It’S So Hurts

It’S So Hurts
Harapan Yang Tidak Nyata



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"Mau jujur apa sih sayang, kamu tuh aneh, tahu," sahut Zein kelagapan.


Dara menggelengkan kepalanya, menolak apa yang dikatakan oleh kekasihnya, namun lagi-lagi di saat dirinya mau membuka suara, terlihat ponsel Zein yang kembali berdering, dan memperlihatkan nama Valen di dalamnya ,


“Angkatlah, mungkin ada suatu hal yang terjadi dengan calon istrimu," tungkasnya dengan penuh penekanan.


Zein diam dan memilih untuk mematikan ponselnya.


“Kenapa tidak diangkat? Takut karena ada aku di sini?" cerca Dara, merasa muak dengan sikap keluarga Zein.


“Apa sih yang dimiliki oleh perempuan murahan itu ? Apa yang dia miliki sampai aku tidak mempunyainya?" tanyanya dengan suara yang mulai bergetar.


“Sayang," sahut Zein, mencoba memeluk tubuh Dara, namun lagi-lagi ditepis oleh wanita kesayangannya itu.


“Tell me, Zein, siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa ada di tengah-tengah kita?" tanyanya, meminta penjelasan dari Zein.


Zein terdiam menghela napasnya kasar, lalu menatap lurus ke depan, enggan menatap wajah kekasihnya, "Dia adalah adik dari salah satu korban pembunuhan yang aku dan Kak


Aiden lakukan," jelasnya jujur, tanpa ada yang ditutupi.


“Dulu aku gelap mata, dan memang sempat ingin meleceeehkan-nya, tetapi aku tersadar, jika aku sudah memiliki kamu," ungkapnya lagi, membuat Dara mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Jadi, di saat kamu tidak jadi menjemputku di hari itu, ternyata kamu sedang bersamanya dan berniat menidurinya?" sahutnya mengambil inti dari permasalahan.


“Bukan begitu, Sayang, dengarin dulu," pinta Zein, merasa jika dirinya sudah terjebak dalam kesalahanya sendiri.


Dara kembali diam, menunggu apa yang akan diakui lagi oleh pembohong besar ini.


“Pada saat itu, aku hanya berniat untuk membuatnya depresi agar kakaknya bisa melihat jika adik kesayanganya hancur di depan matanya."


“Tapi tidak harus menidurinya Zein Alucas!" teriak Dara, yang benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan pengakuan kekasihnya ini.


“Maaf," ucap Zein, sambil menundukkan kepalanya.


“Maafmu sudah tidak ada guna, tau, semuanya sudah terjadi, dan jangan pernah menyalahkan siapa pun atas kehancuran ini, karena penyebab awalnya ya kamu," tegas Dara lagi, lalu memilih keluar dari mobil, untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


Dia merasa untuk tidak bicara dulu dengan


Zein saat ini, hatinya begitu sakit mendengar semua kejujuran dari mulut kekasih yang sangat dia cintai. Dan bahkan mungkin saja masih banyak rahasia lain yang pria itu tutupi dan Dara pastikan akan membongkar semuanya.


“Aaaarrrgggghhhhhh,siaaallll,,siaaalll,,sialllll," kesal Zein memukul-mukul stir mobilnya.


“Aku tidak pernah membuat Dara berpotensi untuk meninggalkanku, jika dia tidak bisa bertahan denganku karena cinta yang dia punya sudah mulai menipis, maka biarkan aku memaksa Dara untuk bertahan dengan sebuah ancaman," gumam Zein pelan, lalu segera menghidupkan kembali ponselnya dan menelepon anak buahnya.


“Halo," ucap Zein ketika telpon itu sudah tersambung.


“Tuan, kakak dari kekasih Anda sudah berhasil kami lenyapkan, dia terjatuh ke dalam jurang bersamaan dengan mobilnya, kami pun juga berhasil mendapatkan mayat Elang yang terjatuh di tepi sungai," lapor anak buahnya, yang kini membuat Zein tersenyum mendengarnya.


“Kirimkan foto mayat itu!" perintah Zein, pada anak buahnya, dan segera menutup panggilan teleponya.


Zein kembali tersenyum ketika melihat foto mayat Elang , serta Lily yang merupakan istri dari Elang, serta keponakaan Dara yang berada dalam gengamaan Zein.


“Kamu adalah milikku, kamu tidak bisa meninggalkanku dan memberikanku untuk orang lain," batin Zein, menatap puas dengan hasil kerja anak buahnya.


Sedangkan di sisi lain, Valen dengan telaten terlihat sedang mengurus Tasya yang baru saja sadar.


“Enggghhh," rintihnya menahan sakit di di akibat luka tusukan dari Zein semalam.


Valen langsung sigap mengusap lembut luka-luka di perut Tasya agar sakitnya sedikit hilang, "Kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu ya, karena lukanya masih basah," lirih Valen pelan dengan penuh kelembutan.


Tasya memandang ke arah Valen dan tak lama mengeluarkan air matanya, "Terima kasih, Tante, terima kasih," ungkapnya tulus. Sungguh dia sangat merasa kangen dengan mendiang orang tua serta kakaknya yang telah dibunuh dengan sangat kejam tepat di depan matanya.


Valen mengusap lembut air mata Tasya yang terjatuh di pipi tirusnya. "Tudak usah berterima kasih, anggap saja saya ini adalah orang tua kamu, dan panggil saya Bunda ya," balas Valen.


“Bunda," sahut Tasya pelan, merasa kehangatan dalam dirinya ketika mendapatkan sentuhan lembut dari tangan Valen.


“Tasya, maafkan Zein ya, Bunda tau dia sudah sangat gila dengan tindakannya, tapi sebenarnya dia baik kok, mungkin saja saat ini dia hanya terpengaruh omongan dari wanita malam itu, dan Bunda berharap kamu bisa merebut hati Zein, lalu membuatnya bertekuk lutut kepadamu," ujarnya penuh harap.


“Aku?" tanya Tasya ragu.


Valen menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan pertanyaan dari Tasya, "Udah, tidak usah terlalu dipikirkan, nanti pasti akan terjadi, Bunda yang akan mengatur segalanya, sekarang kamu harus sembuh dulu ya, setelah itu baru kita akan mengurus pernikahanmu bersama dengan Zein," tuturnya pelan, membuat Tasya tidak tau mau bicara apa lagi.


“Menikah dengan seorang pembunuh kakakku dan bahkan nyaris membunuhku, itu tidak mungkin," batinnya menolak keras pernikahannya dengan Zein.


Namun dia tidak ingin langsung menolak permintaan Valen itu, dia akan berusaha untuk sembuh dan bisa kabur dari jeratan keluarga Sycho ini.


“Oh iya, Tasya, kata dokter Liora, kamu baru bisa makan berat di saat sudah berjalan 8 jam lamanya, maaf ya, kamu harus puasa dulu," ucap Valen, menganggap bahwa Tasyalah yang akan menjadi pendamping keponakaalnnya.


Sangat-sangat berbeda ketika sedang berbicara dengan Dara, yang selalu ingin mengungkapkan kata-kata kasar.


Tasya menganggukkan kepalanya lemah, karena sejujurnya kepalnya masih sangat-sangat pusing sekali.


“Oh iya, tadi Bunda juga sudah mengirimkan pesan untuk Zein, agar segera ke sini untuk menjengukmu, mungkin sebentar lagi dia akan datang," tambahnya lagi.


Namun Tasya langsung menggelengkan kepalanya, "Bunda, tolong jangan panggil dia untuk ke sini dulu, Bunda, aku masih merasa takut dengan dia, please, Bunda, aku mohon," sahutnya meminta agar Valen tidak bertindak gegabah lagi.


“Tapi Tasya, dia adalah calon suami kamu, dan kamu harus mulai terbiasa dengan sifatnya, Bunda tidak mau kamu kalah dalam mengendalikan Zein, kamu lihat Dara kemarin, dia bahkan bisa membuat Zein bertekuk lutut di hadapannya, dan Bunda harap kamu juga seperti itu, Sayang," tandasnya, berharap Tasya bisa mengerti apa keinginan hatinya.


Tasya terdiam memandang ke arah Valen. "Bunda, apakah bisa seorang wanita yang kakak kandungnya sudah dibunuh secara keji, lalu dia yang ingin membunuhku juga, tiba-tiba secara ajaib jatuh cinta denganku? Mungkin Bunda yang terlalu berharap lebih, tapi aku adalah orang baru, Bunda, aku bisa melihat jelas bagaimana tatapan cinta yang Zein perlihatkan, ketika dirinya mengucapkan nama Dara, bagaimana dirinya terpukul ketika melakukan penyesalan yang mungkin bisa membuatnya kehilangan Hatinya, Bunda berharap boleh tapi jangan terlalu tinggi hingga berpikir jika aku bisa hidup bersama dengan Zein," ungkap Tasya, yang langsung to the point, menyadarkan Valen dari harapan yang semu.


Karena sebuah keinginan yang tidak nyata akan membuatnya merasa sakit di kemudian hari.


Valen terdiam mendengar penuturan Tasya, dan memilih untuk keluar dari ruangan itu, meninggalkan Tasya sendiri.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻