
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Ke-esokan harinya, Stella yang sudah mengatur keberangkataan Zein dan Dara yang menggunakan fasilitas Jet pribadi milik Tasya yang lengkap dengan seluruh perawat serta dokter yang akan menangani pengobataan Dara.
“Mamah yakin mau ikut pulang?” tanya Zein yang saat ini melihat Stella tengah duduk santai dengan menikmati makan siangnya.
“Zein,” tegur Dara, agar Zein tidak terlalu ketus seperti itu pada Stella, membuatnya terdiam, dan tidak ingin menanggapi teguran kekasihnya.
Sedangkan Stella yang sudah paham dengan sifat anak angkatnya itu, kini hanya diam dan dengan santainya dia masih menikmati makanan siangnya yang sudah sangat terlambat.
Karena memang dari kemarin Stella sudah terlambat makan karena stress memikirkaan keadaan Zein dan lingkungannya.
“Sayang, kamu istirahat ya, aku gak mau keadaan kamu semakin memburuk kalau terlalu capek,” ucap Zein pada Dara yang sedari tadi duduk dipangkuan Zein.
Dara menganggukan kepalanya pelan, dia mengerti jika sekarang Zein semakin over protektif kepadanya, “aku antar ke kamar ya,” ucap Zein lagi, tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya, Zein langsung menggendong Dara masuk ke dalam kamar.
“Aaahhh Zein, kamu membawaku ke sini, tidak enak dengan Tante,” pungkas Dara, yang merasa sangat tidak sopan dengan orang yang lebih dewasa.
Lalu Zein menatap ke arah Dara yang kini memejamkan matanya perlahan, “sayang, aku serius dengan keputusaanku ingin mengambil Jingga, dan aku harap kamu setuju dengan itu,” ucap Dara yang kembali membuka matanya.
Zein hanya diam dan sama sekali tidak menanggapi kalimat Dara, dia hanya tersenyum, dan beranjak dari tempat tidur, “aku keluar dulu ya, kamu istirahat saja, nanti kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal pencet tombol yang berada di atas kamu ini, dan aku akan kembali ke sini,” pesannya pada Dara, yang kini menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala pelan.
“Good girl, istirahat ya sayang, aku mencintaimu,” ucapnya lagi, sebelum melangkahkan kakinya keluar.
Sepeninggalan Zein, Dara terlihat sedang melamun karena memikirkan suatu hal yang sangat berat, hingga membuat tanpa sadar kembali meneteskan air matanya.
“Aku sudah berusaha semampuku untuk menerima Jingga, tapi Zein,” lirihnya pelan, tidak tau bagaimana mau bicara dengan Zein.
Dia merasa bahwa Zein tidak akan selalu mengikuti permintaanya, terbukti di saat Dara ingin agar Zein mau mengakui Jingga saja itu sangat sulit.
“Aku harus bagaimana sekarang? Bukan aku tidak berusaha, tapi aku tidak tau harus berbuat apa;” gumamnya lagi pelan, sambil terus berpikir bagaimana dirinya ingin meminta agar Zein mau mengakui anak itu.
Sedangkan di luar sana, Zein terlihat sedang sibuk dengan beberapa pekerjaannya yang sudah sering tertunda belakangan ini, lagi-lagi tanpa memperdulikan keberaadaan Stella yang berada dihadapaanya.
“Zein, kamu ingat Derry?” tanya Stella, memecah keheningan di antara mereka.
Zein melirik sekilas ke arah Stella, lalu menganggukan kepalanya pelan.
“Kenapa kamu bisa baik dengan Derry, anak yang kamu ambil di jalananan tanpa kamu mengetahui asal usulnya, sedangkan Jingga yang sudah jelas-jelas anak kamu,darah daging kamu, tapi kamu malah menolaknya, bahkan tidak pernah menengoknya, apa sih perbedaan Derry dan Jingga? Coba Mamah ingin tau, kenapa kamu bisa baik dengan Derry dan bertindak jahat dengan Jingga?” tanya Stella, yang kali ini masih begitu penasaraan, kenapa Zein masih sangat sulit untuk menerima Jingga sebagai anaknya.
“Begini Zein, Mamah kasih kamu contoh baru lagi gini, misalnya, kamu menemukan Jingga di jalan, tanpa kamu tau kalau dia adalah anak kamu, apakah kamu akan menerimanya dan membawa dia pulang, sama seperti apa yang kamu lakukan pada Derry, atau kamu malah akan membiarkannya di luar sana, tidur di jalanan sendiri,” ujar Stella lagi, memberikan contoh terbaik untuk Zein.
“Aku bukan tidak ingin menerima Jingga Mah, hanya saja aku tidak ingin menyakiti hati Dara, Mamah jelas tau, Jingga adalah anak dari hasil perselingkuhaanku bersama dengan Tasya, lalu kalau aku merawat Jingga, kira-kira bagaimana perasaan Dara Mah, aku berpikir di situ,” ungkap Zein, mengatakan alasan utama dirinya tidak bisa menerima Jingga.
“Coba gini deh, diposisikan dengan Mamah dan Papah Arnon, jika dulu Papah Arnon melakukan sebuah pengkhianataan dan berselingkuh dengan wanita yang tidak sengaja dia tiduri, lalu hamil dan Papah Arnon meminta Mamah untuk merwat dan membesarkan anak hasil perselingkuhaan, apa yang akan Mamah lakukan? Merawatnya? Atau membuangnya? Atau acuh terhadapnya?” tanya Zein, yang memposisikan agar Stella bisa mengerti dengan keadaanya.
“Tapi Dara sudah berulang kali bilang kalau dia mau menerima Jingga Zein, Dara mau merawatnya kan,” sahut Stella, yang mengingat betul keputusaan Dara yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Zein.
“Mamah hanya dengar dia menyetujuinya, tapi Mamah tidak lihat bagaimana keraguaan di hatinya Mah, dia itu ragu dengan keputusaannya sendiri, Dara itu labil Mah, dia bahkan berfikir tidak mencerna dengan baik,” seru Zein, yang sudah sangat menghafal sifat Dara itu.
Dia tau karena Dara suka mengambil keputusaan secara tergesa-gesa, lalu di hari-hari berikutnya, wanita itu terus menangis dan menyesali apa yang sudah dia putuskan.
Dan semenjak itulah, Zein tidak percaya dengan keputusaan Dara, dia selalu meminta agar Dara berpikir berulang-ulang dulu sebelum memutuskannya. Namun sepertinya kekasihnya itu sama sekali tidak ingin mendengarkaanya.
Stella menghela nafasnya kasar, lalu memandang sendu ke arah Zein, “terimalah Jingga Zein, itu saja pinta Mamah sama kamu sekarang, dan kalaupun mendiang Mamah kamu masih hidup, dia pasti akan sangat kecewa dengan sikap kamu yang seperti ini Zein,” ucap Stella.
“Tapi Mah,” bantah Zein.
“Jika kamu tidak mau menerima Tasya tidak apa, tidak masalah, tapi terimalah Jingga karena dia adalah anak kamu Zein, jangan biarkan dia tumbuh tanpa adanya kamu di sisinya, apa lagi dia adalah anak berkebutuhaan khusus, jadi Mamah pinta kamu bisa menerima dia, perlahan tidak apa, yang penting kamu mau memberikaanya ruang,” ucap Stella lagi, memberikaan nasihat pada Zein.
“Nanti Zein bicarakan ini dengan Dara lagi Mah, tapi Zein tidak bisa mengambil keputusaan apapun, karena keputusaan memang ada ditangan Dara, dan mungkin jika Dara benar-benar yakin dengan keputusaanya dan tidak ada keraguaan apapun di matanya, barulah Zein akan bisa memutusakan untuk mengambil Jingga atau tidak,” jawab Zein lagi, namun tetap saja keputusaan Dara adalah yang paling penting untuknya.
Stella menganggukan kepalanya pelan, menyetujui apa yang dikatakaan oleh Zein. Kali ini dia tidak bisa menyalahkan jawaban dari Zein, karena yang akan merawat Jingga adalah Dara, jika Dara saja tidak setuju bagaimana Zein akan bisa memaksa Dara melakukan hal itu.
Setelah itu, barulah Zein dan Stella sama-sama diam membiarkan suasana di antara mereka menjadi hening, dengan kegiatan mereka masing-masing.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻