupa akan Dara.
Namun ketika dia baru sampai di rumah, tatapan Zein jatuh pada foto kebahagaiaan mereka berdua, "Dara, kamu di mana sebenanrnya? Kenapa begitu sulit bagiku untuk menemukanmu," ucap Zein, sambil terduduk lesu di sofa rumahnya.
Sofa yang menjadi tempat terakhir mereka bersama, di sinilah dia melihat senyum terakhir yang muncul di wajah kekasihnya, di sini juga dia mendapatkan pelukan terakhir dari Dara.
"Dara,, aku benar-benar sangat merindukanmu, kembalilah sayang,,kembali," gumamnya, dan langsung menutup matanya untuk merasakan kehadiran Dara di rumahnya.
'Zein,," pangil seseorang di sebuah taman besar.
"Zeinnn, aku di sini," panggil suara itu lagi.
Zein berlari mengejar bayangan itu, dan segera menangkapnya, "aaahhhh dapat," seru Zein dengan tawa bahagianya.
"Hahahahha," tawa keduanya.
"Zein, apa kamu akan selalu mendapatkan ku seperti ini kalau aku mengilang?" tanya suara itu.
"Tentu saja sayang, sampai ke ujung dunia saja aku akan mengejarmu, itu janjiku," ucap Zein dengan penuh keyakinan.
Namun tiba-tiba saja dia menatap wajah wanita itu, yang diam dan murung. "Kamu bohong,,hiskk,,hiskk," teriak suara itu.
"Kamu bohong! Sudah 10 tahun aku menghilang tapi kamu tidak pernah mencariku, kamu lupa akan aku, kamu hidup bahagia bersama wanita itu dan anak kamu yang ada di rahimnya, kamu pembohong," jerit suara itu lagi, lalu tiba-tiba menjatuhkan diri ke dalam sebuah jurang yang dalam.
"Tidaaaakkkkk Daraaaaaaaaaaaa," teriak Zein sekeras mungkin, bahkan sampai membangunkannya dari tidur.
Zein mengatur nafasnya yang memburu saat ini, rasa takut,benci dan sakit semua menjadi satu.
"Mau bahagia dengan siapa kalau kebahagiaan aku adalah kamu," gumam Zein sinis, mengingat kalimat Dara yang menuduhnya sudah hidup berbahagia dengan wanita lain.
Rasanya dia ingin sekali merekam setiap perjalanan hidupnya, agar Dara tau bagaimana kehidupannya selama 10 tahun ini. Hidup tanpa pernah tersenyum, hidup tanpa ada arah tujuan, dirinta benar-benar mati rasa tanpa sebab.
Lalu Zein beralih mengambil sebuah bingkai foto kecil di atas meja, dan melihat fotonya yang sedang tersenyum bersama dengan Dara.
"Kamu harus berusaha untuk mengembalikan senyumku lagi Dara, aku ingin kamu memberikan warna lagi di dalam kehidupanku," ucap Zein menatap foto wajah yang tidak bisa dia pegang seperti dulu.
Zein tidak ingin berlarut, dia memili untuk masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Dia ingin menjernihkan pekirannya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia kembali mencari informasi tentang keberadaan Dara.
Namun di saat dia baru saja selesai mandi, terlihat Hitto dan anak buahnya membawa Justin dan Tyas yang berhasil mereka temukan.
"Wow, lihatlah siapa yang kita dapatkan saat ini," seru Zein, menatap remeh ke arah keduanya.
Dan terlihat seorang anak kecil yang menangis ada digendongan anak buah mereka. "Jangan sentuh putraku," teriak Justin, langsung mengambil alih putranya dari tangan penjahat.
Zein terdiam melihat Justin yang menyayangi putranya, namun dia segera menepisnya, karena bagi Zein, permasalahaan saat ini bukanlah itu.
"Ternyata selama 10 tahun ini kalian pintar juga untuk bersembunyi dari kejaraanku ya," lirih Zein pelan, sambil mengitari tubuh mereka.
"Sekarang katakan! Di mana Dara?" tanyanya penuh dengan penekanann.
"Kami tidak tau di mana Dara, bukankah kamu kekasihnya, kamu harusnya lebih tau dari pada kami," balas Justin, malah memancing emosi dari Zein.
Merasa keadaan yang tidak stabil, Tyas mengambil alih Dante putranya dari tangan Justin.
"Dengar Mr. Zein, kami sama sekali tidak tahu tentang keberadaan Dara, kami berpisah darinya waktu itu di bandara, dan setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi," ucap Tyas, membantu suaminya berbicara.
Zein menahan agar senyum mautnya itu tidak keluar dan membuatnya membunuh dua sahabat Dara ini, "kenapa kalian meninggalkannya sendiri?" tanya Zein lagi, merasa marah karena dua orang ini sudah meninggalkan Dara seorang diri. Hingga semua ini terjadi.
"Mr Zein, kamu pikir kita akan tau tentang hilangnya Dara? Kita meninggalkannya karena kita tau di mana arah tujuan dia selanjutnya, kami tidak meninggalkannya dalam keadaan yang tidak tentu arah, hanya saja pesawat kami harus bording duluan sebelum pesawat Dara," jelas Justin lagi.
Zein terlihat semakin mengusap wajahnya kasar dan terus berpikir kemana lagi dia akan mencari Dara.
"Ini sudah 10 tahun berlalu, dan kamu saja baru bisa mendapataakan kami, sebenarnya kamu niat mencari dia atau tidak," sahut Tyas, yang merasa bahwa Zein hanya bermain-main dalam mencari keberadaan Dara.
Zein menatap Tyas dengan tajam, lalu beralih pada pandangan lain, "apa kamu bisa berpikir? Ketika jantung hati seseorang hilang, apakah dia bisa hidup tenang?" tanya Zein pada Tyas.
"Maybe can, maybe can not ," jawab Tyas acuh.
Dia sangat mengingat jelas, bagaimana sikap dan pengkhianataan Zein di saat Dara masih bersamannya. Dan itu membuat Tyas sangat membenci sosok Zein sampai detik ini.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻