It’S So Hurts

It’S So Hurts
Mengambil Paksa Jingga dari Tasya



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Dara terdiam dan terus menangis tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali, dia mengingat dengan jelas, bagaimana Ayah, kakak ipar serta keponakaannya dibunuh dengan begitu kejinya.


Kesalahan yang ada hanyalah sebuah cinta yang tumbuh antara Zein dan Dara, namun kenapa harus semua yang menerima hukuman.


“Sayang,” tegur Zein, memeluk tubuh Dara dari belakang.


“Kenapa tidak aku saja yang dibunuh, kenapa harus orang-orang yang tidak bersalah yang harus menerima hukuman atas cinta kita? Apa salah cinta kita? Apa salah takdir yang mempertemukan kita?” ucap Dara, yang seketika mengiris relung hati Zein yang paling terdalam.


Hatinya begitu sakit melihat keadaan istrinya yang seperti ini, dia ingin marah, dia ingin membalas semua ini, namun dia sadar siapa dia dan siapa lawannya. Jika Zein kembali membalas, bukan tidak mungkin target Arvan yang selanjutnya adalah Dara.


“Sayang, kita akan pindah dalam waktu 2 jam, aku harap kamu bisa segera mengemasi barang-barang yang seperlunya saja,” seru Zein, lalu berdiri dari duduknya, dan terlihat ingin pergi.


Dara menoleh menatap kearah Zein, “kamu mau kemana?” tanya Dara bingung.


“Aku akan mengambil Jingga, kita harus pindah sekarang, kamu siap-siap ya,” jawab Zein, yang dijawab anggukan kepala oleh Dara.


“Hati-hati ya,” ucap Dara, sebelum Zein benar-benar pergi. “Terima kasih sayang,” balas Zein, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening istrinya, dan kemudian segera melangkahkan kakinya pergi.


Setelah kepergian Zein, Dara tidak ingin membuang waktu, di dalam situasi bahaya ini, dia harus segera bergerak untuk mengemasi barang-barangnya. Sambil menunggu Zein yang berhasil membawa Jingga.


Sementara itu, Zein yang baru saja sampai ke rumah sakit, kini mengendap-ngendap seperti maling yang menyelinap masuk ke dalam ruangan Jingga.


Zein mengintip sedikit untuk mengecek keberadaan Tasya, “aku sedang malas berdebat saat ini, jadi lebih baik aku mengambil Jingga setelah Tasya keluar dari ruangan ini.”


Zein memilih untuk duduk sejenak di kursi luar, menunggu hingga Tasya keluar. Cukup lama Zein menunggu, namun belum ada tanda-tanda Tasya akan keluar.


“Siaaalll, apa yang dilakukan wanita ini hingga begitu lama untuk keluaar,” gumam Zein, terus memperhatikan jam di tangannya.


Namun seperti Tuhan yang berpihak kepadanya, tidak lama kemudian setelah dia terus menerus menggerutu, terlihat seorang suster yang masuk ke dalam ruangan Jingga dan memanggil Tasya.


Sepertinya dokter yang merawat Jingga ingin bertemu dengan Tasya.


Zein berdiri dan bersembunyi dibalik pilar, menunggu sampai Tasya benar-benar pergi.


Ketika Tasya sudah pergi dan menghilang dari pandangan, barulah Zein masuk kedalam ruangan Jingga untuk membawa putrinya itu pergi bersama dengan Dara.


Zein perlahan melangkahkan kakinya untuk melihat tubuh Jingga yang masih dipenuhi oleh beberapa alat yang membantunya menopang hidup, Zein rasanya teriris melihat anak yang dulu dia tolak, saat ini sudah berhasil mengambil separuh hidupnya.


“Jingga sayang, ayah di sini,” panggilnya pada putri kecilnya yang saat ini sedang tertidur.


“Jingga sayang, bangun,” panggilnya sekali lagi, namun kali ini sambil melepas peralatan yang ada di tubuh putrinya.


Jingga terbangun karena merasa ada yang menyentuhnya, “engghhh, ayaahh,” lirihnya pelan, dengan mata yang belum terbuka sempurna.


“Sttttt, Jingga ikut ayah ya sayang, kita jalan-jalan sama mama, Jingga maukan sayang?” tanyanya pada Jingga.


Jingga hanya menganggukan kepalanya pelan, dan mengikuti apapun permintaan ayahnya,


Mendapatakn persetujuaan dari Jingga, Zein seketika langsung tersenyum, dan menggendong tubuh putrinya, “aku harus cepat, sebelum Tasya kembali ke sini,” batinya, yang kini mempercepat langkahnya untuk membawa Jingga pergi dari Negara ini dan kehidupan semuanya lalu memulai hidup baru bersama dengan Dara.


Selama perjalanan, tatapan Jingga tak lepas dari wajah Zein, lalu dia memandang ke arah lain, hingga sampai di mobil, Jingga menatap wajahnya dari pantulan kaca mobil, lalu kembali menatap wajah Zein.


“Jingga kenapa sih sayang? Dari tadi ngelihat wajah ayah seperti itu?” tanya Zein bingung, melihat putrinya yang terus menerus melihat wajah miliknya serta wajahnya dia sendiri.


Zein semakin bingung ketika tidak mendapatkan tanggapan dari putrinya, hanya tatapan yang bergerak-gerak ke sana kemari, dengan aneh.


“Aku harus mengobati Jingga, pasti ada terapi khusus untuk menyembuhkan penyakitnya autismenya ini,” batin Zein.


Lalu mengendarai mobilnya dengan laju untuk segera pulang.


Berbeda dengan Tasya, yang baru saja masuk ke dalam ruangan putrinya, “Jingga sayang,” panggilnya ketika baru melangkah masuk.


“Jingga,” gumamnya sontak terkejut ketika tidak mendapatkan putrinya di atas tempat tidur.


“Jingga sayang kamu dimana?” seru Tasya, mencari putrinya berkeliling di dalam kamar mandi dan lainnya.


“Aaaahhhh hiskk,,hisk Jingggaaaa,” teriaknya dan langsung keluar ruangan.


“Tolonggg,,tolonggg,” teriaknya mencari bantuan sekitar.


“Jingga,,ini ibu sayang, Jingga di mana?” teriaknya lagi.


“Ada apa ibu?” tanya Scurity yang mendatangi Tasya. Namun Tasya memandang scurity itu dengan tajam.


“Katakan sama saya! Siapa yang sudah menculik anak saya? Kamu pasti tau kan, karena orang itu pasti melewati pos kalian,” tuduhnya pada beberapa scurity.


“Maaf bu, kami memang bekerja di sini, tapi bukan berarti kita akan menyetujui penculikkan ini bu,” jawab scurity itu.


“Kalau ibu tidak percaya, mari kita ke ruangan CCTV dan melihat siapa yang sudah menculik anak ibu,” ajak scurity itu pada Tasya.


“Ya sudah ayo,” jawab Tasya dingin. Dan langsung menarik tangan scurity itu mencari ruangan CCTV.


Tasya terdiam terus memperhatikan, siapa yang sudah masuk ke dalam kamar putrinya dan menculik Jingga.


“Stooppp, putar kebelakang,” pinta Tasya, ketika melihat sosok penculik itu.


Tasya memperhatikan rekaman itu dengan detail, hingga tatapannta membulat sempurna ketika mendapatkan siapa yang ada di dalam rekaman itu.


“Zeinn,” gumam Tasya tidak menyangka jika pria ini akan bertindak sejauh itu.


Tasya segera berlari untuk menuju rumah Zein, berharap semoga Zein belum membawa putrinya itu jauh.


“Zein kenapa sampai seperti ini Zein,,hiskk,,hiskkk, kenapa kamu tega mengambilnya dariku, kamu ini sebenarnya kenapa?” batin Tasya terus menangis, hingga di dalam taksi.


Sementara itu, Zein yang baru saja sampai di parkiran, langsung melihat Dara yang sudah siap dengan koper-kopernya.


“Ayo sayang cepat, kita tidak bisa ke luar Negara, Arvan siaalan itu akan melacak kita, jadi sebaiknya kita pergi ke luar Kota saja, aku akan mengganti mobil nantinya agar dia susah untuk melacak kita,” seru Zein, yang kini terlihat membantu Dara memasukan koper-kopernya ke dalam mobil.


“Iya terserah kamu saja, aku akan selalu ikut denganmu,” jawab Dara dengan tersenyum lembut.


Dan setelah itu mereka langsung masuk ke dalam mobil, “sayang Jingga sini sama Mamah,” panggilnya pada Jingga yang sedang bingung menatap Dara.


Tanpa menunggu jawaban dari Jingga, Dara langsung menggendong dan mendekap tubuh putri suaminya itu, “kamu tenang ya sayang, kita akan jalan-jalan, Jingga jangan takut ya,” ucap Zeinc mengusap lembut tangan Jingga.


Setelah itu, Zein langsung melajukan mobilnya menuju luar kota, mereka memasuki jalan tol agar sulit didapatkan.


“Apa kamu masih sedih?” tanya Zein pada istrinya.


Dara menganggukan kepalanya pelan, “apa kamu pikir ketika keluargamu terlebuh ayah kamu sendiri mati dihadapaanmu, kamu bisa tenang?” tanya Dara balik, dan terlihat kembali meneteskan air matanya.


“Sayang maafkan aku,” ucap Zein, sambil melirik sekilas memandang wajah Dara. Lalu kembali lagi fokus menatap jalanan.


“Kita akan kemana sekarang?” tanya Dara bingung.


“Bogor,” jawab Zein singkat.


Dara hanya diam saja, karena dia tidak tau di mana Bogor itu berada. Yang dia tau, suaminya ini pasti sudah berpikir secara matang, krmanbagaimana mereka akan bertahan hidup tanpa ada ganguan dari siapapun.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻