
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Kali ini Zein benar-benar setia menunggu Dara sesampainya selesai dengan pekerjaannya, bahkan Zein sama sekali tidak perduli dengan Valen yang sedari tadi mencoba menghubunginya.
“Kamu masih di sini?" tanya Dara, yang baru saja masuk ke dalam mobil, menghampiri Zein yang sedang bermain game.
Zein menolehkan pandangannya singkat, lalu menarik kepala Dara agar bersandar di bahunya.
Cuuuupp, Zein mengecup singkat kening Dara dengan seluruh perasaan cintanya. “Apa kamu lelah sayang?” tanyanya lembut.
Dara menganggukkan kepalanya singkat, lalu menjauh dari tubuh Zein. “Kita pulang ya,” ajaknya, masih merasa enggan bicara panjang lebar dengan kekasihnya ini.
“Sayang,” panggil Zein pelan, mencoba untuk menggenggam tangan Dara, namun secepat kilat ditepis oleh si pemilik tangan.
Zein menghela napasnya kasar, dan segera mengarahkan mobilnya untuk pulang.
Selama perjalanan, baik Dara maupun Zein hanya saling diam tanpa mau membuka suara mereka masing-masing.
Namun perjalanan mereka jadi berantakan di saat panggilan dari Valen terus menerus masuk, hingga mengirimkan foto-foto Tasya, yang membuat dada Dara terasa panas melihatnya.
Bruggghhhhh,,Dara membanting pintu mobil, di saat mereka baru sampai diparkiraan, dan berlari cepat naik ke atas, bahkan sepertinya dia lupa dengan phobianya yang takut menaiki lift.
“Daraaa, kamu itu kenapa sih ? Dari semenjak tadi kamu itu aneh,” bentak Zein, menarik tangan Dara yang lebih dulu berjalan di hadapannya.
Dan lagi-lagi Dara menepis tangan Zein, “Kamu masih tanya kenapa? Punya otak tidak sih?” balas Dara tidak kalah kesal sekaligus emosi mendengar pertanyaan Zein, yang seakan tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini.
“Apa? Kamu bahkan tidak menjelaskan apa kesalahaanku? Bagaimana aku bisa berpikir?” tanyanya kembali, membuat Dara benar-benar hilang kesabaran dengan sikap Zein yang seperti ini.
Dara mengusap wajahnya kasar, dan bahkan menutupnya, “Aaaarrrggghhhhhhhhhh,,hiskk,,hissk,” tangis Dara yang akhirnya pecah kembali, saking tidak sanggupnya lagi menahan sakit di hatinya.
Dengan cepat, Zein berlutut di hadapan Dara yang sedang tertuduk di sofa, agar tinggi mereka bisa sama.
“Sayang,” panggilnya lagi, merasa bingung dengan sikap Dara ini.
“Kamu pikir aku tidak tahu dengan niat Bunda kamu yang menginginkan kamu menikahi Tasya? Cukup, Zein, mau dipaksa seperti apa pun, kita tetap tidak bisa bersatu,” cercanya, merasa muak dengan semua ini.
“Bagiku, kamu adalah seluruh hidup dan cintaku, hanya kamu yang mampu membuatku merasakan arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, tapi kita harus selesai sampai di sini Zein, aku tidak bisa bertahan dengan orang yang menyakiti aku terus-menerus seperti ini,aku mau kita--,” ungkapnya terhenti di saat Zein menutup mulutnya dengan erat.
“Kita akan menikah besok. Please, jauhkan pemikiranmu yang menginginkan hubungan ini putus. Aku akan pergi ke rumah Bunda untuk bicara, dan aku akan mengirim Tyas agar tidur bersamamu malam ini, persiapkan dirimu secantik mungkin besok ya, aku menunggumu di gereja,” seru Zein, dengan lembut.
Sontak saja Dara terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Zein, “Apa maksudnya? Aku tidak bisa menikah tanpa waliku, setidaknya Ayah aku harus datang,” sahutnya menolak pernikahan yang terkesaan diam-diam.
“Sayang, please, kita tidak mempunyai pilihan lain, besok kita harus menikah, dan tidak ada penolakan apa pun,” tegas Zein tidak ingin dibantah.
Dara tersenyum manis, lalu segera memeluk tubuh Zein dengan sangat erat. “Aku menunggumu di altar,” bisiknya pelan di telinga Zein, membuat pria itu ingin sekali mengigit kekasihnya saat ini juga.
“Ehhmm no,,no Sayang, kamu tidak boleh mendapatkannya sebelum hari pernikahan kita,” tolak Dara yang sudah tau ke mana arah tujuan kekasih meesumnya ini.
Zein tersenyum karena Dara berani bermain bersamanya kali ini, “Baiklah, jika begitu selesai janji suci, aku akan bersamamu di dalam kamar seharian penuh dan jangan berharap jika kamu bisa lepas,” ancam Zein, yang membuat bulu kuduk Dara berdiri.
“Udah ih, kamu bilang mau ke rumah Bunda kamu,kan?” sahut Dara, mengalihkan pembicaraan.
Zein menganggukkan kepalanya singkat, dan membaringkan tubuhnya sejenak. “Aku ingin mengambil beberapa berkas penting untuk mendaftarkan pernikahan kita, dan lagian kamu adalah Warga Negara Asing, jadi agak rumit untuk mendaftarkannya,” jelas Zein membuat Dara hanya menganggukkan kepalanya singkat.
“Oh begitu,” sahut Dara pelan.
Zein diam, lalu memejamkan matanya sebentar, “Aku tidur dulu ya, nanti kalau sudah jam 5 sore baru bangunin aku, malas ke sana cepat-cepat,” pintanya pada Dara, yang terlihat ingin tidur juga.
“Iya kalau aku tidak ketiduraan juga ya,” balasnya juga ikut berbaring di sebelah Zein, terhubung sofanya memang besar jadi memudahkan mereka untuk tidur berdua.
Tasya menganggukan kepalanya singkat, sambil terus menatap ke arah Valen, “Bunda, tidak pulang?” tanya Tasya ragu.
Valen menggelengkan kepalanya singkat menjawab pertanyaan dari Tasya, "Memangnya Zein tidak mencari Bunda?” tanya Tasya lagi.
Valen kembali menggelengkan kepalanya singkat, “Mungkin nanti Zein akan ke sini,” ucap Valen yang mampu membuat tubuh Tasya menjadi kaku seketika.
“Kamu jangan takut, ada Bunda di sini,” sambung Valen yang tahu jika Tasya masih merasa takut dengan keponakanya itu.
****
Zein yang terbangun duluan dari tidur kini menatap ke arah wajah Dara yang masih terlelap tidur dengan mata yang sangat bengkak, karena seharian ini menangis tanpa henti.
“Sayang, aku pamit dulu ya, gaun pernikahaan kamu sudah ada di dalam kamar, besok kamu pakai itu ya, cuppp, aku mencintaimu,” pamit Zein, yang tidak ingin membuang waktu untuk menyiapkan pernikahan mereka.
Dengan ekspresi ngantuk, Dara menganggukkan kepalanya singkat, “Hati-hati, Sayang,” balasnya dengan mata yang masih tertutup.
Zein tersenyum manis, lalu segera melangkahkan kakinya pergi.
20 menit kemudian, setelah kepergian Zein, terdengar suara bel pintu yang berbunyi.
Tingg,,tonggg, Dara tidak memedulikan itu, dia kembali memperbaiki posisi tidurnya agar merasa lebih nyaman.
Tingg,,tongg, bunyi bel itu terus menerus berbunyi, membuat Dara menjadi kesal sendiri, namun tetap tidak memedulikannya.
Tingg,,tonggg.
“Huffftt siapa sih, yang mencet bel sampai berulang begitu? Bikin kesel saja,” gumam Dara, merasa muak dengan tamu yang datang ini.
Ckleekkkk. Dara membuka pintu itu dengan perasaan malas.
“Iya,” ucap Dara melihat sosok yang ada di depan pintu.
“Maaf, Anda siapa? Dan cari siapa? Kalau cari
Zein, dia sudah pergi duluan tadi,” ucapnya menanyakan rentetan pertanyaan yang seperti mengintrogasi.
Sosok itu tersenyum lalu menatap ke arah Dara, dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya, “Kamu yang namanya Andara Naqquenza, kan?” tanya sosok itu.
“Iya betul,” sahut Dara.
“Bisa kita bicara? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kamu,” ujar sosok itu lagi, membuat Dara menjadi gelagapan bingung.
“Saya adalah Arvan, uncle dari Zein,” ungkapnya menjelaskan jati dirinya, yang sontak membuat Dara terkejut, dan merasa enggan untuk bicara.
“Maaf, bicara tentang apa ya ?” tanya Dara bingung.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻