It’S So Hurts

It’S So Hurts
Puncak Kemarahaan Zein



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Zein berjalan masuk ke dalam markasnya, dan meliha Yudha yang sudah babak belur karena dipukuli oleh anak buah dari Zein.


"Tuan,pria ini sudah mengatakan semuanya Tuan, dan benar jika Lord Arvanlah yang mengutus dia menculik dan menyekap Dara di Sanova Island," lapor Hitto.


Zein menganggukan kepalanya mengerti, namun dia tidak ingin bermain-main saat ini, dia hanya ingin menghukum satu orang yang merupakan dalang dari semua ini.


"Tuan Zein,maafkan saya bukan maksud saya-,"


Sreeeeekkkkkk Zein langsung mengayunkan samurainya yang sangat-sangat tajam itu dan memisahkan kepala Yudha dari tubuhnya.


Membuat darahnya muncrat kemana-mana. "Bereskan tubuhnya! Aku akan membawa kepala pria ini bertemu dengan tuannya," titah Zein, yang langsung melangkahkan kakinya menuju pesawat yang terparkir.


Zein sama sekali tidak perduli dengan darah yang berada di tubuhnya, dia terus membawa kepala itu menuju Italia.


"Permainan sudah berakhir saat ini," gumamnya, dengan penuh keyakinan dia akan membalas setiap detik penderitaan keluarganya.


*****


Sedangkan di sisi lain, terlihat Tasya yang menangis berdiri di depan ruang tindakan, dia menunggu Jingga yang masih melakukan tahap pemeriksaan.


Tadi waktu di dalam taksi, tanpa tau sebabnya apa, tiba-tiba saja Jingga mengeluarkan darah dari hidungnya.


"Jingga bertahanlah sayang, ibu di sini nak," lirihnya pelan, terus menerus berdoa untuk keselamataan Jingga.


Hingga tidak lama dokter keluar dan memperlihatkan wajah murungnya, "dokter bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Tasya langsung to the point.


Dokter tersebut terlihat menghela nafasnya kasar, lalu menatap Tasya dengan sendu, "apakah putri Anda, selalu merasakan pusing atau nyeri sebagainya?" tanya dokter itu.


Tasya menggelengkan kepalanya pelan, dia merasa bahwa Jingga tidak pernah mengeluh apapun dengannya. "Tidak pernah dok, putri saya tidak pernah mengeluh ataupun mengatakan bahwa dirinya sakit dok, dan jika dia mengeluh, saya adalah orang pertama yang akan memeriksanya dok," sahut Tasya.


"Kalau begitu, berarti Jingga tidak pernah mengatakannya kepada Anda jika dia merasa sakit, karena dari hasil pemerikasaanya putri Anda mengidap Leukemia lymphocytic," jelas dokter tersebut, yang seketika membuat Tasya terdiam bagaikan disambar petir.


"Leukemia lymphocytic, bagaimana bisa dok? Dia bahkan masih terlalu kecil untuk menerima penyakit itu," lirih Tasya pelan, menahan sesak di dadanya.


"Nyonya, Anda adalah seorang dokter, dan Anda sangat tau jika Leukemia lymphocytic akut sangat berbeda dengan Leukemia Myelogenous akut atau biasa kita sebut AML yang lebih banyak terjadi di kalangan orang dewasa, jadi wajar jika penyakit seperti ini menyerang pada usia Jingga yang masih tergolong anak-anak," tandas dokter tersebut, membuat keadaan Tasya semakin terpuruk.


Tasya menangis dan langsung menghampiri putrinya yang saat ini sudah sadarkan diri setelah tadi sempat pingsan, "Jingga sayang, bilang sama ibu nak, yang mana yang sakit Jingga, jangan diam saja nak, katakan sama ibu," tegasnya pada putrinya yang masih terus diam.


"Ayah," lirih Jingga pelan, membuat tangis Tasya semakin pecah saat ini.


"Jingga mau Ayah," ucapnya lagi pelan.


"Jingga sayang, ibu di sini sayang, Ayah sedang bekerja jadi Ayah sangat sibuk sekarang, Jingga sama ibu ya nak," jawab Tasya pelan, sambil mengusap-ngusap lembut wajah mungil putrinya.


"Ayah, Jingga sakit Ayah," lirihnya lagi pelan, dan itu semakin membuat jantung Tasya terasa nyeri dan sesak.


Tasya berusaha untuk memberikan putrinya ketenangan, dan di dalam hatinya terus berdoa agar Zein bisa membuka hatinya untuk menerima putri kandungnya sendiri.


"Ibu Jingga mau ayah," ucap Jingga lagi pelan.


"Iya nanti Ayah datang ya nak, sekarang Jingga tidur dulu, nanti Ayah pasti datang," jawab Tasya, berusaha mengalihkan pikiran Jingga agar tidak terus menerus berpikir tentang Zein.


Sampai akhirnya Jingga benar-benar tertidur, karena pengaruh obat bius yang masih bersarang di tubuhnya.


Setelah Jingga tertidur, Tasya berusaha mencari cara obat herbal atau apapun saran dari teman dokter yang lain untuk mencari cara agar Jingga bisa sembuh dari sakitnya.


Dia tidak ingin bergantung dengan siapapun, dia sangat yakin Jingga bisa sembuh dengan batuan therapy dan lain-lain.


"95% tidak bisa diselamatkan, bukan berarti 5% gak bisa diperjuangin kan," gumam Tasya, terus mencari infromasi tentang sakit ini.


*****


"Saya adalah Mamah angkat dari Zein, panggil saja saya Mamah Stella," sahut Stella dengan menepuk tempat di sebelahnya, untuk meminta Dara duduk.


Namun fokus Dara teringat oleh Yudha dan tugas penting yang dikatakan oleh Zein tadi.


"Ya Tuhan, apakah Zein membunuh Yudha? di mana Zein sekarang?" batinya, yang meronta ingin melihat Zein ada didekatnya.


"Zein," lirih Dara pelan, lalu dia melihat ke arah ponsel Stella yang terdapat panggilan dari Zein.


Namun dengan cepat Stella mengangkat panggilan itu, karena dia takut jika Dara malah akan mendengar hal yang aneh-aneh.


"Zein stop! Jangan gila kamu Zein, kamu tidak akan bisa menang melawan Arvan jika kamu dalam kondisi emosi Zein," bentak Stella, yang terdengar jelas di telinga Dara.


Merasa panik, Stella langsung menarik tangan Dara, "ayo kita pergi sekarang, Zein harus segera dihentikan sebelum terjadi bahaya dengannya," seru Stella dengan wajah yang bias.


"Maksudnya bagaimana Mah? Ada apa dengan Zein?" tanya Dara bingung.


Stella terdiam dan menatap Dara dengan lekat, "dia pergi mengantar nyawanya pada Arvan," jawab Stella pelan, namun berhasil membuat jantung Dara terasa berhenti berdetak seketika, dan bahkan tanpa dia izinkan, air mata itul lolos terjatuh begitu saja.


"Zein," gumamnya lagi pelan.


"Ayo Dara, kita harus segera sampai di Italia, sebelum pertumpahan Darah terjadi di antara keduanya," seru Stella, yang langsung menarik tangan Dara untuk berjalan lebih cepat.


Perasaan harap cemas terus menghantui mereka, tak lupa Stella menghubungi Aiden untuk membantu ketika situasi bahaya nanti.


Dara terdiam dan hanya bisa berdoa untuk keselamataan Zein, karena biar bagaimanapun, semua hal terjadi atas dirinya.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi Mah?" tanya Aiden, ketika baru masuk ke dalam pesawat.


"Semua ini terjadi-,"


"Karena aku," sahut Dara pelan, namun mampu membuat Aiden dan Stella menoleh ke arahnya.


Stella tidak ingin menanggapi kalimat Dara, karena dia tau jelas bagaimana bisa kejadiaan ini bisa sampai seperti ini.


"Aiden, cepat kamu hubungi uncle Mario yang bisa lebih dulu berada di Italia sebelum Zein sampai di sana, hanya dia harapan satu-satunya saat ini," titah Stella, yang langsung dilaksanakan oleh Aiden.


Dan setelah itu, Stella menatap ke arah Dara yang terlihat tengah serius berdoa, sampai akhirnya Stella memeluk tubuh mungil yang menyimpan seribu duka di dalamnya.


Terlihat tubuh Dara yang bergetar menangis dipelukan Stella, "tenanglah Dara, kita akan berjuang dan berdoa sama-sama untuk keselamataan Zein, dan Mamah berharap dengan adanya kamu, Zein bisa meredam sedikit amarahnya," bisik Stella pelan, di telinga Dara.


"Semoga Mah," jawab Dara, yang menumpahkan semua harapannya di atas harapan Stella.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻