It’S So Hurts

It’S So Hurts
Harapan Dara



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Sepanjangan jalan hingga sampai di rumah Zein, nampak keduanya saling diam, Dara yang tidak mau menegur Zein karena takut menjadi sasaran. Sedangkan Zein yang masih terpaku pada pikirannya tentang sikap Valen tadi.


Dara yang merasa malas untuk menegur Zein, kini berusaha untuk mengobati perban lukanya sendiri. “Ah, ponselku bersama dengan Justin,” gumamnya dalam hati.


Dara terdiam menatap cermin yang berada di hadapannya. “Ini masih awal hubunganku dengan Zein, tapi kenapa rasanya sangat sesak untuk dijalankan,” batin Dara meneliti wajah serta tubuhnya yang terlihat sangat banyak luka.


“Aku akan kembali ke negaraku,” gumamnya yakin dengan keputusannya.


Setelah dia selesai mengobati dan mengganti perban pada luka-lukanya, Dara melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan melihat Zein yang masih setia di dalam ruang kerjanya.


“Lupakan dia sebelum rasa cinta itu semakin dalam, Dara,” gumam Dara lagi, sebelum akhirnya dia memilih untuk tidur.


Di saat Dara baru memejamkan matanya, Zein datang dan langsung mendekat ke arah Dara. “Maafkan aku mengabaikanmu hari ini, hanya saja begitu banyak pikiran yang membuatku merasa pusing dan takut untuk tidak bisa mengontrol emosiku,” lirih Zein pelan sambil mengusap lembut pipi Dara.


Lalu memilih untuk membaringkan tubuhnya dengan memeluk tubuh Dara dari belakang. “Mencintai bukan berarti memiliki Zein, dan cinta itu bukan hanyalah sebuah kata aku mencintaimu, tapi semua butuh pembuktian, dan aku memilih untuk menjauhimu,” balas Dara dalam hati.


Ketika Dara merasakan Zein sudah tertidur, perlahan dia bangkit dan mengganti pakaiannya dengan niatan untuk kabur. Akan tetapi ketika dirinya baru saja memegang gagang pintu luar, tiba-tiba, ada yang memeluknya dari belakang.


“Percuma kamu berlari, karena aku pasti akan menemukanmu di manapun itu,” tegur suara yang terasa berat ada di telingnya. Membuat Dara hanya mampu menelan salivanya kasar.


“Zein, tapi bagaimana bisa?” gumamnya dalam hati, merasa jika Zein sedang tidur nyenyak saat ini.


“Jika kamu saja bisa berpura-pura tidur, lalu mengapa aku tidak bisa?” sahut Zein, seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dara saat ini.


Merasa tidak ada jawaban apapun dari Dara, Zein langsung menggendongnya paksa masuk ke dalam kamar, “Kamu tahu, Dara, ketika aku sudah gila dalam mencintaimu, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu, sampai kapan pun itu. Apa kamu paham itu?” tegas Zein dengan sorotan mata yang sangat tajam.


Zein menindih tubuh Dara dan ingin mellumaatt bibir mungil itu, namun Dara mengalihkan kepalanya ke arah lain. “Kamu mau apa, Sayang? Please, jangan seperti ini, apapun yang kamu mau aku akan turuti, asal jangan pergi tinggalin aku,” pinta Zein tulus, sambil memeluk tubuh Dara dengan erat.


Dara terdiam, merasa goyah dengan permohonan Zein yang terdengar sangat serius ini, “Zein--,”


“Aku tahu aku nggak akan selingkuh Dara, aku janji aku nggak akan bohong, percayalah, aku sayang sama kamu Dara,” sahutnya memutus kalimat Dara terlebih dulu. Mengingat apa yang dikatakan oleh Tyas dengannya tadi di rumah sakit.


Dara memandang lekat mata Zein, mencari kebohongan dalam kata-katanya, mencari cara untuk bisa melihat apa yang ada di dalam otak Zein, hingga sampai dia tersadar ketika Zein mengambil piiissttolnya dan memaksa Dara untuk memegangnya.


Kreterkkk, bunyi bidikan yang mulai ditarik.


“Dara, daripada kamu meningglkanku dengan cara bersembunyi di negara lain dan membuatku gila, lebih baik kamu tembak mati aku sekarang! Karena aku merasa gak ada guna lagi aku hidup jika pertama kali aku mencintai, pertama kali aku merasa bahagia, dan itu langsung lenyap begitu saja karena kamu yang pergi,” paksanya meminta Dara untuk menembaaknya saat ini juga.


Dooorrr tembakan dilepaskan ke arah lain dan mengenai tembok kamar yang retak karenanya. Dan beruntungnya peluruu itu tidak mantul.


Dara langsung histeris menangis memeluk tubuh Zein, memohon ampun atas pemikirannya yang ingin kabur dan pergi meninggalkan kekasihnya.


“Maafkan aku Zein,,maafkan aku,hiskk,,hisskk,” isakan tangisnya yang terdengar sangat lemah.


Zein hanya diam saja, dan berusaha menenangkan Dara, “Besok kita akan pergi berlibur, dan aku harap kamu akan melupakan segala masalah kita ini, dan fokus untuk masa depan kita,” seru Zein yang sepertinya akan membawa Dara pergi untuk berlibur di suatu negara.


“Tidurlah, Sayang. Sudahi tangismu, aku tidak akan marah padamu,” pinta Zein, agar Dara tidak membuang waktu hanya karena menyesali niatannya.


Sepanjangan Dara memejamkan mata, Zein selalu mendampingi Dara hingga kekasihnya itu benar-benar tidur. Dan dirinya ikut membaringkan tubuh juga. Karena kejadian hari ini yang cukup melelahkan.


****


“Kita akan berlibur, Sayang,” jawab Zein dengan lembut.


Dara hanya mampu menghela napasnya kasar, dan kembali memejamkan matanya, hingga dia tidak menyadari bahwa dirinya sudah di dalam pesawat. “Sayang, bangun. kamu tidur sampai kapan?” panggil Zein, sambil menepuk-nepuk pipi kekasihnya yang terlihat sangat chubby.


Dengan perasaan malas Dara mengerjapkan matanya pelan, dan menatap Zein dengan senyum manis di siang hari, “Kita mau ke mana, Sayang?” tanya Dara, ketika menyadari bahwa mereka sedang di dalam pesawat.


“Pulau Derawan,” jawab Zein, sambil memperlihatkan keindahaan pulau itu dari layar ponselnya.


“Waahhh indah sekali di sana,” sahut Dara menatap kagum keindahan lautan Kalimantan itu.


“Kamu suka?” tanya Zein.


“Ya, aku suka, terima kasih, Sayang,” balas Dara, dan langsung memeluk tubuh Zein dengan erat.


Para pengawal yang mendampingi mereka, tanpa terasa ikut tersenyum melihat Tuan mereka yang menajadi hangat ketika bersama dengan Dara.


“Lihatlah, apa kamu pernah melihat Tuan Zein tersenyum selain dengan korbannya?” tanya salah satu anak buahnya bertanya dengan kawannya.


“Tidak, aku tidak pernah melihatnya,” sahut salah satunya.


“Bukankah dia di mempunyai gelar The smile of the god of death,” ucap salah satunya lagi.


“Ya,ya benar, senyum sang dewa kematian, aku bahkan merinding setiap kali dia tersenyum menatap korbannya, karena entah dari mana asalanya malaikat maut seperti sudah terpanggil berdiri di sisinya di saat senyuman itu muncul,” balas yang lainya lagi.


Hingga salah satu dari mereka meminta mereka untuk diam sebelum Zein mengetahui jika mereka sedang bergosip.


Sepanjang perjalanan menuju Kalimantan, Dara dan Zein hanya terlihat saling memeluk satu sama lain, sambil melihat pemandangan langit yang indah dari jendela pesawat.


“Sayang, kamu tahu, hari ini aku ada syuting pertama dan kamu sudah membuatku bolos,” sindir Dara memandang sinis ke arah Zein yang berpura-pura memejamkan matanya.


“Sayang, ihh,” sahut Dara kesal karena Zein yang ingin bermain denganya.


Zein membuka matanya dan tersenyum menatap Dara, “Sayang, kita hanya tinggal bayar pinalti, that’s so simple,” jawab Zein dengan santainya, membuat Dara ingin sekali mengigitnya.


“Hissss, pria ini,” gerutu Dara dengan jutek.


“Hiss wanita ini,” balas Zein, yang semakin memancing kekesalan kekasihnya.


Dara mengalihkan pandanganya ke arah lain, dan membuat Zein semakin ingin memakan Dara saat ini juga.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻