
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Zein memberikan sebuah kalung berliontin nama untuk Jingga, “ZJD,” ukiran nama yang indah untuk Jingga.
“ZJD ini apa ayah?” tanya Jingga menatap ke arah kalung itu.
“Ini adalah Z untuk Zein ayah, dan J untuk Jingga, dan D untuk Dara mama,” jawab Zein lembut, menatap ke arah Dara dengan penuh kasih sayang.
“Apakah ayah mencintai mamah?” tanya Jingga tiba-tiba.
Dia bisa melihat jelas tatapan penuh cinta yang diperlihatkan ayahnya untuk wanita yang dia panggil mama ini.
“Ya, ayah sangat mencintai Mama, ayah juga mencintai Jingga, bagi ayah kalian berdua adalah bidadari di dalam hidup ayah,” jawab Zein dan langsung memeluk tubuh Dara dan Jingga bersamaan.
“Lalu kemana ayah selama ini ketika Jingga dan ibu bersama? Apakah ayah mencintai ibu?”’ tanya Jingga lagi.
Namun kali ini pertanyaan itu berhasil membuat Dara dan Zein gugup dan saling menatap satu sama lainya, “hemmm Jingga, di dalam dunia ini seorang wanita dan laki-laki yang belum menikah itu tidak boleh tinggal bersama, dan seperti itulah ayah dan Ibu yang tidak boleh tinggal bersama.”
“Sedangkan ayah dan mama adalah sepesang suami istri yang sudah menikah, dan kami boleh tinggal bersama,” jawabnya asal. Dara sampai tersedak mendengar jawaban dari suaminya itu.
“Perasaan dulu kita juga tinggal bersama dan nikahnya juga baru,” batin Dara, yang merasa jika jawaban Zein kali ini sangat penuh kebohongan.
Jingga berusaha mencerna dengan baik apa yang disampaikan oleh ayahnya ini, namun dia masih merasa jika jawaban itu sangat ambigu.
“Lalu bagaimana Jingga bisa lahir jika ayah dan ibu tidak bersama?” tanya Jingga lagi.
“Jingga sayang, kamu masih belum paham atas semua ini, nanti kalau kamu sudah dewasa kami akan memberitahumu semuanya,” sahut Dara, yang menghentikan segala pertanyaan yang seharusnya tidak keluar dari mulut anak seusianya.
Jingga terdiam mendengar teguran dari Dara. “Jangan sedih, lebih baik kita ke pasar malam sekarang, guntur dan kilatnya sudah pergi,” seru Dara lagi, yang tahu jika Jingga merasa sedih akibat laranganya tadi.
Zein menganggukan kepalanya pelan, “kamu gantikan bajunya Jingga ya sayang, malam hari ini terasa dingin, gantikan baju hangatnya,” pinta Zein pada Dara.
“Baiklah, ayo sayang, mama bantu Jingga untuk memilih pakaian,” ajak Dara, meraih tangan putrinya.
“Aku panaskan mobil dulu ya sayang, kamu dan Jingga nanti langsung keluar saja,” teriak Zein dari luar.
“Oke,” jawab Dara. Dan kembali fokus mengantikan baju untuk putrinya.
Setelah itu barulah Dara dan Jingga masuk ke dalam mobil, “kamu begitu saja sayang?” tanya Zein, yang melihat penampilan Dara yang menggunakan celana pendek dan baju kaos biasa.
Dara menganggukan kepalanya pelan, “sayang ini pasar malam ya, bukan mall jangan berlebihan, ayo cepat jalan!” perintah Dara dengan penuh penekanan membuat Zein tidak bisa menjawabnya lagi.
Jingga yang berada di kursi belakang akhirnya tersenyum melihat tingkah ayah dan mamanya ini, “ternyata ayah hanya takut pada mama saja,” batinya dalam hati, yang memilih untuk menganggumi istri ayahnya itu.
“Are you happy sayang?” tanya Zein pada Jingga.
“Yes ayah,” jawab Jingga dengan riangnya.
Dara dan Zein kembali tertawa melihat ekspresi Jingga yang begitu bahagia, sambil Zein mengarahkan mobilnya ke arah kampung sebelah.
“Yahhh macet sayang, mana sempit lagi tempatnya,” keluh Zein yang merasa bahwa mobilnya tidak bisa masuk ke dalam.
“Kan aku sudah bilang tadi, di kampung seperti ini itu yang dibutuhkan hanya motor bukan mobil,” sahut Dara yang melihat ke kanan dan kirinya.
“Kita parkir di pinggir jalan sajalah, baru kita jalan kaki masuk,” sambung Dara lagi, yang memilih kalan alternatif saat ini.
Zein menganggukan kepalanya singkat, lalu perlahan mermarkirkan mobilnya di pinggir-pinggir kebun dekat jalanan.
Jingga terdiam melihat ayah dan mamanya keluar dari mobil, “ayo sini Jingga, ayah gendong biar tidak capek,” seru Zein, menarik tubuh Jingga lalu menggendongnya di pundak.
“Aaahhh ayah,, Jingga takut ayah,” jeritnya ketika Zein mendudukanya di atas pundak, dan karena takut dia memegang tangan ayahnya untuk menahan keseimbanganya.
Tanpa memperdulikan Dara, Zein malah berlari dan membawa Jingga untuk terbang. “Yeeeeee,” sorak Zein dengan penuh kebahagiaan.
Dara menggelengkan kepalanya pusing melihat tingkah Zein yang sama sekali tidak takut jika anaknya dalam bahaya.
Hingga Zein berhenti di satu wahana piring terbang, “Jingg ayo naik itu sama ayah,” ajak Zein.
“Tidak ayah Jingga takut,” jawabnya dengan gugup.
“Ada ayah sayang, ayo kita coba,” bujuknya pada Jingga.
Lalu Zein menoleh pada Dara yang lebih dulu masuk ke arena.
Jingga memberanikan diri untuk masuk ke dalam arena dengan Zein yang selalu menggengam tanganya, “ayahhhh,” teriaknya ketika piring terbang itu mulai berputar.
Zein memeluk tubuh putrinya “semuanya akan baik-baik saja sayang,” seru Zein pelan.
Lalu Jingga menutup matanya sambil terus merasakan gengaman tangan ayahnya, “gengaman tangan ini akan selalu ada untuk menopangku menghadapi dunia ini,” batin Jingga yang semakin mengeraskan gengaman tangan ayahnya.
“Ayaaahhh,” jerit Jingga lagi ketika permainan itu mulai menaikan turunkan tubuhnya.
Zein dan Dara tertawa, begitu juga dengan Jingga yang ikut tertawa menikmati permaianan ini, senyum dan tawa mereka sama sekali tidak luntur, ketika Zein mengajak Jingga dan Dara untuk melihat permainan lainnya, namun Jingga merasa sebal karena mamahnya tidak mengizinkan dirinya untuk makan-makanan yang dijual di pasar malam itu.
Bukan tanpa alasan Dara melarangnya, hanya saja Dara takut jika makanan itu kurang higenis dan akan membahayakan tubuh putrinya.
Mereka terus bermain tanpa henti, mulai dari komedia putar, sangkar burung,perahu-perahu, hingga bombomcar, malam ini adalah malam terindah untuk mereka bertiga. Kebahagiaan yang sangat sederhana tapi mampu membuat kenangan indah yang akan mereka kenang selamanya.
Tepat jam 11 malam mereka semua balik ke rumah, “Jingga sini mama bantu untuk mengganti pakaian ya,” seru Dara, menemani putrinya masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Zein sudah lebih dulu masuk ke kamar untuk membersihkan tubunya karena seharian ini dia belum mandi.
“Jingga sudah tidur sayang?” tanya Zein pada istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Sudah, tadi habis aku bantu bersihkan sedikit tubunya, lalu aku membacakan cerita untuknya, dan dia tertidur,” jawab Dara menjelaskan apa yang dia lakukan tadi.
Zein langsung memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, “terima kasih ya sayang,” lirihnya pelan sambil menyenderkan kepalanya di bahu mungil istrinya.
“Terima kasih buat apa?” tanya Dara bingung.
“Terima kasih karena kamu masih mau menemaninku setelah semua kejadian buruk ini terjadi, terima kasih karena kamu mau memberikanku kesempataan kedua, dan terima kasih karena kamu mau merawat anak ku dengan Tasya,” jelasnya pada Dara. Dia sadar begitu banyak pengorbanan Dara di dalam hubungan ini, dan itulah yang membuat Zein semakin jatuh ke dalam pelukan Dara.
Baginya Dara adalah satu-satunya orang yang setia mendukung keputusaanya, namun dia sama sekali bingung bagaimana caranya untuk menghentikan ini semua.
Apalagi setelah dia melihat kebahagiaan Dara dengan Jingga tadi, rasanya tidak mungkin dia mau menuruti permintaan untuk mengembalikan Jingga pada Tasya.
Itu tidak mungkin, dan hanya ada satu jalan dari semua masalah ini, dan itu akan dia lakukan setelah dia puas mengukir kenangan bersama istri dan putrinya.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻