
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah hari di mana semuanya berkumpul, kini sudah lima minggu waktu yang Dara lewatkan dengan terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Saat ini Dara terlihat sedang duduk dengan menyulam beberapa manik-manik untuk dijadikan sebuah hiasan. Ini adalah hobby barunya yang dia dapatkan dari ibu-ibu yang kemarin dia temui sewaktu memeriksakaan kandungannya.
"Mamah," panggil Jingga dari belakang, dengan membawakaanya segelas susu untuk ibu hamil.
Dara terlihat menelan salivanya kasar, memandang gelas yang diberikan Jingga kepadanya.
"Kamu membuatkan mamah susu lagi, Nak?" tanya Dara untuk kesekian kalinya.
Ini adalah gelas ke-lima yang Jingga berikan kepadanya, padahal dia sudah meletakan susu itu di lemari paling atas, tetapi sepertinya putrinya ini memenjat hingga bisa mendapatkan susu itu lagi.
"Sayang, mamah sudah bilang, kalau dalam satu hari itu cuman boleh minum susu dua kali, pagi sama malam, tidak boleh banyak-banyak sayang, nanti mamah mual," ucap Dara, entah sudah keberapa kali dia mengatakan hal ini pada Jingga. Namun sepertinya anak itu sama sekali tidak mendengarkannya, seperti jaman anak sekarang yang jika diberi tahu akan masuk kedalam telinga kanan dan keluar ke telinga kiri.
Jingga menggelengka kepalanya kuat, dia menunjuk perut Dara sebagai tanggapannya, "ini untuk adik, bukan mamah," balasnya dengan polos. Membuat Dara merasa sangat gemas dengan tingak anaknya ini.
Semenjak tahu jika Dara sedang mengandung adiknya, Jingga memang lebihh suka bertindak possesif sekarang, seperti ingin menjaga dan melindungi Dara dari apapun.
Dan tindakannya itu sering membuat Dara merasa gemas sendiri, terkadang sangking tidak kuatnya menahan rasa geregetaanya pada Jingga, dengan iseng Dara menggigit lengan atau paha milik putrinya yang terlihat sangat berisi, hingga Jingga menangis dan akhirnya dia meminta maaf.
"Jingga, nanti mamah gigit loh ya," ancam Dara, ini adalah ancaman paling mutlak untuk putrinya jika melakukan hal yang tidak mamahnya sukai.
Dan benar saja, Jingga terdiam takut, dan memilih untuk duduk menjauh dari mamahnya.
Dara yang melihat sikap Jingga seperti itu, semakin merasa gemas dan ingin menggigit putrinya lagi.
"Mamah jangan gigit Jingga," tegas putrinya dengan wajah yang semakin membuat Dara geregetan padanya.
Melihat reaksi Jingga yang selalu seperti ini. Membuat Dara merasakan kebahagiaan sendiri, di masa-masa sulit seperti ini, putrinya ini sama sekali tidak meninggalkannya, walaupun dia tahu bahwa anak yang dikandung oleh Dara ini bukanlah saudara seibu, tetapi dia tetap menyayangi janin Dara.
Akan tetapi, Dara percaya bahwa Jingga dan anak yang berada di dalam kandunganya ini adalah saudara kandunh yang sedarah, membuat Dara yakin jika suatu saat nanti, adiknya bisa menyelamatkan kakaknya dari rasa sakit yang setiap hari mulai menggrogiti kehidupannya.
Tingg,,tongg, suara bel rumah mereka terdengar berbunyi.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu?" gumam Dara, melihat ke arah jam dinding yang baru saja menunjukan angka sepuluh pagi.
Dengan rasa penasaraan, Dara bergegas untuk beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.
Karena pasalnya, setiap orang asing yang datang, pasti akan ada telpon terlebih dahulu dari scurity di bawah.
Ckleekkk, Dara membuka pintu dan melihat seorang scurity yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
"Selamat pagi madam," sapa scurity itu dengan hormat.
"Pagi," balas Dara, merasa canggung.
"Ini Madam, tadi ada tukang pos yang mengantarkan surat ini, karena mereka tidak boleh masuk, maka dari itu saya yang mengambilnya dan mengantarkannya pada Madam ke sini," ucap Security tersebut.
Dara tersenyum tipis memandang surat itu, dan segera mengambilnya dari tangan bapak itu.
"Surat Pengadilan," bacanya pada tulisan yang tertera di atas surat itu.
"Pengadilan itu apa?" tanyanya pada scurity yang baru saja ingin berpamitan pergi.
"Intinya sidang itu adalah sebuah perkara yang menyangkut hukum Madam," jelas bapak itu untuk yang terakhir kalinya.
Namun kali ini Dara menganggukan kepalanya paham, "baik Madam, kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya dan segera melangkahkan kakinya pergi.
Dara hanya menatap kertas itu dengan diam, karena membacanyapun dia tidak akan pernah mengerti apa arti dari isi surat itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menghubungi seseorang untuk menjelaskan apa isi surat ini?" gumamnya dalam hati.
Sebenarnya, Dara bukanlah orang bodoh yang tidak mengetahui apa itu sidang pengadilan, dia tahu, karena di Negaranya juga ada hal seperti itu.
Tetapi dia tidak tahu, masalah atau hukum apa yang sudah dia langgar hingga mendapatkan surat pengadilan ini, sedangkan di dalamnya terdapat banyak huruf-huruf yang membuat kepalanya pusing.
Dia masih dalam tahap belajar bahasa Indonesia dengan benar, bahkan terkadang ketika Jingga bicara kepadanya, dia membutuhkan kamus tersendiri, walau tak banyak orang yang mengetahuinya.
"Ahh, sebaiknya aku meminta bantuan dari Tyas saja, itu lebih baik dari pada aku harus meminta pertolongan dari keluarga besar itu," ucapnya, dan segera melangkahkan kakinya mengambil ponsel yang terletak di atas meja makan. Lalu dia mengirimkan pesan singkat kepada Tyas untuk menanyakan keberadaan sahabatnya itu.
Dia takut jika Tyas sedang berada di luar Negara menemani suaminya Justin untuk traveling.
Namun seperti keberuntungan berpihak kepadanya, saat ini Tyas sedang berada di apartemen lamanya, dan itu berarti posisi dia tidak jauh dari rumah Dara saat ini, sehingga tanpa ragu Dara meminta untuk Tyas segera datang ke rumahnya.
"Sebenarnya apa isi surat ini?" tanya Dara, dengan terus memandang surat yang berada di tanganya.
Sudah beberapa lama dia tinggal, dan baru pertama kali ini dia mendapatkan surat cinta yang begitu penting dari pengadilan.
Merasa begitu penasaraan, Dara mencoba untuk membuka dan membaca surat yang berada di tanganya sedari tadi itu.
Dia mencoba untuk membaca suluruh surat itu, dan tatapannya terfokus pada tulisan yang dicetak tebal, Sidang Tuntutan Hak Asuh Atas Anak Bernama Naura Jingga Maurice.
Seketika jantungnya merasa sesak yang mendalam, dengan perasaan kalut Dara kembali mencoba untuk mengerti makna dari kalimat tersebut, dia membuka situs google atau apapun yang bisa membuatnya mengerti.
Hingga dia mendapatkan sebuah kenyataan bahwa surat ini adalah panggilan untuknya menyerahkan Jingga kepada Tasya yang merupakan orang tua kandungnya.
Bahkan tedapat tulisan yang menyatakan bahwa Dara adalah warga negara asing, sedangkan Jingga adalah warga negara Indonesia asli, dan terdapat pula kalimat yang menuliskan bahwa Dara akan dipidanakan untuk kasus pemalsuan surat dan identitas kelahiran anak dan identitas kewarganegarannya.
Dara mengusap wajahnya kasar, dia ingin marah dan berteriak sekeras mungkin, namun dia sadar posisinya sekarang memang salah.
Tetapi bukan dia yang memaksa Jingga untuk ikut dengannya, dan bukan dia juga yang memalsukan surat kelahiran Jingga, tetapi kenapa semua masalah baru muncul saat ini. Dara benar-benar tidak tahu, apa yang harus dia lakukan saat ini, bagaimana caranya dia berjuang untuk mendapatkan hak asuh Jingga, bagaimana caranya membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Dengan amarah yang memuncak, Dara mengacak-acak surat itu, dan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan datang ke persidangan itu.
Biarkan semua orang berpikir dia adalah wanita egois, akan tetapi dia tidak akan memberikan anaknya kepada Tasya. Itu tidak akan Pernah terjadi.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*