
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Merasa miris dengan keadaan papahnya, Lyla memilih untuk menengahinya. "Ya sudah, kali ini biarlah aku yang membawa dan memperkenalkan kepada aunty Dara apa itu bakso, ladies dan gentelmen, silahkan beradu pendapat terlebih dahulu ya," sindir Lyla, dan lalu menarik tangan Jingga dan Dara untuk segera pergi dari pengaruh keluarganya.
"Lyla, jangan lupa bawa pulang 50 bungkus ya," teriak Freya, mengingatkan putrinya untuk membelikan mereka semua, bersama dengan seluruh pelayan Mansin mereka.
"Kan mamah rada-rada, pelayannya ada 80 orang yang dibeli hanya 50, alibi saja," gumamnya merasa kesal jika mamahnya selalu membuatnya salah dalam berhitung.
Dara tersenyum melihat Lyla yang sedari awal pertama bertemu dengannya selalu saja mengomentari kelakuan dari para tetuah di keluarganya.
"Heheh tante, jangan ilfil ya dengan sikap keluarga saya, memang rada minus soalnya," lirih Lyla dengan pelan.
"Iya tidak apa-apa, malah tante jadi senang karena bisa sedikit menghibur hati tante yang sedang berduka," sahut Dara.
Setelah itu, barulah Lyla masuk ke dalam salah satu mobil mewah miliknya, "usia kamu berapa Lyla?" tanya Dara, ketika mereka sudah dudum dengan manis di dalam mobil.
Lyla menolehkan pandanganya sedikit lalu tersenyum dengan manis, "usia aku baru 16 tahun tante," jawab Lyla, sambil mengahadap ke belakang untuk menuntun Jingga menggunakan seatbeltnya.
"Kalau Griffin?" tanya Dara lagi, sepertinya dia menjadi sangat cerewet sebagai usaha untuk membuat hatinya tidak sedih lagi.
"Griffin usia 17 tahun tante, hampir 18 tahun, aku dengan dia beda 1,5 tahun," jawabnya lagi. Membuat Dara mengerti, kanapa Griffin sudah berani mengambil keputusan demi keputusan di dalam keluarga ini.
Dara kembali terdiam, karena dia tidak tahu ingin bertanya apa lagi. Melihat Lyla yang sepertinya sangat bersikap tidak mesra.
"Oh ya, kenapa tante tidak tinggal di Jakarta saja tante?" tanya Lyla, yang mengetahui jika Zein mempunyai rumah di daerah sini.
"Tante-," jawabnya gugup, merasa tidak perlu mengatkan alasannya dengan berulang-ulang kali.
Lyla menganggukan kepalanya mengerti, "tante mungkin aku baru berusia 16 tahun, tetapi aku tahu jika tante tidak mau mengingat kejadian di masa lalukan tante," ucap Lyla dengan santai.
"Kalau aku jadi tante, buat apa mau menghindar jauh sampai ke Bogor, ingat tante! kalau tante itu bukan Warga Negara Indonesia, kalau suatu saat nanti Jingga atau tante yang mengalami kesulitan dokumen izin tinggal bagaimana? Apa tante bisa mengurusnya sendiri sedangkan bakso saja tante tidak tahu, apa lagi dokumen-dokumen coba," ucap Lyla menasehati orang yang lebih tua.
Fiks banget, ini adalah efek dari kebiasaan Stella yang mengajarkannya dan mempertontonkannya adegan-adegan rumah tangga yang seharusnya tidak diperlihatkan tontonan seperti itu kepada anak seusia Lyla.
"Zein pernah mengurus surat-surat saya kemarin, dan memindahkan kewarganegaraan saya menjadi penduduk Indonesia," jawab Dara singkat.
Mendengar jawaban itu Lyla seketika langsung diam, dia tidak ingin lagi mencela ataupun berusaha untuk mengubah keputusan Dara, karena pasti dia akan dianggap masih kevilndan tidak tahu apa-apa soal urusan kehidupan manusia.
Karena obrolan mereka yang panjang, membuat perjalanan mereka terasa sangat singakat sekali, hingga kini Lyla terlihat sedang mermarkirkan mobilnya dengan rapi.
"Lyla, orang tua kamu tidak khawatir dengan memberikamu mobil seperti ini?" tanya Dara, yang sedari tadi merasa was-was melihat seorang pelajar yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi, kini dengan beraninya membawa mobil berjalan-jalan mengelilingi kota dengan mobil ini.
"Kan Nenek aku yang punya jalanan tante, jadi ya fine-fine aja," jawab Lyla dengan begitu santainya sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Ayo turun tante," ajak Lyla lagi, dan melihat Dara yang menganggukan kepalanya pelan, dan beralih ke kursi belakang untuk membantu Jingga melepaskan sabuk pengamannya.
Dara dan Jingga menatap bingung ke arah warung yang berada di pinggir jalan. "Ini namanya bakso?" tanya Dara pada Lyla.
"Iya Tante, ini yang namanya bakso, bulat-bulat seperti bola pimpong," jawab Lyla, yang langsung menggandengn tangan Jingga masuk ke dalam warung itu.
"Ayo Jingga, kita masuk ke dalam, Jingga mau makan bakso apa? Ihh di situ ada banyak," serunya dengan riang sambil menunjuk-nunjuk dengan bahagia ke arah bakso-bakso itu.
Dara kembali tersenyum melihat Jingga dan Lyla yang tertawa bersama seperti melupakaan sedikit beban di otaknya.
"Heyy," panggil seseorang yang tiba-tiba berada di belakangnya.
Zein tersenyum memandang ke arah Dara, "kamu nangis lagi tadi ya?" tanya Zein sambil mengusap lembut mata istrinya yang terlihat sangat bengkak.
"Aku akan selalu ada di sini, kapanpun kamu merindukanku, maka pejamkanlah saja mata indahmu ini, maka aku akan datang, seperti yang aku lakukaan saat ini," pinta Zein pada Dara, agar istrinya itu tidak terlalu sedih mengingat kepergiaanya.
"Kenapa kamu jadi hantu sih?" tanya Dara merasa sangat kesal.
"Karena pembaca yang minta aku hidup lagi, jadi author buat aku jadi hantu saja sekarang," jawab Zein dengan polos.
Cuuupppp Zein mengecup singkat pipi Dara, "I Love you, nanti kita ketemu di rumah Condominum ya, aku menunggumu di sana," titah Zein sangat se-enanknya. Lalu seketika dia pergi hilang dibawa oleh angin.
"Sudah jadi hantu saja masih banyak suka merintah," batin Dara bermonolog sendiri dalam hatinya.
Dan karena merasa lebih puas ketika rindunya sedikit tertangguhkan, kini Dara mulai kembali menikmati hari-hari seperti biasanya, dia melihat ke arah Jingga dan Lyla yang saling menggoda sambil terus memakan bakso mereka.
"Maafkan mamah yang mengabaikanmu beberapa hari ini ya sayang," gumam Dara, dan memilih melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah dua wanita yang saling bercanda ria.
"Jingga sudah makan baksonya sayang?" tegurnya, sambil mengusap lembut kepala putrinya.
"Belum," jawab Jingga singkat.
Memang benar, baru kali ini Dara melihat Jingga yang mau makan banyak, "apakah kamu suka makan bakso sayang?" tanya Dara lagi.
Jingga menganggukan kepalanya pelan, lalu kembali menggelengkannya.
"Jingga," jawabnya gugup.
Dara paham, Jingga pasti saat ini tengah mengingat ibu kandungnya yaitu Tasya.
"Jingga sayang, kalau Jingga kangen sama ibu, nanti mamah akan mengantar Jingga untuk bertemu dengannya sayang, tetapi biarkan keadaanya membaik dulu ya," ucap Dara, yang malah membuat suasana menjadi canggung.
"Ahhh Jingga, kamu mau coba punya kakak tidak?" tanya Lyla, mencoba mengalihkan lagi pemikiraan Jingga yang tadi sempat oleng karena pertanyaan Dara.
"Iya kakak," jawab Jingga, dan lalu mengambil bakso milik Lyla.
Lyla tersenyum ke arah Dara, karena ingin memberikan sebuah kode bahwa semua akan baik-baik saja.
"Nanti pulang dari sini antar kami ke rumah Zein bolehkan Lyla?" tanya Dara pada Lyla, agar tidak bolak balik lagi nantinya.
"Boleh kok tante, setelah ini, Lyla akan mengantar tante ke sana," jawab Lyla dengan ramah, sambil terus memakaan bakso miliknya dengan sangat lahap.
Begitupula dengan Jingga, yang terlihat sangaat menikmati makananya tanpa memperdulikaan yang lainnya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*