It’S So Hurts

It’S So Hurts
Rapuhnya Kehidupan Zein



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Di saat semuanya tengah sibuk bertengkar, tiba-tiba terdengar suara jeritan Zein dari dalam, dan membuat Aiden serta Jesper yang langsung mendobrak pintu kamar Zein.


"Zeeeiinnnnnn," teriak seluruhnya, melihat Zein yang menikam dirinya sendiri dan berulang-ulang menusuk perutnya sendiri, hingga darah itu keluar dari mulutnya.


"Ya Tuhan, apa yang sedang kamu lakukan Zein, sadar kamu, sadar," teriak Valen, merasa sesak melihat keponakaanya depresi seperti ini.


Sedangkan Stella, sudah tidak bisa menahaan sesak nafasnya menahan semua ini. Berbeda dengan Tasya yang saat ini memeluk tubuhnya sendiri merasa bahwa dirinya adalah penyebab segalanya.


Dengan sigap Aiden langsung merampas pisau yang berada di tangan Zein, agar tidak melakukan hal gila lagi. "Cukup Zein, cukup," bentak Aiden, yang juga merasa frustasi melihat adiknya seperti ini.


"Daraa,,Daraa,kembalilah sayang,,kembalilah sayang, ku mohon,,aku mohon," gumam Zein, sebelum menutup matanya dengan perlahan.


Namun sebelum menutup matanya, Zein mendapatkan bayangan Dara yang berdiri dihadapaanya.


"Daraa,,kamu kembali sayang,,Daraa,,Daaa,,,raa," ucapnya sebelum, benar-benar menutup matanya.


"Zeiiinnnnnn," teriak Valen dan Stella bersamaan.


Jesper dan Aiden langsung mengangkat tubuh Zein, untuk segera mendapatkan perawaataan.


****


Sesampainya di rumah sakit, semua menunggu dengan harap cemas, menanti Stella yang sedang menangani Zein di dalam keluar.


"Permisi, maaf Dokter Valen, Anda dipanggil oleh Dokter Stella ke dalam, karena jantung pasien mulai melemah," lapor salah satu suster utusan Stella.


Dan tanpa berpikir panjang lagi, Valen langsung masuk ke dalam untuk menyelamaatkan keponakaanya.


Sedangkan Aiden, saat ini terlihat sibuk mencari tau, tentang kematiaan Dara.


Dia benar-benar merasa bahwa semua ini pasti ada yang salah, tapi tidak tahu di manakesalahaanya.


"Arraarrrggghhhh siall," umpat Aiden, yang merasa tidak berdaya untuk melakukan sesuatu untuk adik angkatnya.


Sedangkan Jesper, hanya bisa terdiam tanpa mengerti apapun dari duduk permasalahaan ini.


****


Cukup lama Stella, Valen beserta tim dokter berusaha keras untuk menyelamatkan Zein, dan akhirnya mereka berhasil untuk membuat Zein melewati masa kritisnya.


Namun, semenjak Zein sadar dari siumannya, dia hanya terus diam dengan arah tatapan mata yang kosong.


Tidak ada jiwa,tidak ada hembusan nafas yang terlihat, hidup dan tatapannya benar-benar mati.


"Zein," panggil Stella, namun tidak ada jawabaan sama sekali.


Siapapun yang memanggilnya, Zein sama sekali tidak akan menggubrisnya.


Diam,,diam,,diamm,,dan diam, hanya itu yang dilakukan oleh Zein.


Terkecuali ketika dirinya tidur, dia hanya akan menyebutkan nama Dara dan Dara.


Bahkan sudah dua minggu berlalu, Zein masih tetap sama dengan mental sakitnya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang, kita tidak bisa diam begini terus," lirih Stella memandang ke arah Aiden putranya, dan lalu mengalihkan pandanganya menatap Zein.


Sedangkan Tasya, semenjak dirinya sudah resmi bercerai dengan Zein, Valen mengambilnya dan tinggal bersama di rumah Valen.


Hanya terkadang saja, dia akan datang setiap harinya untuk mengurus dan merawat Zein.


"Tasya, apa kamu sudah pernah memeriksa kandunganmu?" tanya Stella, yang sedari tadi melihat Tasya mondar mandir membersihkan rumah Zein.


Perlahan Tasya menatap ke arah Zein, dan mencoba menggengam tangan Zein untuk menyentuh perutnya yang mulai mengembung.


"Apa kamu bisa merasakaan kehadiraanya? Dia bayi kita Zein," lirih Tasya, dengan perlahan mencoba menuntun jemari Zein untuk mengusap perutnya lembut buncitnya.


Namun masih sama, Zein sama sekali tidak bereaksi apapun. Tasya mencoba tersenyum di dalam keketiran. Hingga dia menghela nafasnya kasar. "Ya sudah kalau kamu masih belum bisa menerima bayi kita, tapi kamu makan ya Zein, please, sudah 2 minggu kamu diinfus seperti ini Zein, kamu tidak ingin sehat ? Kamu tidak ingin mencari Dara," ucap Tasya, dan itu sedikit membuatnya bereaksi.


"Dara,,Dara,,kembali sayang,,aku mencintaimu Dara," lirih Zein pelan, pertama kali mengeluarkan suarnya, namun lagi-lagi, hanya nama Dara yang ada di otak dan pikiraanya.


Tasya berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah, mendengar Zein yang masih terus menerus mengucapkan nama kekasihnya.


Stella melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Zein, dan mencari seluruh barang-barang Dara yang masih tersisa.


"Mamah mau ngapain?" tanya Aiden bingung, yang menggelar seluruh pakaian milik Dara di atas tempat tidur.


Stella menoleh sekilas ke arah Aiden, dan kembali melakukan kegiataanya, "Mamah itu mau, agar Zein bisa mengingat dan menghirup aroma tubuh Dara, Mamah yakin kok, jika therpy alami ini kita lakukan berulang-ulang dan sering, Zein pasti akan sembuh setelah ini," jawab Stella.


"Mah, jika Mamah terus menerus melakukan ini, itu akan sulit membuat Zein melupakaan Dara Mah, ingat masih ada Tasya," ucap Aiden pelan, berusaha menekaan suaranya, agar tidak terdengar oleh Tasya.


Stella menggelengkan kepalanya kuat, "sayang, terkadang perasaan itu sama sekali tidak bisa dipaksakaan, mau seberusaha apapun Tasya berusaha, kalau memang hati dan cinta Zein hanya untuk Dara, kita tidak akan pernah bisa memaksanya," seru Stella, menjelaskan pada putranya, bahwa terkadang hidup tidak akan sesuai dengan pengaturan manusia.


Setelah Stella dan Aiden selesai dengan urusannya, mereka berduapun langsung berpamitan pulang dengan Tasya.


"Oh ya Tasya, nanti malam akan ada yang jaga di sini ya, dan setengah jam lagi, sudah waktunya Zein beristirahat, langsung tidurkan dia di atas tempat tidur yang sudah saya siapkan ya dan jangan lupa, kesehataan kamu dan bayi kamu dijaga ya, kami pamit dulu," ucap Stella dengan lembut, diikuti oleh Zein yang mengikuti langkah Mamahnya.


Tasya menatap kepergian Stella yang kini kian menjauh, dan hilang di balik banti. Lalu dia kembali menatap ke arah Zein yang masih terus saja seperti itu.


"Apakah kamu benar-benar tidak akan sembuh, jika tidak ada dia di sini Zein? tanya Tasya pelan, menatap wajah Zein dengan tatapan sendu.


Tasya yang sudah lelah, kini memilih untuk bangkit dari duduknya, dan mengambil handuk kecil, untuk menyeka tubuh Zein. "Aku punya cerita lucu Zein, apa kamu mau mendengarnya?" tanya Tasya lagi, dengan telatennya membersihkan tubuh zein.


"Kemarin itu, ada teman aku bilang kalau dia itu mau diet, tapi dia selalu saja bohong, setiap aku tanya, 'hey, kapan kamu akan diet? Dia jawab, besok, mungkin lusa atau nanti, gituh, hahahhahaha, lucukan Zein, iya teman aku memanglah seperti itu," seru Tasya, berbicara serta tertawa sendiri tanpa ditanggapi sama sekali oleh Zein.


"Nah sudah bersih Zein, sekarang tidurlah, yuk aku bantu," pintanya, dengan membantu Zein untuk menggeser tubuhnya naik ke atas tempat tidur.


Dengan perlahan Tasya menopang tubuh Zein yang sangat berat, "oh Tuhan, Zein, kamu sangat beratlah, anak kita jadi sampai mengeluh ketika aku menopangmu," keluh Tasya memegangi perutnya yang keram sedikit, mungkin karena sedikit lelah.


Ketika baru saja meletakaan kepalanya, Zein mulai bereaksi mengerjapkan matanya mencari aroma tubuh Dara, dia menangis dan memeluk guling yang biasa digunakanan oleh Dara.


"Hisskkkkk,,hiskkkk,hiiissk," tangis Zein yang terdengar sangat pilu sekali, di telinga Tasya.


Tasya mengusap lembut kepala Zein, agar mantan suaminya itu merasa sedikit tenang dan tidak terus menerus seperti ini.


"Zein, apa kamu tahu? Jika kamu begini terus, sakit, dan tidak mau mengikhlaskan Dara, dia pasti akan sedih, hatinya akan sakit ketika melihat kamu seperti ini Zein, belajar ikhlas, tidak akan pernah ada langit yang mendung terus menerus, suatu saat nanti, pasti kamu akan menemukan langit yang cerah Zein," ucap Tasya memberikan nasihat kepada Zein, agar pria itu bisa sedikit lebih mengerti dan sadar, bahwa biar bagaimana pun dia bersikap. Yang pergi akan tetap pergi, yang hilang akan tetap hilang, yang tiada juga akan tetap tiada.


Sampai akhirnya diri kita sendirilah yang menyadari, bahwa semua tingkah kita ini, hanya menyakiti diri kita sendiri yang mencoba untuk menentang takdir Tuhan yang sudah tergariskan dengan sempurna.


***


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻