
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah keluar dari kantor polisi tadi, Zein langsung kembali ke rumah, karena dia tahu jika dia tidak akan bertemu dengan Dara hari ini.
Sesampainya di rumahnya, dengan dalih ingin mengingat semua kenangan bersama Dara. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat barang-barang Dara sudah tidak ada, malah sudah tergantikan barang lain.
“Siapa yang berani mengambil atau menukar barang di rumahku?” tanyanya dengan membentak.
Valen dan Tasya yang sedang merapikan barang saat ini langsung menoleh ke arah Zein, yang nampak sangat-sangat marah.
“Zein, istri kamu sekarang adalah Tasya, jadi tidak boleh ada barang-barang masa lalu di sini,” sahut Valen, tanpa ada rasa takut.
Mendengar jawaban itu, emosi yang sedari tadi sudah ditahannya, kini mulai memuncak.
Dorrrr! Zein menembak ke arah kaca, membuat Valen dan Tasya sontak terkejut. “Letakkan barang Dara ke tempat semula! Atau saya akan menceraikan wanita ini sekarang juga,” ancam Zein, tidak main-main.
“Tapi Zein—” ucap Valen terhenti ketika Zein terlihat mengangkat tangannya.
“Sekarang Bunda pulang! Biarkan wanita ini yang mengembalikan barang-barang Dara seperti semula,” tegasnya sambil tegasnya menatap tajam ke arah Valen.
Valen menoleh sejenak ke arah Tasya yang kini masih bisa tersenyum, walau menyimpan luka yang banyak. "Ttidak apa, Bunda. Aku bisa sendiri kok,” ucapnya, seakan tahu jika Valen mengkhawatirkannya.
Valen menganggukkan kepalanya singkat, dan menatap ke arah Zein. "Bunda tahu kamu tidak menyukainya. Tapi jika bisa Bunda bisa mohon, jangan sakiti dia,” pinta Valen tulus yang sama sekali tidak digubris oleh Zein.
Dia malah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. "Ingat! Kembalikan barang-barang cintaku seperti semula! Jika tidak, aku akan menghabisimu,” ancamnya lagi. Valen sangat tahu jika Zein tidak pernah main-main dengan ucapannya.
“Tasya, Bunda pulang dulu, ya. Besok Bunda akan kembali lagi. Besok kita belanja, ya. Sekarang kalau kamu sudah selesai mengemas barang wanita itu, kamu istirahat ya, biar babynya sehat. Oke,” nasihatnya sebelum dia berpamitan untuk pulang.
Sedangkan Zein, saat ini memilih untuk tidur. Dia benar-benar lelah hari ini. Namun, sebelum dia tertidur, dia kembali mengirimkan pesan pada Dara lewat ponsel Tyas.
“Kesalahan tetaplah sebuah kesalahaan, aku ingin terlahir kembali, dengan identitas yang baru, tidak ingin menjadi kekasihmu sekaligus sepupumu. Aku tidak ingin nenjerumuskanmu ke dalam lembah hitam yang aku sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk keluar,. Aku sadar bagaimana aku telah menghancurkan kesempurnaan hidup serta kepercayaanmu. Aku juga tahu bagaimana perasaan cinta yang dulu tumbuh kini perlahan mulai terkikis. Dara, i miss you so much, please came back to me,” tulisnya pada pesan itu, dan langsung dibaca entah oleh Tyas atau Dara-nya langsung.
Zein menunggu sebentar, namun dia tidak melihat tanda-tanda orang itu akan typing, ataupun membalas pesan-nya, jadia dia putuskan untuk meletakkan kembali ponselnya dan tertidur.
Bukannya tertidur, Zein malah menangis. Bukan dia lemah sebagai laki-laki, tetapi hatinya benar-benar sakit, bahkan dia tidak sanggup menahannya lagi.
“Daraaaaa,kembalilah, Sayangg. Aku mohon, Dara. Pleaseee,” tangisnya, sambil mengusap lembut sisi sebelahnya, di mana Dara biasa tidur.
“Arrrrrggghhhhh kenapa Tuhan mempertemukan lalu memisahkan. Kenapa Dia harus memberikasn kesakitaan padaku dan Dara, apa salahnya,” jeritnya, tanpa sadar melupakan sosok yang jauh lebih sakit saat ini.
“Di dalam pikiraanmu cuman ada dia Zein, Kamu sakit ketika Dara juga sakit, tapi kamu tidak pernah bertanya apakah aku baik - baik saja, atau aku juga sakit,” batin Tasya, sambil menangis memeluk tubuhnya yang malang.
“Ini sangat menyakitkan, Tuhan. Sungguh ini sangat sakit, dia bahkan tidak peduli dengan bayi yang aku kandung walau ini jelas-jelas bayinya, ini adalah darah dagingnya. Apa yang wanita itu punya tapi aku tidak punya?
Rasanya benar-benar sangat sesak,”tangis Tasya dengan tanpa suara, lalu kembali lagi, mengemasi barang-barang milik Dara.
****
Sedangkan di sisi lain, terlihat Dara yang masih terdiam memandang kosong ke depan,
Dara, aku dan Justin memutuskan untuk pindah dari negara ini, kami tidak mmau berurusan dengan Zein, dan kam—"
“Aku akan pulang ke rumah ayahku,” sahutnya cepat.
“Tapi temani dulu aku balik ke rumah Zein, mengambil seluruh identitasku, agar aku bisa keluar dari negara ini, pasport, kartu identitas, ATM semua. Aku butuh mengambilnya,” jawab Dara.
Justin menggelengkan kepalanya lemah, “tidak Dara, kamu tidak boleh kembali ke rumah itu. Kamu harus ingat, Zein tidak akan melepaskanmu, jika sampai dia kembali mendapatkanmu," arangnya pada Dara.
“Enggak, Zein tidak bisa melarang aku begitu saja. Dia yang salah dan dia tidak ada hak untuk mengaturku lagi," balas Dara.
Justin berpikir sejenak, lalu dia menemukan ide, dia teringat akan temannya yang bekerja di imigrasi dan bisa membuatkan paspor negara baru untuk Dara.
“Ini harus dicoba, Dar," tegas Justin. Dia benar-benar tidak ingin jika Dara sampai bertemu dengan Zein.
Mereka tahu siapa Zein, dan bagaimana sikapnya. Itu yang membuat Justin sangat khawatir jika mereka bertemu lagi.
Di saat mereka sedang berbincang,. Dari arah
luar, pintu tiba-tiba didobrak, membuat Dara,Justin dan, Tyas yang baru saja kembali dari dapur, terdiam dengan rasa gelisah.
“Lord Arvan," gumam Justin, yang membuat Dara menoleh menatapnya.
“Kenapa Justin memanggilnya Lord?" tanyanya bingung dalam hati. Namun, tidak berani menanyakannya pada Justin.
“Ya ini saya," sahut Arvan.
“Saya mau langsung to the point saja! Seret wanita ini! Dan pastikan bayi yang ada dikandungnya gugur!" perintah Arvan dengan tegas pada anak buahnya.
“Tidakkk,,tidakk. Apa yang kamu lakukan? Kenapa bayiku harus digugurkan? tolaknya mentah-mentah, dan berlindung di balik tubuh Justin dan Tyas.
Arvan tersenyum kecut, dan menatap tajam ke arah Dara. "Karena bayi ini tidak pantas hidup! Dan akan menjadi malapetaka untuk semuanya," tegas Arvan.
“Tangkap dia sekarang!" perintah Arvan tegas.
Dara langsung berlari naik ke atas, dan mengambil ponsel Tyas, ldengan cepat menghubungi Zein.
Tutt,,tutt,, suara panggilan telepon berdering.
"Buggghhh,,buggghhh, buka pintunya, Nyonya!! Bekerja samalah sebelum kami dobrak," ancam mereka terus-menerus menggedor pintu.
Dara semakin panik dan ketakutaan ketika Zein tak kunjung mengangkat panggilan telepon.
"Zein, angkat, pleaseee," harapnya dengan perasaan ketakutaan.
Di sisi lain, Zein yang mendapatkan telepon secara berulang kini mulai membuka matanya, dan sontak terkejut melihat nama Tyas di ponselnya.
“Hallo Daraaa," sahutnya dengan perasaan bahagia.
“Zein,,Zein. Pleasee bantu aku,plasee, dia datang ingin membunuh bayi kita, Zein.
Pleasee jangan ambil janinku pleasee," tangisnya memohon bantuan dari kekasihnya.
Seketika darah Zein langsung mendidih ketika mendengar kalimat dari Dara. "Siapa yang ingin membunuh bayi kita?" tanyanya dengan membentak.
“Arvan," jawab Dara cepat.
Bugghhhh,,buggghh suara gedoran pintu kini terdengar cukup nyaring. Suara dobrakan pintu serta teriakaan Dara yang sangat keras tedengar di telinga Zein.
Membuat Zein langsung mematikan ponselnya, dan bergegeas menuju rumah Justin.
Dara masih berusaha mempertahankan
dirinya, dengan memukul anak buah Arvan, lalu berlari secepatnya keluar.
“Lord kumohon jangan seperti ini, Lord," tangis Justin dan Tyas bersamaan.
Dengan langkah cepat Dara menuruni anak tangga, dia berlari dan melihat Arvan jauh darinya, hingga membuatnya mendapatkan celah untuk kabur.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻