
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Ketika Dara dan bu Dimas panik dengan keadaan Jingga, anak yang sedang digendong oleh Mamahnya itu malah meronta-ronta ingin turun.
“Mama,,mah,” panggilnya pada Dara.
“Iya sayang, sebentar lagi ya kita sampai, kita cari taxi dulu sayang,” ucap Dara dengan nafas yang terengah-engah, ketika tubuh Jingga bergoyang-goyang.
Jingga melompat paksa dari gendongan Dara, “Jingga kenapa turun sayang? Ayo sini mama gendong,” seru Dara yang masih belum mengerti dengan apa yang sedang diinginkan oleh putrinya.
Ibu Dimas melihat Jingga yang sedang menatap ke arah toko sepeda, “aahh mungkin dia mau beli sepeda itu bu,” sahut bu Dimas, yang seakan mengartikan apa keinginan Jingga.
Barulah di situ Dara menyadari arah tatapan anaknya, “Jingga mau sepeda sayang?” tanya Dara lembut, dengan mendukan tubuhnya agar sejejer dengan tinggi putrinya.
Jingga menganggukan kepalanya pelan, dan baru mulai berani menunjuk ke arah toko tersebut, bahkan dia langsung berlari menuju toko itu. “Jingga tunggu sayang, jangan lari nanti Jingga jatuh,” seru Dara memberikan peringatan pada putrinya.
Beruntungnya tangan Jingga masih terikat jadi satu dengan tangan Jingga, jika tidak pasti anak itu akan berlari ke tengah jalan nantinya.
Dara dan bu Dimas mengikuti langkah Jingga yang langsung masuk ke dalam toko, dan melihat-lihat sepeda mana yang dia inginkan.
“Jingga mau yang mana sayang?” tanya bu Dimas dengan ramah pada Jingga.
Namun Jingga tidak menjawab, dia terus mengitari toko sepeda itu, hingga bu Dimas merasa lelah dan memilih untuk duduk. “Bu Jingga, saya duduk di kursi luar ya bu,” izinya pada Dara.
“Oh iya bu, maaf sekali saya harus merepotkan,” balas Dara, dengan perasaan tidak enak terhadap bu Dimas.
“Aaahh tidak apa bu, biarkan Jingga memilih dulu apa yang dia mau,” jawab bu Dimas.
Jingga terus mengitari toko itu, “Jingga cari yang mana sayang, mama capek Jingga putar-putar terus,” keluhnya karena putrinya ini masih terus berputar tanpa bicara apa yang dia inginkan.
Sampai akhirnya Jingga memilih untuk kembali ke luar, dan menduduki langsung pilihannya, “Jingga mau ini,” tegasnya sambil memainkan pedal sepeda itu.
Pilihanya jatuh ke arah sepeda roda tiga yang berwarna pink bergambar unicorn, Dara tersenyum ke arah pemilik toko, “maaf pak, harga sepeda yang ini berapa ya?” tanya Dara merasa ragu dengan harganya.
“Sepeda ini harganya 3,5 juta ibu,” jawab pemilik toko itu.
“Ehmm, 3,5 juta ya,” gumam Dara sambil terus berpikir.
Mungkin uang 3,5 jta dulu bagi mereka sangatlah kecil, namun dilihat dari kondisi mereka sekarang yang harus menghemat karena Zein bukan lagi seorang bos melainkan pegawai biasa, membuat harga segitu terasa berat.
“Saya telpon suami saya dulu ya pak,” izinya pada pemilik toko.
“Oh iya silahkan bu,” jawabnya.
Setelah itu barulah Dara mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan menelefon suaminya.
“Hallo,” sahut Zein diseberang sana.
“Ayah, tadi mama ajak Jingga pergi ke pasar, terus diperjalanan pulang kita lewatin toko sepeda, dan anaknya mau beli sepeda ayah, ini bagaimana?” tanya Dara merasa ragu.
Zein terdiam sejenak, lalu melihat anaknya yang sedang tersenyum bahagia lewat panggilan vidio call, “tanya dulu anaknya bener-bener mau atau tidak,” jawab Zein, karena dia tidak mau kalau Jingga hanya lapar mata saja.
“Jingga sayang, Jingga benar-benar mau yang ini atau bagaimana?” tanya Dara lagi pada putrinya. Namun Jingga hanya terus menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Jingga mau ini ayah, mama,” tegasnya lagi, tidak ada penolakaan.
Zein mendengar sendiri jika anaknya memang menginginkan sepeda itu, “berapa harganya?” tanya Zein pada istrinya.
“3,5 juta.”
Zein melihat mbangkingnya terlebih dahulu, “baiklah minta nomor rekening penjualnya biar aku yang kirim dari sini,” pinta Zein.
“Ehhm, hallo pak, suami saya minta rekeningnya bapak untuk ditransfer saja uangnya boleh tidak? Soalnya saya tidak memegang uang chas sebanyak itu pak,” izinya pada pemilik toko.
“Boleh-boleh bu, ini nomornya,” jawab pemilik toko itu, dan memberikan nomor rekeningnya pda panggilan vidio.
“Bisa-bisa bu, kasih alamatnya bu, nanti akan kami kirim ke rumah ibu,” jawabnya.
Lalu Dara kembali memberikan alamat rumahnya dengan bantuan bu Dimas, karena dia masih belum tau kecamatan dan nama jalan rumahnya.
Sepanjangan perjalanan pulang Jingga menangis karena dia mengira jika sepeda itu tidak jadi dibeli oleh mamanya.
“Huaawwwaa,sepeda,,huwaaa,” tangisnya terus menerus membuat bu Dimas tertawa mendengarnya.
“Aduh sudah nangisnya atuh neng geulis, sepeda barunya teh, nanti diantarkan sama om penjual tadi,” ucapnya agar Jingga bisa berhenti menangis.
Dara mengusap lembut kepala putrinya, “percuma bu, dia tidak akan diam kalau sepeda itu tidak berada di depan matanya,” sahut Dara, yang sudah mengerti dengan sikap Jingga yang seperti ini.
“Ohh begitu ya bu,” balas bu Dimas.
Sesampainya di rumah, Jingga masih menangis tanpa mau berhenti, Dara langsung masuk ke kamar, dan mengambil sapu tangan lalu dibasahkan olehnya, “sudah ya sayang, sebentar lagi sepedanya datang kok, Jingga tadi sama mama kan, terus tadi mobil taxinya kecil tidak boleh masuk sepedanya nak, jadi harus om tadi yang bawa,” jelasnya, sambil mengusap wajah putrinya dengan sapu tangan basah, agar putrinya bisa merasa segar sedikit.
Dara melihat ke arah jam di dinding, “ahh sudah waktunya makan siang, Jingga makan dulu ya sayang baru minum obat,” pinta Dara, dan segera berdiri untuk ke dapur mengambilkan makanan untuk putrinya.
“Jingga ayo makan dulu sayang,” seru Dara, yang melangkah dari dapur dengan membawa piring dan segelas air.
Namun dia melihat Jingga yang menggedor-gedor pagar besi rumahnya, braaakkkk,,braaakkk, “mama Sepeda,” teriaknya melihat mobil yang datang ke depan rumahnya dengan sepeda yang tadi mereka beli.
Dara menghelas nafasnya kasar, beruntungnya dia sudah mengunci pintu pagar rumahnya, dan beruntungnya Zein juga sudah memasang jaring-jaring pelastik agar Jingga tidak bisa memanjat keluar.
“Jingga tenang dulu, anak mama duduk yang manis, kalau tidak biar sepedanya di bawa pulang lagi sama omnya,” ancam Dara, membuat Jingga tenang, namun tetap tidak mau duduk.
Dia melihat dengan lekat bagaimana orang-orang itu menurunkan sepedanya dari atas mobil hingga masuk ke dalam teras rumahnya.
“Sepeda Jingga, mama sepeda Jingga,” soraknya dengan gembira dan langsung menaikinya.
Dara tersenyum bahagia melihat Jingga yang berhenti menangis dan sekarang sudah tertawa bahagia.
“Terima kasih ya pak,” ucapnya menundukan kepalanya hormat kepada sosok pria muda yang mengantarkan sepeda milik anaknya.
“Sama-sama ibu, saya permisi ya,” pamit pria itu.
“Oh iya pak, hati-hati,” sahut Dara, dan mempersilahkan pria tersebut untuk pergi.
Jika Dara terlihat sangat bahagia dengan kehidupan barunya bersama dengan Jingga dan Zein.
Berbeda halnya dengan Tasya, yang saat ini terlihat pucat tak bertenaga, menatap ke arah foto-foto putri kecilnya.
“Jingga,, ibu kangenn sayangg, pulangg yuk anak ibu, bilang sama ayah kalau Jingga kangen sama ibu nak, hiskkk,,hiskkk,” tangisnya pecah untuk kesekian kalinya.
Dia merasa sesak semenjak Jingga yang merupakan satu-satunya harta yang dia punya, kini sudah diambil paksa oleh Zein.
Bahkan ketika dia meminta tolong pada Stella dan Aiden, kedua orang itu seperti acuh dan sama sekali tidak perduli dengan perasaannya sebagai ibu, malah sepertinya keluarga besar itu malah mendukung jika Jingga berada di dalam pelukan Zein dan Dara.
Sedangkan Valen dan Arvan, selalu memintanya untuk menunggu-menunggu dan menunggu, tanpa jelas kepastian apa yang akan diberikan oleh orang-orang itu.
Note : Gengs, Mimin Infokan untuk karya Aldo Dan Brina Sudah Mimin Update ya , dan udah gangi judul THE MEJESTY I’ts MY HUSBAND.
LANGSUNG SAJA CEK PROFIL MIMIN YA, KALAU RAME MIMIN LANJUT LAGI SOALNYA. TAPI KALAU GAK RAME, MIMIN LANJUTNYA SETELAH KARYA INI SELESAI.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*