It’S So Hurts

It’S So Hurts
Bertemu Ayah Untuk Terakhir Kalinya



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Di sebuah taman indah, terdapat banyak bunga-bunga yang sangat indah, baunya wangi sekali membuat taman ini menjadi seperti surga.


Ada air terjunnya, ada burung-burung lucu bertebarann, dan masih banyak lagi.


"Ini di mana ya? Kenapa semuanya begitu indah? Apakah aku sudah berada di surga?" tanyanya bingung.


"Ahhh aku sudah bisa bicara dengan baik sekarang," serunya dengan gembira, bahkan sangking senangnya dia sampai loncat-loncat kegirangaan.


"Jinggga," panggil suara sesorang.


Jingga menolehkan pandanganya melihat sekelilingnya dan mencari sosok yang tengah memanggilnya.


"Ayah," ucapnya tersenyum ketika melihat sosok yang sudah lama begitu dia rindukan.


Zein ikut tersenyum dan membuka lebar tanganya siap menerima tubuh putrinya masuk ke dalam pelukaanya.


Merasa mengerti, Jinga berlari kencang dan langsung masuk ke dalam dekapaaan hangat ayahnya.


"Ayahhhh Jingga kangen sekali dengan ayah, kenapa ayah baru menemui Jingga sekarang?" tanyanya pada Zein.


Zein tersenyum, lalu menggendong tubuh putrinya dan duduk di sebuah kursi yang berada di tengah-tengah taman.


"Sayang, kangen tidak sama ayah?" tanya Zein dengan lembut kepada putrinya.


"Kangen, tapi ayahkan sudah pergi," jawab Jingga dengan polosnya.


Zein terpaku dengan jawaban itu, lalu terlihat dia menghembuskan nafasnya kasar, bingung mau memulai semua ceritanya dari mana.


"Jingga sayang, kamu pernah ingat tidak? Jika ayah mengatakan akan menjelasakan semua kepada kamu di saat waktu yang tepat?" tanyanya lagi pada Jingga.


Dengan menganggukan kepalanya pelan, Jingga menjawab pertanyaan ayahnya.


"Mamah adalah seorang wanita yang sangat ayah cintai, ayah mencintai mamah seperti mencintai hidup ayah sendiri, akan ada saatnya ketika kamu merasakan mencintai seseorang melebihi kamu mencintai diri kamu sendiri," ungkapnya dan mulai ingin bercerita tentang apa yang terjadi di antara dia, Tasya dan Dara.


"Ayah tidak pernah mencintai ibumu," ucapnya pelan, namun berhasil membuat Jingga menatap ke arahnya dengan bingung.


"Itu benar, ayah tidak pernah mencintai ibumu, Tasya datang ke dalam hubungan ayah dan mamah, dan membuat ayah bisa mengkhianati mamah dengan sangat kejinya,"


"Bagaimana ayah bisa mengenal dengan ibu? Dan bagaimana ayah bisa menghadirkanku di dunia ini? Jika ayah tidak mencintai ibu?" tanyanya dengan seluruh rentetan pertanyaan yang membuat Zein bingung ingin bercerita dari mana.


"Ibu kamu dulu datang ke rumah ayah karena suruhan dari seseorang, lalu karena ayah dalam pengaruh alcohol dan mabuk, maka tanpa sadar ayah melakukan hal yang paling buruk karena mengkhianati mamah Dara dan menghadirkan kamu saat ini,"


"Kamu jangan salah paham, ayah tidak menyesali kehadiran kamu, tetapi ayah menyesali kenapa kamu harus lahir dari Tasya dan kenapa tidak dari Dara," jelas Zein lagi.


Tanpa mengutarakan semuanya, Jingga sudah bisa mengambil sebuah kesimpulan di dalam pengakuaan ayahnya.


Ayah tidak mencintai ibu, tetapi ayah mencintai mamah, namun ibu selalu memaksa masuk ke dalam hubungan ayah dan mamah, hingga ketika ayah menyerah, ibu membunuhnya.


Entah kenapa Tuhan membiarkannya terlahir dari sebuah hubungan rumit ini, membuatnya tidak pernah merasakan sebuah kebahagiaan yang sebenarnya.


Kenapa harus dosa ibunya dia yang merasakanannya, dan kenapa ibunya harus membunuh ayahnya, padahal ibunya jelas tau bagaimana perasaan Jingga ketika sangat menginginkan sosok ayah ada di sekelilinganya seperti teman-teman yang lainnya.


"Dulu, Jingga pernah meminta kepada Tuhan, untuk mempertemukan Jingga dengan ayah kandung Jingga, ketika Jingga merasa iri dengan semua teman-teman Jingga yang setiap harinya bisa diantar pergi sekolah, apa lagi sekarang di sekolah selalu mempunyai kegiataan berkemah bersama dengan ayah, semua teman Jingga ada mempunyai ayah mereka masing-masing, sedangkan Jingga?" ucapnya terputus, ketika mengingat betapa malangnya sebuah kehidupan yang mempunyai takdir begitu buruk.


"Jingga sayang," panggil Zein dengan pelan.


"Tidak ayah, Jingga tahu, kalau ini adalah karma untuk Jingga karena sudah lancang hadir di dunia ini tanp seizin dari siapapun."


"Semua yang jelek ada pada diri Jingga, kelainan, penyakit serta tidak memiliki ayah, wajar jika seluruh teman Jingga membully Jingga dengan sedemikian rupa, karena hidup Jingga memang pantas dihina," serunya, merasa bahwa dunia ini benar-benar tidak adil kepadanya.


"Jingga sayang," lirih Zein pelan.


"Jingga mempunyai kelaianan, Jingga terima, Jingga sakit juga Jingga tidak pernah meyalahkan Tuhan, tetapi kenapa Tuhan mengambil ayah Jingga? Kenapa ayah? Kenapa?" pertanyaan Jingga yang Zein sendiri tidak tahu kenapa.


"Termasuk di saat Tuhan memberikan ayah dan mama suatu masalah yang sangat berat, ayah sama sekali tidak menyalahkannya, tetapi ayah memilih untuk mengakhiri semuanya, karena ayah paling tidak bisa melihat mamah kamu selalu merasakan kesedihan karena orang-orang yang terus menganggu keluarga kecil kami."


"Jingga, sebelum ayah benar-benar pergi dari kehidupan kamu, ayah minta jangan terus menyalahkan Tuhan dengan apa yang terjadi denganmu saat ini, semua adalah garis takdir yang menentukan bahwa kehidupan kamu akan seperti ini, dan terlebih ketika kamu mencintai seseorang, kamu akan tahu bagaimana rasanya berjuang dan melindung orang yang kita sayang."


"Jingga, ayah pesan, berhati-hatilah dalam memilih lingkunganmu, lebih baik tidak memiliki seorang teman dari pada kamu harus menemukan teman yang akan menusukmu dengan kejam."


"Begitu banyak pesan yang ingin ayah sampaikan kepada kamu, tetapi ayah tidak bisa terus berlama-lama seperti ini."


"Hiskk,,hisskk, ayah jangan tinggalkan Jingga ayah please," mohonnya pada Zein yang kini sedang berlutut dihadapannya.


"Jingga, ayah mencintai kamu, ayah juga mencintai mamah, jaga diri kamu dan mama baik-baik ya sayang, sudah waktunya ayah pergi," pamit Zein pada Jingga, tak lupa dirinya mengecup singkat puncak kepala putrinya dengan sayang.


Dengan menggelengkan kepalanya kuat, Jingga menolak kepergian ayahnya.


"Tidak ayah, jangan tinggalkan Jingga ayah, tolong, ayahhh," pekiknya, ketika Zein mulai bangkit dari posisinya.


Zein tidak mampu melihat wajah putrinya yang seperti itu, namun mau dipaksa seperti apapun, mau tidak tega seperti apapun, Zein memang sudah tidak bisa kembali lagi.


Dia sudah mati dan mustahil untuk hidup kembali, "Jingga sayang, maafkan ayah, tetapi ini sudah takdirnya nak," ucapnya untuk terakhir kali sebelum dia benar-benar pergi.


"Ayahhh,ayaahhhhh, Jingga masih mau dipeluk ayah, tolong jangan seperti ini ayahh," tangis Jingga berlutut di kaki Zein, agar ayahnya itu bisa memberikannya sedikit saja waktu untuk bisa mengenanya.


Zein menghambur kedalam pelukan putrinya, sungguh sakit yang mereka rasakan, "ayahhh, peluk Jingga ayah, jangan lepaskan pelukan ayah, Jingga mohon ayah, Jingga mohon," pintanya, semakin mengeratkan pelukan Zein pada tubuh mungilnya.


"Maafkan ayah sayang maafkan ayah," ucapnya lagi, dengan tubuh yang perlahan mulai hilang seperti abu.


Jingga yang menyadari ayahnya perlahan berubah menjadi angin, kinu berusaha untuk mempertahankan ayahnya.


"Enggakk, ayah gak boleh pergi ayah, enggak mau, enggak boleh," tangis Jingga semakin terdengar sangat histeris ketika Zein sudah benar-benar hilang.


Jingga melihat ke arah tanganya, dia melihat bahwa tangan itu sudah tidak mampu mempertahankan ayahnya untuk tetap berada di sisinya.


Sedangkan di alam nyata, Dara melihat Jingga yang tidur dengan meneteskan air matanya secara perlahan.


"Sudah waktunya dia untuk pergi nak, please, setelah ini kita mencoba untuk ikhlaskan ayah sayang," bisik Dara pelan, sambil terus mengusap puncak kepala Jingga, agar dia tahu bahwa di dunia ini, masih ada Dara yang akan menyanyanginya layaknya ibu kandung sendiri.


*To Be Continue. **


Note : Gengs Karena kisah Zein dan Dara sudah mau Mimin Tamatin besok, jadi Mampir yuk Ke Karya Baru Mimin yang Berjudul Rumit .


Sinopis : “Sakit Ketika kamu mencintai kakak kandungmu sendiri”


Menaklukan sebuah perasaan cinta seseorang, adalah hal yang mudah untuk seorang pria tampan dan berkharismatik seperti Ares.


Dia tidak pernah memaksa ataupun meminta siapapun untuk mencintainya, karena baginya sebuah perasaan tidak untuk dipaksakan, namun untuk dipermainkan.


Hingga suatu ketika, dirinya bertemu dengan seorang wanita yang mampu meluluhlantahkan kehidupannya.


Perasaan yang dulunya hanya untuk dipermainkan, kini dia mulai belajar langsung agar tidak lagi mempermainkan hati yang begitu tulus mencintainya.


Namun, seperti sebuah karma yang menimpannya. Saat ini, bukanlah lagi sebuah permainan hati dan perasaan melainkan sebuah permainan takdir yang menuntunya untuk kalah dalam kehidupan.


Apakah Ares mampu untuk menghadapi permainan takdir ini? Ataukah dirinya lebih memilih untuk menyerah dan mengakhiri dosa dari segala kesalahannya?


Mampir Yuk 🙏🏻


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*