
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Di awal pagi yang cerah, terlihat seorang wanita yang sangat bahagia, dengan mengenakan gaun putih berjuntai panjang.
“Tyas, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cantik?” tanya Dara tak henti-henti pada Tyas yang masih sibuk dengan pakaiaanya Justin.
“Dara, ini sudah kedelapan belas kali kamu bertanya. Sekali lagi kamu bertanya, aku akan melemparmu,” ketus Tyas merasa muak di pagi ini.
Tyas merasa dirinya bagaikan seorang ibu yang sedang mengurusi kedua anaknya.
“Sayang, kamu jangan marah-marah, dong,. Nanti makin cantik, loh,” sahut Justin yang ikut merasa pusing mendengar suara Tyas mengomel di pagi hari.
Bahkan sampai di gereja pun dia masih terus mengomel, hingga Dara dan Justin hanya mampu menulikan telinga mereka.
Tidak ada tamu yang datang, hanya beberapa teman Tyas dan Justin yang ikut meramaikan acara pernikahan ini.
Dara tersenyum lebar sambil duduk menunggu di salah satu kamar. "Kamu sudah telpon Zein belum, ya? Kenapa Zein belum datang?” tanya Dara pada Tyas yang terihat sedang menghubungi Zein.
“Ponselnya tidak aktif, Dar. Coba ini kamu telpon sendiri, aku mau keluar dulu,” ucap Tyas menyerahkan ponselnya pada Dara.
Awalnya Dara terus tersenyum sambil terus menunggu kedatangaan Zein. "Ke mana dia?” tanya Dara, hingga dia memilih untuk keluar menuju altar pernikahan.
“Sayang, baby Mamah, yang sabar, ya, Nanti Papah pasti datang,” ucap Dara sambil mengusap perutnya lembut, kemudian dia melangkahkan kakinya keluar.
Dara melihat altar yang begitu indah ada di hadapanya, dia menatap dengan senyum terpaksa ke arah tamu-tamu yang hadir, “Dara,” tegur Tyas, memberikan kode pada Dara yang terlihat mulai panik.
Dara kembali melangkahkan kakinya keluar gereja dan berdiri menunggu kedatangan Zein, sambil menangkupkan kedua tangannya dan terus berdoa agar Zein datang ke tempatnya.
Di saat Dara sedang berdoa, tiba-tiba saja, muncul sosok anak buah kepercayaan Zein dengan memberikan sebuah amplop.
“Nyonya Dara, ada titipan dari Lord Arvan,” ucap pria itu, menyerahkan dokumen itu pada Dara.
Dengan tatapan bingung, Dara membuka amplop itu. Dia membaca apa yang ada di dalamnya, sebuah foto kopian surat pernikahan antara Zein dengan Tasya, yang diselipkan sebuah foto pernikahan antara Zein dan Tasya.
Terlebih lagi yang membuat Dara terkejut adalah, foto Ibunya dengan foto mamah Zein yang diketahui adalah tantenya.
“Apa—ini maksudnya apa? Ada yang bisa jelaskan ini maksudnya apa?” teriak Dara sehisteris mungkin.
Lalu merobek seluruh berkas itu. "Iini tidak mungkin, ini tidak mungkin. Aarrrrhgghhhhhh. Zeinnnn, kembalilah, Sayang. Kembali!! Ini adalah hari pernikahan kita, Zein. Kenapa kamu mengkhianati aku lagi,” teriaknya, sambil berlari dengan tatapan kosong.
Tyas langsung menangis melihat keadaan Dara yang seperti ini, lain halnya dengan Justin yang langsung mengejar Dara.
”Pengkhinat kamu, Zein. Bagaimana bisa kamu melakukan ini denganku? Bagaimana bisa kamu menyakitiku berkali - kali seperti ini?. Kembalilah, kembalilah,” lirihnya pelan sambil terus menangis, berjalan di tengah jalan, tanpa dia pedulikan mobil dan motor yang berlalu lalang lewat hampir menabraknya.
“Daraaa,” panggil Justin yang sama sekali tidak diindahkanya.
“Pengkhianat kamu, Zein. Pengkhianat, apa salahku sama kamu. Kenapa kamu tega,hisskk,,hisskk,”
“Tidak bisakah kamu kembali dulu, dan katakan kepadaku, apa salahku? Apa salahku sampai kamu berani berprilaku seperti ini denganku? Keaaaannnaaapppa,”
Tiiiiiiinnnnnnnn kelaksoon mobil besar memberikan pringatan pada Dara, tetapi wanita itu tetap tidak menggubrisnya.
“Daraaaaaaa!” teriak Justin sambil berlari menyelamatkan Dara sebelum mobil itu menabraknya.
“Lepasinnn aku, Justin. Kenapa kamu menyalamatkanku. Lepasiiinn,” teriak Dara meronta di dalam pelukan Justin.
Plaakkkkk. Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Dara.
“Sayang,” tegur Justin ketika Tyas berhasil menyusul mereka dan memberikan sebuah tamparan keras untuk Dara.
Tyas mencengkram kuat pipi Dara, membuat
wanita itu harus menatap dalam ke arah matanya. “Apa kamu bodoh? Apa kamu tidak punya otak dan pikiran?” bentak Tyas karena benar-benar merasa emosi dengan tinfakan Dara tadi.
“Aaaagghhh sakit, Tyas. Sakit,,hiskk,,hiskk,” tangis Dara yang tidak bisa menahan lagi rasa kecewa di hatinya.
Baginya Zein sudah benar-benar keterlaluan denganya. Kenapa dia harus dikhianati di saat hari pernikahannya? Kenapa tidak dari kemarin Zein mengakhiri hubungan mereka? Kenapa Zein harus mengajaknya menikah lalu mengkhinatinya? Kenapa harus di altar pernikahan semua kenyataan bahwa dirinya adalah sepupu dari kekasihnya harus terungkap? Apa salahnya? Apa dosa yang dia lakukan? Kenapa rasanya harus sesakit ini?
Setelah Dara merasa lebih tenang, barulah Justin dan Tyas membawa pulang Dara ke rumah Justin terlebih dahulu, di sebuah perumahan mewah di kota itu.
Saat ini Dara sudah mengganti pakaiannya, dengan pakaian biasa. Namun, tatapannya masih kosong, seperti sudah tidak ada jiwa di dalam tubuhnya.
Siapa pun yang melihat dirinya pasti akan merasakan sakit yang sama.
Tingg,,tonggg bel rumah Justin berbunyi berulang, seperti orang gila yang memencetnya.
“Ya, sebentar,” sahut Tyas dari dalam, lalu mengintip sebentar di dalam lubang khusus, untuk melihat siapa yang datang.
“Damn it, beraninya pria itu kemari,” umpat Tyas, sebelum akhirnya dia kembali berlari ke dalam.
“Sayang kamu bawa Dara naik ke atas cepat,cepat. Ada Zein di luar. Cepat!!!!!!” perintah Tyas tidak sabaran untuk menarik Dara ke atas.
“Zein? Tyas, Justin aku ingin bertemu Zein,hiskk,,hiskk, Zein,” teriak Dara cepay. Namun, Justin lebih dulu menguncinya di dalam kamar lantai dua.
Setelah dirasa aman, barulah Tyas membukakan pintu untuk Zein.
“Di mana Dara?” tanya Zein langsung to the point, bahkan sama sekali tidak ada terlihat rasa bersalah di wajahnya setelah apa yang dilakukkannya hari ini.
Tyas langsung mendorong tubuh Zein, tanpa rasa takut sama sekali. "Kamu yang mengkhianatinya, lalu kenapa kamu yang ingin menemuinya? Masih belum puas kamu membohongi serta mengkhianatinya iya? Laki-laki breenggsek tahu gak sih, kamu,” bentak Tyas, yang sudah muak, bahkan benci melihat wajah pria ini.
Sedangkan Justin, terlihat mengambil tongkat kriket dari dalam, untuk mengamcam Zein. "Pergi!! Dara sama sekali tidak bersedia bertemu denganmu!” seru Justin mengusir Zein dari rumahnya.
Zein hanya diam dan bergeming, hingga terjadi adegan baku dorong antara Justin dan Zein.
“Tollongg,, tolllongggg,, tolllongg … ada penjahat di sini. Tolongggg,” teriak Tyas untuk mencari bantuan.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat pistol yang terjatuh dari tubuh Zein.
“Saaaynggg,” teriak Tyas ketakutaan.
Berbeda dengan Zein, yang langsung mengambil pistol itu dari tanah, dan menatap sosok kekasihnya yang sedang menangis histeris di atas sana.
“Zeiiinnnn,,Zeinnn,,bughh,,buggh,,buggh,” teriak Dara, berusaha mencari celah untuk membuka jendela kamar itu.
“Hisskkk,,hiskkk,Zeiinn,,Zeinnn,” panggilnya lagi, yang terlihat menangis histeris.
Betapa sakitnya hati Zein melihat kekasihnya menangis seperti itu, hingga akhirnya sebuah mobil polisi patroli lewat dan menuju ke arahnya.
Zein tidak ingin memberontak, dengan membunuh manusia-manusi di hadapan Dara. Dia memilih untuk menyerahkan dirinya secara suka rela.
“Lepaskan senjatamu! Dan letakkan tangan di belakang kepalamu!” perintah polisi itu sambil menodongkan pisstoll ke arahnya.
Mau tidak mau Zein mengikuti perintah polisi itu. Namun, tatapanya terus pada Dara yang berteriak histeris di atas.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻