It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tasya Yang Nyata atau Bayangan Dara



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Zein menepis tangan Tasya yang berada di kepalanya, dia tidak suka ada yang menyentuhnya selain Dara.


"Aku harap kamu tidak menyentuhku lagi Tasya," tandasnya, ketika Tasya masih mencoba untuk mengusap lengan Zein.


Tasya tersenyum menggelengkan kepalanya, "jika Tasya tidak menyentuhmu Zein, lalu bagaimana Tasya bisa memebersihkan tubuhmu?" tanya Tasya bingung, dengan sedikit tersenyum, merasa aneh dengan permintaan Zein kepadanya.


"Aku tidak gila Tasya, jadi lebih baik kamu pulang dan urus diri kamu sendiri," sahut Zein lagi.


Dia merasa sangat tidak suka dengan tingkah Tasya yang menganggap dirinya seolah-olah adalah istri sah dari Zein.


Tasya menolehkan kepalanya, lalu langsung bangkit dari sisi tempat tidur Zein, namun mendekati perutnya dengan Zein.


"Sadaarlah Zein, Tasya sedang mengandung anakmu, Tasya ibu dari bayi kamu, jadi wajar dong kalau Tasya ngurusin kamu, karena Tasya merasa bahwa ini adalah sebuah kewajiban yang harus Tasya lakukan begitu," tegas Tasya pada Zein.


Alih-alih ingin membalas, Zein lebih memilih untuk memejamkan matanya, dan menghirup aroma segar tubuh Dara, yang menempel di seluruh pakaian yang masih ada di sini.


Telebih lagi, Dara masih belum mencuci pakaian kemarin yang dia gunakan seharian, hingga keringat murninya masih menempel pada baju tersebut, dan itulah yang menjadi candu bagi Zein.


Dia benar-benar meletakan baju itu untuk menutupi wajahnya, dan mengimajinasikan jika Dara sedang bersamaanya di sini.


"Zeinnn,Zeinnn," pangil suara yang lembu menyapanya.


"Dara sayang, kamu dari mana saja sih ? Aku sangat merindukanmu," sahut Zein, sambil memeluk erat tubuh kekasihnya.


"Benarkah? Aku pikir kamu sudah bersamannya dan tidak mengingatku," jawab Dara dengan wajah marahnya.


Mendapatkan wajah marah dari Dara, Tiba-tiba Zein tersadar bahwa itu hanyalah sebuah imajinasi belaka, tapi dia menyukainya.


"Jika kita hanya dengan berimajinasi aku bisa melihat senyum serta berdua bersamamu lagi, maka akan aku lakukan Dar," gumamnya , mulai kembali tersenyum, membayangkan Dara ada disebelahnya, dan sedang tertidur dengan pulasnya.


Zein terbangun, dan berusaha memperbaiki selimut di tubuh Dara. "Tidur yang nyenyak ya sayang," ucapnya pada bayangan.


Hingga Tasya yang barus saja ingin masuk ke dalam kamar Zein, kini merasa bingung dan juga merinding, mendengar Zein yang berbicara sendiri, dan bahkan tertawa sendiri.


Namun semua itu tidak berlangsung lama, di saat Tasya mulai memahami, bahwa Zein berada di bawah ruang imajinasinya sendiri.


Dan sikap Zein kali ini, berhasil lagi membuat air mata kesakitaan yang berusaha ditahan oleh Tasya, tetap tumpah merasakan perih yang sangat dalam.


Segitu tidak berartinya kah keberadaan serta perjuangaanya beberapa hari ini, yang mengurus dan bahkan dengan sabar mengahadapi seluruh perlakuaan Zein. Tetapi tetap saja pria itu, kembali mengingat Dara.


Yang ada dipikirannya lagi-lagi hanya Dara, hingga dia berimajinasi seperti itu karena Dara, lalu apa gunannya dia? Apa harganya dia selama ini berusaha mengurus Zein ketika depresi mental.


"Ya Tuhan, mau sampai kapanpun aku berusaha dan berdoa, dia tetap saja akan memikirkan Dara, tidak bisakah engkau memberikanku sebuah celah sedikit saja untuk membuat Zein berpaling, dan melihat jika aku berada di sini juga untuknya serta karenanya," batin Tasya bermonolog sendiri, sambil terus menahan sesak di dadanya.


Rasa sakit yang siapapun tidak akan pernah bisa merasakaanya, ketika dirimu nyata namun dianggap bayangan, dan sebaliknya, ketika dia adalah sebuah bayangan namun dianggap nyata.


Tasya berusaha menetralkan perasaanya, mencoba menghapus air mata yang sedari tadi mengalir keluar.


"Kuat Tasya, kamu kuat," semangatnya meyakinkan dirinya sendiri.


Dengan menarik nafasnya dalam, Tasya perlahan mulai menampilkan senyum kepalsuan. Dia tidak mau Zein melihatnya sebagai wanita yang lemah.


Bagi Tasya, mau dianggap atau tidak, itu adalah hak Zein sendiri, terlebih saat ini statusnya hanyalah seorang mantan istri.


"Aku akan mencari tahu, bagaimana bisa kekasihku meninggal begitu saja," gumam Zein, menampilkan kilatan cahaya yang tajam di matanya.


Zein mencoba bangkit, dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dia melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.


"Sangat-sangat pucat," gumam Zein, lalu mentap ke arah bawah shower dan di dalam bathup.


Dia kembali berimajinasi, mengingat bahwa di sanalah dulu dia sering bermain air, tertawa bersama, hingga saling menyalurkan seluruh kasih sayang mereka masing-masing.


Zein kembali mencoba mengendalikan perasaanya, sudah cukup dia mengalami depresi selama 2 minggu ini, dan tentu saja Dara pasti akan sangat membenci itu.


Dengan menggeratkan seluruh otot-ototnya yang sudah kaku, Zein mencoba untuk membersihkan tubuhnya, dan mengenakan pakaian biasa. Setelah itu dia melangkahkan kakinya keluar dan melihat Tasya yang muntah-muntah.


"Aku sudah bilang gugurkan saja bayi itu! Tapi kamu tidak mau mendengarnya, dan sekarang tanggung sendirilah akibatnya," seru Zein, sebelum akhirnya dia menaiki anak tangga, untuk menuju lantai 2 rumahnya.


Di atas sinilah, tempat Zein berlatih, mengadu kekuataanya, dia terus berolahraga untuk mengembalikan semua otot-ototnya.


Zein benar-benar berusaha untuk keluar dari keterpurukaanya, dia tidak ingin berdiam diri karena sebuah kematian yang masih belum jelas diketahui apa penyebabnya.


"Aku akan menghukum siapapun yang berada di balik kematian Dara," gumam Zein, benar-benar menyalakan kobaran api amarah di jiwanya.


Buggghhhh,,buggghhhh,,praanggg,,pranggg,,dorrr,,dorrr,dorr. Seharian penuh Zein berlatih, dia ingin menjadi yang terkuat di antara yang terkuat.


"Aku adalah Zein Alucas Maurice putra dari Lucas Maurice sang penguasa dunia kekejaman," serunya dengan mengepalkan tanganya kuat di atas langit.


Tidak ada sisi baik lagi di dalam dirinya, Zein benar-benar menjadi dirinya yang dulu, dingin, pendiam, serta aroghat, dan jangan lupakan senyuman maut itu.


Senyuman yang jika dikeluarkan, maka siapapun yang melihat senyum itu pasti akan tau jika ajalnya sudah dekat.


Zein Alucas yang mendapatkan julukan sebagai Dewa Kematian Dunia, yang akan membunuh seluruh manusia tanpa ampun, baginya hidup ini hanya untuk bertahan menjadi yang terkuat.


Dia bahkan tidak perduli, apa yang akan dikatakan orang lain kepadanya, Jiwa, hati dan pikirannya benar-benar sudah mati.


Zein Alucas adalah sosok yang hidup tapi di dalam jiwanya, di ibaratkan sebuah robot yang hanya bekerja tanpa berpikir ataupun memiliki hati.


"Dara, namamu akan selalu pikiranku, tidak akan pernah, aku membiarkan siapapun untuk menggantikan posisimu di dalam ingatan serta hatiku, itu Janjiku, dan akan aku pegang teguh sampai Tuhan memepertemukan kita kembali," batinya menatap tinggi langit di atas sana.


"Hatiku benar-benar sesak Dara, aku ingin sekali bertemu denganmu, tapi aku bisa apa? Aku sama sekali tidak berdaya untuk bisa terbang ke sana," ucapnya, kembali menahan sakit atas kehilangaan cintanya.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻