
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Melihat Dara yang pingsan seperti itu, sontak saja Freya berusaha memanggil dokter dengan memencet tombol yang ada di atas ranjang.
"'Mamah,,mamah," panggil Jingga dengan tangisan histerisnya.
"Jingga jangan khawatir ya sayang, mamah hanya pingsan saja kok ya tenang," ucapnya agar Jingga tidak menangis histeris seperti itu lagi.
Jingga menganggukan kepalanya pelan, namun tetap saja dirinya merasa takut karena semua ini.
"Ayah mana? ayah mamah pingsan? Kenapa ayah dari tadi malam tidak ada? ayah,,ayahhh," panggilnya dan teruse menanyakan tentang keberadaan Zein.
Sumpah demi Tuhan, Freya semakin tidak sanggup jika terus berada di dalam sini, dia tidak sanggup mengatakan jika ayah yang dia sedang cari saat ini sudah tidak ada lagi.
Di saat Freya masih terdiam tanpa ingin mau menjawab pertanyaan Jingga, terlihat beberapa orang masuk.
"Maaf nyonya Freya, kami kembali diberikan perintah untuk membawa paksa nyonya Dara dan nona Jingga," ucapnya tegas, tanpa boleh ada penolakaan lagi.
"Tapi Dara sakit, dia pingsan," tolak Freya, merasa bahwa Dara harus mendapat perawatan lebih dulu.
Namun para pria itu malah saling berkode untuk segera membawa Dara pergi.
"Nyonya Dara akan mendapat perawataan di pesawat Nyonya," ucap pria itu.
Dan ketika salah satu dari mereka ingin menarik Jingga, Freya sudah lebih dulu menahaannya.
"Biar aku saja yang membawa Jingga," ucapnya dengan tegas.
"Baiklah nyonya, kalau begitu, bisakah kita berangkat sekarang," pinta pria itu, dan mau tidak mau Freya menggengam tangan Jingga yang semakin terlihat ketakutaan.
"Jingga sayang, di sini ada aunty, Jingga jangan takut ya, kita akan pergi untuk melihat ayah," seru Freya membuat Jingga menghentikan tangisnya.
"Kita mau ketemu ayah tante?" tanya Jingga dengan penuh harapan.
Freya menganggukan kepalanya dengan yakin, namun diiringin dengan tangisan.
Hatinya merasa sakit mengingat apa yang terjadi ketika nanti Dara dan Jingga melihat tubuh Zein yang sudah terbujur kaku.
Dengan perasaan terpaksa Freya yang tadinya tidak ingin pergi ke Mansion Italia, sekarang harus pergi karena paksaan dari mereka semua.
Namun satu yang dua ingingkan ketika nanti sampai di sana, Aiden dan Stella bisa melindunginya sebagai layaknya keluarga.
Freya hanya takut ketika Dara berada di sana, suasananya malah semakin runyam, dan yang lebih parahnya nanti dia malah disalahkan atas semua kejadian ini.
Di tengah perjalanan, Dara terbangun dan menyadari bahwa dirinya sedang dibawa paksa untuk pergi mengantar suaminya.
"Dara," tegur Freya, dengan lembut.
Namun Dara hanya diam saja dan memandang ke arah luar jendela, Jingga yang melihat mamahnya seperti itu kini mendekat dan duduk di sebelah Dara lalu memeluk tubuh wanita kesayangan ayahnya itu.
"Mamah jangan sedih terus ya, kan kita mau ketemu ayah," seru Jingga, membuat Dara tersenyum tipis melihat Jingga yang masih berusaha memberikaanya sebuah dukungan.
Tetapi dia ingat, jika di sana nanti pasti akan ada perebutan Jingga dari Dara.
Dan parahnya mereka pasti akan lebih membela Tasya dari pada Dara.
Namun Dara mencoba untuk menguatkan hatinya, dia kembali menyalahkan Zein, karena baginya sangat percuma jika kepergian Zein seperti ini, itu akan malah membuat mereka dengan mudahnya mengambil Jingga dari Dara, terlebih bisa jadi juga membunuh Dara.
Dara merasa pusing dan tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, kepergiaan Zein benar-benar membuat dirinya mati dalam kehidupaan.
Mungkin saja dia masih bernyawa tetapi jiwanya sudah benar-benar pergi. Namun jika Jingga pergi diambil oleh Tasya.
Rasa kehilangaan ini sudah tidak bisa lagi ditangguhkan, Dara memilih diam, dia tidak akan lagi bersuara, sekarang semua terserah pada mereka.
Bahkan jika mereka ingin membunuh Dara, maka dengan sukarela Dara akan membiarkan saja mereka merenggut dan menghilangkan nyawanya.
Setelah mengudara selama 10 jam lamanya, saat ini Dara melihat Mansion besar yang telah dipenuni oleh karangan bunga.
Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan matanya dihadapakan dengan sebuah peti yang dikelilingi oleh beberapa pihak keluarga.
Stella yang melihat keberadaan Dara kini segera memeluk tubuh lemah itu, begitu juga dengan Aiden, dia tidak merasa canggung kepada Freya, karena dia yakin jika istrinya mengerti apa yang dia lakukaan saat ini hanya sebagai dukunganya terhadap Dara.
Hanya saja Dara sama sekali tidak merespon Stella dan Aiden, dia terus melangkahkan kakinya melihat suami yang sangat dia cintai terdiam dan terbujur kaku tanpa ingin membuka matanya.
Deret tetesan air mata kini semakin deras mengalir membasahi pipi Dara, dia sekuat tenaga menahan tangisnya agar dia tidak tumpah, namun perasaanya sama sekali tidak bisa dibohingi.
"Sayang, kamu udah tenangkan, kenapa kamu pergi tidak bawa aku saja sih, heheh kamu jahat banget, suka iseng sama aku," ucapnya dengan diiringi tawa yang dipaksa.
Semua yang melihat Dara yang seperti itu, kini ikut menahan tangisnya, berusaha agar tidak memperkeruh suasana.
Namun di detik selanjutnya, tatapan Dara fokus melihat Tasya yang duduk tidak jauh dari peti Zein.
Dengan perasaan emosi Dara langsung menghampiri Tasya. "Puas kamu ha? Puas kamu sudah membunuh Zein, inikan yang kalian semua inginkan, bahagia kalian sekrang, tertawa ayo kita tertawa, hahahahahahhahaha ayo tertawa Tasya, hahahahhaha Tasya," jeritnya meminta semua orang untuk tertawa namun semuanya malah semakin menangis mendengar Dara yang seperti itu.
"Tasya sekarang apa yang kamu inginkan? Kamu sudah membunuh suamiku? Kamu juga sudah mendapatkan dukungan dari semua orang di sini."
"Dia,,dia,,dia dan dia semuanya sayang sama kamu, semuanya ngedukung perasaan kamu, bahkan semuanya memaksa Zein menikahi kamu hanya untuk kamu bahagia."
"Lalu aku? Aku hanya memiliki Zein sebagai suamiku yang mendukung dan menyayangi aku? Ayahku, kakakku dan kakak iparku sudah dibunuh? Apa salah jika Zein masih mencintaiku?"
"Kita tau kita mengambil paksa Jingga dari kamu, tapi kamu tidak tahu bagaimana jalan pikiran aku dan Zein."
"Aku juga tau rasa sakitnya hati seorang ibu yang dijauhkan dari putrinya, aku sangat tau Tasya."
"Tapi apa jika aku dan Zein mengambil hak asuh atau meminta keadilaan hak asuh kamu akan memberikaanya? Dan tentu saja jawabaanya tidak."
"Padahal, Zein pernah bilang kalau dia akan mengembalikan Jingga jika kamu sudah benar-benar bisa menerima kondisi ini semua."
"Tapi ternyata kalian malah melakukaan hal yang ada di luar dugaan," ungkap Dara dengan lantang, dan semakin membuat Tasya dan yang lainnya semakin merasa terpuruk.
Tasya melihat ke arah tangannya, dan itu membuat Dara tertawa sinis diikuti dengan suara tangisaanya. "Tidak perlu kamu melihat tanganmu seperti itu Tas, karena tangan kamu inilah yang sudah membunuh suamiku, dan tangan kamu inilah yang sudah membunuh ayah dari putri kamu sendiri," teriak Dara histeris.
Bahkan dia sampai lupa jika Jingga bisa mendengar semua yang sudah dia katakaan.
"Ayaaaaaahhh," teriak Jingga histeris, ketika melihat sebuah peti yang berisikan ayahnya.
"Ayaaahhhhh bangunn ayahhh, kenapa ayahhh diam saja, mamahhhh kenapa ayah diam, ayahhhh," panggilnya sambil terus memanggil-manggil Zein yang pasti sudah tidak akan terbangun dari tidurnya.
Dara semakin tidak kuat menahan sakit ketika melihat Jingga yang sangat menyayangi ayahnya kini juga harus ikut kehilangaan hanya lantara sebuah ke-egoisan cinta keluarga.
Dia semakin bingung apa yang akan dia lakukaan untuk saat ini. Semuanya menjadi gelap tidak ada penerangan dalam langkah yang hendak dia lalui.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*