It’S So Hurts

It’S So Hurts
Belum Siap Kehilangan



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Ketika angin berhembus di tengah keheningan malam, aku terpaku dengan ketiadaanmu di sini.


Aku tidak pernah mengira, bahwa bayanganmu akan hilang diterpa hembusan angin yang membawamu pergi menghilang dariku.


Cinta? Yang aku pahami cinta adalah sebuah rasa yang tumbuh tanpa seizin pemiliknya.


Kita tidak pernah tau kepada siapa hati akan jatuh, begitupula dengan dia, kita tidak akan pernah tau kepada siapa hati dia akan berlabu.


Tetapi aku percaya, setelah matahari, setelah hujan, benda yang bewarna indah di langit akan menampilkan sebuah harapan yang baru.


****


"Sebelum aku benar-benar pergi, bolehkah aku meminta beberapa waktu untuk menjadi kenangan kita berdua?" tanya Zein pada Dara, yang sedang berdiri menatap pada langit malam hari dari balkon rumah mereka.


Dara menoleh sedikit ke arah Zein, lalu dia menganggukan kepalanya pelan untuk menyetujui permintaan suaminya tersebut.


"Jika aku bisa mengabulkan permintaamu, apa yang kamu inginkan saat ini?" tanya Zein lagi, meskipun dia yakin pasti Dara tidak akan menjawabnya.


"Ikut bersamamu," jawab Dara tiba-tiba, sontak membuat Zein tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Dara.


"Kenapa terkejut? Apa kamu pikir, dalam keadaan ini aku tidak mempunyai keinginan apapun selain kebahagiaan?" tanya Dara dengan sinis.


Zein terdiam, dia ingin mendengar terlebih dahulu semua ungkapan isi hati Dara sebelum dirinya benar-benar pergi.


"Dulu, aku tidak pernah percaya sebuah cinta, aku merasa bahwa cinta itu tidak akan pernah ada di dunia ini, tetapi, semua berubah ketika aku bertemu dengan kamu."


"Aku sangat bahagia, karena kamu mampu memberikan kebahagiaan dari sebuah hubungan yang sempat tidak aku percaya, kamu memberikanku cinta, kasih sayang dan juga kepercayaan."


"Tetapi aku lupa, jika kamu bukanlah milikku saja, masih ada Tuhan yang berhak untuk kehidupanmu," ucap Dara mengungkapkan semua isi hatinya.


"Bisakah aku mengembalikan Jingga pada Tasya lalu aku ikut bersamamu? Sungguh aku belum siap kehilanganmu, kamu bahkan belum mengajarkanku bagaimana cara hidup tanpa dirimu di sisiku."


"Jika bisa, aku mohon kembalilah, sungguh aku belum bisa menerima semua hidup dan keseharian ini tanpa dirimu," pinta Dara dengan sangat memohon pada Zein.


Di saat mereka tengah serius membahas tentang kehidupan, tiba-tiba saja, ponsel Dara berdering dan menampilkan nama Stella di dalamnya.


"Hallo tante," ucap Dara ketika mengangkat panggilan itu.


"Dara, are you okay?" tanya Stella dengan lembut.


"Ya tante, kenapa tidak?" jawabnya dengan singkat.


"Dara tante tahu jika keadaan kita sedang dalam masa berduka, hanya saja sebelum kejadian ini tante sudah menyebar sebuah undangan pesta ulang tahun pernikahaan Aiden dan Freya, apakah kamu bisa datang sayang?" tanya Stella pelan, karena dia takut Dara akan tersinggung akan hal ini.


Memang merasa sangat tidak pantas, ketika keadaan sedang berduka, mereka malah membuat pesta bahagia, namun undangan sudah terlanjur disebar, dan lagi mereka tidak mungkin setiap harinya harus berduka terus menerus. Dan mungkin ini adalah salah satu cara untuk Dara bisa menghilangkan sejenak kesedihaan dalam hatinya.


Terlebih pesta ini dibuat untuk sekaligus merayakan kepemimpinan baru yang telah terganti oleh Griffin.


Stella menutup matanya sejenak, lalu dia beralih kepada Zein yang kini juga sedang menatapnya.


Kembali Zein menganggukan kepalanya tanda dia menyetujuinya.


"Iyah tante, saya akan pergi," jawab Dara, sebelum akhirnya dia mematikan panggilannya.


"Kenapa?" tanya Zein yang melihat wajah Dara kini telah berubah sendu.


"Tidakkk, aku hanya tidak bisa berpikir, kenapa mereka bisa mengadakan pesta di saat keluarga kecil kita sedang berduka, dan parahanya mereka mau merayakan pesta ulang tahun pernikahan yang jelas-jelas mereka tau bahwa aku baru saja kehilangan suamiku," ungkapan Dara yang tidak mengerti cara mereka dalam memahami keadaan.


Zein sangat paham akan itu, hingga dia memilih untuk memeluk tubuh Dara, dan menuntunya untuk beritirahat.


"Istirahalah, ini sudah lewat tengah malam, jangan sia-siakan waktu sehari kita besok," seru Zein lalu memelilih untuk duduk di sofa kamar mereka, setelah memastikan istrinya berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur.


Dara menganggukan kepalanya, dan berusaha menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.


Mencoba menteralkan perasaanya kembali, dan kemudian mencoba menutup matanya, walau itu sulit.


****


Ke-esokan harinya, hari ini, Dara menghubungi Lyla untuk menitipkan Jingga sebentar, karena dia harus pergi ke suatu tempat, untuk memulai hari bersama Zein.


"Lyla, maafkan tante ya, karena harus merepotkan kamu lagi,” seru Dara, merasa tidak enak hati karena sudah meminta bantuan pada Lyla.


Apalagi, dia tahu jika hari ini kedua orang tua Lyla sedang mengadakan pesta besar, tetapi Dara malah memanggilanya.


"Tidak apa-apa kok tante, tadi aku sudah fitting baju terlebih dahulu sebelum ke sini," jawab Lyla dengan santai.


"Oh iya Lyla, tadi tante sudah masak, nanti kalau Jingga bangun kamu boleh makan sekalian bersama dia ok," ucapnya lagi, sebelum dia mengemasi barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas.


Sesungguhnya Lyla sedang menatap Dara dengan bingung, kemana Dara akan pergi dengan mengenakan dress putih panjang, serta kalung salib yang menumpuk di atas cincin pernikahaannya.


Membuat Lyla ingin sekali bertanya, tetapi dia mengurungkan niatnya itu, karena merasa malu jika nanti dirinya disebut kepo oleh tantenya sendiri.


"Tante cantik banget hari ini," pujinya dengan ramah.


Karena memang Dara terlihat sangat cantik hari ini dengan segala riasan yang natural di wajahnya, "terima kasih Lyla, tante pamit dulu ya Lyla," balasnya, dan langsung berpamitan.


"Baiklah tante, hati-hati ya," seru Lyla, ketika melihat Dara yang sudah hampir hilang ditelan pintu.


Lyla masih menatap kepergian Dara walau sosoknya sudah hilang, "sepertinya aku tahu, tante Dara ingin kemana," gumamnya pelan, lalu mengedikan bahunya singkat, merasa tidak perlu mencampuri urusan orang lain.


Dan tidak lama kemudian, dia melihat ponselnya yang berdering, "Griffin," lirihnya pelan, lalu segera mengangkat panggilan itu.


"Ya Fin," sahut Lyla dengan malas.


"Kamu di mana? Aku ada dirumahmu, tetapi kamu tidak ada di sini, jalan kemana lagi kamu?" tanya Griffin yang terdengar seperti sedang mengintrogasi.


Lyla terdiam, karena merasa pertanyaan itu sangatlah tidak penting, dia memilih masuk ke dapur untuk mengambil minum dan beberapa cemilan.


"Kalyla," bentak Griffin dengan keras, ketika wanita yang sedang dia ajak bicara ini malah memilih diam.


"Apasih Fin, aku ada di rumah tante Dara, ribut banget sih," keluhnya merasa jika sikap Griffin sudah sangat berlebihan.


"Share lokasinya, aku akan ke sana sekarang," titah Griffin dengan seenaknya.


Lyla menggelengkan kepalanya pelan, padahal dia tahu sudah pasti Griffin tidak bisa melihatnya.


"Lyla, kirim share locknya," pinta Griffin dengan nada yang dibuat selembut mungkin.


"Big no," tungkas Lyla dengan sinis.


"Kenapa?" tanya Griffin bingung.


"Aku itu di sini untuk menjaga Jingga, lalu kamu ke sini buat apa?" tanya Lyla balik, dengan perasaan kesalnya.


Pasalnya sangat tidak suka jika Griffin pasti akan mengacau kegiataanya yang suka berleha-leha, dan memaksanya untuk berolahraga atau banyak bergerak.


"Aahhhh tidak perlu, aku sudah mendapatkan alamatnya, see you, tunggu aku di sana," ucap Griffin singkat, dan segera menutup panggilan ponselnya, membuat Lyla terpaku dengan mulut yang terbuka.


Lyla menggaruk kepalanya bingung, "dari mana dia tau?" gumamnya, sambil berpikir, bagaimana Griffin bisa melacak alamat seseorang dengan begitu mudah.


"Tauu ah gelap, terserah saja dia mau apa, sekarang lebih baik aku menghabiskan chips ini terlebih dahulu sebelum dia sibuk memarahiku karena memakan junk food," serunya pada diri sendiri, dan setelah itu dia mulai menikmati kehidupaanya sebelum detik-detik kedatangan Griffin.


To Be Continue


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*