It’S So Hurts

It’S So Hurts
Jingga Tidak Mau Tinggal dengan Seorang Pembunuh



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Jenni mengayunkan langkah kakinya keluar dari kamar, untuk menemui Dara.


Niatnya tadi ingin memanggil Arvan untuk menyadari semua kesalahaan yang telah dia lakukaan, tetapi seperti bicara dengan orang bodoh, Arvan sama sekali tidak menanggapinya.


"Dara," lirih Jenni pelan, dan seketika langsung berlutut di kaki Dara.


Di sinilah terlihat Jenni yang merasa sangat bersalah akibat ulah suaminya dia harus meminta maaf terhadap Dara.


Bukan karena untuk sebuah kedudukan dan kewibawaanya, tetapi ini adalah tentang seorang wanita yang menanggap dirinya adalah ibu dari semua wanita.


Melihat seorang Jenni mau merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita untuk berlutut seperti ini, membuat Dara kembali tidak kuasa menahan air matanya.


Sehingga dia membalikkan tubuhnya dan menangis membelakangi Jenni.


Aiden memeluk tubuh Dara dengan sangat erat, dia tau betapa rapuhnya wanita yang berada di dalam pelukaanya ini.


"Dara, sebagai seorang wanita, saya jelas tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini, betapa hancurnya jiwa ketika suami yang kita cintai sekarang telah pergi untuk selama-lamanya, saya sangat paham tentang semua ini, tetapi saya juga tidak bisa menuliskan takdir di tangan Tuhan, saya tidak bisa merubah sifat dan karakter suami saya, karena-,"


"Kak Jenni, buat apa sih kakak sampai harus berlutut seperti itu? Dia itu-," ucap Valen terhenti ketika Jenni kini beranjak berdiri dan menatapnya dengan tajam.


"Valen, saya cukup sabar sama kamu dari dulu ya, saya membiarkan kamu mengurus cucuku bukan berarti saya memberikan kamu kuasa untuk mengambil semua keputusaan di dalam keluarga ini!" bentak Jenni yang saat ini terlihat mengeluarkan tanduknya.


Valen tertunduk malu karena ucapan Jenni, terlebih lagi dengan Tasya, yang merasa saat ini dirinya sudah tidak akan pernah ada yang membela.


"Dulu kamu di sini hanyalah menumpang Valen, karena mamah dan papah aku kasihan dengan keluarga kamu yang kelaparaan di jalan, dan sebab itulah kak Arvan menjadikan kakak kamu Lucas sebagai pilar keluarga ini, dan aku dengan baiknya menjadikanmu sahabat, meskipun kamu adalah pelayanku," sahut Stella merasa sudah sangat muak melihat sikap Valen yang seperti ratu.


"Sebagai pelayan, kamu itu harusnya sadar diri! Jangan pernah mencampuri urusan rumah tangga Zein meskipun dia adalah keponakaan kamu, karena hidup mereka kini sudah terikat janji di keluarga kami, sedangkan kamu bukan keluarga kami, jadi stop merasa bahwa dirimu adalah bagian dari kami," bentak Stella tanpa sedikitpun menjaga perasaan Valen.


"Sudah cukup sudah, kita stop pembicaraan tentang Zein sampai di sini,hiskk,,hisk, biarkan suamiku hidup tenang sekarang, aku sama sekali tidak akan meminta belas kasihan keluarga ini, karena aku bisa menjalani kehidupanku sendiri dengan Zein yang berada di dalam hati dan pikiranku," ucap Dara dengan lemah.


Dara sudah benar-benar merasa lelah dengan semua ini, dia ingin pulang dan beristirahat di rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama Zein.


Jenni memeluk tubuh Dara yang masih berada dalam pelukan Aiden dengan erat, "Aiden, jaga adik ipar kamu ya, jangan lepaskan dia apapun keadaanya," pesannya pada Aiden.


"Baik mah," jawab Aiden pada Jenni.


Lalu Jenni mengusap lembut rambut Dara yang terlihat berantakan dan mentap wajah yang sangat berantakaan.


"Mulailah hidup yang baru ya sayang, yakinlah bahwa Zein tidak benar-benar pergi dari sisimu, dia akan selalu ada menyertai setiap langkahmu," ucapnya lembut pada Dara.


Melihat ketulusan yang ada di dalam mata Jenni, Dara melepaskan pelukaanya dari tubuh Aiden, dan beralih memeluk tubuh Jenni.


"Terima kasih ya tante," imbuhnya dengan suara yang parau.


"Iya sama-sama," balas Jenni.


"Ya sudah yuk kita balik ke Indo Aiden, mamah rasa di sini sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan," ajak Stella, yang merasa terlalu lama mengulur waktu, dan terlalu muak melihat wajah Valen dan Tasya.


Dara dan Aiden menganggukan kepalanya pelan, lalu melangkahkan kakinya pergi, namun belum saja mereka melangkah jauh, Tasya langsung menahan kaki Dara dan memeluk kaki madunya itu dengan erat.


"Tolong jangan bawa putriku Dara, aku mohon, dia adalah satu-satunya hidupku," mohonya pada Dara.


Aiden menghela nafasanya kasar, dan segera memberikan kode pada Lyla untuk segera memanggil Freya dan Jingga yang berada di dalam kamar.


"Lebih baik kamu tanyakan saja pada Jingga, apakah dia mau ikut dengan kamu atau tidak," sahut Aiden, yang memilih jalan terbaik saat ini.


"Tidak, pasti Dara sudah merancuni otak anakku sehingga dia menolak ikut bersamaku," seru Tasya yang lagi-lagi menyalahkan Dara.


Padahal Dara tidak pernah berbicara apapun sedari kamarin, apa lagi meminta atau meracuni pikiran Jingga agar tidak mau ikut dengan Tasya.


Dara hanya terdiam, dan mengiyakan semua yang dikatakakan oleh Tasya, karena yang waras memilih untuk mengalah.


Tidak lama kemudian, terlihat Freya yang datang dengan menggandeng tangan Jingga. "Jingga sayang," panggil Dara dengan lembut. Karena Dara jelas tahu, jika Jingga tidak akan pernah membuka suaranya jika bersama dengan orang lain.


"Mamah," jawab Jingga.


"Jingga sayang, sekarang mamah mau pulang ke rumah, tetapi Ibu Tasya mengingikan Jingga untuk tetap di sini bersamanya, sekarang Jingga kasih mamah dan ibu keputusan, sama siapa Jingga mau ikut, mamah atau ibu?" jelasnya dan memberikaan gadis kecil itu sebuah pilihaan.


Jingga terlihat menatap ke arah wajah Dara sekilas, lalu beralih menatap ke arah Tasya yang kini tersenyum ke arahnya.


"Mamah, Jingga mau ikut mamah," jawab Jingga dengan sangat pelan, mungkin karena dia merasa takut dengan keputusan yang dia ambil.


Dara dan Tasya terkejut dengan jawaban Jingga, terlebih dengan Tasya yang tidak menyangka jika putrinya memilih untuk ikut bersama wanita yang baru saja dia temui.


"Jingga, ini ibu sayang, kenapa Jingga tidak mau ikut bersama ibu?" tanyanya histeris dan berusaha mendekat ke arah Jingga.


Namun karena anak itu takut, hingga dirinya kini berlari bersembunyi di balik tubuh Dara. "Jingga kenapa sayang? Ini ibu Jingga, kita baru satu minggu tidak bertemu, masa Jingga sudah lupa sama ibu, Nak?" tanyanya lagi, dengan air mata yang kembali tumpah melihat sikap putrinya seperti menganggapnya orang asing.


Jingga menggelengkan kepalanya kuat, menolak semua yang dikatakaan oleh Tasya.


"Mamah,,hiskk,,hiskkk, Jingga mau ikut Mamah, jangan tinggalin Jingga Mah, Jingga mohon, bawa Jingga bersama dengan Mamah," pintanya dengan menangis menatap Dara dengan tangan yang terus memegang tubuh Dara, karena takut ditinggal.


Tasya berusaha menarik tangan Jingga dari balik tubuh Dara, "Jingga ayo ikut ibu sayang, aku ini ibu kamu, sedangkan dia hanyalah istri ayah kamu," bentaknya paksa.


"Gak mau,,gak mau,,Jingga gak mau, mamah tolong," teriak Jingga sambil terus meronta dalam gengaman tangan Tasya.


Dengan cepat Dara menepiskan tangan Tasya dari Jingga dan mendorong tubuh wanita itu dengan keras.


"Anaknya itu tidak mau ikut bersama dengan kamu Tasya, punya otak tidak, jangan paksa jika dia tidak mau, karena itu akan membuat dia semakin benci dengan kamu," emosi Dara benar-benar memuncak ketika Tasya mamaksa Jingga sampai seperti itu.


Tasya menatap Dara penuh dengan kilatan permusuhan, dia pasti akan membalas semua yang telah Dara dan Zein lakukan pada hidupnya, itu pasti.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*