
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
10 tahun berlalu
Zein terlihat sedang berjalan di sekeliling perumahan, untuk mencari sosok keponakananya yang tidak tahu berada di mana, sampai dia melewati sebuah lapangan besar di sekitaran komplek perumahaan, terlihat seorang anak laki-laki yang tengah duduk dengan bermainkan batu krikil di sekelilinganya, sambil melihat ke arah teman-teman yang sepantaranya sedang bermain bola bersama.
Dia adalah Griffin, sosok anak yang di acuhkan dan di bully oleh teman-teman lainya, hanya lantaran dia yang di anggap sebagai pembawa sial. Seluruh tetangganya menghujat dan mengklaim jika dirinyalah yang menjadi penyebab dari orang tuanya meninggal.
Meskipun Jesper atau siapapun tidak pernah mengatakan apapun, namun karna namanya juga tetangga 1000 bibir. Mereka akan berpikir dan menyambungkan segala pemikiran mereka sendiri.
Dan karna Jesper yang memilih diam dari pada menanggapi ucapan mereka, karna pernah sekali Jesper dan Valen menegur tetangga dan melapor ke Pak Rt untuk memberitahukan kepada warga agar berhenti untuk membully Cucunya itu.
Namun mungkin memang akhlak dari mereka yang minus, sehingga meski sudah di tegur, mereka bahkan semakin gencar untuk menghebokan gosip jika Griffin adalah anak Pembawa sial dan sosok Iblis pencabut nyawa.
Bahkan tak segan-segan mereka mengatakan dan menerapkan hal itu pada anak-anak mereka, sehingga jadilah seperti ini, tidak ada yang mau bermain denganya karna semua berpikir jika mereka dekat dengan Griffin, maka nyawa mereka juga akan hilang seperti orang tuanya.
Griffin terlihat diam dan memperhatiakan keceriaan wajah teman-temannya yang sama sekali tidak pernah menganggap dia ada.
Buuugghhh bola yang sedang mereka mainkan secara tidak sengaja terkena kepalanya, hingga bunyi dan membuatnya merintih kesakitan.
“Aawww,” rintihnya memegang kepalanya yang terkena bola.
Namun bukanya minta maaf atau membantu Griffin, teman-temanya itu semua malah asyik mentertawakanya dengan sangat bahagia, “hahahahhaha lihatlah anak pembawa sial itu,sungguh menyedihkan sekali dia,” ujar salah satu dari mereka yang terus menerus menghina Griffin dengan gencarnya.
“Hahahahha, iya muak sekali kita melihat wajah sialnya yang selalu saja menonton kita bermainkan.” Sahut salah satunya lagi.
Griffin hanya mampu menundukan kepalanya menahan sakit akibat hinaan demi hinaan yang di lontarkan teman-temanya itu.
“Aku bukan pembawa sial,” gumamnya dalam hati dengan mengepalkan tangnya menahan amarah yang sangat menyeruak.
Ketika salah satu dari mereka melihat Griffin mengepalkan tanganya, dia langsung melangkah dan mengambil bola yang berada di sebelah Griffin.
Bugghhh dia menendang Griffin dengan sangat keras, hingga Griffin tersungkur ke tanah dengan memegang kakinya yang terasa sangat sakit sekali mendapatkan tendangan itu.
“Arrrgghh Kenapa kamu menendangku? Apa salahku? Bahkan aku tidak pernah menganggu kalian, aku hanya duduk di sini menonton, apakah jika itu tidak boleh,” bentak Griffin yang menangis menatap ke arah teman-temanya yang asyik menertawakanya itu.
"Salahnya karna kamu adalah anak pembawa sial, jangan pernah bermimpi untuk berteman dan bermain bersama kita, nanti sialmu itu terikut pada kita semua, bener gak,” serunya meminta persetujuan dari teman-temanya yang lain.
“Iya benar, ayo usir saja dia dari lapangan ini,” sahut salah satu dari mereka.
Dan sontak saja, mereka semua langsung mendorong tubuh Griffin hingga menjauh, dan di saat itu datanglah sosok peneyelamatnya dengan menatap tajam ke arah anak-anak itu.
“Berhenti bertindak kasar jika tidak saya laporkan kalian semua ke polisi,” ancam Zein yang terlambat menolong Keponakanya itu.
Karna ketakutan dengan ancaman serta wajah Zein, seluruh anak tadi langsung lari mencicing ketakutan. Mereka takut jika Zein benar-benar akan melaporkan mereka semua ke polisi.
Setelah anak-anak tadi pergi, Zein memandang miris ke arah anak generasi zaman sekarang yang sangat minim pendidikan dan etika kehidupan. Sehingga begitu mudahnya anak di usia belia seperti mereka semua ini, sudah bisa menghujat dan bahkan menyakiti fisik anak lainya.
Zein mengenduskan nafasnya kasar, dan menoleh ke arah Griffin yang tengah duduk memeluk lututnya menangis ketakutan.
Zein mengepalkan tanganya keras melihat luka memar di kaki Griffin, dan di beberapa bagian tubuh lainya. Dia merasa sangat gagal menjadi seorang Paman melindungi keponakannya itu . “Maafkan Uncle Griffin, karna terlambat lagi menyelamatkanmu,” batinya menatao keponakanya dengan begitu sendu.
“Ayo Paman obati lukamu, jika tidak nanti dia akan infeksi,” ucap Zein dengan lembut, agar Griffin tidak takut padanya.
Griffin terlihat seperti ragu untuk ikut bersama Zein, namun dia mengingat jika Zein selalu ada membelanya tiap kali teman-temanya itu menghina dan melakukan kekerasan padanya.
“Ayo, jangan takut. Paman bukanlah orang jahat,” ucapnya lagi, karna melihat Griffin yang gemetar melihatnya.
Dengan patuh Griffin mengikuti langkah Zein yang menuntunya ke arah sebuah taman, dan dia meninggalkan Griffin sejenak membeli obat untuk Griffin.
Cukup lama Griffin menunggu dengan diam, tak lama kemudian Zein kembali lagi dengan membawa obat-obatan yang tadi dia beli.
Zein mengobati luka memar di kaki Griffin dengan telaten. Berharap jika lukamitu tidak akan membengkak dan lebih serius lagi.
“Sepertinya ini sudah waktunya untuk melatih Griffin menjadi orang kuat dan tak terkalahkan,” batin Zein yang sudah yakin ingin mulai membentuk pertahanan diri Griffin.
“Nah sudah selesai, apakah sakitnya berkurang?” Tanyanya dengan ramah. Lalu di jawab anggukan kepala oleh Griffin.
“Terima kasih Paman, karna sudah membantuku,” serunya dengan lembut.
“sama-sama Griffin,” jawab Zein tidak kalah ramah.
“Kenapa kamu tadi tidak melawan Griffin? Padahal mereka udah jahat sama kamu,” Serunya lagi yang geram melihat keponakanya ini hanya diam saja ketika di bully dan di kasarai oleh teman-temanya.
Griffin terdiam tidak tau ingin berbicara apa, dia memilih menundukan kepalanya karna tidak ingin mejawab pertanyaan itu.
Zein menarik nafasnya dalam-dalam melihat Griffin yang begitu lemah, maka ini akan sulit untuk membentuk pertahannya menjadi penguasa dunia.
“Griffin, aku mengenal orang tuamu dulu, mereka sangatlah kuat dan berbakat dalam mengendalikan senjata dan ilmu bela diri lainya. Mereka adalah orang-orang yang tidak mudah di tindas. Apa lagi Mamah mu, dia adalah wanita yang langkah. Karna dia mampu melawan musuh-musuhnya tanpa ampun.” Ucapnya menceritakan sosok Albert dan Briell.
Griffin menoleh sekilas pada Zein, “aku tidak mengenal mereka Paman, jadi aku tidak mengtahui akan hal itu,” jawabnya datar. Membuat Zein makin gereget kepadanya.
“Griffin, Papah dan Mamahmu itu menginginkan jika kamu menjadi orang yang kuat, tidak lemah dalam meghadapi musuh-musuh, agar kelak kamu bisa melindungi diri kamu sendiri, apa kamu tau, jika kamu kuat dan maju. Paman yakin jika semua teman-temanmu itu akan mau berteman dan bermain bersama mu,” ucap Zein lagi. Yang membuat Griffin menatapnya dengan intens den mendengarnya dengan tenang.
“Aku tidak tahu Paman, kakek bilang aku tidak boleh mengenal orang tuaku, dan bahkan hingga sekarang aku belum pernah mengetahui ataupun melihat wajah mereka. Padahal aku sangat ingin,” lirihnya pelan, namun masih bisa membuat Zein menatapnya dengan sedih.
“Tunggu sampai kamu mengerti nanti Griffin, suatu saat nanti kamu pasti akan tau penyebab Kakek kamu seperti itu.” Balas Zein yang memberikan sebuah pengertian pada ponakanya itu.
Di usianya sekarang, sungguh sulit baginya untuk memecahkan misteri ini, dia begitu ingin tau siapa sebenarnya orang tuanya, mengapa sampai dia tidak boleh mengenal atau pun mengetahui wajah dari Papah dan Mamahnya.
Zein yang melihat Griffin sibuk dengan pemikiranya, kini mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Aiden agar cepat menyelesaikan warga-warga dan anak-anak yang tadi sudah berbuat kasar pada Griffin.
Tindakan kekerasan ini sudah tidak bisa di toleransikan lagi, walaupun Griffin hanyalah anak biasa, setidaknya di usia seperti mereka tidak melakukan Tindakan pembullyan seperti itu.
Ini akan bisa merusak mental dan fisik si anak yang mendapatkan Bullyan itu. Zein tau rasanya karna dia pernah ada di posisi itu. Dimana tidak ada yang mau berteman denganya dan dirinya yang di Bully karna tak memiliki orang tua.
“Griffin, ayo ikut ke rumah Paman, apa kamu ingat Nenek Valen suka memasakan makanan favoritemu kan,” ajaknya menghibur Griffin yang terlihat murung saat ini.
Dia menjawab dengan anggukan kepalanya singkat, “hemm,ayo paman Griffin juga kangen sama Nenek, sudah lama Griffin tidak main bersamanya,” sahutnya dengan gembira.
Memang dari kecil ketika Jesper pergi bekerja, Valenlah yang merawatnya dari kecil. Sehingga Griffin tidak ragu ataupun seggan pada Valen. Namun dengan Zein fia agak takut. Karna Pamanya itu tidak pernah terlihat senyum kepadanya.
Apa lagi dirinya yang biasa melihat Pamanya itu keluar malam, membuatnya jadi semakin curiga pada tindakan Zein.
Griffin sedikit lupa jika dia mempunyai adik bermain dengan Kevin, Kintan, dan juga Jevier.
Tiga anak sahabat Papahnya yang tidak dia ketahui. Hanya saja Griffin tidak terlalu sering bermain dengan mereka. Karna usianya terpaut hampir dua tahun. Membuat Griffin yang menjadi pelindung mereka.
Memang cukup monoton bermain dengan adik-adiknya, namun Griffin tidak ada pilihan lain karna dia memang.
Saat ini terlihat Zein yang tengah menggendong Griffin di belakangnya. Karna kakinya yang memar tadi terasa ngilu jika dia berjalan terlalu lama.
“Griffin apa kamu tau, jika untuk bisa di akui oleh teman-teman dan masyarakat, kamu harus menjadi orang yang kuat dan cerdas, agar mereka mengagumi sosokmu dan segan padamu.” Seru Zein bercerita padanya.
“Aku tidak tau caranya menjadi kuat Paman, aku hanyalah seorang anak yang lemah dan tak berguna,” jawabnya dengan tidak percaya diri.
“Paman akan melatihmu menjadi orang kuat dan tak terkalahkan, tapi tunggu kakimu sembuhnya, setelah itu kita akan mulai latihan dengan ketiga Paman lainya,” jawab Zein dengan tenang.
“Tiga Paman yang lainya?” tanyanya dengan mengeritkan keningnya bingung.
“Paman Vincent, Paman Jemes, dan Paman Martin, mereka juga akan membantumu untuk menjadi orang kuat,” balasnya lagi.
“Kenapa harus Paman?” Tanya Griffin.
“Sudah Paman bilang jika ini adalah kewajibanmu untuk persiapaan dewasa nanti, selain itu kamu memang harus menjadi pemberani untuk melawan teman-temanmu seperti tadi.” Jawabnya.
“Baiklah Paman aku mengerti,” balas Griffin.
Cukup lama mereka berjalan, hingga kini mereka sudah sampai di rumah sederhana milik Valen dan Zein.
“Nenek,” teriaknya masuk ke dalam di saat Zein telah menurukanya dari gendong tubuhnya.
“Griffin jangan berlari! Nanti kamu jatuh,” teriak Zein memeberikan peringatan pada keponakanya.
Griffin terus berlari masuk ke dalam, dan menemui Valen di dapur.
“Nenek,” ucapnya mengejutkan Valen.
“Eh, astaga Griffin, bikin Nenek kaget aja, kalo Nenek jantungan bagaiamana,” sahut Valen dengan memegangi Dadanya yang bergemuruh.
“Heheh, maaf Nek Griffin tidak sengaja,” balasnya dengan senyum manis.
Valen membalas senyum itu dengan ramah, “ya udah Nenek Maafin, tapi jangan di ulangin lagi ya,” jawab Valen dengan suaranya yang ramah.
“Siap Nek,” balas Griffin.
“Nenek masak apa?” Tanyanya dengan melihat Valen yang sedang memotong-motong sayur untuk masakanya.
“Ini adalah Soup Ayam kesukaan kamu, makanya tadi Nenek menyuruh Paman Zein untuk menjemputmu sayang,” jawab Valen, Griffin hanya mengangguk-anggukan kepaanya mengerti. Sambil melihati sayuran-sayuran yang di masukan oleh Valen.
“Bagaimana sekolahmu hari ini Fin?” Tanya Valen yang ingin mengetahui setiap pertumbuhan cucunya itu.
“Tidak ada yang menarik Nek.” Jawabnya dengan malas. Karna seperti biasnya. Dia hanya bermain sendiri tanpa siapapun yang mau menemaninya.
Dan bisanya dia hanya akan menghabiskan waktunya di Perpustakaan saja, membaca buku agar menambah wawasanya.
Tak heran jika dirinya menjadi bintang sekolah, bahkan dia memiliki berbagai sertifikat dan mendali kemenangnya sebagai penghargaan dari beberapa lomba kecerdasaan.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻