
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Zein mengepalkan tanganya kuat, tidak kuat menahan sesak melihat wanita yang dia cintai dalam keadaan seperti ini, "aku akan membalas mereka ," batinya mengingat segala perbuatan jahat orang-orang di sekitarnya.
“Zera," gumam Zein, semakin menguatkan emosi serta dendam di dalam dirinya ketika mengingat janin buah cintanya bersama dengan Dara, kini lenyap begitu saja.
Padahal jelas dia sangat menginginkan Zera terlahir ke dunia, karena dengan adanya anak di antara mereka, pasti semakin membuat hubungan mereka semakin kuat.
Zein mencoba bangkit, dan melangkahkan kakinya keluar, dan menuju rumah Valen.
******
Sesampainya di rumah Valen, Zein langsung menendang pintu itu dan melihat bundanya tengah asik menonton tv.
“Apakah bunda sudah puas sekarang?" tanyanya dengan dingin.
Valen yang terkejut dengan kedatangaan Zein tiba-tiba seperti ini, seketika juga tersulutkan emosi. "Apa maksud kamu Zein? Bunda tidak tahu apa-apa soal Dara dan bayi kamu," bentak Valen.
Zein yang sudah gelap mata saat ini sangat-sangat tidak perduli dengan siapa dia berhadapaan sekarang. Dia langsung mencengkram kuat rahang Valen, bahkan sampai
Valen merasakan ngilu di area mulutnya yang sakit ketika Zein menekannya dengan kuat, hingga dia rasa rahangnya itu sudah terasa hampir retak.
“Le,,pass,,kan Zein,,akuu,,bunda ka,,mu," ucap Valen dengan nafas yang tersenggal. Namun bukan melepaskan, Zein malah beralih mencekik leher Valen dengan sangat kuat, "kalau kamu merasa bundaku, mengapa kamu bisa setega ini denganku? Kenapa kamu tega dengan bayiku? Kenapa? Apa kamu tahu, kenapa dirimu ini tidak bisa mempunyai anak? Itu semua karena kamu adalah manusia tidak beradab, sejahat-jahatnya aku, tidak pernah aku membunuh keturunanku sendiri, beda denganmu yang seperti merasa, anak yang terlahir dari rahim Dara, adalah anak haram," serunya, semakin mencekik leher Valen.
Akan tetapi perbuatan Zein terhenti, ketika melihat Aiden berada di hadapaanya, "apa yang kamu lakukan?" bentak Aiden, menepiskan tangan Zein dari leher Valen.
Karena merasa terganggu, Zein memilih untuk melangkah pergi, meninggalkan dua orang yang terlibat dalam satu misi. Dia sangat yakin jika semua yang ada saat ini, mempunyai niat yang sama yaitu, membuat dia dan Dara berpisah.
Kini Zein memilih untuk kembali ke rumah, untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh perempuan luknud itu, dia mau membawa Dara pulang, namun dia harus memastikan terlebih dahulu jika wanita ini tidak akan pernah macam-macam nantinya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Zein bisa sampai di rumahnya, dia mencari bayangan Tasya, namun tidak menemukannya.
Lalu dia beralih masuk kedalam kamar dan melihat Tasya yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
“Waahhh,,waahhh hebat kamu ya, sudah bisa merasa jadi nyonya sekarang," seru Zein, dengan menepuk-nepuk tanganya membuat Tasya mengerjap bangun dari tidurnya.
“Zein," gumam Tasya pelan, dan itu membuat Zein menatapnya lekat.
“Siapa yang memberikanmu izin untuk tidur di atas tempat tidurku dan Dara?" tanyanya dengan suara membentak.
Tasya terdiam menjadi gugup, dia takut bicara, namun dia harus bicara, "apa yang salah? Aku adalah istri kamu? Sedangkan Dara adalah kekasih kamu, posisiku lebih tepat untuk menempati tempat tidur ini," sahut Tasya, benar-benar sudah berani menentang Zein.
“Kamu-," sahut Zein, lalu menarik tangan Tasya untuk keluar dari kamarnya.
“Aaaarrrgggghhhh," jeritan Tasya terdengar ketika Zein menarik rambutnya, lalu menghantupkan kepalanya ke dinding.
“Dengarkan aku baik-baik ya! Aku tidak akan pernah sudi menganggap kamu adalah istriku, karena yang pantas menjadi istriku adalah Dara, ingat itu!" tegas Zein, lalu menarik kepala Tasya untuk menatap ke atas meja.
“Tanda tangani itu!" perintah Zein dengan penuh penekanaan.
Tasya terdiam membaca surat apa yang akan dia tanda tangani. "Tidak,,aku tidak akan pernah mendatangi surat ini! Baru tadi pagi kamu menikahiku, lalu sekarang kamu mau kita bercerai, Tidak,aku tidak mau," tolak Tasya, merasa bahwa dirinya sedang dipermainkan.
Zein tersenyum, lalu beralih mengambil sebuah cambuk yang berada di dalam lemari, beserta lilin yang sudah dia bakar.
Tasya terkejut melihat Zein yang membawa seluruh peralataan itu, "apa maksudnya? Mau apa kamu!" bentak Tasya ketakutaan.
“Tidaakkkkk,,tidakkm Zeinn, jangan lakukan itu pleaseee aku mohon,,jangannn," pintanya memohon ketakutaan.
Akan tetapi Zein memilih untuk menulikan pendengaraanya, dan mulai meneteskan lilin tersebut di tubuh Tasya. "Aaahhssshhh," desiss Tasya, menahan panas yang meleleh ke tubuhnya.
Cettaakkkk,,cettaakkkkkk,
“aarrrgghhh,,arggghhh," Zein mencambuk tubuh Tasya dengan sangat kuat, namun dia tau jika dia harus menghindari bagian perut Tasya.
“Tanda tangan cepat! Atau kamu akan merasakan penderitaan lebih dari ini!" ancam Zein, dengan mata yang menyala.
Tasya terdiam, dia sama sekali tidak mempunyai pilihan lain, "baik-baik, hisk,hiskk, aku akan tanda tangan, tapi jangan sakiti bayiku," sahut Tasya, melindungi perutnya ketika Zein baru mau menyentuhnya.
“Kamu tahu Zein, sejahat-jahatnya orang tua, dia tidak akan tega membunuh bayi mereka sendiri, tapi sepertinya kamu ingin membunuhnya secara perlahan," lirih Tasya, memandang lemah ke arah Zein, yang tengah berdiri di hadapanya.
Zein kembali tersenyum memandang Tasya, lalu mengeluarkan obat dari dalam sakunya, "apa kamu pikir, jika aku dan Dara kehilangaan bayi kami, maka kami akan membiarkan kamu mempunyai bayi ini ?" tanyanya sedikit gantung.
“Tanda tangan cepat!" perintahnya lagi, tidak mempunyai waktu buat menghadapi perempuan seperti kamu," bentak Zein, merasa sudah habis kesabaraan.
Dengan ragu Tasya mencoba untuk mendatanginya, "good," gumam Zein, yang merasa puas karena sudah resmi bercerai dari Tasya.
Namun Tasya pikir ini semua sudah selesai, tapi ternyata dia salah, Zein langsung memaksanya menelan obat yang di ketahui mempunyai dosisi tinggi untuk menghancurkan janin, "Zein,,Zein," tolak Tasya, berusaha menutup mulutnya rapat.
Plaaakkkkkkk Zein menampar Tasya dengan sangat keras, agar mau meminum obat itu, "bukaa muluttmuu sialaan! Aarrggghhhh," emosi Zein memuncak seketika di saat tanganya digigit oleh Tasya.
“Wanita brenggsssekk," umpat Zein semakin emosi, dan memilih menginjak perut Tasya dengan keras.
“Aaarrrggghhh Zein hentikann,,aaarrggggh," jeritnya merasakan sakit yang teramat luar bisa di perutnya.
Dreeeeetttt,,dreeettt, suara ponsel Zein yang berdering.
Dan memperlihatkan nama Tyas di sana, sigap saja Zein langsung mengangkatnya, "hallo,"
"Mr. Zein Dara sudah sadar dan sedang mencari Anda," lapor Tyas, lalu menutup panggilan telponnnya.
Zein tersenyum, lalu menghentikan kegiataanya menyiksa Tasya, tak lupa dia mengambil surat cerai yang sudah ditanda tangani oleh Tasya, dan secepat mungkin pergi ke rumah sakit, meninggalkan Tasya yang sedang merintih kesakitaan, dengan darah yang mulai mengalir di kakinya.
"Pleasee sayang,,jangan keluar ya sayang, Mamah mohon,,temani Mamah hidup di dunia yang mengerikan ini sayang, please," mohonya, memberikan pertolongan sendiri untuk dirinya.
Karena memang dirinya yang merupakan dokter ahli kandungan, dan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan bayinya tanpa bantuan medis.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻