
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Tasya yang sudah lelah menangis meratapo nasibnya, kini mulai bangkit dan merapikan barang-barangnya yang ada.
Ketika Zein sudah tidak mengharapkanya, lalu untuk apa dia bertahan?.
Dengan perlahan Tasya memasukan barang-barangnya ke dalam koper, dengan sesekali dia mengusap perut buncitnya dengan lembut.
"Nak, sabar ya sayang, setelah ini kitaakan berusaha untuk hidup bersama sayang, tanpa ada Papah, tapi Mamah akan selalu bersamamu, kita bisakan sayang hidup sendiri," serunya berbicara pada perutnya.
Tasya melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan tanpa disengaja, tatapannya jatuh pada bingkai foto yang sangat besar, yang di dalamnya terdapat sebuah foto kemesraan Dara dan Zein di dalamnya.
Lalu dia beralih menatao foto yang ada di sebelah foto tadi, terdapat foto Dara yang sedang tersenyum manis, dengan menggengam tangan Zein yang tidak menampilkan sosok Zein.
Sepertinya foto itu diambil oleh Zein, dan dia menjulurkan tangan saja, sehingga terlihat seperti foto genik.
"kalian begitu bahagia sepertinya," gumam Tasya, lalu beralih ke foto-foto lainnya.
Selama dia berada di dalam rumah Zein, Tasya memang tidak pernah fokus melihat foto-foto itu, dan baru hari ini dia melihat secara langsung bagaimana kebahagiaan Dara dan Zein itu nyata berada dihadapannya.
"Kamu cantik Dara, bahkan sangat cantik. Namun kamu mempunyai otak yang bodoh untuk berfikir, kamu meninggalkan dia, tanpa memikirkan nasib dari orang yang kamu tinggalkan, bahkan kamu tidak akan menyangka jika Zein yang kamu tinggalkan , demi menahan dan tetap menyimpan rasa cinta sakaligus penyesalaan kepadamu, kini dengan tega menyakiti hati wanita lain dan bahkan dia tidak mau merima bayinya sendiri," lirih Tasya pelan memandang sendu ke arah foto Dara.
"Bagaimana jika kita berganti posisi Daea?" tanyanya pelan dengan sinis bagaikan orang tidak waras yang berbicara pada dirisendiri.
Tasya terlihat tertawa sinis, memandang ke arah foto Dara, "Aku sangat yakin kamu tidak akan bisa bertahan diposisiku ini, dan aku lebih sangat-sangat yakin kamu tidak akan mungkin mampu merasakan sakitnya jika kamu menikah lalu diceraikan di hari yang sama dan kamu bertahan tetapi masih tidak bisa memilikinya, hahahha sungguh tragis bukan nasibku Dara," ucapnya dengan suara tawa yang terdengar sangat menyedihkan bagi siapapun yang mendengarnya saat ini.
Dan masih dengan tatapan sendu serta air mata yang terus menerus mengalir membasaihi pipinya yang bengkak karena tamparan yang diberikan oleh Zein tadi, Tasya terus menatap tajam ke arah foto Dara menatapnya penuh dengan penuh rasa kebencian.
"Puaskan kamu, lihat sekarang apa yang sudah kamu hasilkan dari perbuatan kamu yang pergi meninggalkan Zein begitu saja, harusnya kamu tidak mati Dara, karna percuma, kamu tau kenapa? Karena meskipun kamu Mati, tapi kamu masih saja terus mengahantui pikiranya, kamu masih terus bersarang di dalam imajinasinya, kenapa?" teriak Tasya yang sudah tidak mampu menahan sesak serta sakit yang sudah tidak bisa dia gambarkan lagi.
Dan karena ingin meluapkan emosinya, Tasya yang merasa depresi saat ini, kini mengambil Vasu bunga yang berada di sebelah di atas meja ruang tamu itu dengan menghembuskan nafasnya kasar, dia mulai mengangkat vasu tersebut.
Praaaaaannngggg dia melemparkan Vasu itu hingga menghancurkan foto besar milik Dara.
"Aaaarrrrgggghhhhhh," teriaknya sejadi-jadinya meluapkan amarah rasa sakit hatinya.
"Tidak biasakah dia menjadi suamiku Dara , dia ayah bayiku, tapi kenapa dia bukan milik ku, kenapa dia bukan kepunyaanku, kenapa dia harus menjadi milikmu, kenapa Dara? aaarrrrrggghhh," tangisnya lagi, kali ini dengan memukul-mukul dadanya yang sedikit merasakan sakit bagaikan tertusuk seribu pisau yang tak terlihat.
"Di sini,,di sini, kalian berdua melukai ku di sini, hisskk,,hisskk, aku tidak tau apa salahku pada kalian hingga sampai di hukum seperti ini, aku ingin mundur, tapi bayiku, keinginan bunda, aaaarrrggghhh Dara kembali lah, lebih baik kamu merebutnya secara nyata dibandingkan harus terus menerus berada di otaknya seperti ini, aku ingin memilikinya Dara, aku ingin menjadi istrinya yang sempurna aku ingin dia mengakuin bayiku ini, aku ingin dia menjadi ayah dari anaknya dia sendiri, bukan hanya sebuah bayangan atas cintanya ke kamu. Aku mohon kembalilah Dara, beritahu kepadanya bahwa dia harus bersikap dengan adil, aku tau kamu tidak akan pernah bisa melihat seorang bayi yang terlahir kedunia ini tanpa adanya seorang ayah, kita wanita Dara, kamu pasti jelas tau bagaimana perasaanku sekarang," lirihnya dengan pelan merasa lelah atas emosinya yang memuncak.
Hingga detik selanjutnya, dia segera menghapus air matanya dan beralih secepat mungkin untuk pergi dari sisi Zein.
"Aku dan bayiku akan pergi darimu Zein, kamu melukai hati serta perasaanku Zein, bahkan kamu melakukan semuanya dengar kondisi yang sadar," gumamnya, menatap sendu ke arah luar.
"Kalau kelebihaan Dara hanya karena mencintaimu, maka aku juga bisa melakukannyya, tapi kamu benar-benar tidak pernah melihatku ada Zein, kamu hanya menganggap Dara sebagai hidupmu, sehina itukah aku Zein? Sehina itukah aku sampai kamu harus menyakiti hati dan perasaaku seperti ini? Sehina itukah bayiku hingga kamu tidak bisa menerimannya?" ujarnya, sebelum dia memilih kembali mengemasi pakaianya.
Tidak lama kemudian, setelah selesai merapikan semuanya, Tasya memandangi cek yang berada di tanganya, dia mengambil pulpen dan mengisi angka 20M di dalamnya.
"Aku akan hidup bersama dengan anakku di kota lain dengan uang ini, karena sebagai ibu tunggal aku tidak mungkin bekerja sambil mengurus anakku," ucapnya merasa bahwa uang yang dituliskannya itu sudah cukup untuk menghidupi dirinya selama bersama dengan anaknya nanti.
Tasya bergegas melangkahkan kakinya pergi, dengan tujuan ke bank terlebih dahulu untuk mencairkan uang dari cek itu agar masuk ke dalam rekeneningnya.
Hingga Zein yang berhasil mendapatkan notofication pencairan dana itu, kini tersenyum puas, "ternyata wanita itu tahu caranya menghabiskan uang sebanyak itu, sangat berbeda sekali dengan Dara, yang sampai detik ini belum pernah meminta uangku walau hanya satu perak, bahkan ketika ponsel dia hancur, dia tidak pernah berpikir ataupun meminta ponsel baru denganku, itulah perbedaan Dara dengan wanita ini, dan mungkin saja di dunia ini tidak akan pernah ada wanita yang memiliki sama seperti Dara," gumam Zein tersenyum memandang wallpapper di ponselnya yang menampakan foto dirinya dengan Dara dengan sangat mesra.
Berbeda dengan Tasya, yang kini terlihat menuju bandara untuk mencari penerbangan ke kota Jogja, sebagai kota kehidupannya selanjutnya.
Sedangkan di sisi lain, terlihat seorang wanita yang terkurung di dalam sebuah rumah mewah, tanpa ada sedikitpun celah dirinya bisa kabur.
"Lepaskaaan aku!! Lepasakannn! Kenapa kalian mengurungku di dalam sini," teriak wanita itu, dengan perasaan muak.
Dia benar-benar di kurung bagaikan putri rapunzel yang bahkan melihat matahari saja dia tidak bisa.
"Hisskkk,,hisskk, kenapa kalian mengurungku di sini, aku takut,,hiskk,,hiskk, Zeiin, selamatkan aku, selamatkan aku Zein," tangis wanita itu, terdengar sangat memilukan.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻